
Tak terkira betapa senangnya hati Rendra, saat baby boy yang tampan lahir dengan sehat dan selamat. Akhirnya impiannya untuk menyaksikan sendiri putranya terlahir kedunia ini telah diwujudkan oleh yang Kuasa. Wajah sang baby sangat Identik dengan dirinya. Hanya bentuk alis dan rambutnya saja yang berbeda. Garis alis putranya mengikuti model alis momynya. Rambutnya juga lebih halus.
" Bersyukurlah nona, babymu Dengan Bobot 5 KG dan panjang 50 Cm , bisa lahir dengan mudah dan normal." kata pak dokter setelah perawat menimbang dan mengukur panjang Boy. Baby tampan itu menatap Momy dan Daddy nya bergantian, kemudian beralih menatap sang dokter.
" Baby boy yang Genius, sepertinya baru lahir saja ia sudah dapat berinteraksi fokus pada lingkungannya. " kata sang dokter lagi.
" Selamat menjadi Momy and Daddy! Dan segera catat daftar nama untuk baby kalian. " kata sang dokter menatap Citra dan Stefi bergantian. " Yang membuat Citra terbahak. Sedang Rendra yang jadi Stefi hanya tersenyum tipis, karna ia tahu sang dokter punya insting yang kuat.
" Aku sudah siapkan nama untuk baby kalian." Kata Mr Kims begitu datang bersama kursi rodanya.
Yang membuat semua mata tertuju pada mereka.
" Siapa kek? " tanya Citra
" Bhalendra boy Chen Hapsar." kata Mr Kims dengan tatapan berbinar.
" Artinya apa kek? " tanya Stefi.
" Dewa cemerlang yang besar, dari Cina dan Jawa
" Jelas Mr Kims sekenanya.
Sebenarnya Rendra pengen protes. " aku yang punya anak, kakek yang malah sibuk. " protes Rendra, tapi hanya bisa ia ucapkan dalam hati saja.
" Dan sesuai perjanjian. Karna boy sudah lahir, maka Citra akan segera menikahi cucuku. Kakek sudah menyiapkan penghulu dan semua berkas Nanti malam pernikahan itu akan dilangsungkan. " kata Mr Kims kemudian yang membuat mata Citra terbelalak.
" Ta....ta...Tapi akukan belum kenal dengan cucu kakek. " kata Citra protes.
" Dalam perjanjian, pengantin wanita bersedia dinikahkan tanpa melihat terlebih dahulu calon suaminya. Itu sudah adik tanda tangani. Cucuku baru akan datang dari luar kota nanti sore. Jadi waktunya tak memungkinkan.
" Kakek menipuku? " tanya Citra.
" Tak ada penipuan sayang...bukankah Citra sendiri yang menandatangani kontrak itu. Dan Citra juga yang mengatakan tidak akan rugi menikahi cucuku, memang tidak akan ada ruginya, karna cucuku tampan dan kaya raya, itupun boy ingin segera punya ayah yang Syah.. " Ujar Mr Kims mendominasi.
" Apa tidak bisa ditunggu sampai 40 hari? " tanya Citra menatap Mr. Kims dengan tatapan memohon.
" Tidak! Seharusnya pagi ini sudah bisa dilangsungkan pernikahannya sesuai perjanjian. " tapi cucu kakek masih diluar kota, ia juga butuh persiapan lahir dan batin. Pokoknya kamu tenang saja sayang...Biarkan anakmu segera punya ayah. " kata tuan Kims membujuk Citra seraya membelai puncuk kepalanya.
" Aduh... kakek..., enak- enakan semesra itu pada ibu anakku. " Gerutu batin Rendra cemburu, ia segera menggendong boy dan menciuminya. Boy menatap Rendra dengan intens, lalu ia tersenyum.
Hati Rendra terhibur. Putranya sepertinya mengerti perasaannya.
" Tapi bagaimana ia bisa menerima putraku kek. Aku tak mau memberikan ayah tiri untuk putraku yang baru lahir, bagaimana kalau ayah kandungnya nanti ketemu dan mengambil putraku. Aku tak mau itu terjadi." Kata Citra berusaha mencari alasan
" Jangan banyak alasan sayang...Jalani saja dulu , jangan takut sebelum perang. Kalau nantinya ayah kandungnya sudah ketemu, Citra boleh memilih ayah kandungnya." kata Mr. Kims mantap.
Citra kehilangan kata untuk bicara, nampaknya bernegosiasi dengan Tionghoa turunan ini takkan ada menang- menangnya ia.
Tiba- tiba darah penjajah Citra menyusut bagai ombak dilaut yang sedang surut pasang.
Akhirnya hanya keputusan
sikakeklah yang berlaku, apalagi ia punya dokumen, mau dibawa kemana tetaplah tuan sipit itu yang akan menang.
Rendra kembali kerumah dengan perasaan campur aduk. Dalam keadaan seperti ini, ia ingin segera berbaring dipangkuan ibu asuhnya. Begitu sampai dirumah, ia langsung mencari bi Sumi.
" Selamat ya sayang...putramu lahir dengan selamat. " kata bi sumi begitu Rendra tiba dirumah.
Rendra segera memeluk ibu asuhnya itu. Terima kasih Bu, Ren senang sekarang, tapi risau juga, nanti malam Kakek sudah menetapkan malam pernikahan kami. Tapi Citrakan belum tahu siapa cucu kakek yang akan menikahinya. Aku bagai menggenggam bara ibu, bagaimana kalau ia meninggalkanku setelah tahu akulah cucu kakek Kims. " Ujar Rendra dengan tatapan bimbang.
" Kamu seorang penguasa di kerajaan bisnismu sayang. Selama ini Rendra selalu tegas dan tak mengenal kata takut. Untuk selanjutnya juga harus tetap begitu, apupun keputusan yang sudah diambil kakekmu untuk masa depan kau dan anakmu, maka jalanilah tanpa rasa takut.
" Yang penting kau berusaha jadi Ayah istimewa, suami siaga, Insya Allah putra dan istrimu akan menjadikanmu Raja dihati mereka.
" Hati perempuan itu memang rumit, tapi begitu seorang suami bisa menemukan jalan memasukinya, maka hati itu sendiri yang akan terbuka untuknya.
" Jangan takut sebelum perang. Hidup akan berjalan sesuai kehendak yang kuasa, tapi sebagai manusia kita harus berusaha untuk mencari jalan yang terbaik. Kau bagi ibu adalah yang terbaik, mudah- mudahan suatu saat Citra juga menyadari kalau putraku satu- satunya didunia ini adalah yang
terbaik untuknya. Amiin." Jelas bi Sumi seraya mengusap wajah Rendra. Sentuhan tangan tua itu mengalir menyejukkan hati Rendra.
Tiba- tiba Rendra teringat dengan dokter Rinto. Sejak Citra pindah ke Istana kakeknya, sang dokter sudah tak pernah lagi memeriksa kondisi tuan Kims. Ia bahkan merekomendasikan dokter yang lebih muda untuk menggantikannya merawat Mr Kims. Waktu itu Rendra sempat menanyakan lewat telfon, tapi Dokter Rinto beralasan ia akhir-akhir ini kurang sehat. Tiba- tiba hari ini Rendra ingin menemui lelaki yang sudah ia anggap ayah itu.
Ia ingin minta Restu pada sang ayah untuk pernikahannya nanti malam.
" Aku akan kesuatu tempat ibu. Aku mohon restu ibu untuk pernikahanku. " kata Rendra
" Restu ibu akan selalu bersamamu sayang, tanpa perlu kau memintanya. " kata bi Sumi.
Dirumah dokter Rinto, Rendra yang ditemani Hans
disambut hangat oleh dokter Rinto dan istrinya. Rendra tanpa basa- basi menyatakan maksud kedatangannya. Dengan bersimpuh dikaki dokter keluarganya yang sebaya dengan ayahnya itu, ia menyampaikan rencana pernikahannya.
" Rendra sudah menemukan mereka ayah, nanti malam Rendra akan segera menikahinya, walau ia belum tahu siapa yang akan ia nikahi, tapi ia sudah menyetujui pernikahan kami. " kata Rendra memulai pembicaraan.
" Ayahku tak jelas pusaranya dimana, hanya ayah tempat Rendra minta Restu. Mohon restui pernikahan Rendra ayah, dan mohon doanya supaya aku bisa mendapatkan hati ibu dan anakku setelah aku nikahi. " Ucap Rendra dengan berurai airmata.
" Pasti sayang...Kami akan mendoakan kalian anak- anak kami supaya bahagia. Nampaknya Allah mendengarkan gurauan kami dengan ayahmu saat kau kecil. Akhirnya Kau akan menikahi putriku juga. " kata Dokter Rinto seraya memeluk Rendra.
" Jadi Citra adalah putri tunggal ayah yang diKota P itu? " tanya Rendra dengan mata membulat kaget.
" Iya anakku, saat ia pindah kerumah tuan Kims, saat tuan Kims mengirimkan CV ya pada ayah, untuk mencarikan dokter psykologi bagi Citra, ayah tahu ia adalah putri ayah. Setelah merekomendasikan dokter psykolog terbaik untuk calon istrimu ayah lalu berangkat ke kota P,encari putri ayah Citra. Ternyata kabarnya ayah mertua sudah meninggal, dan Citra berangkat ke Ibukota untuk bekerja salah satu perusahaan GNN group." cerita Dokter Rinto.
Sekarang Rendra lega, ia tak sabar menunggu malam tiba, ia bahkan akan menikahi perempuan yang dari kecil sudah disukai oleh Momy dan Daddy nya. Ia tak ubahnya dokter Rinto sekarang, mereka akan berjuang untuk mendapatkan lagi hati
perempuan muda yang sudah merasa mereka khianati. Akankah ayah dan menantu itu berhasil.
Semoga.
\*\*\*\*\*
Malam yang dinanti telah tiba, Rendra duduk dihadapan penghulu dan dokter Rinto. Beserta para pengawal, ada bi Sumi , dr Meri dan Adelia , Mr Kims yang menyaksikan ketika Rendra mengucapkan ijab qobul. Tepat pukul 22: 15 acara pernikahan yang ditutup dengan doa dan makan bersama itu selesai. Surat nikah sudah selesai, tinggal tanda tangan kedua pengantin.
" Selamat sayang..." sekarang kau sudah Syah menjadi istri cucuku." kata Kims menyerahkan surat nikah istri pada Citra, kemudian diikuti petugas KUA minta tanda tangan Citra. Citra sejenak bingung dengan apa yang sudah ia alami, ditatapnya sang putra dibox baby. Melihat baby-nya
menatapnya sembari melengkungkan bibirnya, Citra segera menanda tangani surat - surat itu.
" Mudah- mudahan ini baik untuk putraku. " kata hatinya.
" Oh ya kakek? Siapa yang menjadi wali nikahku? " tanya Citra masih bingung.
" Ayahmu sayang...Ayah kandungmu. " jawab tuan Kims.
" Dimana kakek menemukan pria itu? " tanyanya.
" Tuhan mempertemukan kakek dengannya sejak lama. " kata Mr Kims yang membuat Citra kian bingung.
" Mengapa kakek sekarang begitu banyak teka- teki ya? " tanya hatinya.
Bersambung
Jangan lewat saja ya. Mampir dulu dikarya ini , jangan lupa kasih like, Fote, and faforitkan karya kita ini ya say...and nantikan part berikutnya.