
Boy menikmati makan Botanica disebuah Restourant Hotel kawasan J S dengan lahap sekali
Sedang yang mentraktir memandang takjup pada cara makan Boy yang menurutnya sangat mengesankan. Sebelum makan, walau sangat lapar, Boy tak lupa mengucap
doa terlebih dahulu.
"Om ganteng...Ayo makan. Jangan cuma nontonin Boy makan. Apa om ganteng mau boy suapin? " tanya boy seraya menyodorkan makanan yang ia sendok pada Aruna.
" Nih om Aku suapin...Jangan lupa baca doa dulu. " kata Boy.
Aruna terpaksa membuka mulutnya, karna boy sudah bela- belaan berdiri dikursi untuk mencapainya. Tidak mungkin ia menyia- nyiakan perjuangan Boy untuk menyuapinya.
" Baca doa kan??? tanya Boy, karna melihat Aruna langsung membuka mulutnya.
" Udah dong sayang...doa tak perlu dilafalkan kuat, dalam hatipun boleh, makasih ya sayang...baru kali ini ada orang yang tulus memberikan perhatiannya pada om. " kata Aruna seraya mengunyah makanannya dengan pelan.
" Memang om tak berniat untuk menikah dan segera punya anak? " kata Boy bertanya ala orang dewasa.
" Om patah hati sepuluh tahun yang lalu Boy...Itu gara- gara Rendra. Semua gadis yang om suka, sukanya hanya pada Rendra. Termasuk Arini,gadis
yang sudah om suka sejak kecil. Ia menolak Om untuk mengejar Rendra. Tapi apa yang terjadi? Rendra malah menolaknya mentah- mentah, membuat Arini kecewa, sampai Depresi.
" Astaga...Astaga...kok Olang dewasa aneh kali ya om...Ngapa juga deplesi segala ditolak cowok, kan masih banyak cowok lain. Om ganteng misalnya! " kata Boy bersemangat, ia sampai kesedak. Aruna bergegas memberinya minum.
Setelah minum, boy mencubit kedua kupingnya sendiri. Membuat Aruna mengerutkan dahinya.
" Kok begitu Boy? " tanyanya heran.
" Ini hukuman bagi yang melanggar aturan makan,
Boy udah makan bersuala om ganteng. " kata Boy menjelaskan.
" Berarti om juga salah dong...om yang ngajakin Boy melanggar aturan makan. " kata Aruna melakukan hal yang sama. Kemudian mereka berdua tertawa, saling melihat keadaan masing- masing. Lima anggota pasukan khusus tuan Kims berbisik melihat betapa terlihat bahagianya kedua manusia berbeda generasi itu.
" Dia tak menyukai om Boy...Ia hanya menyukai ayahmu. Tapi Dadymu malah mengaku tak menyukai perempuan. " kenang Aruna.
" Ehem....Boy mendehem menahan geli, membayangkan Dadynya yang sampai berani membuat dirinya dikira Gay hanya untuk menolak seorang gadis. Padahal dengan Momynya sang ayah tak ubahnya seperti lalat diekor sapi, kemana- mana nempel.
Boy menghentikan makannya. Menatap Aruna intens.
" Lupakan niat untuk menggoda Momy om... Biar nanti Boy caliin cewek antik, baik, lucu, plus gadis sama om Ganteng. " kata boy mulai memasukkan misinya pada bujang lapuk didepannya.
" Kenapa harus pake lucu sayang?..." tanya Aruna memprotes kriteria gadis yang diajukan Bocil itu.
" Dan darimana om dapat gadisnya." tanya Aruna menantang bocah itu.
" Om butuh gadis yang lucu, biar hidup om ngak kaku dan selalu telcenyum dengan tingkah istli Om.
" Om Pellu yang cantik Kalna Om tampan, biar balance.
" Om halus dapat yang baik, bial tuh cewek bukan cuma ngincal haltanya om saja, tapi yang penting ia ngincal hatinya om ganteng. " kata Boy menjelaskan panjang lebar kriteria gadis yang akan
dicarikan buat Aruna.
Aruna tersenyum senang mendengar penjelasan
Bocil cerdas yang ada didepannya.
" Jadi Boy begitu menyayangi mom and Dady ya? Sampe bela- belain mau cariin jodoh segala buat Om. Karna takut om mengganggu hubungan mereka. " Kata Aruna menyimpulkan.
" Boy sebenarnya cayang om Alun...Makanya boy ingin om bahagia sepelti Olang lain. " kata Boy yang membuat Aruna makin kagum. Boy yang masih kecil sudah sepandai itu menyembunyikan perasaannya, demi melindungi hubungan ayah ibunya.
" Tapi om sudah jatuh Cinta boy." kata Aruna kemudian.
" Sama Tante Alini saja? " tanya Boy.
" Arini sudah tiada boy. Ia sudah meninggal, dua tahun setelah ia masuk kamar 13. " Kenang Aruna menitikkan airmata.
Boy buru - buru mengambil tisu, kemudian ia menggeser kursi nya dan berdiri disana, lalu ia mengusap airmata Aruna.
" Sudah om...Takdir seseolang hanya Tuhan yang tahu. Ia sudah dialam lain, itu bukan salah om dan bukan pula salah Dady. Kata Momy, tiap Olang belhak untuk mengatakan apa yang ia lasakan.
Tapi Olang lain tak bica memaksa.
Manusia hanya boleh usaha dan lencana, hanya Tuhan yang menentukan hasilnya. Apapun Ketetapan Tuhan, halus kita telima dengan cabal dan Ikhlas. " kata Boy menirukan petuah kakeknya Dokter Rinto saat menasehati pasiennya yang sakit
akibat Faktor fsikologi.
" Om sudah jatuh hati padamu sayang...Kau seperti
lantera unik yang berkelap- kelip dihati om. " kata Aruna merayu Boy.
" Makanya om ngak laku- laku. Habis ngerayu anak kecil aja ngak nyambung. Yang kelap- kelip itu bukan lantela om, tapi lampu disko. " kata Boy seraya tersenyum manis. Membuat Aruna makin gemas dan tak tahan untuk tidak mencubit pipi gembulnya.
" Apa boleh om menganggapmu anak? " tanya Arun seraya menatap bocah itu dengan tatapan memohon.
" Ngak boleh Om! " jawab Boy ditambahi gelengan.
" Katanya sayang sama om." Aruna menuntut pertanggung jawaban ucapan Bocil itu.
" Jadi ponakan saja ya. Jangan anak. Nanti Dady Rendla cembulu. " kata Boy kemudian.
" Bolehlah...yang penting mulai hari ini kita berteman baik. " kata Arun.
" Okay...Dengan catu shalat! " kata Boy.
" Halus buka hati cama cewek yang akan Boy kenalkan cama om ganteng. " kata boy.
" Emang boy punya ceweknya? dapat dari mana? " tanya Aruna penasaran dengan fikiran Bocil itu.
" Sebenalnya banyak teman cocialita Momy, tapi itu
tak baik juga. Cewek dicitu kebanyakan matle. Bial nanti kita cari cewek baleng. Boy akan tunjukin om Alun, cala Cali cewek cantik, tulus, baik dan lucu. " kata Boy membuat janji.
" Janji???" tanya Aruna
" Pasti om...Tapi om halus jadi plia sejati dulu. " tantang Boy.
" Maksudnya?
" Om halus antalin boy langsung kekamar tuan Sipit. Hadapi kemalahannya, telima hukumannya. Balu om akan boy Angkat jadi paman dan teman sejati." kata bocah Smart itu.
" Baiklah...Ayo kita habiskan makanannya, biar om belajar jadi pria sejati seperti yang boy minta. " kata
Aruna mantap.
" Apa Om ngak takut dan gentar? Kakeknya Dady olangnya sadis Lo kalau malah. " kata Boy masih menguji pria dewasa didepannya.
" Demi menjadi paman yang baik, dan demi misi MoVe on, om akan menghadapi Resikonya. " kata Aruna mantap, seraya tersenyum tulus .
Entah mengapa bersama bocah yang belum genap Empat tahun itu, ia seperti menemukan teman untuk hidupnya yang selama ini sepi dan hampa.
Dipenghujung senja, Aruna tiba diIstana Tuan Kims, mengantar Boy, sesuai komitmen mereka.
Kalau kambing sudah masuk kedalam kandang Harimau 🐯 yang sedang lapar dan marah. Bayangkan apa yang akan terjadi?
Aruna dihajar sampai babak belur oleh pengawal, kemudian dicambuk sepuas hati oleh tuan Kims.
" Ini bagianmu, karna sudah coba- coba mengacaukan kenyamanan keluargaku dengan tindakan bodohmu. Kami semua panik dan aku hampir mati karna tindakan kurang Hajarmu." kata tuan Kims mengayunkan cambuknya dengan emosi yang memuncak.
Boy yang sedang diPegangi Dadynya dikamar, berusaha berontak.
" Lepaskan aku Dad, kalau Dady sayang padaku. Dady pasti menyesal nanti, tahu apa yangkan kulakukan kalau sampai om temanku mati ditangan Kakek buyut. " Ancam Boy.
" Boy! kenapa berani mengancam Dadymu begitu! " kata Citra melototi putranya. Boy langsung histeris dibentak sama Momy. Selama ini ia tak pernah mendengar suara Momynya sekeras itu.
" Maafkan mom sayang...tapi Boy tak boleh mengancam orang tua segala. " kata Citra mengusap airmata putranya.
" Lepaskan Boy Dad, mom...Kalau om itu penjahat besal, ngak mungkin Boy semudah itu Melayunya. Dan tak pula ia akan mengantal Boy sampai lumah.
" kata Boy memohon dengan memelas.
Rendra luluh, apa yang dikatakan putranya benar, iapun melepaskan Boy.
Begitu Boy lepas, ia berlari sekencang mungkin menuju kamar tuan Kims. Saat Lelaki tua memakai kursi roda itu ingin mengayunkan cambuknya entah untuk keberapa kali. Boy mendekap tubuh Aruna, membuatnya terkena cambuk sang pak tuonya.
" Boy! " teriak tuan Kims, Serentak dengan Arun. Untung Arun sigap melindungi kepala Boy dengan
merundukkan tubuhnya. Jadi hanya punggung boy yang terkena sedikit.
Boy mendekap Arun kian erat. " Kalau pak uo mau bunuh paman, bunuh Boy juga. Karna mulai hali ini paman Aruna jadi sahabat Boy. " ancam Boy dengan airmata berlinang.
" Lepaskan ikatannya! " perintah Mr kims pada pengawalnya.
" Ambilkan aku kotak obat paman Joko..." kata Boy pada asisten pribadi pak uonya.
Pria itu langsung mencari kotak P3K yang Boy minta, lalu menyerahkan pada majikan kecilnya.
Lalu boy mulai membersihkan luka Aruna dengan menggunakan kapas dan obat anti septik. Membalut lukanya. Dan mencium tangannya.
" Selamat jadi pria sejati paman, kau sudah membuktikan merahmu...." bisik Boy...Aruna
terisak haru, seraya mengecup kening Bocah itu.
" Makasih sayang..." balasnya.
Sementara dibalik pintu masuk kamar itu. Sepasang suami istri saling pandang, kemudian tersenyum bersama.
" Putra kita layak menjadi kesayangan dan kebanggan kita sayang...Dia punya segalanya. " Bisik Rendra seraya memeluk istrinya.
" Huek...oek...tiba- tiba Citra mual, saat bau farfum Rendra menusuk hidungnya. Kepalanya pusing, tubuhnya keringatan, ia berlari segera mencari kamar mandi.
Disana Citra ingin memuntahkan semua isi perutnya rasanya. Tapi tak ada yang mau keluar. Rendra memijit punggung istrinya. Untuk mebantu mengurangi rasa mualnya.
" Nanti ngak usah pake farfum lagi ya sayang...atau cari yang lebih lembut..." Rengek Citra saat Rendra menggendongnya ketempat tidur.
" Okey sayang...Jangan- jangan kamu..." Rendra menggantung ucapannya, belum berani berharap lebih.
Bersambung...
Salam manis selalu buat yang mampir. jangan lupa
kasih like, fote, komen dan Foforitkan karya kita ini ya.
Dukung terus dan nantikan part selanjutnya.
Miss you allways....M...h.