
Dua bulan sejak kepulangan haji Rendra.
Jet pribadi keluarga mendarat di bandara khusus keluarga lagi. Seorang perempuan muda memakai cadar berjalan anggun turun dari jet itu sembari menggeret kopernya.
Para pelayan segera menghampiri, meminta koper itu dari nyonya muda mereka. Berikutnya turun seorang pramugara membawakan koper lainnya.
" Kak Ica datan....Seru seorang balita putri yang disusul oleh dua balita tampan
berlari menuju gerbang utama.
Sonia...Bahar...Bahri...jangan lari- lari! " teriak sang bunda yang ikut berlari mengejar mereka.
Begitu tadi mendengar suara pesawat, mereka yakin itu Raisa, hingga ketiga Balita itu tak bisa menahan untuk segera bertemu dengan Raisa.
Raisa melempar Trapel bagnya sembarangan, begitu adik dan kedua ponakannya sudah tiba didepannya. Raisa segera berjongkok dan mengembangkan tangannya, untuk menyambut peluk ketiga kesayangannya itu.
Balla hanya bisa tersenyum memandangi ketiga balita itu sudah berada dalam pelukan Ica. Citra yang baru datang, juga bisa melempar senyum saja.
" Sudah ada yang menggantikan kita menyambut Raisa Bella, tampaknya sambutan mereka jauh lebih hangat." ucap kagum Citra.
" Ya mom...Para ibu tinggal menunggu tua! ketika anak- anak akan menjadi besar. " Balas Bella mengangkat bahu.
Para pelayan dengan cepat tanggap mengurus semua bawaan nona muda mereka.
Raisa Menggendong Sonia, Melempar tangkapnya keudara.
" Kakak...Janan tinggi - tinggi, adik tatut jatuh!" Teriak Sonia cemas.
" Onty tak ucah Tante Cegeng, tulunin ia, biar Bahal sama adik yang dilempal, itu akan cangat Asik.." rengek Bahar dikaki Raisa.
Raisa menurunkan Sonia yang memang tak kuat diayunkan seperti itu. Lalu Raisa menggendong Bahar dan melempar tangkapnya.
Hek..hek ...Hak...hak..." kedua bocah itu tertawa cekikikan dan tanpa rasa takut dibuat begitu oleh ontynya.
Sedang Sonia memandang mereka dengan menggeleng- gelangkan kepalanya.
Setelah Bahri turun,dan tawa mereka berhenti, Sonia langsung menarik kakaknya masuk.
" Mana Abang kak? " Tanya Raisa begitu sampai didalam setelah digiring oleh ketiga balita kesayangannya itu.
" Biasa, kalau Sabtu diklinik, ia lagi sibuk dengan pasien anak Jenius yang salah asuhan." Jelas Bella.
" Jadi gimana anaknya? " tanya Raisa penasaran.
" Ya gawatlah...Nyaris psycopat gitu, Minggu Kemarin kakak ikut menemani saat anak itu Konsul, hari ini kurang enak badan, jadi ngak ikut keklinik." Jelas Bella.
" Ternyata klinik yang hanya buka Sabtu Minggu itu ada juga pasiennya ya? " tanggap Raisa tak percaya.
" Malah makin rame sekarang Ca...Kebanyakan pasiennya anak jelang remaja, yang mentalnya rusak akibat salah asuhan, pengaruh tehnologi dan dampak negatif pergaulan dunia Maya." jelas Bella.
" Kayaknya yang tua ngak dapat giliran nih. " Sindir Citra.
Kemudian Raisa memeluk momnynya,
" Maaf mommy sayang...
اشتقت لأمي
aishtaqt li'umiy
" Mommy juga kangen sayang..." Jawab Citra sembari menepuk- nepuk lembut pundak putrinya.
" Gimana sayang...Sudah dapat calonnya? " Ujar seorang lelaki tua datang dari dalam dituntun oleh dua pengawal nya.
" Kakek! " Teriak Raisa.
Citra melepaskan dekapannya dari sang putri, mendengar suara ayahnya.
Raisapun setengah berlari menghadap kakek, memeluk untuk melepas rindu.
" Cepatlah menikah sayang...kakek sudah tak bisa bertahan lama lagi, tapi rasanya kakek belum bisa menutup mata dengan tenang sebelum menghantar Ica kepelaminan. " Rengek sang kakek dengan airmata berurai, sekarang nafas kakeknya sudah semakin sesak, Raisa tak kuasa menahan sebak, mendengar permintaan kakek disela nafas yang sesak.
" Kalau begitu, Ica akan menundanya lagi, agar kakek bisa bertahan lagi. " ucap Raisa lirih.
" Tega membuat kakekmu sakit- sakitan begini lebih lama lagi. " Protes lirih Rinto,
terdengar sendu ditelinga Raisa.
Raisa tercekat, ia menggigit bibir bawahnya. Dilepasnya pelukan mereka, lalu diusapnya wajah lusuh itu
" Baiklah kek...Ica akan fikirkan itu, sekarang kakek istirahat dulu ya..Biar Raisa siap- siap cari calonnya dulu. Siapa tahu ada He...He..." Ujar Raisa mencoba bercanda, iapun memapah sang kakek kembali kekamarnya.
Sedang yang lain turut menahan airmata.
*****
Sementara Boy, sedang duduk dikursi putar ruangannya, menatap lekat wajah bocah manis yang memiliki pandangan seram, setajam silet.
" Mengapa Orang- orang bodoh itu selalu mengajakku bertemu dokter tampan ini tiap Minggu! " Seringai bocah perempuan itu.
" Supaya adik jadi baik, dan bisa jadi psikolog kayak Abang suatu hari nanti. " Jawab Boy menyenangkan gadis kecil itu.
" Iya bang...Sebenarnya Ulya ingin jadi dokter, tapi orang- orang bodoh itu membuat Aulia pusing. Pusing setiap hari. " ujarnya lagi.
" Ayo cerita lagi pusingnya sayang...Biar Abang bantu. " Bujuk Boy.
" Pusingnya ruet pokoknya, nih kepala rasanya ada lima! " Teriak gadis itu.
" Kalau begitu jawab pertanyaan Abang ya, dengan menjawab benar, ntar kepalanya bisa ilang satu- satu. Insya Allah ntar tingal satu lagi, itu akan terasa ringan. " Ucap bujuk Boy lagi.
" Dik Ulya benar nusuk Umi pake pisau dapur? " tanya Boy.
" Ngak! Belum, masih menghadang, sudah dicegah sama dua jagoannya yang sok pahlawan itu, jangan sok nuduh lho ya, mentang ganteng! " Sergah Ulya.
Boy tersenyum. " Ngak sayang sama umi? Bukankah Syurga ada ditelapak kaki Umi, kalau uminya meninggal, kemana cari Syurga? " tanya Boy lagi.
" Mana ada Syurga ditelapak kaki wanita itu, ia perempuan yang nikah lagi, ia membuatku berayah tiri! mana ada Syurga dibawah kakinya." Ujar gadis kecil itu dengan ekspresi kebencian mendalam.
" Emang ayah tirinya jahat ya, pernah mukul? Marah- marah? "
" Tidak! Aku tak suka saja sama dia, nenek bilang ayah tiri itu jahat. " ucap jujur Ulya, kemudian airmatanya mengalir.
Raisa tiba ketika itu, mengusap airmata gadis itu dengan sapu tangannya. Ulya menatap aneh perempuan dengan wajah tertutup dengan tatapan mata lembut itu.
" Kakak adiknya Abang itu, mau jemput Abang itu untuk minta restu pernikahan kakak dengan calon kakak. " Ucap Raisa seolah menjawab tanya dibalik tatap gadis kecil itu.
" Jadi kakak ingin nikah juga? " tanya Ulya.
" Tentu sayang...karna menikah itu Sunnah. " Ujar Raisa.
" Tidak karna gatal seperti kata nenek dan Mimi Ulya? " tanya selidik Ulya.
Raisa membelai rambut Ulya. " Menikah itu tidak gatal sayang, yang gatal itu orang yang bergaul bebas tanpa nikah.
Apa Umi begitu?" Tanya Raisa.
" Tidak! Umi menikah menggantikan ayah kami yang telah duluan nikah dan berpesta dengan gadis belia. " Curhat Ulya.
Raisa duduk dikursi satunya lagi, kemudian mengangkat Ulya kepangkuannya.
" Berarti Umi tidak gatal, umi hanya ingin menggantikan sosok pimpinan rumah sayang..."
" Apa Umi langsung nikah? " timpal Boy.
" Tidak! Sudah lima tahun ibu membesarkan kami tanpa ada bantuan ayah." Jujur Ulya.
Boy tersenyum, Raisapun membelai dan merapikan rambut Ulya.
Konsultasipun dilanjutkan.
Setelah berkonsultasi selama 100 menit, akhirnya Ulya mengungkapkan semua himpitan perasaannya. Ternyata anak ini sangat membenci ibunya karna neneknya dan saudari ibunya yang menjelek- jelekkan ayah sambungnya yang membuat gadis itu menjadi bingung. Banyak ajaran begitu benturan yang ia terima dari sekelilingnya, hingga ia hampir saja melenyapkan ibunya.
Gadis itu berurai airmata, mengungkapkan penyesalannya pada Boy dan Raisa. Mata tajamnya sekarang berganti dengan kesenduan.
" Apa kepalanya masih terasa banyak sayang? " tanya Boy setelah Isak gadis itu berkurang.
" Ngak bang..Tinggal satu, dan rasanya ringan. " Ucap Ulya sembari tersenyum.
" Kalau begitu, maukah Ulya berjalan - jalan dengan kakak?..." Ajak Raisa
Ulya mengangguk. Raisa menggandeng gadis usia 12 tahun itu keluar ruangan.
Setelah izin dari Umi dan Abi sambung Ulya, Raisa mengajak Ulya berjalan- jalan.
Raisa hanya mengajak Ulya keliling taman klinik Boy, sambil menyuapkan Escream coklat.
Telfon Raisa berbunyi
, gadis itupun memeriksa layar.
Sebuah nama pemanggil membuat senyum Raisa mengembang.
Raisa menyambungkan telfon sembari berbicara dengan Ulya.
" Menikah itu Sunnah Rasul sayang...Ketika Umi memutuskan untuk menikah lagi, ia pasti tidak sembarangan menerima pria yang akan menjadi ayah kalian, buktinya adik- adikmu sayang pada Abi sambung itu. Ulya tak usah dengar hasutan orang, walau itu orang dekat, Ulya silahkan teliti sendiri dengan jarak jauh, gimana Abi itu. Jangan langsung menerima semua yang orang kata. Ulya anak pintar kan? " ujar Raisa.
Ulya manggut- manggut, sembari mengagumi mata indah Raisa, sedang orang disebrang telfon keningnya langsung mengeriting.
" Ngomong dengan siapa dia? baru sampai di Indonesia sudah langsung kemana- mana. " Gerutu orang itu.
Ia kemudian Cek lokasi, dan segera melajukan mobilnya mencari gadis bercadar yang super manis pada orang, super cuek pada diri nya itu.
Seorang pria tampan turun dari mobil.
dan berjalan gagah mendekati mereka.
Gadis kecil itu menatap kagum pada sang pangeran tampan.
" Kenalkan sayang...Ini calon suami kakak..Apa menurutmu kakak gatal? " tanya Raisa yang langsung digelengkan oleh Ulya.
Kemudian Raisa menatap Raisa dan lelaki gagah itu.
" Kalau Abang gagah ini berkhianat dan meninggalkan kakak, apa kakak akan menggantikannya? " tanya Ulya.
" Tentu sayang...Siapa yang mau ditinggal merana terus, seperti Ummi juga, mana adil ummi sendiri terus, sedang abinya ganti yang belia. Umi juga punya hak untuk bahagia, apalagi Abi yang ini baik, buktinya mau bawa Ummi mengobatkan Ulya sejauh ini. " Ujar Raisa.
Sedang pria tampan itu hanya melongo, mendengar belum jadian saja Raisa sudah berniat cari gantinya.
Raisa tersenyum menatap Pria itu.
Aku mau menerimamu bang...Tapi kau harus melamarku secepatnya pada Daddyku, bukan untuk pacaran. " Ujar Raisa yang membuat pria itu kian terbelalak.
Yang ini benar atau masih sandiwara didepan gadis kecil ini. " Batin pria itu.
" Ini serius bang...Kakek ingin aku segera menikah. Kalau sudah siap datangi abang dan Daddyku, jangan menggangguku lagi. " ujar tegas Raisa sembari melangkah menggamit tangan Ulya.