Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 99



" Baiklah...berikan bukti bukan janji, Janji tanpa bukti tong kosong nyaring bunyinya." Ujar Bella sembari menyiapkan baju ganti mereka sehabis mandi.


" Buktinya nanti malam saja ya sayang...tunggu kita pilih rumah kayu dulu. Mandilah...sudah tak apa, sudah lewat pukul Duabelas. Mandi sendiri atau perlu dimandiin? Kalau khilaf jangan salahkan pacarmu ini, apalagi sampe kecapean sama ketiduran lagi . He...He..." Kekeh Boy yang membuat wajah istrinya memerah lagi karna malu. Bella cepat- cepat kekamar mandi, lalu menutup pintu


rapat- rapat.


Boy tersenyum Memandang kearah pintu. " Kalau dilihat dari tingkah istriku, ia tak ubahnya seorang remaja putri yang moodnya masih mudah berubah- rubah. Mana Sikap dewasanya yang kemarin? " Apa mungkin ladang yang sudah Kusemai mulai tumbuh? Entahlah...


ini terlalu dini, tak mau menduga- duga. Tunggu sampai sebulan dulu." Batin Boy.


Boy bersiul menunggu istrinya mandi, sembari membuka bajunya, memandang tubuh sixpacknya didepan cermin hias.


Sadar ia telah menyenandungkan lagu cinta dari siulannya, mukanya memerah karna malu, kitanya bukan Bella saja yang berubah, ia juga merasa berbeda, tidak biasanya ia suka bersenandung seperti ini. Ia lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan, tak ingin yang lagi mandi berprasangka lain pula dengan ia bersiul, maklum Nyonya sedang sensitif dan possesif. Tak ingin terjadi salah faham lagi.


Dengan tubuh berbalut handuk, Boy mengecek semua keperluan yang sudah disiapkan istri untuk mereka usai mandi.


Termasuk keperluan untuk meeting.


" Ternyata istriku Garcep juga soal siap- siap, dan pilihannya cukup mantul! " puji Boy dalam harinya.


Hampir jam lima Sore meeting dengan para manager baru selesai di B N D Hotel. Bella dan Hana mengikuti meeting dengan posisi sebagai asisten pendamping Hafis.


" Owh...owh...Bella menguap beberapa kali.


" Ngantuk ya? tanya Hanna.


Bella mengangguk.


" Ya...Udah...kita ibadah dulu ya, siap itu baru kelokasi Cottagenya. " Ucap Boy seraya menggandeng istrinya.


Mendengar rumah kayu Bella kembali bersemangat. Mereka berempatpun segara menuju tempat bersuci, kemudian


melaksanakan Ashar berjamaah. Kali ini Hafis yang diminta jadi Imam.


*****


Bella tersenyum senang ketika Mereka sudah menempati Cottage pilihannya.


Ia menari berputar-putar setelah mereka ada didalam kamar lantai dua. Jakun Boy naik turun menahan gejolak memandang istri yang nampak seksi dengan gerakan spontannya. Boy menghidupkan musik lembut,lalu menuntun Bella untuk berdansa. Mereka berdansa selama seperempat jam. Kemudian Boy menatap


istrinya dalam- dalam. Bella masih saja tersipu membalas tatapan suaminya.


" Pilihan yang manis, Imut dan uniq! " Ucap Boy memuji selera pacar halalnya.


" Iya lah...Istri siapa? " Bella mengembalikan pujiannya.


Boy tidak menjawabnya, ia Mendorong istrinya ketempat tidur, menindihnya, melahap bibirnya sampai nafas keduanya tersegal- segal.


" Boy...Ahh...Ka...kan kita belum Makan malam dan Isya juga. " Bella mengingatkan dengan bergetar.


" Iya sayang...Aku tahu...Ini hanya minta sedikit bukti dari dirimu. Kan katanya sekarang yang penting bukti bukan janji. Boy sudah membuktikan janjinya. Apa salahnya suami minta umpan balik.


Ada modal, ada laba, bukankah begitu


? " Ucap Boy sembari tersenyum licik pada sang istri.


" Dasar otak bisnis turunan! " Gerutu Bella .


Kemudian dengan menekan rasa malunya, ia mendekati wajah suami, mendaratkan kecupan hangat, padat dan singkat membentuk garis fertikal. " Makasih sayang..." bisiknya setelah berhenti keleher Boy.


" Perkembangan cumbuan yang luar bisa!


Ayo segera turun makan malam, habis itu shalat, biar cepat nancap, Ini kayaknya mendesak sekali, tak sabar menanti gelora cinta istri dirumah kayu Impianya. " Bisik Boy sembari menggigit lembut kuping Bella.


" Uhm....Siapa takut! Ayo! " Tantang sang istri.


Boy melepaskan kungkungannya, menarik istrinya duduk.


Setelah saling merapikan, merekapun turun kebawah.


Dibawah Hanna dan Hafis sudah menunggu untuk makan, hanya segan saja memanggil karna mendengar ada suara Musik, mereka tahu pasangan itu sedang berdansa mesra. Makanya mereka pasrah menunggu, walau sedikit sudah kelaparan.


" Maaf...Sudah membuat kalian menunggu dan kelaparan, seharusnya tadi duluan saja. " Ucap Boy ketika sampai dimeja makan.


" Ngak mungkin lah Bos! Masak Bos yang


pesan kami yang santap duluan. Itu tidak Etis sekali." Sanggah Hafis.


" Tidak masalah, apalagi melanggar etika segala, bukankah pesanan makanannya prasmanan, Tinggal mindahin saja dari Buffet kepiring masing sesuai selera. Lalu kalian makan, dimana letak salahnya?." Tanya boy sembari mengangkat Bahu.


" Tidak salah juga sih, tapi tetap saja makan berjamaah lebih Hikmah. " Jawab Hafis sembari tersenyum.


" Kalau begitu jangan menunda lagi, Ayo kita makan besar! Perutku juga sudah kriuk- kriuk dari tadi. " Timpal Bella


sembari mengisi piring untuk suami dan dirinya.


Hanna yang melihat Bella begitu Cantik menata makanan dipiring, meniru Food plating Bella. Sedang para suami memandang istri mereka dengan senyum yang mengembang.


" Makasih! " Akhirnya sepatah kata terucap dari bibir para suami ketika piring sudah disodorkan.


" Senyuman manis kedua wanita, menjadi jawaban untuk mereka.


Lalu mereka makan malam dengan khitmad, tak ada lagi suara, hanya senyum manis yang tak hentinya mengembang ketika tatapan para pasangan saling beradu.


Setelah menghabiskan Dessert( Hidangan penutup ), Bella tersenyum pada semua. Alhamdulillah..


" Baik Baginda ratu! " hanya Boy yang berani menyerukan langsung suara hatinya. Sedang Hafis dan Hanna tersenyum puas saling pandang, merasa aspirasi sudah tersampaikan.


Bella menarik Boy menuju Bilik mandi, bergelayut dipinggang nya dengan posesif.Setelah sampai didalam tak lupa mencubit pinggangnya. Walau cukup perih ia tak mengaduh. Sebagai balasannya ia melucuti pakaian istri.


" Ngapain buka semua? Kan cuma Siwak sama Wudhu." Protes Bella.


" Sit...Jangan brisik! biar kubantu bersihkan bagian penting, tak usah malu pada suami, kelak kalau melahirkan Boy juga yang akan mengurus semua, biar latihan menahan diri dari sekarang. " Titah Boy sembari menggantung pakaian Bella.


Walau wajahnya sudah bak udang rebus menahan malu, tapi Bella menikmati serfis suami yang katanya ingin latihan


menahan diri. Benarkah Boy tahan menjamah tubuh eksotis istrinya tanpa terpancing? Bagaimana tidak terpancing?


Menara dipusat kota makin menjulang tinggi tapi ia berusaha menahannya, demi sholat isya berjamaah sesuai janji mereka.


Hampir pukul sepuluh, barulah mereka kembali ketempat tidur. Tubuh wangi dan


wajah berseri keduanya, membuat keduanya tak tahan lagi untuk mencoba


kekuatan rumah kayu itu.


Boy kembali menyetel musik, memulai permainan kasih penuh kelembutan. Mereka larut dalam setiap sentuhan, hanyut dalam setiap belaian,Tak banyak kata yang terucap, hanya sentuhan kasih sayang yang menjadi bukti,memandu arah untuk satu tujuan, saling memiliki, menyatu dengan segenap hasrat. Lagu All Night dari Bayonce menjadi Sound track percintaan mereka dirumah ini.


Tapi tak lupa juga dengan doanya, didalam hati kedua mereka.


Sedang Hafis dan Hanna seakan terbawa


suasana, dikamar mereka, lagu Bayonce itu cukup bisa mengubah colibri kecil berkicau lebih Syahdu, tidak terlalu terburu seperti biasanya, irama seakan membawa perubahan gaya bercinta mereka malam ini.


Pagi hari, keempat mereka berjalan santai mengelilingi taman, sambil bergandengan. Senyum hangat menghiasi bibir keempat para pecinta itu,


Sedang Asyik bergelut, telfon Boy bergetar disaku celananya.


Treet....treet....


Boy memeriksa layar.


My Daddy tertulis nama pemanggil.


Boy segera menyambungkan telfon.


Boy menjawab salam dari Rendra, kemudian tak sabar menanyakan kabarnya, merasa heran mengapa Daddy menelfon pagi- pagi sekali.


" Apa kabar Daddy? kakek baik- baik saja kan? " tanya Boy menghawatirkan kakeknya Rinto yang sudah berumur.


" Kakek sehat Alhamdulillah Boy...Cuma masalahnya ada diMommy. Mommy sekarang butuh Bella, bisa ngak kalian pulang?


" Emang ada apa dengan mommy? Kenapa harus Bella yang dirindukan, ada Calista dan juga Raisa disana." tanya Boy.


" Mereka masih muda dan belum mengerti, ini diluar dugaan Boy, Daddypun


malu menyampaikannya." Rendra menarik nafas berat setelah berucap.


Hati Boy tak karuan mendengarnya.


" Katakan apapun yang sedang dialami Mommyku, tentu Daddylah yang bertanggung jawab!." Boy terdengar marah mendengar Rendra yang terdiam diseberang.


He...He...Rendra terkekeh dari seberang.


"Ya Anak muda...kali ini Daddy minta ampun padamu


setuju tak setuju ini sudah terjadi , kami kira Monopouse makanya mommy tak halangan tiga bulan ini, rupanya mommymu berisi lagi, semalam karna pusing berat kami periksa, nyatanya Boy akan beradik lagi. Mau bilang apa? " Rendra memelankan kalimat terakhir karna malu.


" Selamat Ayah...Bagaimana aku tak setuju, semua sudah kehendak Allah.. itu juga karna dirimu, yang selalu mengganggu mommy setiap malamnya. Tak masalah mau punya adik berapa, walau aku sudah


mau beranak pula, yang penting mommy selamat, ini sudah masa berisiko, usia mommy sudah 43 tahun. Mommy pasti sangat khawatir dan butuh dukungan, Baiklah kami akan segera kembali! " - Boy.


" Makasih nak...kamu memang yang terbaik. Rendra terdengar bersemangat lagi dari seberang.


" Ya Daddy..." Jam sepuluh kami take of


dari bandara. Daddy tenang saja, Boymu takkan membiarkanmu pusing sendiri. " Ucap Boy sebelum menutup panggilan.


Rendra menarik nafas lega. " Alhamdulillah... ternyata putraku bisa diandalkan dalam situasi apapun. " Batinnya mengucap Syukur.


" Ada masalah apa??? " tanya Bella.


Sedang yang lain diam menunggu.


" Kita bersiap untuk pulang... Mommy kurang sehat, Mommy butuh Bella. Ngak apakan bulan madunya sampai disini dulu untuk Bali?" tanya Boy pada Bella.


" Kesehatan mommy lebih penting, akupun takkan tenang disini kalau mommy Citra tidak sehat. " Jawab Bella mantap.


Boy menghadiahkan sebuah kecupan dikeningnya.


" Ayo siap- siap. " Timpal Hafis, sembari menarik Hanna.


Aduh...udah telat benar nih Up-nya...Gimana mau minta Fote, hari Senin sudah dilewatin, habis semalam Bella meriang sih, kebanyakan makan tensi naik He...He...Autornya kebawa demam.


Kasih apa aja deh say...yang penting dukung terus sampai karya ini selesai.


Bagi yang Baru selamat mampir, jangan lupa tekan Love- lovenya. Bagi yang mau bantu promo sama teman yang lain boleh bantu ,soalnya dari awal soal promo Autor kurang, thank you untuk semua ...


Bersambung...