Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 91



Chalista setengah berbaring di sun lounger, habis berenang. Langit malam tampak cerah. Purnama kedua juga masih memperlihatkan kecantikannya. Walaupun bulatnya tak sepenuh malam pertama. Tapi ia masih tampak Jaya dengan cahaya semunya diatas sana. Bayangannya juga indah, terpantul dikolam. Mungkin inilah yang disebut dengan bulan dua yang ditunjukkan oleh " "Si Kabayan dalam cerita dari Jawa Barat yang ditulis oleh Muhammad Rizqi.


Keindahan malam tak menyentuh hati gadis itu. Kalau si Kabayan terbaring malas dipematang sawah dengan berbagai khayal dan akal, sedang Chalista tersandar malas dikursi kolam , dengan perasaan hati yang sunyi. Matanya memandang langit, namun hatinya terbang jauh, sampai di Paris Van Java. Baru tadi sore, Amer kembali, tapi rasanya ia sangat kehilangan.


Banyak musim telah terlewati, sejak baby


mereka sudah dekat, baik melalui telfon atau kebersamaan langsung keluarga. Setiap kali banyak canda, tawa, cerita perjodohan dan kekonyolan yang Onty Adel tawarkan. Bertemu dan berpisah sudah biasa , karna hubungan orang tua mereka. Semua serba biasa. Ini kali sangat berbeda, kepulangan Amer ke Kotanya, membawa sebagian hati Chalista. Rasanya kebersamaan lima hari


ini terasa sedikit sekali, menyisakan impian dan keinginan , 50 tahun lagi kedepannya.


" Mengapa hal yang biasa terasa berbeda ? Mengapa Canda jadi damba.


, mengapa sentuhan kasih sayang, sekarang buat jiwa melayang... Andai aku dapat memilih tempat melabuhkan kasih, tak pernah terlintas untuk memilih dia, terasa sangat bodoh, seperti kurang pergaulan diriku ini! Mengapa harus dia? mengapa tidak pada remaja disekolah dulu, atau pada Alfin, Beni, Jabri atau Milan, bintang kampus yang begitu gencar mendekatiku saat ini?,


mengapa justru pada bang Amer getaran itu terasa" Batin Chalista ingin meronta.


" Semua berkumpul makan malam, tapi putriku tak terlihat. Rupanya bermenung disini, Apa yang sedang ia fikirkan?Hingga malam- malam ingin berenang, untung tak terjadi apa- apa, kalau kram bagaimana? siapa yang akan tahu ? " Tiba - tiba cerocosan itu muncul dari sisi sebelah kanannya, membuyarkan khayal panjangnya.


" Mom...mommy? Sejak kapan ada disini? " tanya Chalis gugup efek terkejut, reflek ia memiringkan badannya kekanan, menatap Citra yang duduk diSun lounger yang satu nya.


Citra menghela nafasnya. Mengipas mukanya dengan tangannya. Lalu beralih menatap putrinya, menyapu wajah Chalista dengan mata indahnya. Bulu- bulu mata yang panjang, seakan enggan mengerjap, tatapan teduh namun tajam.


"Sebenarnya baru saja ...setelah lumayan keringatan, mencarimu diseluruh bagian rumah ini. Ternyata disini ita rupanya. Ayo pakai baju yang baik! dan isi perutmu dulu, nanti masuk angin. " katanya masih dengan nada dominatif, sorotan perseptif.


" Oke mom..Maaf ...Chalis membuat mommy khawatir. Tapi Chalis tak apa-apa, hanya pengen berenang saja, sambil memandang purnama kedua. " Kilahnya lirih, nyaris tak terdengar, menggambarkan kesunyian hatinya.


Citra merasakan itu, melihat kegelisahan, dibalik sorot permata jiwa putrinya.


Citra berdiri, namun ia masih betah mengintai telaga bening sitengah, seakan ingin menggali semua misteri yang ada dibalik kedalamannya.


Sadar Chalistanya mulai kikuk dengan tatapannya yang penuh selidik, Citrapun menyunggingkan senyum termanisnya, untuk mengurangi kecanggungan yang tercipta antara dirinya dan gadis mudanya yang baru beranjak dewasa itu.


" Ya sudah...Ayo ganti baju dan masuk dulu, makan malam sudah mommy bawa kekamarmu. Mommy tunggu dikamarmu sekarang! " ucapnya mendominasi setelah mengacak rambut Chalista yang belum kering, Lalu ia mengambil jalan diantara kedua Sun Lounger itu, berlalu meninggalkan Chalista yang masih bingung dan linglung.


Dada Chalis berdesir, bimbang mempermainkan kalbunya , sepertinya malam ini, ia akan mengahadapi banyak pertanyaan, ia telah terciduk sedang bermenung dibawah bulan oleh siLara duta. Ia takkan mendiamkannya saja, sebelum ia meliput semua berita terkini


dihati sang putri.


Biasanya dulu, Chalista paling senang memanas- manasi sang mommy, untuk mengintrogasi abangnya, ketika Abang pulang dengan wajah yang mencurigakan, sekarang seolah senjata makan tuan, tanpa ada yang memanasi, api Dimata Momynya tersulut sendiri, ketika ia ketahuan tidak dimeja makan, tidak pula dikamarnya.


Andai di kamar masih aman, ada alasan untuk berkilah, kecapekan menyambut tamu, sehabis pesta besar itu. Tapi ini tiada lagi, bagaimana ia akan bersembunyi disehelai lalang saja.


Tanpa terasa, Ita menghembuskan nafas beratnya, mendengus pelan. Kemudian dengan malas mengganti bajunya, dibangunan kecil khusus ruang ganti kolam renang pribadi keluarga Kims T, yang berdiri membelakangi bangunan utama.


******


Sementara, Boy dan Bella sudah berada dikamarnya dilantai tiga. Mereka baru saja naik, usai makan malam keluarga.


" Sayang...Ayo Isya dulu, baru olahraga malam." bisik Boy dikuping istrinya.


Bella tersenyum kecut. Ia menepis tangan nakal Boy yang mencoba menyusup kebalik gamisnya.


" Kenapa? " Boy mengernyitkan dahinya.


" Sepertinya aku tak shalat, ia baru datang, pas kita naik barusan.


Boy menepuk jidatnya. " Jadi puasa dong?...padahal baru dua malam. Boy masih sempat tersenyum tipis walau ada rasa kecewa, lalu mengecup kening Bella.


" Tapi ada masalah lagi yang...ini kayaknya mau merembes. Dilemari tak ada pembalut. Bisa minta tolong cariin pembalut yang .." rengeknya pada Boy.


Boy berfikir sejenak. Lalu menjentikkan jarinya." Aha... Tenang sayang.. " katanya, Boy lalu meraih HPnya dinakas. Membuat panggilan.


Sudah dua nomor yang ia hubungi,tapi tak ada yang jawab. Akhirnya Boy menelfon ke no yang ketiga.


" Hallo? " kenapa Boy? " Tanya suara berat dari sebrang telefon.


" Mommy sedang mengurus anak gadisnya, kan anak bujangnya sudah diselesaikan. Mak- Mak memang begitu, tugasnya tak pernah habis." ujar Rendra.


" Anu...kukira mommy disitu." Boy bergumam lirih, terdengar nada kecewa.


" Kenapa? bilang saja sama Daddy kalau ada yang perlu. Tak usah merengek lagi pada istriku, Kan ia sudah memberikan menantu untuk tempat merengek.


Boy menatap Bella yang mukanya mulai memerah karna malu, mendengar suara


Rendra yang diloadspeker. Melihat perubahan diwajah istrinya,Boy mengerti.


Ia lalu tersenyum.


" Ada apa? " tanya Rendra lagi, karna tak ada jawaban dari Boy.


" Ngak ada Daddy...Kan ingin merengek sama mommy, sama Daddy ngak asyik,


jangan marah ya, ini urusannya ibu- ibu,


ayah- ayah tak boleh dibagi, jadi jangan cemberut, apalagi Cemburu. He...He..." Boy terkekeh.


" Ya sudah...terserah...tadi mommy mencari Chalista. Sekarang mungkin dikamarnya. " jelas Rendra.


" Oke Daddy terbaik sedunia. Boy susulin dulu mommy kekamar Sitengah. agak buru- buru nih...Telfon ditutup dulu ya. I am Sory...Assalamualaikum...


" Waalaikum salam.. Tut...terdengar suara telfon diputus.


" Nih anak...semaunya saja memutus telfon, setelah membuat orang penasaran." gerutu Rendra.


Sepuluh menit kemudian, dengan keringatan, Boy sudah tiba dikamar mommynya dilantai dasar. Pintu tak terkunci. Setelah melongok ke sekeliling,


ia tak menemukan Daddynya. " Mungkin lagi diruang baca. " fikirnya. Lalu ia melangkah masuk, membuka lemari, dan setelah menemukan benda yang ia cari. Iapun mengambilnya.


Suara dari kamar mandi, mengejutkan Boy. " Astaga...Tuan Takur ternyata diWC,aku harus cepat- cepat kabur, sebelum ia keluar." Fikir Boy. Lalu Boy menyembunyikan bungkusan itu dibalik bajunya. Membalik cepat, dengan langkah besar ingin berlalu dari ruangan pribadi orang tuanya.


" Heh...apa yang kau sembunyikan! " Seru


sebuah suara dari pintu ruang mandi. Saking terkejutnya, Boy tak sengaja menjatuhkan bungkus pembalut itu.


" Daddy mengejutkan saja! " protesnya.


" Kau juga masuk seperti pencuri. " Balas sang Ayah. Langkahnya sudah sampai disamping Boy yang buru- buru mengutip benda yang ia jatuhkan.


" O...itu rupanya yang kau cari pencuri kecil. He...He...tiba - tiba Rendra terkikik geli.


" Itu saja pakai disembunyikan. Apa salahnya kau bilang dari tadi, tak usah sampai pucat begitu, seperti Daddymu tak kenal saja benda begitu. Kalau Daddy mah sudah biasa ngurus yang gitu, sejak kau lahir...Daddy bahkan makaikan popok buat mommy. Ingat waktu mommy dirumah sakit selama sebulan habis operasi pembuangan peluru?


" Iya...


" Boy fikir siapa yang makaikan benda itu pada mommymu? ya Daddy lah. Jadi santai aja anak muda! " Tak usah malu soal begitu, atau kau takut diketawakan karna begitu cepat dijeda bulan madunya? " Rendra tersenyum jenaka, sembari menepuk pundak putranya.


Boy mengusap keringatnya yang bercucuran dikeningnya, lalu tersenyum balik.


" Ya sudah sana balik...menantu Daddy menunggumu. Kau fikir siapa lagi yang mengurus istri kalau istri sedang bermasalah, lalu siapa pula yang menjaga suami, kalau suami sedang tak sehat. Itulah guna orang berpasangan, untuk saling menyayangi, menjaga dan melengkapi. Kalau tak bisa seperti itu, maka tiada guna orang bersama. Bersama bukan hanya untuk bersatu ditempat tidur saja, tapi bersatu menyelesaikan setiap masalah, dari yang kecil, terlebih yang besar.


" Makasih Daddy...lain kali tak canggung lagi. Makasih sudah mengingatkan putramu, dengan pidatomu yang panjang itu. He. He.....Excuse me Sir ( permisi pak ) " katanya sambil berlari meninggalkan kamar.


" Dasar anak nakal! Ngak nyindir ya ngak puas dirimu Boy! " kejar Sang Daddy.


Sedang Boy kabur dengan terkikik.


Bersambung...