Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 126



Pria itu mengikuti langkah gadisnya dan gadis kecil bersamanya. Hatinya berbunga saat ini. Setelah Empat tahun menunggu jawaban gadis pemilik tatapan lembut ini, akhirnya ia dapat jawaban, meski terdengar ekstrem, lelaki itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya


dengan penerimaan yang jauh dari kalimat romantis itu.


" Mengapa mengikuti kami? " protes Raisa ketika menyadari pria itu belum pergi.


" Abang bukan mengikutimu, tapi Abang ingin bicara dengan calon Abang ipar, bukankah tadi diminta menemuinya." Jawab pria itu mantap.


" Tapi bukan sekarang juga. " protes Raisa dalam hatinya. Tentu ia tak ingin terlihat berbantah didepan Ulya.


Umi dan Abi Ulya tersenyum senang melihat anak mereka terlihat tenang dan senang bersama pasangan ideal yang baru datang itu. Walau Raisa memakai Cadar, mereka bisa menerka betapa anggunnya wajah gadis itu, dari sorot matanya, betapa sangat pantas dengan pangeran tampan yang mengekori mereka.


" Kalau kak Ica sama bang Ganteng itu nikah, kita datang ya umi, ternyata kata bang Boy dan Kak Ica menikah itu baik, buktinya kakak ingin nikah, kalau Abang berkhianat, juga nanti akan diganti, akan ada Abi baru buat anak- anak yang penting Abi yang baik. " Cerocos panjang Ulya menatap Abi dan Uminya.


Sedang Boy yang turut mendengar, tercengang sembari menatap bingung pada adiknya.


" Tentu sayang... Kakak akan mengirim undangan khusus buat Ulya, kalau Ulya janji makin sayang sama ummi, dan santun sama Abi, kak Ica akan hadiahin sesuatu untuk Ulya. " ujar Raisa.


" Apa kak? " tanya Ulya bersemangat.


" Ada aja! Pokoknya istimewa, yang penting Ulya sembuh total dan ummi bahagia karna Ulya. " Tuntut Raisa.


" Semoga Ulya benaran sembuh kak.. Dan kepala ini ngak terasa banyak lagi. " Ucap Ulya penuh harap.


Raisa mengusap kepala Ulya dan membacakan ayat pendek dalam hati.


" Semoga harapanmu yang baik tercapai dik, dan semua fikiran kelammu menghilang seiring waktu. " Ucap harap Raisa.


Kemudian Gadis kecil itu pamit pada Boy,


Raisa dan calon suaminya. Setelah menunduk, kedua orang tua Ulya membawa putrinya menuju mobil.


Lambaian tangan Raisa melepas kepergian Ulya.


Boy menatap Raisa dengan tajam, hingga gadis itu menunduk, tak tahan


dengan tatapan selidik abangnya.


Dalam situasi teramat canggung bagi Abang dan adik itu , pria tampan itu memberanikan diri menatap Boy. " Boleh nompang Ashar disini bang? habis ini mau bicara dengan Abang. " Pintanya kemudian.


Boy salut dengan keberanian pria itu.


"Ini adalah calon adik ipar paling berani, bahkan Amer yang orang dalam, tak seberani ini menegakkan pandangannya didepanku. " Batinnya Boy.


" Baiklah...Waktunya hampir tiba, Ayo bersuci." Ajak Boy.


Setelah sholat Ashar, kedua lelaki itu bicara diruangan Boy.


Raisa menunggu diluar dengan perasaan deg- degan. Sebenarnya ia ingin kembali kerumah, tapi Boy meminta adiknya itu pulang dengannya.


"Bagaimana bisa ia menerimamu setelah sekian lama menolak? " tanya heran Boy begitu mereka sudah duduk dikursi berhadapan.


" Empat tahun aku berusaha meyakinkannya bang. Bahkan sudah kubangunkan sekolah Islam terpadu dikota P sesuai keinginannya. Setiap aku mengunjunginya ia selalu membuat persyaratan baru. Dalam empat tahun ini, aku sudah memenuhi empat syaratnya.


Barusan ia memintaku melamar, katanya kakek ingin segera pernikahan kami dilangsungkan. Menurut Abang bagaimana sebaiknya aku membuat alasan pada om, agar tidak dikira buru- buru? Mengingat ia baru kembali." Tanya pria itu minta solusi.


" Tenang sajalah soal Daddy, yang penting berembuklah dulu dengan orang tuanmu, soal orang tua kami, biar Abang yang mengatur. " Ujar Boy senang akhirnya adiknya memantapkan pilihannya.


Pria itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya


pada Boy. " Terima kasih bang untuk dukungannya selama ini. " katanya setelah tangannya dijabat erat oleh sang calon abang ipar.


" Dukunganku tidak akan berarti apa- apa dik, jika usahamu tidak sekeras ini, kau menuai apa yang sudah ditanam, selamat dan lanjutkan perjuanganmu! "


" Sekeras apapun usahaku, tanpa doa dan restumu sebagai Abang kami, tidak akan afdol. " Tukasnya.


Kemudian mereka terus berbincang, membicarakan banyak hal.


Raisa yang merasa tak betah menunggu, membuatkan teh dan menyuguhkan roti,


Raisa tidak bicara apapun ketika menghidang Hanya sorot matanya saja yang mengisyaratkan supaya kedua pria itu menikmati hidangannya.


Boy tersenyum menatap kepergian adiknya. " Apa kau akan mampu menghadapi adikku yang kadang hanya bicara dengan mata saja. " tanya Canda Boy Sembari mengerjap pada pria itu.


" Cinta membuat yang tidak bisa kita lakukan menjadi bisa bang." Jawab mantap pria itu.


Boy beranjak dari kursi putarnya dan berjalan menuju pria tinggi itu.


" Kalau kau sudah yakin dengan cintamu, dan adikku sudah setuju, apa lagi yang bisa kulakukan selain mengurus dan merestui kalian. " Ujar Boy.


Boy memutar kursi menghadap padanya. Gerakan yang tiba- tiba itu cukup mengagetkan bagi lelaki muda itu, tapi ia berusaha tenang, karna sadar sedang berhadapan dengan siapa. Untuk menghadapi kakak ipar setangguh Boy, ia tidak boleh lemah mental.


Ditantang nya mata biru dengan sorotan tajam Boy, lalu ia mengatur nafas.


" Insya Allah...Aku sudah yakin dengan perasaanku bang...Aku berjanji tidak akan pernah mengkhianati adikmu dan kepercayaanmu, karna mengkhianatinya sama artinya aku membunuh diriku, aku sudah merasakannya selama empat tahun ini, dan kudapati diriku yang hanya merindukan dia saja." Ucap pria itu dengan penuh keyakinan.


" Kalau begitu sekarang kita minum teh dan kue yang ia hidangkan, kalau tidak nanti ia cemberut pula. " Ajak Boy mulai tersenyum hangat, sembari mencuci tangan yang diikuti oleh pria itu.


" Iya...Aku juga ingin mencicipi oleh- oleh dari calon istri. Kalau tidak karna pasien Abang itu, tentu aku takkan diberi kesempatan menikmati teh buatannya sebelum resmi. Empat kali terbang ke Kairo, tak pernah aku disuguhi apa- apa, yang kuperoleh hanya usiran." Curhatnya dengan wajah memelas.


" Ha...ha....Boy tak sadar tertawa besar, hingga mulutnya terbuka, setelah sadar, ia beristigfar dihatinya.


" Salahmu sendiri dik, mengunjungi perempuan yang bukan muhrim, seperti tak tahu saja, kalau adikku tak suka keromantisan diluar pernikahan." Ujar Boy, lalu menutup mulutnya dengan cemilan.


"Syukurlah...Adikku benar- benar menjaga pergaulan dan perbuatannya selama ini. " Sorak hati Boy.


Hari ini konsul terakhir Ulya ternyata, setelah itu aku beralih profesi jadi Pyikolog cinta." Canda Boy sembari menatap jam tangannya.


" Berarti aku harus membayar mahal untuk ini, karna ini Job diluar frofesi. " Canda balik Pria itu.


" Tentu! Abang akan menagih bayarannya seumur hidupmu. " Ujar Boy.


" Baiklah.. aku akan mencicilnya sampai akhir nafasku. " Jawab pria itu.


Kedua pria gagah itu menyeruput teh mereka sampai titik terakhir. Lalu dengan perasaan lega meninggalkan ruangan itu.


Melihat Kedua orang penting dihatinya telah keluar, Raisa menutup buku Zikirnya. Tanpa banyak bicara, ia mengikuti langkah abangnya.


" Apa calon suami tidak pantas untuk dipamitin sebelum pergi? " Sindir lelaki itu menatap sekilas pada Raisa.


Raisa hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya.


Kemudian meninggalkan prianya yang masih berdiri terpaku


Setelah mobil Boy yang membawa pujaan hatinya mengakson kuat, pria itu melambaikan tangannya, hingga mobil itu menghilang dari pandangan mata, ia masih melambai.


Dua orang perawat lewat berbisik- bisik dan melambai balik padanya, Ia tersentak, lalu cepat- cepat mengayun langkahnya menuju mobil, masuk dan menarik pintu.


" Jalan bang! " titahnya keras! " Membangunkan sang sopir yang tertidur duduk dibelakang kemudi.


" Ma-af dik..." Ucap gagap Supri berusaha melebarkan matanya.


" Sory...aku ngak fokus, sampe ngak liat bang Sop ketiduran." ucapnya merasa kasihan pada sang sopir.


" Cuci muka dulu ya bang...biar kita aman dijalan.! " katanya lagi, sembari mengulurkan sebotol air mineral.


Halo say...Ini mungkin Bab yang paling ngak asyik ya?...Tapi ..Autor sengaja menyembunyikan identitas calon


Suami sikecil yang ngak jadi. He...He...


PD & GB bakal buat kuis tebak siapa calonnya Raisa. Untuk 5 penebak tercepat dan paling benar dikolom komentar, bakal dikirimin pulsa Masing - masing 25 ribu.


Untuk pemenangnya diumumkan besok,


sekalian Ending musim keempat percintaan keturunan Kim.