
Amer sudah sampai dimension Bella, diantar Boy.
Anjani menyambutnya dengan ramah.
" Tenang saja anak muda! Sampai malam
pengesahan kalian, kamu akan menjadi anak mami dan papi dulu. Dirumah ini jangan sungkan, anggap rumah sendiri.
Amer tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Kehangatan dan keramahan mami Anjani berhasil meredakan kegalauan hatinya. Ia tidak menyangka mertua sang kakak ipar sebaik ini orangnya. Dengan mantap Amer mengulurkan tangannya untuk menyalami mami cantik ini. Ia juga tak lupa mencium tangan mami Anjani.
Mami mempersilahkan Amer duduk disofa. Sebentar kemudian Bibi Miftah menghantarkan teh hangat dan kue,
kemudian menunduk mempersilahkan Amer minum.
" Makasih mi...Maaf merepotkan mami, karna kehadiran Amer yang mendadak ini." Ucap Amer sembari menyeduh tehnya.
" Tidak ada yang merasa direpotin, disini orangnya terlalu sedikit, sementara tempatnya terlalu besar. Kalau mami merasa sumpek hanya karna kedatangan Amer, itu artinya hati mami benar- benar kecil. Sementara yang mami rasa, hati mami seluas Samudra Hindia. He...He...
" Kekeh Anjani setelah menyadari ia sudah berkata sarkas.
" Mami benar! Ini rumah terlalu besar untuk keluarga, yang hanya dengan satu anak perempuan. Tapi kalau Twin Boys sudah sedikit besar, mansion ini akan rame oleh tangis dan tawa mereka."
" Mungkin akan begitu nak...Tapi orang tuanya sudah membeli rumah untuk keluarga baru mereka." Ucap Anjani dengan senyum kecut.
" Walau sudah punya rumah sendiri, tetap
saja mension keluarga sebagai tempat berkumpul Faforit mi. Mami tenang saja, bagi mereka rumah baru itu mungkin hanya tempat liburan sekali- kali. " Hibur Amer.
" Entahlah...Mami tak mengerti keinginan
keluarga baru zaman Now, kalau mami dulu senang tinggal dirumah orang tua, baru setelah mereka tiada mami dan papi tinggal disini." Kenang Anjani.
" Tapi tetap saja mension ini sudah disiapkan sebelum semua terjadi bukan ? " tebak Amer.
" Kamu benar nak...Papi Bella sudah menyiapkannya sejak Bella ada didalam perut mami."
" Kan sama juga kalau begitu mi...Anak lelaki yang sudah beristri dan akan punya
anak pasti begitu, ingin memastikan keluarganya punya properti pribadi, tidak terkecuali dengan Abang. " Ujar Amer menenangkan Anjani.
" Mungkin memang benar! Mami saja yang terlalu baper, saking takut kesepian dihari tua.
" Insya Allah tidak akan ada kesepian mi..., karna mami orang baik, anak dan menantu juga orang yang sangat berbakti. " Ucap Amer.
" Amiiin... Anjani tersenyum lega.
Kemudian Anjani mengenalkan Amer pada para pelayan yang masih bangun.
" Besok bilang pada yang lain, Layani Amer sebagaimana kalian melayani Bella dan Boy. " Ucap Anjani pada mereka.
" Baik nyonya. " Selamat datang tuan muda Amer! Ucap Mifta yang diikuti oleh yang lain.
Amer diantar kekamar tamu dilantai dasar.
Dua puluh menit berikutnya, Bi Mifta mengantar makan malam kekamar Amer, atas permintaan Anjani.
Anjani mendengar cerita Adelia ditelfon, kalau putranya dan menantu akan dipingit sebelum hari H, dan barusan habis menjalani hukuman dari sang mama.
Anjani sebenarnya malam ini mau berkunjung kerumah besan, tapi William masih ada acara menghadiri pesta rekan pengusaha seangkatan dengannya.
Anjani memandangi jam dinding yang baru menunjukkan pukul setengah sepuluh.
" Kalau bagi anak muda, tak apa makan dijam begini. " Fikirnya. Makanya ia meminta bi Mifta untuk mengantar makan malam untuk Amer.
" Amer masih memijiti pelipisnya, untuk mengurangi denyut dikepalanya, Sembari menyandar diheadboard.
Ketika ketukan dipintu terdengar.
" Ini bibi mau mengantar makan malam tuan muda Amer! " terdengar suara dari depan pintu." Amer tersenyum dan tanpa sengaja mengusap perutnya yang sudah sejak tadi berbunyi kriuk- kriuk.
" Masuk bi.. Belum Amer kunci kok.." Katanya sembari memperbaiki duduknya.
Bi Mifta Meletakkan makanan dimeja nakas, menunduk sebelum melangkah pergi.
" Makasih bi...Amer pasti menghabiskan semua makanan yang bibi bawakan. Jangan panggil Amer tuan muda lagi ya..Panggil saja nak Amer, karna itu akan terdengar lebih santai dan tidak berat dikuping Amer. " Ucapnya yang membuat
bi Mifta menghentikan langkahnya sembari tersenyum tipis.
" Baiklah tuan..Eh, nak Amer. " Ujar bi Mifta.
Kriuuk....kriuk....Bunyi perut Amer.
Bi Mifta tersenyum kecil mendengar suara itu, ketika ia baru melangkah sampai didepan dipintu, Mifta berbalik lagi memandang Amer. " Nak cepatlah isi perutmu, jangan sampai letoy apalagi sakit! Bukankah nak Amer akan menikah beberapa hari lagi, usahakan agar tubuh tetap kuat dan sehat.
" Baik bi...Ucap Amer sembari tersenyum malu.
Sementara Chalista dirumah, sedang menatapi wajahnya didepan cermin, hatinya beragam- ragam. Ada rasa kesal, senang dan berdebar- debar membuatnya susah untuk tidur.
tampan sang pemberi cincin.
" Kakak sangat mencintai bang Amer ya? Mudah- mudahan pernikahan kalian akan bahagia! Setelah pesta kalian, aku akan berangkat ke Timur Tengah. " Ucap Raisa yang dari tadi memperhatikan sang kakak.
" Iya dik...Baru kakak tahu, begini rasanya jatuh cinta, ternyata begitu indah, walau ada rasa takut, tapi kakak pasrah menyerahkan jiwa dan raga pada bang Amer setelah halal nanti. Kakak akan berusaha untuk menurunkan Ego, agar kami bisa saling membahagiakan. Cahlis berkata dengan senyum yang mengembang.
Raisa menghampiri kakaknya, mengusap pundaknya dengan lembut.
" Ayolah kita tidur, aku ingin tidur denganmu sampai hari Abangmu itu yang akan disisimu. " Pinta Raisa sembari menatap wajah sang kakak didepan cermin.
" Kamu tidak cemburukan dik? Bukankah dari dulu Tante Adel menginginkan satu diantara kita, tidak pernah adik masukkan kehatikan? " Tanya Chalista mendengar permintaan adiknya yang menurutnya lucu.
" Kalau aku cemburupun bisa apa? Orang kalian berdua saling cinta! habis dihukum
berat ditaman belakang hingga keringatan, setelah dikamar masih senyum- senyum kasmaran. Sudahlah...Ayo tidur, mau tetap cantik dimalam pengantin? Maka jangan begadang lagi! Kijang sudah dalam ikatanmu, tak usah khawatir lagi! "
" Berarti Abang mengajakmu menonton juga ya! Dasar Abang super Posesive, baru saja bang Amer tiba disini, langsung pasang kamera dimana- mana! Ih...ngak asyik kali! " Geram Chalista.
" Tak usah marah begitu! Ngak takut keriput sebelum jadi ratu sehari? Abang melakukan itu karna sayang pada kita!
Dia ingin memastikan adik perempuannya selamat sampai ketangan
pemilik yang halal! " Jelas Raisa.
" Baik ibu Ustazah...kali ini aku coba patuh! " Canda Chalista.
Merekapun menuju peraduan, dan tidur seranjang sebagaimana permintaan sang
adik.
" Jatuh cinta adalah kodrat setiap manusia normal kakak..Tapi ada sebahagian orang yang beruntung dengan rasa yang ada dihatinya itu, ketika cinta mereka bertemu dengan jodoh. Bagi yang cintanya terhalang jodoh atau karna bertepuk sebelah tangan. Orang itu harus ikhlas melepas perasaan itu, walaupun pedih. " Batin Raisa sembari menatap kakaknya yang sudah terlelap.
Raisa teringat beberapa jam yang lalu. Abangnya memergokinya sedang menangis.
" Abang sudah tahu ini sejak semula Sa...Maafkan Abang tak bisa ikut campur
urusan perasaan. " Kata Boy yang membuat Raisa membelalakkan matanya.
Boy mengajak Raisa keruang baca, disana leptopnya sedang menyala, mempertontonkan Chalis dan Amer yang sedang dihukum.
" Mereka dihukum Tante Adel, karna bercumbu dibelakang! Tidakkah menurutmu mereka wajib segera dinikahkan?
Boy mendekati Raisa dan menepuk pundaknya.
" Abang tahu adik juga suka sama Amer, tapi Raisa gadis yang pandai menjaga diri dan perasaan. Adik juga masih ingin melanjutkan pendidikan bukan? Ikhlaskan mereka ya dik...Suatu hari bila saatnya tiba, Raisa pasti akan mendapatkan lelaki yang lebih pantas jadi Imammu. Kalau belum ketemu juga, pasti Abang bantu Carikan! Ini janji Abang, Insya Allah...
Raisa mencoba tersenyum, walaupun bibir tipisnya terasa berat, ia menatap abangnya, airmatanya kembali mengalir.
Boy mengusap pipi adiknya.
" Sudah sana cuci muka! Shalat lalu tidur, kamu masih terlalu muda untuk jatuh cinta! ntar cinta itu akan datang lagi, yang lebih dahsyat dari ini. Boy memeluk Raisa, menepuk - nepuk pundaknya, kemudian mendorongnya keluar dari ruangan itu.
Boy terdengar santai dengan kepatah hatian adiknya, tapi sebesar mana Boy menyembunyikannya, Raisa tahu abangnya bersedih. Ada bulir bening tak terbendung, curi- curi merembes dari sudut matanya. Raisa lega, abangnya juga menyayanginya, sama seperti pada Chalista.
Iapun tidak mau egois, toh cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
" Jangan sampai ada yang tahu perasaanku, selain aku dirimu dan Alllah bang..." pinta Raisa lirih setelah didepan pintu keluar ruang baca.
" Tenanglah...Abangmu bukan tukang gosip, andaipun suka menggosip, aku takkan mau membicarakan adik sendiri. " Ujar Boy yang membuat Raisa tersenyum
lega.
" Kebahagiaan keluarga besarku, lebih berharga dari cinta monyet ini. Abang benar, suatu hari aku akan menemukan kebahagiaanku sendiri, Insya Allah...
Malam semakin larut, Raisa menarik selimut untuk menutup tubuh kakaknya, kemudian iapun membaca doa, mencoba pula memejamkan matanya.
Sementara Bella dikamarnya, sudah keringatan mendiamkan Bahar dan Bahri yang kali ini sangat Rewel.
" Ya Tuhan...Giliran ayah dan ontynya entah pada kemana, Bahar dan Bahri malah rewel. Satu disusukan, satu menangis. Coba kalau semua disini, mereka akan manis- manis saja!
" Sayang...Jangan gini dong...Bunda kan jadi pusing..." Rengek Bella pada kedua baby-nya.
" Makanya sayang.. Besok biarkan Sutter tetap bekerja malam, biar kalau aku ada pekerjaan, ada yang membantumu mengurus mereka. " Ujar Boy sembari meraih Bahri yang menangis, kemudian ia mengoleskan Telon pada Bahri.
" Aku tak mau ada suster malam hari. Aku tak mau ambil resiko! Ujar Bella dengan tatapan cemberut.
Bahri masih merengek, hingga Boy membantu putra keduanya itu untuk nemplok susu satunya lagi, barulah mulut sikecil diam.
Dengan sangat haus, putra kecilnya mengesap nutrisinya, kedamaianpun
mengisi ruangan itu.
Sedang sang bunda, harus kuat dan sabar, karna kedua jagoan kecilnya lahap menyusu.
" Maaf ya sayang...tadi ayah sibuk mengurus Ontymu.." Ucap Boy lirih sembari memandangi kedua babbynya tak terkecuali sang bunda.