Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 8



Jam 15.12 siang menjelang sore, Citra dan Rafdo sampai dikota B. Tubuh Citra yang sedang dalam kondisi lemah, nyaris pingsan di Bandara. Diperjalanan


selama 4 jam dengan lama waktu tunggu sebelum keberangkatan, membuat daya tahan tubuhnya melemah. Rafdo memapah Citra menuju taksi yang akan mengantar mereka ke penginapan terdekat.


" Nampaknya kau butuh perawatan Cit, Sesampainya dipenginapan aku akan menelfon paman untuk membantu kita mengirimkan dokter untukmu. " kata Rafdo begitu mereka telah duduk ditaksi. Ia memasangkan sabuk pengaman untuk Citra, kemudian dirinya.


" Tak perlu dokter segala Do, ntar kalau sudah istirahat pasti akan sehat dengan sendirinya. " jawab Citra.


" Aku takut kau sampai sakit, kan kita mau berjuang cari kerja. Kalau sakit gimana? " tanya Rafdo.


" Terserah kau saja, yang penting jangan kasih obat


terkutuk itu lagi." Jawab Citra.


" Suut....jangan ngomong keras-keras soal obat disini. Ntar kita dikira pemakai." kata Rafdo


menutup mulut Citra dengan jari telunjuknya.


" Kemana tuan? tanya sopir taksi menatap aneh pada pasangan yang dikiranya gey itu.


" Penginapan terdekat pak! " perintahnya sambil menatap tajam pada sang sopir. Untuk menunjukkan pada sang sopir, kalau ia kenal daerah sini.


" Baik tuan! " kata sang sopir mulai melajukan taksinya.


Sekitar 15 menit kemudian mereka sampai didepan. penginapan. Rafdo dengan cekatan mengurus Citra. Pak sopir membantu menurunkan dua tas travel milik mereka. Setelah mendapat bayaran, pak sopir segera pamit.


" Monggo tuan..." ucapnya sopan.


" Monggo..." jawab Citra lirih.


Rafdo mengurus semua bawaan mereka. Citra berjalan pelan dibelakang, mengikuti langkah mereka.


Sesampainya dimeja Resepsionis, Rafdo langsung memesan dua kamar berdekatan dilantai dasar. yang mujur bagi mereka kebetulan ada.


Resepsionis wanita itu sempat heran menatap wajah Citra. Namun setelah memeriksa identitas Citra, ia tersenyum manggut- manggut.


" Perempuan tomboy, sekilas pandang ia pria tampan, tapi mana ada lelaki bernama Citra. Apalagi diteliti bentuk tubuh, bola mata indahnya, dan bibir seksi itu, kita akhirnya jadi tahu kalau ia perempuan tulen." kata batin Resepsionis itu merasa iri.


" Beruntung sekali dia, jadi gadis sangat cantik, jadi laki-lakipun juga terlihat tampan. " batinnya mengagumi Citra yang berjalan pelan menuju kamar yang barusan mereka booking.


" Citra memasuki kamarnya yang sudah dibukakan oleh Rafdo. Tubuhnya yang penat tak tahan untuk segera merebahkan diri di kasur.


Satu jam kemudian


Terdengar ketukan dipintu. Dengan malas Citra duduk dan berjalan pelan untuk membuka pintu itu. Ternyata diluar ada Rafdo dan seorang pria paruh baya berpakaian serba putih.


" Kenalkan nona, saya dokter yang dikirim tuan Mahmud untuk memeriksa keadaan pacar ponakannya. " kata dokter itu mengenalkan diri.


Citra menatap tajam pada Rafdo, begitu mendengar kata terakhir yang barusan diucapkan dokter itu.


" Paman senang dan minta kita kerumahnya, ia sudah menjamin kerja untuk Citra besok. Ia sudah mengirimkan WA lokasi kantor untuk Citra.


Baru beberapa menit kukirim CV mu, paman langsung dapatkan tempat kerja yang sesuai buat Citra.


" Jadi jangan bawel, segera berobat! Biar besok bisa langsung kelokasi kantor barunya. " kata Rafdo mendominasi.


" Ini orang atau buroq sih? dalam satu jam sudah tuntas urus sana- sini. Citra menuju tempat tidur sambil geleng- geleng kepala.


Sedang Rafdo tersenyum puas karna sudah tuntas mengurus kerja untuk Citra. Sedang dirinya cukup gampang, tinggal merengek saja pada pamannya yang sudah 15 tahun menikah belum punya anak itu, paling kalau ngak dapat kerja ia bisa nebeng jadi asisten sang paman. Yang penting ia masih bisa memantau keadaan Citra. Jadi apapun tak masalah baginya.


Disebuah rumah mawah bak hotel bintang lima.


Sejak tak menemukan Citra, Ia uring- iringan seperti ayam kehilangan induk.


Kepalanya sakit memikirkan kemana ia harus mencari Citra. Ia meminta Mex untuk memeriksa penerbangan Jakarta ke kota P apa ada penumpang dengan nama Citra Hapsari.


Terfikir kemungkinan jika Citra balik kampung, setelah kecewa dan terluka akibat malam panas mereka.


" Tak ada penerbangan atas nama Citra bos. Bahkan tim kita sudah memeriksa semua jadwal penerbangan senusantara sejak pagi tadi.


Semua Nihil, tak ada penerbangan atas namanya. " Jelas Mex fia telfon.


" Baiklah, nampaknya aku harus belajar sabar. " jawab Rendra lebih tenang dari biasa.


Mex bersorak syukur dihatinya setelah tak dapat semprotan dari tuan mudanya.


" Mood tuan muda benar- benar berubah- ubah, kayak ibu - ibu yang lagi hamil, sebentar meledak sebentar tenang. " Gumam Mex.


Kemudian Rendra mendapat telfon dari Hans sang sekretaris sekaligus asisten pribadinya.


" Ada apa Hans? " tanyanya


Kan awal Minggu ini bos sudah ada planning untuk


berangkat ke London untuk urusan perusahaan yang disana. Apa jadwalnya perlu di Re scedul ? tanya Hans ragu, takut dapat semprotan lagi oleh sang big bos.


" Silahkan siapkan saja tiketnya, besok kita akan berangkat." jawab Rendra dengan nada datar.


" Jadi ngak diundur? " tanya Hans lagi takut salah dengar.


" Ngak...lebih cepat berangkatnya lebih baik. Begitu urusan bisnis disana tuntas, aku akan segera fokus mencarinya. Sekarang biarkan untuk sementara ia tenang dulu, nanti aku pasti bisa menemukannya.


Aku percaya ia gadis yang kuat, ngak mungkin ia sampai bunuh diri karna masalah ini. Walau baru beberapa jam mengenalnya, aku yakin Citra bukan orang yang gampang putus asa." kata Rendra kemudian.


" Tentu bos. Aku setuju dengan pendapat bos, ntar kita pasti bisa menemukannya. Paling ia akan cari kerja. Kita pasti akan menemukannya dengan menghubungi rekan bisnis yang ada di Nusantara ini. Hans yakin bos sama sitom....eh..maaf bos keseleo. Maksudnya Nona Citra pasti berjodoh dengan bos Rendra.


" Semoga Tuhan memberi jalan untuk Kami bertemu dan bersatu kembali Hans. " kata Rendra lirih, tak terasa bulir air mata menitik, melintas dan menyangkut pipi berjambang ya yang selalu rajin ia bersihkan.


" Amiin..." Jawab Hans sebelum telfonnya ditutup.


Hans lebih tenang mempersiapkan semua keperluan Rendra yang selama ini memang tak terlalu banyak protes. Rendra pria yang cerdas, setiap ada kecerobohan dan kekurangan yang dilakukan oleh sang sekretaris, ia akan lebih dulu tahu dan menyelesaikannya tanpa perlu buang emosi mengutuki sang asisten seperti para bos besar yang Hans kenal selama ini.


Rendra menurut Hans adalah tipe CEO yang tak sombong dan hobby marah- marah. Jadi kalau akhir- akhir ini Rendra sering berteriak, ini cukup mengejutkan buat Hans.


Selama ini tak ada yang membuat Rendra marah, kacuali kalau ada rekan kerja yang coba- coba mengungkit urusan pribadinya. Apalagi kalau ada yang berani menyodorkan wanita padanya. Disitulah Hans akan melihat wajah tampan Rendra marah. Bahkan Hans pernah berfikir, big bosnya up normal.


Namun saat bekerja hampir lima tahun ini dengannya, tak pernah Rendra memperlakukannya


diluar batas kewajaran . Jadi ia menarik kembali prasangka buruknya.


Bersambung...


Jangan berburuk sangka pada sesuatu yang tidak kita ketahui. Ingatlah sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan setiap dosa adalah hal yang menggelisahkan.


Kasih dukungan yang banyak..


sebanyak buih disamudra Hindia ya. Mudah- mudahan buih bisa jadi permadani.


Yang kasih love- love rezkinya makin gede.


Amiin...