Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 123



Dua pesawat komersil mengudara dengan gagahnya terbang menuju tujuan masing- masing orang tercinta.


Setiap yang pergi hatinya tentu gembira, apapun yang dituju pasti dengan semangat yang membara, akan berbeda dengan yang tinggal, tidak peduli karna apa mereka ditinggal, yang jelas akan mendatangkan airmata.


Bella memeluk balik ibu mertuanya, kemudian ditatapnya kedua buah hatinya, dan adik Sonia. Ia tahu mommy mertua juga sama dengannya, ingin pergi bersama orang tersayang, tapi apa daya mereka belum boleh bepergian apalagi dengan baby mereka yang masih kecil.


" Begini kiranya rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai mom? Meski mereka pergi hanya untuk sebentar, tetap sedih sekali rasanya." ujar Bella


Citra menatap menantu sulungnya itu, mengusap puncuk kepala Bella. Citra berusaha menahan rasa sedih, namun tak dapat ditolak, mata indahnya berembun .


" Iya sayang...sehari rasanya lama, mommy juga pernah begitu. Ini Mommy mengalami lagi, rasanya berat melepas anak gadis pergi sejauh itu, tapi mommy mau apa, semua ini pilihan dan tujuan hidupnya, sebagai orang tua Mommy hanya bisa berdoa, semoga ia baik- baik disana, dan benar- benar bisa menjaga diri, hati dan konsisten dengan tujuannya." Tukas Citra sembari membelai rambut bella yang sedang tidak berkerudung.


" Iya mom...Aku takkan menangis lagi, takut mommy mengira Bella tak Ikhlas melepas Daddy twin untuk mengantar ontynya." Ucap lirih Bella.


" Takkan begitu perkiraan mommy sayang...Mommy dulu waktu ditinggal juga begini, tapi kita hanya perlu berdoa, semoga perjalanan mereka selamat dan tak ada halangan apapun. " Bujuk Citra.


" Amiin...


" Kalau begitu ayo tersenyum, kita urus sikecil baik- baik, setelah Empat tahun kita akan terbang pula ketanah suci, kalau bisa setelah itu liburan pula. Bukankah tadi mami Anjani bilang, bila sudah bisa anak- anak ditinggal giliran dia yang menjaga, Insya Allah umur panjang, kita Wujudkan impian mamimu punya anak banyak. " ucap Citra dengan senyum smirk.


" Iya mom...Aku setuju, semoga Allah meridhoi. " Ujar Bella sembari menganggukkan kepalanya.


Menit berikutnya, bibi datang mengantar makan siang untuk Bella.


" Saatnya makan siang nyonya muda dan Nyonya..." Ujar bibi sembari menyusun hidangan dinakas.


" Baik bi...segara akan disantap sampai ludes! " Ucap Bella senang.


Kalau mommy makan siang dimeja makan saja ya sayang, sekalian makan bareng kakekmu. " Pamit Citra.


" Ya mom...Tenang disini ada Nori dan Sara yang jagain adik, Momy makan aja , mumpung ketiganya pada BobSi. "


" Citra melangkah pelan menuju ruang makan.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di tengkuknya , disusul dua tangan besar menutup matanya.


" Daddy! mengejutkan saja! " ucap Citra dengan berteriak.


" Habis cintaku jalannya anggun kali, jadi gemas pengen jahilin. He...He.."- Rendra.


Citra menarik kedua tangan suaminya, memindahkan tangan kanan yang kokoh itu kepinggang kecilnya, tangan kiri citrapun ia letakkan dipinggang suami. Lalu mereka berjalan bergandengan menuju ruang makan.


Pak Joko kepala pelayan, dan para koki yang menyaksikan kedua pasangan itu dengan menunduk hormat menyambut tuan besar yang bucin sampai tua itu.


" Ayah kok belum tiba dimeja makan? " tanya Citra ketika sudah duduk dikursi yang disodorkan oleh Rendra.


" Ayah datang...Tenanglah Citra! Ayahmu masih ada harapan hingga Raisa kembali dan menikah pula, kalau janji belum sampai, insya Allah Ayah tunggu, tapi kalau soniamu tak mungkin lagi! He...He..." Rinto tertawa nyaring sembari berjalan pelan diiringi dua pelayan.


Rendra segera keluar dari kursinya, dan menjemput Rinto.


Sampai Ayah mertua duduk dengan sempurna dikursi, barulah Rendra kembali kesisi Citra.


Rinto hanya mengucapkan terima kasih dari pandangannya, karna bagi anak menantu yang pertama sudah seperti anak dan ayah itu, tatapan mata sudah cukup untuk menyatakan perasaan yang terdalam sekalipun.


" Alhamdulillah cuma penyakit biasa nak...Ya itu seperti biasa Encok, namanya juga orang tua, badan sudah termakan umur. Tapi ayah termasuk orang tua zaman Now yang cukup Fit, walaupun motor bebek FitX sudah ketinggalan zaman ya Alhdulilkah I ( Eik ) tetap fit." Canda Rinto menirukan logat Belanda.


He...He...Syukurlah..semoga encoknya juga ngak nahan, takut sama bapak dokter." Balas Citra.


" Harus ada juga sakitnya sampai waktunya tiba sayang...kalau tidak apa alasan IZroil menjemput. "


" Jangan menyebutkan yang ditakutkan Ayah...Aku tak suka ayah bilang begitu. " Ujar Citra memasang wajah cemberut, hingga ia mengurungkan suapan pertamanya.


Rendra yang melihat istrinya tak jadi makan, langsung menyodorkan suapan besarnya kemulut kecil Citra.


" Kebanyakan dong.. " protes Citra.


" Buka saja mulutnya, kalau anak gadis satu- satunya makan yang banyak, pasti ayah bakal sehat- sehat aja. " ujar lebai Rendra.


" Hap...Citra menerima suapan suami, dan menyuapkan pula dari tangannya untuk Rendra, membuat semua yang duduk dimeja makan tersenyum iri dengan kemesraan mereka.


" Andai aku dan istriku bisa se sosweet


tuan besar dan nyonya besar, tentu hidupku akan terasa bahagia. Ini istri sejak punya anak, badan makin membludak, sikap tambah galak, ngak pernah ada manis- manis manjanya lagi. " Keluh hati Sen sang kepala koki teringat istri dirumah.


Rendra tak sengaja menatap sen, hingga ia menangkap sorot sedih Dimata juru masak profesional dirumahnya itu.


" Sesekali masakkan nyonya rumah dengan hidangan spesial, setelah ia senang, baru kasih saran buat mengatur diet dan pola makan." Nasehat Rendra yang membuat Sen tersenyum malu.


" Makasih tuan...Tau saja yang sedang saya fikirkan. "ujar Sen malu.


" Tak usah segan Sen...Sen bagian dari keluarga ini, sudah bertahun kita bersama, ajak istri dan anak sesekali kesini, siapa tahu dengan bergaul dengan nyonya lembut kalau lagi baik ini, istrinya Sen terinfirasi buat jadi istri Soleha, seperti mommy Sonia." Ujar lebai Rendra yang mendapat Capitan kecil dipinggang ya.


" Iya Sen...hanya Sen yang tak pernah membawa keluarga kesini, termasuk diacara kita." Timpal Citra setelah menelan makanannya.


" Baik nyonya...Aku ajak besok kesini deh...sekalian biar anakku bisa melihat nona kecil dan twin Boys. " Balas Sen tersenyum riang


" Cocok! Sekalian untuk menghibur kedua


ibu baby itu Sen, soalnya mulai besok aku akan sangat sibuk dikantor, sampai Boy dan Willi kembali, sebaiknya istri dan anakmu ajak nginap sekalian, dan jalankan rencana memanjakannya didapur kita. " Ujar Rendra senang.


" Oke Bos! Siap! " Seru riang Sen yang membuat semua menatap kearahnya.


" Maaf..Terlalu semangat." ucapnya lirih malu semua mata tertuju padanya.


" Tak apa! Ayo semua lanjutkan makan sampai kenyang, ini makan siang lapar, siapa yang banyak nambah dikasih hadiah! Tapi syaratnya tak boleh bersuara lagi." Ujar Rendra membuat semua kembali fokus dengan piring masing- masing. Hanya Tuan besar yang sesekali mencuri suapan istri dan terdengar celetukan mereka.


Setelah makan siang, Rendra mengumumkan pemenang lomba makan siang yang dikira keluarga dan para pelayan bercanda tadi.


" Sebentar lagi akan datang hadiahnya, untuk Sen yang paling bersemangat makan siang ini." Ujar Rendra yang membuat semua tercengang.


Setengah jam kemudian, katika Sen sedang berkutat mengarahkan penyiapan menu makan malam, Joko memanggilnya untuk keluar.


" Ada yang istimewa hadiah nak Rendra sudah menunggumu didepan. " tukas Om Joko sembari tersenyum misterius.


" A- apa ya?" Tanya Sen berdebar.