Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 106



Pukul Enam sore, Boy dan Bella sudah sampai diMension. Anjani menyambut mereka dengan gembira.


Miftah dan Mamat mengurus bawaan tuan muda dan nyonya mudanya.


Sedang Boy menuntun Bella dengan hati- hati.


" Aku sudah stabil jalan sendiri kok yang..." Ucap Bella.


" Aku tahu...tapi aku mau menuntun istriku dihadapan semua orang, kalau kugendong juga tak ada masalah bukan?" sanggah boy.


Bella tak dapat membantah lagi, juga ketika Boy menggendongnya menaiki tangga menuju kamar mereka.


*****


William dan Anjani benar- benar menjalankan niat mereka untuk menjenguk Citra. Setelah magrib mereka Bermaksud pamit pada anak menantu untuk bermalam ketempat Citra.


Bella dan Boy baru turun dilantai Utama,


saat Anjani bermaksud naik.


" Langkah bagus..Berarti kami tak perlu nanjak dulu, bisa langsung berangkat. " Ucap Anjani sembari tersenyum melihat pasangan muda itu sudah ada dihadapan mereka.


Bella mengerutkan dahinya melihat papinya mendorong Bag travel besar yang penuh. Sedang mami Anjani menenteng parsel buah.


" Papi sama mami mau kemana? " tanyanya bingung melihat bawaan papinya


seperti akan berangkat jauh saja.


" Mau nginap ditempat mertuamu, kan janjinya begitu, mau kemana lagi? " jawab


Anjani dengan senyum mengembang bak bolu kukus yang baru keluar dari panci.


" Kirain mau keluar negri, bawaannya sampai sepenuh ransel besar itu." Ujar Bella.


" Suka- suka Kamilah...mau nginap berapa hari, kan bisa berangkat ngantornya dari sana. Ini baju- baju papi, karna badan papi kan beda ukurannya sama Boy. Kalau mamimu aman, bisa Sopping kapan aja. " Timpal Willi.


" Jadi kami disuruh balik cuma buat ditinggal dimension ini! ngak asyik ah ! " protes Bella.


Anjani menghampiri Bella, lalu berbisik.


" Kan ada suami siaga sayang...Berdua lebih asyik...Lagian banyak pelayan dan koki juga. Bella tinggal manja- manja saja


sama Boy. Seringai centil terukir dari bibir Mami Anjani.


" Kami berangkat langsung ya Boy...Nanti kalau sudah sampai kalian dimeja makan


Bella nahan langkah pula. " Ujar Willliam sembari menatap Boy.


" Ya Pi...Kami memang bermaksud ingin makan malam. " jawab Boy.


" Baiklah...kami langsung kabur Ah..." Pekik Anjani.


" Ngak usah kayak anak balita gitu mam...baik- baik dijalan. Jangan norak didepan Daddy Rendra. " Pituah Bella.


Sedang yang diberi nasehat hanya cengengesan.


Fatih sopir Anjani melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan mension. Sedang kedua suami istri itu hanya beberapa menit saja betah menatap jalanan, mereka berdua menguap, lalu tertidur dengan posisi Anjani yang menyandar didada Willi.


" Tuan besar dan nyonya masih mesra seperti pengantin baru hingga saat ini, kapan ya aku bertemu dengan jodohku, setelah berhasil membunuh perasaanku terhadap non Bella, sulit juga bagiku menemukan tambatan hati yang baru,


ya Allah...jika hamba diberi kesempatan jatuh cinta lagi, tolong jatuhkan hati hamba pada perempuan yang pantas, hingga hamba bisa melanjutkan hidup yang wajar." batin Fatih setelah mencuri pandang melalui spion.


Apa kita belum nyampe Tih? tanya William yang baru tersintak.


" Hampir tuan. Syukur tuan dah bangun,


soalnya Fatih segan kalau sampe harus ngebangunin tuan dan nyonya. " Ucap Fatih.


" Sorry ketiduran karna kecapean. Jadi terpaksa membiarkan kamunya nyetir sendiri sambil bermenung. " ujar Wiliiam yang membuat Fatih sedikit gugup.


" Ngak apa kok tuan, kan sudah tugas saya. Lagian saya hari ini nyantai, tadi yang bawa mobilkan Ayah. " jawab Fatih setelah menarik nafas berat.


" Iya tih...Mulai besok saya akan memberikan posisi dikantor untukmu. Kamu sarjana, sebaiknya kerja kantoran,


Nanti kamu akan mulai dulu bekerja jadi staf karyawan menggantikan posisi Bella waktu itu. Secara Bella kan sekarang kerja dengan suaminya. Kamu mau kan? " tanya Wiliam?


" Dengan senang hati tuan..." ucap Fatih dengan senyum sumbringah.


" Gitu dong...yang semangat, sekalian biar punya kesempatan banyak ketemu perempuan cantik. Dikantor saya kan karyawannya kebanyakan perempuan muda, beda dengan GNN Group, kebanyakan karyawannya lelaki, kalau ada perempuan itu yang sudah tiga puluh tahunan keatas. " Jelas Wiliiam dengan senyum sarkas.


Sedang Fatih hanya membalas dengan senyum saja.


" Nih tuan masih saja cari kesempatan buat menunjukkan keunggulannya dari besan. Padahal besannya jauh lebih sukses darinya. Walau karyawannya kebanyakan cowok dan perempuan dewasa, mereka umumnya yang lihai, sigap dan berpengalaman." protes Fatih hanya bisa ia ucapkan dalam hati saja.


****


Sementara dirumahnya Rendra sudah punya rencana untuk menengokin dedek bayi malam ini. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika membaca chatt dari Boy.


Daddy siap- siap kedatangan tamu dari Paris..He...He...Becanda...Mami sama papi mau mendarat dirumah kita,


bawa bag besar, jangan bingung, apalagi protes, rencananya mereka mau nginap seminggu. Tolong minta pak Joko ngasih remot kamar kami." Selamat main Yaoma, Orang miskin dan orang kaya! Ha...ha...🤣🤣🤣.


" Pesan Apaan yang...kok sampai segitunya lipatan jidat. " tanya Citra.


" Ini pesan dari putramu, katanya Sangkuni raja Gandara sama istrinya mau nginap dirumah kita sampe seminggu. " ucap Rendra.


Citra malah ikut- ikutan mengernyitkan dahinya. Ditatapnya Rendra dengan tatapan bingung.


" Bukankah diFilmnya Sangkuni tak pernah membawa istri? " tanya Citra yang


mengira suaminya akan menerima tamu aktor dari India itu.


He...He... Sayang...jadi kamu ngiranya serius? " Kikik Rendra.


" Iyalah...kirain kamu ngundang aktor India Pranet Bhatt itu buat iklan." Rungut Citra.


" Maksud babang itu, mertuanya siBoy Cantik... kan raja Gandara sipengacau! Karna malam ini ada rencana kencan sama istri, malah mau kedatangan tamu


mereka, ya jadi teringat saja raja Gandara. " Jelas Rendra.


" Ih...dasar tuan mesum...sudah meleset masih juga mikirin gituan. " rungut Citra.


" Assalamualaikum...Tuan dan nyonya yang selalu diberkahi banyak keberuntungan!!! " terdengar salam disertai teriakan dari arah pintu.


" Anjani! " Citra berdiri dan buru - buru menyambut besannya.


" Waalaikum salam...Sayang... Tumben datang malam- malam. Mana Willi? " Tanya Citra, sembari menerima parsel dari Anjani.


" Sudah keatas, membawa bag travel, kami mau nginap seminggu, kami datang mintak anak. " Ucap Anjani Enteng.


" Minta anak apa? Anak ayam? " tanya Rendra.


" Suuut...Jangan ikut campur urusan ibu- ibu! Sana temui William! " Ucap Citra menatap tajam suaminya.


Rendra mengangkat bahu dan keluar dari kamar mereka.


" Jadi kalian sudah tahu? tanya Citra setelah meletakkan parsel dimeja, Lalu menarik Anjani duduk di Sofa.


Anjani duduk santai sembari tersenyum


menatap besan.


" Bella yang keceplosan karna kesal kami


minta anak mereka panggil mami sama papi sama kami. " jelas Anjani.


" Jadi Bella benar hamil? " tanya Citra balik.


" Uhu... tadi pagi pingsan dikantor, dibawa kerumah sakit, sekarang sudah dimension, jadi mereka tak kasih kabar? "


tanya Anjani dengan tatapan menyelidik.


" Tuh anak...benar- benar ya! sedikitpun mereka tak ada kasih kabar, ngirim chatt saja barusan, itupun untuk menyampaikan kedatangan kalian saja.


Anak- anak sekarang! Sudah dapat maunya memang begitu! " Geram Citra.


" Mungkin mereka sengaja, sekalian surprise buat Rendra, setelah anak bronjol, Cucu nyusul. He...He..." kekeh Anjani.


Lalu kedua perempuan itu cekikikan.


Pipi mereka memerah, seakan mereka gadis remaja SMA yang baru puber.


" Betapa beruntungnya kalian, sudah punya tiga dikasih tambah lagi sama Allah.." Lirih Anjani.


Citra menyentuh perutnya yang masih datar dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menyentuh pundakbanjani.


" Ngak usah ngumpat gitu mami...Nanti kalau sudah lahir yang ini kita rawat bersama. Kalau kalian mau, nanti kami titip dia sama Anjani dan Willi, soalnya tahun depankan ada rencana naik Haji. " Ucap Citra enteng.


Tentu saja membuat Anjani girang.


Jadi boleh dong orang minta


anak?


" He...he...Kan anak kita juga.. Yang penting mami sama papi doain aja mommy dan baby sehat dan selamat. Kalau sudah lahir kita manjakan bersama. " Ucap Citra.


Kami ini Orang miskin Ya Oma ya Oma....


Kami ini orang kaya Ya oma....


Kami datang mintak anak.... Yaoma. " Ucap mereka bergantian menirukan permainan asal betawi itu.


Tanpa terasa fikiran mereka benar- benar kembali kemasa kanak- kanak.


Tanpa beban, tanpa dosa. Sesekali orang dewasa juga boleh kekanak- Kanakan, selagi masih ada kesempatan.


Kriuuk...kriuk...Perut Anjani berbunyi.


" Oh...Ya...Ayo makan malam, tuh Sumatra tengah udah minta, kami juga belum makan malam " Ucap Citra sembari menarik Anjani keluar.


Anjani yang tersipu malu karna perbuatan perutnya, Lalu ia mengikuti besan cantiknya dengan patuh.


Sesampai diruang tamu, terlihat kedua ayah sedang asyik berbincang disofa.


Mereka menghampiri pasangan masing- masing, menggamit dan membawanya menuju ruang makan.


Setelah mengelap bibirnya dengan tisu, usai makan, Dokter Rinto angkat bicara.


" Nampaknya Rumah bakal tambah rame, setelah cucu keempat bakal datang Cicit.


Mudah- mudahan umurku masih untuk menyaksikan itu semua. " Ucapnya dengan senyum manis.


Giginya Rinto memang kuat, bukan gigi palsu, diusia kepala tujuh gigi depannya masih kokoh dan bersih. Hanya geraham yang sudah mulai keping- keping. Itu tidak terlihat, hingga Ayah Citra itu masih manis kalau tersenyum.


Amiin...seru semua anggota keluarga.


" Jadi sama ayah mereka sampaikan beritanya? tanya Citra dengan nada cemburu.


" Iyalah...kan kakek kesayangan, lagian kamikan kakak beradik. Tentu Boy takkan


lupa membagikan kabar bahagianya, pada Abang tampannya ini. " Ujar sang Ayah bangga.


Citra terpaksa tersenyum, walau ia merasa terabaikan.


" Benar juga...mereka yang bersaudara, sudah pantas satu rahasia. " bujuk batin Citra.


Sedang Rendra tercengang sembari mengepalkan tinju.


" Untuk itulah kami kemari, diutus mereka


membagikan kabar gembira ini." Kilah William menenangkan Rendra.


" Begitu ceritanya...Kukira anak itu sengaja diam- diam." Ucap Rendra.


" Nampaknya kali ini Sangkuni raja Gandara tidak mengacau. " Batin Citra


sembari tersenyum.


Sedang Anjani, meremas tangan suaminya, sebagai ungkapan terima kasih.


Bersambung.