
Hari kedua ujian.
Seperti biasa, Boy selalu datang paling cepat dan biasanya pulangnya
juga yang pertama.
Bella sedikit terlambat bangun pagi ini.
Ia buru- buru mandi dan berkemas.
Agak panik karna ketelatannya,
takut tidak dapat menemui pangeran tampan dari negri impiannya. Lebay...He...He...
Bang Mamat sang sopir pribadi Bella, hanya senyam- senyum mengintip sang nona dari spion mobil. Ia tak lagi berceloteh, tahu nona cantik ini bakal mengamuk kalau ia buka mulut.
Ia mengerti batasannya, sebenarnya Mamat orang yang baik, ia hanya gemas dengan keunikan nona kecilnya ini. Makanya ia suka menggodanya, tapi ternyata Bella tak suka. Ya ud'ah, Mamat tak memaksa. Ia hanya ingin memastikan
kalau sicantik baik- baik saja, Enjoy ngak baper dengan dahi dilipat- lipat, sama bibir dikedut- kedutin, kayak ayam kebelet nelur. He..He...
Siapa yang ngak suka Bella, selain cantik,
ia juga baik. Ia hampir tak pernah marah.
Wajahnya hanya akan berubah kayak power renger bila sudah berhubungan dengan mahluk jenius yang ngak cupu, kayak mahluk jenius lainnya. Mahluk jenius yang ini beda. Ia tampan menawan
, tubuhnya tinggi berotot, ditilik dari tubuhnya, ia sudah layak tamat SMU, tapi dilihat wajahnya yang segar, ia bak apel manis yang siap digigit.
Tapi gimana mau gigit, ketemu saja susah. Sijenius bak pangeran dari gua misterius, hanya gadis beruntung yang dapat menyapanya. Ia terkesan dingin dan menakutkan . Hanya yang bernyali besar, yang berani menyapanya, sekedar
mengapa saja membuat lutut bergetar, bitis bergoyang.
Dijalanan
Mobil Bella terlibat macet.
Uh....Bella mendengus kesal. Terbayang Boy yang sudah akan pergi meninggalkan sekolah mereka. Anak itu pasti sudah menyelesaikan ujiannya, aku terlambat bangun, misi hari ini gagal " Bella menggerutu. Kalau sudah begini,
Wajah yang tadi sudah semanis watermelon yang siap disantap pelepas dahaga saat cuaca panas, berubah wujud
menjadi jeruk asam, yang membuat gigi
ngilu hanya melihat sayatannya saja.
Bang Mamat mulai ngilu, takut dapat semprotan jeruk nipis yang sedang tersayat- sayat. Ia tak berani tersenyum lagi, dengan terpaksa ia harus menyimpan giginya yang sedikit mancung agar tidak menyembul keluar.
Aura dingin hening mencekam didalam mobil mewah itu.
Jalanan masih macet, mobil Bella tak bisa lewat." Aku turun aja bang! Naik ojek online! " kata Bella memecah keheningan.
" Ta...ta..tapi non,..Tiba - tiba bang Mamat gugup, ia tak tahu harus jawab apa. Bak buah simala kama. Kalau nona
dicegah ia akan dapat seprotan.
Kalau dibiarkan nyonya dan tuan yang akan mengamuk. Mamat putus asa memandangi Bella yang sudah turun dari mobil.
" Mampus aku!" katanya seraya mengetuk jidat sendiri.
Bella terus berlalu, ketika ojek online pesanannya datang. Mamat menatap kepergiannya dengan mulut menganga.
Cah ayu...Cah ayu...Kau buat kang Mamat dapat masalah. " gerutunya sambil memukul stir.
Angan melayang...ingin disayang- sayang....
Ref lagu dangdut cuap- cuap remaja bergema dimobil itu, maklum volume dering full. Mamat terbelalak menatap nama pemanggil dilayar.
Tuan Rehan Wiliam Call.
Aduh...Mamat memejamkan mata menghapus dada, serta menarik nafas tiga kali sebelum menyentuh layar.
" Gimana Mat? Apa Bella sudah sampai di sekolahnya? " tanya Wiliam yang membuat asma Mamat tiba- tiba kambuh. Mamat juga tersedak beberapa kali.
Hey ada apa? kenapa kau terdengar kurang sehat begitu? kalau Bella sudah disekolah, segera ke dokter, habis itu balik lagi nungguin Bella. " kata suara dari balik telfon. Untung tak ada nada curiga terdengar, Walau Mamat belum sempat menjawab.
" Ba... baik tuan. " kata Mamat.
" Cepat berobat! " perintah suara itu lagi.
Tut...Mamat lega. telfon sudah ditutup oleh bos besarnya. Ia mulai melanjutkan perjalanan mengikuti jalur macet tersebut, menuju sekolah Nona kecilnya.
Dihatinya terus mengucap doa, semoga Bella baik- baik saja.
Bella sampai didepan sekolah. Ia segera turun begitu kereta berhenti. Matanya menatap nyalang kedepan. Mata indah itu menatap takjup, ketika beradu pandang dengan sorot mata elang milik Boy.
" Syukur! ternyata dia masih ada". Katanya sembari berlari kecil.
Ia tak melihat- lihat, hingga kakinya
" Anak gadis tak anggun lari- lari didepan umum, melarikan helm dan lupa bayar ojek! " kata sebuah suara yang membuat
wajah Bella cerah, secerah mentari pagi menjelang siang itu. Ia seakan lupa dengan luka dilututnya. Ia segera berdiri.
Tapi tubuhnya oyong, detik berikutnya Bella merasakan tubuhnya melayang.
Boy menggendong Bella menuju situkang ojek yang dari tadi memanggil Bella.
" Maaf pak.. teman saya buru- buru mau ujian, jadi lupa. " kata Boy seraya menurunkan Bella hati- hati. Membuka helm yang dikenakan Bella, meletakkan ditempat gantungan helm pak ojek. Kemudian Boy menyerahkan selembar anti basah.
" Bawa aja pak, tak usah dikembalikan,
buat beli Es, karna bapak sudah kepanasan menunggu teman saya yang ceroboh ini. " kata Boy sembari tersenyum pada pak ojek itu.
Pak ojekpun berlalu , tapi Bella tersenyum malu.
Detik berikutnya Bella merasakan tubuhnya melayang lagi.Ia sudah dalam gendongan malaikat tampan itu.
" Diamlah...aku akan mengobati lukamu
dulu baru pulang, mengapa juga kau datang sendiri- sendiri, pake acara naik ojek, jalan tak hati- hati. Apa kau tak kasihan meninggalkan sopirmu dijalanan.
Untung kau selamat nona ceroboh, kalau tidak pak tua itu akan dapat masalah. " kata Boy menggerutu sepanjang jalan.
Bella menatapnya tanpa berkedip. Gerutuan tuan muda yang tampan itu ditelinga Bella bagai nyanyian merdu.Dadanya berdebar- debar menatapi bibir yang menyerepetinya itu.
Boy mendudukkannya dikursi ruang UKS.
Bella menatapnya tanpa berkedip.
Setelah mengambil kotak obat, Boy mulai
membersihkan lukanya. Bella meringis menahan pedih.
Dengan lembut dan cekatan Boy mengobati lutut Bella yang lecet.
" Aku akan menelfon dokter pribadiku, untuk memberikanmu suntik anti biotik, aku takut kau demam, Ujian masih tiga hari lagi. " kata Boy mulai mengeluarkan iPhone dari mini bag samping yang menggantung dipundaknya.
Bella merebut I phone Boy. Lalu ia menggeleng. Boy menatapnya dengan tatapan membunuh, sisi terdingin Boy
keluar. Bella tertunduk seraya mengembalikan iPhonenya, lututnya menggigil.
" Ya Tuhan...Ia lebih menakutkan dari Papi. " batinnya berbicara dalam keterpakuannya.
" Jangan sampai kau pipis celana ya Bella! " kata Boy membuat Bella terlonjak
kaget dengan kata kasar Boy.
Ketakutan Bella berubah jadi kemarahan.
Ia mendengus kesal, lalu mencoba beranjak dari hadapan pria menjengkelkan ini. Malang bagi Bella, kaki sakitnya membuat jalannya oyong.
Boy menangkap tubuh Bella, bak menangkap seekor kupu- kupu yang patah sayap. Menahan tubuh mungil yang baru tumbuh itu dalam dekapannya.
" Complete Girl...Jangan Bandel, bertahanlah sebentar lagi, dokterku akan segera mengobatimu. Setelah itu sopirmu akan mengantarmu makan siang dan sehabis Zuhur baru kau masuk
kelaskan?
Hanya untuk mendapatkan sebuah nomor, kau bela- belain masuk pagi. " Boy menggerutu seraya mendudukkan Bella disofa.
Bella menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Ia sudah jatuh tapai dihadapan Boy. Sekarang Boy sudah tahu
isi hatinya. " Bang Mamat ! ini pasti ulahmu, awas kau! Ancamnya didalam hati.
" Jangan menyalahkan sopirmu, ia tak tahu apa- apa. Kau sudah cukup menyiksanya pagi ini Bella. Aku barusan
yang mengirim pesan padanya. Ia tak salah, kau yang ceroboh." Boy berkata seraya menatap Bella.
" Sejak kapan kau berhubungan dengan bang Mamat ? " tanya Bella mengatasi kecanggungannya.
" Sejak kau mulai mengincarku. " kata Boy pendek. Kalimat pendek itu berhasil membuat otak Bella langsung mandek.
Bibirnya mengatup,ia kehilangan kata- kata. Untunglah dokter datang, ternyata dokternya wanita.
Bella mengucap syukur, ia bisa menghindar dari tatapan tajam sang dewa cemerlang.
Boy keluar dari ruang UKS, setelah memperkenalkan Bella pada dokter Yuni,
dan mempersilahkannya mengobatinya dengan santun.
" Sama orang ia lembut, giliran padaku sangat kasar. Tapi Syukurlah..ia cukup perhatian. " Bella berkata dalam hatinya, seraya berbaring Bed ruang UKS itu.
Dokter Yuni tersenyum, lalu memeriksa gadis remaja itu.
Bersambung.