
Amiin...Abang memang selalu datang tepat waktu! " puji Raisa.
" Itu karna adik doanya mantap, setiap ada masalah, selalu datang pertolongan dari Allah. Abang hanyalah Alat saja, Tuhan yang Maha pengatur.
" Raisa pergi dulu kedalam bang...Ingin melihat tamu- tamu pembuat kue kak Ita." Pamit Raisa.
Boy mengusap pipi adiknya." Cuci muka dan pake bedak dulu dik...Kalau merasa tidak baik, tak usah ikut, istirahat saja dikamar, nanti akan banyak yang bekerja mengurus persiapan Pesta. Pihak IO juga akan datang dan bertugas, Raisa tak perlu banyak bekerja. " Ujar Boy.
" Baik bang...Adik rasa- rasa dulu. Kalau aman baru bergabung." - Raisa.
" Baiklah...terserah adik Abang saja." Gumam Boy.
Raisa pun berlalu, sedang Boy menatap adiknya hingga punggungnya menghilang dari pandangan.
" Semoga cita- citamu terujud dik....dan Allah mempertemukan
pasangan yang baik yang cintanya lebih padamu suatu hari." Pinta Boy dalam hati.
" Kenapa termenung Young Daddy!!! Rendra tiba- tiba datang menepuk pundak Boy.
" Ngantuk Old Daddy!!! Maklum..." Boy menggantung ucapannya.
" Iya...Daddy juga ngantuk! Namanya juga
punya bayi, apalagi kembar, Ayah siaga pasti akan banyak terkuras waktu istirahatnya. " kata Rendra.
" Tentu Daddy takkan bisa mengejekku kali ini, karna Daddypun diberi kesempatan yang sama. Jadi ayah siaga lagi. He...He...
" Allah memang Maha Adil. Tidak mengizinkan Daddy untuk membullymu
sedikitpun, karna itu sama dengan membully diri sendiri.
Boy balas menepuk pundak Daddynya. " Karna bully membully memang tidak diperbolehkan dalam hukum dan agama, karna pada dasarnya semua manusia sama, pasti ada kekurangannya." Ujar Boy.
" Ya...iya...Daddy mematuhi putranya mulai hari ini, karna tim putranya jauh lebih kuat! He...He...Kekeh Rendra.
" Tim putranya adalah Tim Daddynya juga. " Ujar Boy sembari mengulurkan tangannya.
" Old Daddy and Young Daddy Is Handsome Dad!!! He...He... Seru mereka serentak dengan kenarsisan yang sama, membuat para pelayan yang kebetulan melihat senyum- senyum dikulum sembari menunduk.
Bella, Twins Boy dengan dibantu perawat sedang berjalan - jalan, mendengar suara tawa Menggema dari para Daddy, ia mengarahkan langkah menuju sumber suara itu, diikuti kedua perawat yang hanya bekerja siang hari itu.
Demikian juga dengan Citra, ia datang dengan menggendong baby Sonia dan menyerahkan pada ayahnya.
Menit berikutnya kedua Daddy itu sudah sibuk dengan momongan mereka. Tak dapat diragukan lagi mereka sama- sama
Possesiv Daddy.
******
Sementara Amer sejak dari tadi sibuk menelfon Catinnya, tapi tak kunjung ada jawaban. Dengan kecil hati iapun melempar telfonnya kekasur.
" Paling kelamaan ditelfon, ia jadi ngambek." Gumamnya sembari berbaring ditempat tidur.
Amer memijiti pelipisnya, sembari menatap langit- langit
kamar, Ketika telfonnya berdering.
Amer melonjak, mengira calon istri yang telfon balik.
" Ternyata mama..." Gumamnya melongok layar.
" Ada apa ma? tanyanya setelah menyambungkan panggilan.
" Siap- siaplah, mama dan papa akan membawamu berbelanja! " Terdengar perintah nyonya besar Adelia dari sebrang.
" Ih.. Mama...Sekali ngomong langsung memerintah, ngak mau tahu gimana perasaan putranya dulu. " protes Amer.
" Alah...tak usah ditanya mama sudah tahu, seberapa jumlah cacing kremimu saja mama tahu, apalagi isi fiikiranmu. Paling kau lagi sebal Chalista tak mengangkat telfonmu, itu anak lagi sibuk buat kue sama teman- teman kampusnya didapur ! " Ujar Adelia.
Amer tersenyum sembari menarik nafas lega. Hening sejenak ditelfon.
" Sekarang Udah mama bocorin rahasia menantu! Hatimu sudah aman kan Bocil ! Ayo bersiap, mama papa akan segera tiba! " titah Adel lagi.
" Ih...Sudah mau beristri dipanggil bocil " " Protes Amer.
" Sebelum akad nikah kau masih Bocil kami! "
" Okelah kalau begitu...Terserah nyonya Mahotra! " Canda Amer.
Tuuuut...Telfon diputus tanpa belas kasih.
" Mama...Mama...selalu begitu ! kayak Pacet kenyang langsung lekang." Protes Amer sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tentu saja Adelia tak bisa mendengarnya lagi.
_
_
" Ayo sayang maju...Kita temani segera bocah itu, hitung- hitung penutupan ia jadi bocah! Karna sebentar lagi ia akan mempersiapkan diri jadi Ayah." Ajak Adel pada suaminya yang sudah dibelakang kemudi.
" Kita akan jadi kakek nenek ditahun berikutnya! Kalau Allah memberi umur yang panjang! " Senyum Arif mengembang. Kemudian ia melajukan mobil meninggalkan pelataran parkir keluarga Kims.
Didapur para koki dan keempat teman Ita
mulai sibuk membuat kue. Tentu saja Ita tidak diberi tugas, karna calon mempelai tidak boleh capek- capek. Chalis yang gatal tangan sesekali melongok mereka.
Begitu tangannya terulur ingin bekerja, Mila langsung membedaki nya dengan tepung. Hingga Ita teriak- teriak didapur mewah itu, karna diserbu teman- tamannya yang lain juga . Sedang para koki hanya geleng- geleng kepala.
Chalista melupakan kekesalannya pada calon suami. Ia menikmati kebersamaan dengan sahabat terbaiknya Mila.
" Setelah ini kau akan jadi Nyonya! Kau pasti akan sibuk dan tak sempat bergelut
dengan kami lagi. Nikmatilah saat - saat pelepasan masa lajangmu ini. Hari ini kami akan membuat wajah cantikmu berbalur tepung kue. Dan kita akan berselfi ria dengan penampilan seperti ini." Kata Mila sembari membedaki Wajah Chalis dengan tepung yang sudah dicampur air.
Chalista tidak bisa menolak, karna tiga temannya memeganginya.
" Ini balasan dariku karna kakak membuat abangku patah hati! " Seru Yuli mengecat wajah Chalis.
Chalis membulatkan matanya sembari menatap Yuli dengan memelas.
" Ampun dik Yuli..Kakak tak bermaksud membuat Jabri sampai patah hati. Tapi begitulah cinta, kadang tidak bisa kita atur dimana tempatnya jatuh. Kalau bisa memilih tempat berlabuh hati, tentu kakak lebih memilih Jabri, karna ia pangeran Kampus yang digilai para Maha siswi." Ujar Chalis tak enak hati.
" Sudah! Sudah! jangan sampai terbawa perasaan! Aku cuma tidak tahan tidak menyampaikan dendam hatiku, setelah tersampaikan, rasanya lega. He...He... " Kekeh Yuli sembari mencubit hidung Chalista.
" Heem...Nampaknya ada drama perpisahan kakak ipar dan calon adik ipar tak jadi nih...Sebaiknya kita Abadikan momen ini. " Kata Mila membidik dengan Camera digitalnya.
" Mila!!! ternyata lho kesini bukan cuma niat buat kue! " Teriak Chalis setelah sadar ternyata temannya membawa Camera.
" Emang! Kalau bikin kuekan koki lho jelas dah banyak. Aku kesini ingin bersenang- senang dengan mantan bintang kampus, sebelum ia menjadi milik pribadi." Mila melelet dan mencolek pipi Ita dengan tepung.
" Chalis pasrah diperlakukan semau temannya, tapi ia juga tak mau kalah, ia membedaki mereka bergantian. Jadilah Kelima bidadari itu berubah jadi badut, mereka berfoto- foto sembari cekikikan.
Para koki terpaksa melanjutkan membuat kue.
Sedang para gadis sibuk bergelut.
Raisa menghentikan langkahnya didepan pintu. Begitu ia mau berbalik Mila mencegatnya.
" Stop! Bidadari keenam juga kesini! Tak peduli bagaimana perasaan hari ini yang penting kita berfoto ria! " Ujar Mila sembari mengejar Raisa dan membedaki nya juga.
" Ha...ha..." Gelak tawa mereka berenam saling tunjuk karna bentuk Masing- masing yang sudah berantakan.
Tak terasa, Raisapun melupakan patah hatinya, larut dalam canda bersama teman kakaknya.
Boy menonton aksi didapur dengan istri melalui Camera CCTV yang terhubung dengan HPnya.
" Kalau aku ngak baru lahiran, aku pasti ingin ikutan jadi badut ketujuh yang.." Celoteh Bella girang melihat aksi adik ipar dan teman- temannya.
" He...He...Iri bilang Bos!...Kekeh Boy.
" Habis aku ngak punya teman- teman Bar- bar seperti Chalista..." Rengek Bella.
" Tapi kau punya teman yang bisa mengantarmu kepelaminan bersama sayang...Dimana kurangnya kebahagiaanmu?
" He...He...Ngak ada...Aku sangat bahagia! Aku saja yang lupa!" Ujar Bella mantap.
Hua....Hua....Nge...Nge...Ha.... Kedua perawat datang membawa Bahar dan Bahri yang menangis dengan mulut memutar kemiri dan kekanan mencari ****** mimik.
Bella dan Boy terkikik melihat betapa lucunya bibir kedua jagoan mereka.
" Maaf kak Bella mereka tak mau diam, sepertinya sama- sama haus! " ucap Airin yang dianggukkan oleh Nina.
" Ya...Aku yang lebih rame kiranya! " Ujar Bella menyambut kedua jagoannya untuk dimimikkan kiri - kanan. "
Bersambung...