Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 42



Sebuah mobil Sport mewah baru saja keluar dari parkiran Istana itu. Wajah cerah kian berbinar terpancar dari wajah indah milik Momy muda itu.


Berbanding terbalik dengan pria itu. Wajah keriting karna cemburu, dadanya terasa naik turun menahan gejolak. Melihat betapa hangat istri cantiknya menyambut sahabat tampannya itu. Juga betapa antusiasnya Boy putranya bercanda dengan pria itu, tak urung membuat Rendra benar- benar panas hatinya.


" Om Alden tampan tapi kok ngak nikah juga ya Dady? " tanya Boy yang membuat Rendra kian dilanda cemburu. Gimana ia ngak panas, Alden adalah pria kedua yang buat senyum Citra selalu lebar saat bersama dengannya setelah tuan Kims.


Kalau kakeknya sih ngak masalah, tapi kalau pada orang lain istrinya semangat itu, Rendra tak bisa terima. Hatinya panas- panas nas- nas nas, kayak terkena semprotan cabe rawit.


" Apa gunanya tampan, ngak nikah- nikah! " Jawabnya ketus.


" Kenapa sih sayang...Kok wajahnya merah padam gitu? Ngak malu sama anak, Lihat Dadynya kebakaran jenggot gitu. " kata Citra seraya menatap mesra suaminya.


" Boy main ke tempat pak uo dulu ya sayang! Mom


mau ngomong sama Dady nih. " kata Citra pada Boy.


" Ok..mom I Go! ..." Teriak Boy segera berlari keluar dari kamar Momnya. Citra lalu mengunci pintu. Sedang Rendra masih terdiam dengan muka merah disudut tempat tidur.


" Bisa ngak kamu bersikap biasa- biasa saja sama pria itu?" tanya Rendra begitu Citra sudah mendekat.


" Biasa aja kok sayang...Kok sampai segitunya cemburuan sama Aldin. Orang dia berkunjung jarang, ngak enak lagi dicuekin, lagian kan ia sudah aku anggap saudara.


Tak usahlah sayang semarah itu sama Istri, gara- gara nyambut saudara sendiri, Al kan dulu pernah menyelamatkan istrimu ini sayang... Udah kau buat babak belur dia tak nuntut


apa- apa. Ngapain juga sayang masih bersikap sinis sama dia. Ngak baik tadi sikap yang sayang tunjukin itu didepannya. " kata Citra yang membuat


hati Rendra kian panas.


Citra menangkap gejala kurang baik dari pancaran mata suami tercintanya. Ini orang baper pasti efek puasa dua bulan nih, aku harus segera ambil tindakan nih, biar ngak makin ngamuk nih singa lapar. " kata batin Citra seraya tersenyum tipis.


" Sayang...sini dong...Ada yang mau istrimu bisikkan. " kata Citra dengan tatapan menggoda.


" Apaan sih, kata Rendra Sowot, tapi ia tak bisa menolak panggilan istrinya. Ia segera duduk dekat istrinya. Citra menatap suaminya lekat.


" Dadynya bang Boy sama dedek Chalista makin Cakep deh...kalau lagi marah. " katanya melanjutkan rayuan noraknya.


"Merayu ya? " kata Rendra mulai melunak.


Citra tak menjawab, ia malah mengecup bibir Rendra dengan hangat. Mengesapnya lebih dalam sampai sang suami hampir kehabisan nafas.


" Pintar merayu sekarang ya! " kata Rendra setelah berhasil mengatur nafasnya yang tersegal- segal.


" Citra tak menjawab juga, malah ia memasukkan tangannya kedalam baju sang suami. Mengusap dada bidang Rendra dengan lembut. Kemudian menyandarkan kepalanya disana. Rendra tak tahan melanjutkan marahnya, ia mengusap kepala sang istri dengan lembut.


" Aku tak bisa melihatmu menyambutnya sehangat itu sayang...Tah mengapa pada Alden aku selalu ingin marah. Citra yang mungkin menganggap ia saudara, tapi menurutku, Al punya perasaan spesial padamu sayang... Aku tak mau kau bersikap seolah memberi harapan pada pria itu.


" Itu hanya perasaanmu saja sayang...Kalau Al jahat, mengapa ia menyelamatkanku sampai dua kali? Ia mungkin jatuh hati pada istrimu ini, tapi ia orang yang baik, ia sadar kalau Citramu Rendra yang punya, dan itu takkan bisa berubah, kecuali Rendra sendiri yang ngak mau. " kata Citra yang membuat Rendra membalikkan tubuh istrinya menghadap padanya.


" Rendra hanya untuk Citra! dan Citra hanya milik Rendra! Dan tidak ada kata kecuali! " kata Rendra seraya menatap manik mata istrinya, seolah ia ingin masuk kedalamnya, andai ia Siluman, ia akan segera merasuki tubuh itu dengan menyelami telaga beningnya.


" Sa...sa yang...Aku cemburu kalau ada orang yang berani menatap mata indah ini, Pria itu sangat berani, makanya setiap melihatnya aku selalu ingin


mematahkan tulangnya, agar ia tak bisa lagi mengunjungimu. " kata Rendra masih berapi- rapi kalau mengingat Alden.


" Kalau tulangnya patah, gimana ia mau menyelamatkan saudarinya kalau saudaranya sedang lengah? " tanya Citra, ia masih ingin suaminya berdamai dengan Alden.


" Sudah ada Boy yang akan menjaga mu kalau aku sedang sibuk. " kata Rendra tak mau kalah.


Rendra taktahan lagi, ia membuka satu persatu kancing baju Momynya si Chalista. Kali ini bukan untuk memikirkan putrinya, tapi ia sendiri lah yang sudah rindu membuat banyak tanda didada yang sekarang milik putrinya itu. Dengan manja Rendra bergayut didada penuh itu. Citra mendesah saat Rendra membuat tanda kepemilikan dikedua buah


pepaya yang sedang ranum itu.


" Sayang...Jangan sampai terhisap Airnya ya! " katanya mengingatkan suami.


" Iya Sayang...aku tahu itu punya anak kita sayang... I...ini...hanya daerah se..kitar.." jawabnya mulai bergetar.


Citra pun tak kuasa diam saja. Ia segera membuka baju suaminya.


" Kau sudah boleh Dinner malam ini sayang...Sudah dua bulan lebih, sudah bisa buka lagi, tapi pelan- pelan dulu ya. Bisiknya pada sang suami. Rendra segera menyambut bisikan itu dengan mbaringkan sang istri pelan dikasur, kemudian mereka mulai makan malam paling indah sepanjang masa. Ribuan kerlap- kerlip lilin memenuhi hati Rendra yang mulanya kelam.


Untunglah Baby Chalista mengerti kalau Dadynya sudah Rindu. Ia tidur dengan tenang. Seolah tak ingin mengganggu kedua orang tuanya yang sudah


sangat mendambakan malam ini.


Mereka mereguk manisnya pergumulan yang memabukkan itu. Tak ada bantahan, tak ada lagi ocehan, yang terdengar hanyalah suara- suara Ambigu. Kamar itu selalu setia jadi saksi, berkali- kali anak manusia itu merengkuh puncak asmaranya.


" Makasih sayang...I Love you Forever!..." kata Rendra setelah berhasil mendaki puncak tertinggi


fantasi asmara mereka, ia mengecup kening dan pipi mulus istrinya berkali- kali sebagai tanda terima kasih


" I love you tu


to so much Rendraku..." bisik Citra.


Ia pun membalas kecupan itu dengan mengusap lembut muka tampan suaminya.


" Aku sudah faham dengan suamiku, kalau ia sudah rindu, pasti cemburunya makin tak menentu.


Kalau sudah cemburu, wajah tampannya ini akan tampak lucu dan menggemaskan. " kata Citra seraya mengecup dagu berjenggot itu, kemudian ia


menggelitik pinggang suaminya yang masih betah diatasnya.


" Kapan diangkat nih cetakan 🍰, ntar kelamaan bobol nih KB. " katanya seraya makin gencar menggelitik Rendra, hingga karna tak tahan geli terpaksa ia mengangkat tubuhnya.


Sedetik kemudian Baby Chalista bangun. Ia mulai dengan renge an, kemudian ngagas tangisnya. Sang. Dady sudah riang, ia segera mengurus putri kecilnya, sementara Istri sedang membenahi diri dan tempat tidur mereka.


Pasangan itu kian Solit dalam bekerja sama mengurus rumah tangga. Makin bertambah hari, makin bertambah dewasa, makin banyak anak makin kuat rasa Cinta.


Begitulah yang selayaknya


terjadi bagi kita pasangan yang sudah mengikat cinta dalam bahtera Rumah tangga.


Semoga yang dekat makin rapat, yang rapat cepat dapat momongan. He...He....Salam hangat dari Autor TerπŸ’“πŸ’“πŸ’“ sejagat raye.


Bersambung....


Jangan lupa kasih hadiah terindah dengan


cara yang sama ya say...like, fote, komen, and faforitkan karya kite ni ye...Jangan kapok- kapok


mampir terus yuk...