
Ketika Boy sedang berbicara dalam rapat dengan para petinggi perusahaan. Hafis asisten Boy, mendapat pesan dari anak buah Boy kalau Bella diculik. Hafis keluar dari ruang rapat dengan perasaan cemas. "Bagaimana ini, Apa aku harus menyampaikan sekarang. " Hafis berfikir sejenak dalam hatinya.
Sementara Bella telah dibawa dengan sebuah mobil Royce
Swibtile merah.
" Ayo cepat kejar mobil itu, kalau sampai kita kehilangan jejak, Bos pasti akan menghukum kita!." Terdengar seruan keras dari dalam mobil Buggati Chiron biru.
" Itu mobil mewah lho Jhon, Berarti nyonya muda diculik oleh orang gedongan yang setanding dengan tuan muda Bhalendra." ucap sang sopir.
" Jangan menebak- nebak Rey, bawa saja
mobilnya dengan cepat! Makin lambat makin bahaya bagi nyonya muda, Iakan tak pandai bela diri sedikitpun.
" Kau fikir ada gunanya kemampuan bela diri kalau kita dibius. Dasar otak tumpul kau Berlan!, ini juga salahmu, sudah diminta menjaga Nyonya muda, kok sampai kasih kesempatan pada orang menculiknya ." Rutuk Jhon.
" Hey...Bocot! Gimana bisa aku begitu dekat mengawasinya, apalagi sampai ketoilet, itu tak mungkin.
" Kalau kau lebih dekat dan hati- hati, ini takkan terjadi Berlan!. " ujar Jhon marah.
" Sudah jangan ribut dan saling menyalahkan. Pokoknya kita harus menyelamatkan nyonya muda sebelum Tuan muda Bhalendra mesti turun tangan, kalau menjaga dan menyelamatkan istri tuan saja kita tak becus, percuma saja kita diasuh dan dilatih bertahun- tahun! " Timpal Ckot yang dari tadi diam.
" Iya!!!
Boy sedang mendengarkan laporan keuangan dari para manager keuangan diperusahaan, ketika Hpnya bergetar.
Melihat panggilan dari mami Anjani darah Boy berdesir. Tak pernah selama ini mami mertua berani menghubunginya,
selama 5 tahun menjalin hubungan dengan Bella. Yang selalu menelfon Boy adalah Willi, menyampaikan apapun yang terjadi dengan putrinya.
Sekarang Mami Anjani menelfon, padahal baru satu jam Bella habis izin pergi keluar bersamanya. Perasaan tak enak, membuat Boy memberi kode pada Tuan Zhang yang sedang menyampaikan laporannya, untuk menjeda penjelasannya, kemudian Boy keluar dari ruang rapat untuk mengangkat telfon.
Begitu telfon tersambung, terdengar suara tangis mami Anjani dari sebrang.
" Ada apa mi? " Boy mulai mencium gelagat yang kurang beres.
" Anu...anu...Be...Bela Menghilang Boy...Tadi dari Toilet, Momy periksa tak ada lagi. Uhu...hu....hu...Gimana ini Boy...ini ulah mami, mami yang ajak Bella keluar. " Ucap Anjani dengan perasaan takut dan bersalah.
Sejenak diam dari sebrang. Anjani semakin panik.
" Boy...Gimana ini? " rengeknya dalam keputus asaan.
" Mommy tenang ya...jangan berfikir burukdulu.Pulang saja dulu dengan paman Maman. Soal Bella,Boy yang akan urus. Mami...Rileks ya...Dan tolong jangan lupa berdoa untuk kebaikan dan keselamatan istri Boy. Oke.. " Boy berusaha bicara dengan tenang, agar ibu mertuanya tidak terlalu stres. Padahal didalam lubuk hatinya, ia menghawatirkan istrinya.
Baru saja Boy mematikan telfonnya. Hafis sudah menghampirinya dengan wajah pucat. " Bos, Bella diculik. " bisiknya begitu sudah dekat.
" Aku barusan ditelfon mami. Cepat hubungi Jhon, kalau menemukan petunjuk penculikan! " Perintah Boy.
Hanya dengan anggukan, Hafis segera menghubungi Jhon dengan diloadspeker.
" Ada petunjuk? " tanyanya langsung.
" Ada, ini Mobil mewah, sekarang dalam pengejaran, tapi kami kehilangan jejak, lajunya sangat kencang.Tampaknya orang gedongan juga Tuan.
" Pakai mobil Apa? " dapat nomor platnya? " Desak Boy.
" Ada Bos. Sebentar dikirim Rey. " Jawab Jhon dari sebrang.
Begitu mendapat kiriman gambar mobil dan no platnya dari Rey anak buahnya. Boy langsung mengambil telfonnya.
Dan menghubungi seseorang.
" Hallo? Ada apa Om anteng? " terdengar suara kecil yang menjawab telfon.
" Om ada perlu mama, boleh kasih telfon kemama Cindi?" tanya Boy lembut.
" Oke Om, aku antar kekamar mandi. Mama lagi mandi. cebental ya. " suara kecil itu bersambut dengan langkah- langkah sepatu mungil.
Siapa bang? Tanya suara kecil lagi
Suut...angan tanya- tanya. ini dalulat ayaknya. " dua suara kecil terdengar berbantah halus.
Lalu suara- suara sepatu mungil saling bersautan terdengar.
Tut...tut...tut...
Tut...Tut...Tut..
" Mama..Buka pintu na...Om Boy telfon nih, ayaknya dalulat! " terdengar lagi teriakan kecil.
Krek... suara pintu terbuka.
" Ada apa? Om Boy? " Terdengar suara perempuan muda.
" Ia Nih...
" Hallo Boy..Maaf ya hanya Bang Rine saja yang datang dipesta kalian. Kali itu aku sakit, sempat diopname, aku keguguran. " Ucap Cindi sungkan.
" Tak apa Ndi...Aku cuma mau mintak tolong, kirim aku nomor Frank J.
Maksudnya tuan muda Frank J, aku ingin melacak keberadaannya. Ia menculik Bella istriku." Terdengar nada Boy yang masih tenang namun penuh kuasa.
"Astagfirullah...Maafkan aku dan suamiku
Boy... ini semua salah kami. Kalau tidak kami yang mengenalkan Bella pada lelaki
itu, tentu sekarang Bella takkan dalam masalah. Tanpa sengaja kami sudah membuat masalah baru untuk hubungan kalian karna pria itu. Maaf...ya.." Ucap Cindi panik dan penuh sesal.
" Tak ada gunanya menyesal Cin, aku tak menyalahkan kalian. Yang penting sekarang bantu aku cari nomor pria itu, dalam tiga menit kutunggu, kalau tidak ada dikontakmu, hubungi suamimu. Cepat! Aku takut terjadi apa- apa pada istriku! " Ujar Boy tegas.
" Baiklah...Kukirim segera." jawab Cindi lemah.
Cepat!!!
Sementara
Dilantai dua sebuah Villa dikawasan C,
Bella disambut dan langsung dibopong oleh seorang pemuda tampan menuju tempat tidur.
" Tidak begitu lama efek obatnya Kan Win? Aku tak sabar lagi ingin mencumbunya ditempat tidur. Aku tak mau memperkosa
orang yang tidak sadar. Aku akan terpacu
dan bersemangat dengan sedikit perlawanan. He...He..." terdengar kekehan yang mengerikan dari mulut Frank.
" Tidak bos, sebentar lagi akan segera sadar. Selamat bersenang- senang. Kami akan jaga dipintu. " ucap pria yang dipanggil Win.
" Baiklah...Jaga sebagian dipintu depan dan sebagian ditangga! " Perintah Frank.
" Oke Bos!!! " Jawab keempat pria perkasa itu serentak.
Frenk melempar Bella ketempat tidur king size sembari menyeringai kejam.
" Dengan menidurimu hari ini, aku akan membuat sahabatmu dan suaminya menyesal pernah memberi harapan palsu
pada seorang Frank J! Nona cantik!
Ha....ha....ha....
Pria itu lalu menarik kerudung Bella.
Sentakan yang menyakiti rambut dan tawa yang mengerikan Frank, membangunkan Bella.
"Kau? Bella terkejut mendapatkan dirinya dalam Kungkungan pria tampan dari negri kangguru itu.
" Ya Aku Frank J! Masih ingat aku!!!Bentak Frank menarik dagu Bella.
" Jangan sentuh Aku, aku sudah bersuami! Lepaskan aku! " Bella balik membentak sembari memberontak dari cengkraman pria itu dengan sekuat tenaga yang ia punya.
" Bersuami? Kapan He? Kau mau menipuku lagi agar lepas dariku seperti waktu itu. Kemarin - kemarin kau bilang sudah punya kekasih. Sekarang kau bilang kau sudah menikah. Padahal aku tak pernah mendapat undangan pernikahanmu. Kau pembohong nona kecil!.
" Aku tak bohong, Ini tandanya. Kau lihat masih ada Inai diujung jariku. Dan ini, ada cincin dijari manisku. " Bella mencoba menjelaskan dan terus menepis sentuhan pria itu.
Frenk panik dengan penolakan Bella. Ia menekan tubuh Bella makin kuat, ******* bibirnya dengan buas. Bella menggigit pria itu untuk melepaskan kecupan kotornya. Frenk makin waspada. Ia mengikat Kaki Bella dengan menghimpitnya tanpa ampun. Lalu menyintak baju Bella. Bella keringatan, dan bergetar. Rasa takut dan malu menggerogoti jiwanya.
Sekarang ia tak berdaya lagi. Pria itu menghimpit kaki kecilnya. Memegangi kedua tangannya.
" Nampaknya kau pembangkang besar nona kecil. Aku akan mengikat tangan dan kakimu, agar aku bebas mencumbumu!" Katanya bringas.
Menarik tali dari nakas dan mulai mengikat kaki dan tangan Bella.
Kemudian
Krek...krek... Ia lalu merobek baju Bella.
" Kau...kau pasti menyesal melakukan ini padaku Frank! sebentar lagi suamiku akan datang! Bella masih berani membentak , walau tubuhnya menggigil menahan rasa malu karna tubuhnya tinggal dalaman saja dihadapan pria asing ini. Ia masih menjepit sisa baju yang tersangkut diantara selangkangannya.
" Cepat Sedikit bawa mobilnya Fis... Kita harus segera sampai dilokasi!
" Baik Bos..." Ini sudah kencang. " Hafis lanjut membanting stir.
" Kurasa mereka bisa mengatasinya Bos. " Bos tenanglah, kan lokasinya sudah jelas. Anak buah mu cukup handal. " Ucap Hafis menenangkan Boy.
" Kurasa mereka bisa. Tapi aku ingin segera disamping istriku! " Ungkap Boy tegas. Kemudian hening sejenak. Hanya Deru mobil yang semakin kencang.
Ketika Boy dan Hafis sudah berada didepan Villa itu. Dua anak buah Frank sudah diikat didekat pintu oleh Jhon dan Rey.
Boy bergegas masuk, Mengejar kedalam, tak peduli panggilan anak buahnya. Begitu mendengar teriakan pria dari lantai dua, hati Boy makin dag dig dug.
Ia berlari menaiki tangga, kerigatnya bercucuran, tapi Boy tak tertarik untuk mengusapnya. Yang ada difikirannya hanyalah Bella.
Begitu sampai didepan pintu. Ia langsung
menghantam pintu dengan kuat hingga pintu kamar Villa itu terkuak.
Mata Boy langsung singgah ditubuh istrinya yang tak berbaju lagi. Ia menggetakkan giginya, melangkah dengan besar, untuk mencapai tempat tidur.
" Sayang...Apa yang dilakukan pria itu padamu? Tanya Boy sembari melepaskan ikatan istrinya. Menariknya kedalam dekapannya.
" Dia su..su... sudah menciumku sayang...maaf ya..hik...hik...hik..."Tangis Bella pecah didada Boy. Boy mengusap rambut istrinya.
" Seharusnya Boy yang minta maaf, sudah lalai menjaga Bella." Katanya membujuk Bella.
Bella menggeleng ." Ngak ini salah Bella, pergi keluar tanpa seikhlas suami.
" Dari mana tau suami tak ikhlas?" tanya Boy sembari memakaikan jasnya untuk menutupi tubuh istrinya. Menghembus pergelangan tangannya yang memerah.
" Dari nada bicaranya ditelfon.
" Ya sudah...lain kali jangan begitu lagi ya! Kan sudah tau gimana nada ikhlas dan tak ikhlas suami." Ujar Boy kembali mendekap Bella dengan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya mengirim pesan pada Hafis.
Tolong Carikan gamis dan kerudung untuk istriku. Ditunggu 15 Menit! bunyi pesannya.
" Oh ya, sayang. Bella apakan pria ini?Hingga Boy dengar teriakannya dan sekarang pingsan?" Tanya Boy ketika mengikat Frank yang tak sadarkan diri dengan wajah keringatan.
" Ia ternyata mabuk darah, Pembalutku terjatuh saat diperjalanan.Begitu ia menyentuh yang bukan haknya, darah haidku merembes lancar. Ia teriak histeris lalu tumbang begitu..." Bella mengangkat bahunya.
" Dasar goblok Cemen! Punya penyakit mabuk darah saja, berani- berani menyentuh istri orang. Sebentar aku akan mengirimnya kemami dan papinya. " Kata boy dengan nada suram.
Lalu ia mulai menekan nomor.
Bersambung...