
Tatkala melihat menantu sibuk membujuk sang putri, IPhone Anjani bergetar. Setelah memeriksanya, ia menepuk jidatnya, lalu diam - diam menarik suami nya meninggalkan ruangan rawat putrinya.
" Apasih mi? Kok main ajak kabur aja? tanya William setelah diluar.
" Ngak...biar mereka berduaan dulu, bukankah papi melihat mereka sudah main pangku- pangkuan sama usap - usapan tuh. Kasih kesempatan dulu sama mereka merayakan kebahagian mereka. " Ucap Anjani sembari menggamit tangan suaminya.
******
Sementara Bella masih saja teringat ucapan papinya.
" Jadi Ayang setuju, anak kita yang belum lahir saja sudah mau dibagi- bagi kayak anak kucing? " tanya Bella bernada protes.
" Tak apa sayang...Papi ucapinnya tanpa sadar. Siapa tahu karna kata- katanya nanti anak kita benar- benar Doble. Bukankah perkataan adalah doa? Kalau Doble apa ayang mau? " tanya Boy kemudian.
" Maulah...Siapa yang ngak senang, sekali hamil dapat dua. Itu istilahnya sekali mendayung biduk, dua tiga pulau terlampau." Ucap Bella girang.
Kemudian ia merengek lagi. " Tapi ...kan kita ngak ada keturunan kembar yang..." kata Bella.
" Adalah sayang...
" Siapa? dari mommy, Daddy atau Mami dan keluarga papi ngak ada yang kembar tuh silsilahnya. Trus siapa Coba?
" Adalah..dari nenek sama kakek kita. " Ucap Boy enteng.
" Nenek yang mana? Kejar Bella makin penasaran.
" Siti Hawa dan Adam As... Jawab Boy yang mendapat hadiah kepiting panas dipinggang Boy.
" Adau...Yang ini sakit bangat yang! " ringis Boy.
" Salah sendiri, godain istri semaunya! " Rungut Bella.
" Itu kebenaran kok sayang...Ini dunia kan sudah tua, banyak hal- hal yang tak mungkin sekarang terjadi. Pokoknya kita enjoy aja, setelah 21 Minggu nanti kita USG, sekalian ngelihat kelaminnya. " Ucap Boy sembari mengatur bantal, lalu membaringkan istrinya lagi.
" Lebih baik istirahat ketimbang berdebat yang tak bermanfaat! " Ujarnya kemudian.
**************
Setengah jam kemudian.
Anjani dan Wiliam kembali keruangan rawat Bella. Willi menyerahkan rantang pada Boy.
" Ini makan siang dari rumah, tadi kelupaan mamimu ngebawa dari mobil, baru diantar kedepan sama bang Mamat.
silahkan dibuka dan segera dimakan, ini sudah kelewat jam makan siangnya. " Ucap Willi sembari melihat jam tangannya.
" Makasih papi...mami..." Ucap Boy sembari meletakkan rantang dinakas dan
kemudian menatap Bella.
" Emang mami sama papi sudah makan siang? " tanya Bella kemudian.
" Sudah...Barusan kami habis makan baru kesini. " Jawab Anjani.
" Cepatlah makan! Sekalian kalian makan berdua, biar Calon baby kami sehat dan cepat besar. " ujar Willi lagi.
" Calon cucu!!!Protes Bella.
" Terserah mereka mau menganggap apa
sayang...tak perlu menyanggah orang tua
yang lagi bahagia. Mau dianggap anak atau cucu sama saja, yang penting mereka bahagia, dan anak kita mendapat
banyak perhatian dan kasih sayang." bujuk Boy.
" Ya deh...Bella yang ngalah." Ucapnya lirih.
" Gitu dong bunda cantik...masak mami sama papi sendiri dicemburuin, ngak asyik lagi. " ujar Boy sembari mengecup kening istrinya.
" Iya Boy...Bagus dipanggil bunda, biar kedengarannya adem, ORI, sekalian biar ni calon ibu hilang sikap ambekan, keras kepala, sama cemburuannya. " Timpal Anjani.
" Apa hubungannya sama panggilan anak? tanya Bella sembari mengerutkan dahinya.
" Adalah...dengan sadar bakal jadi calon bunda, kamunya lebih adem dikit. Soalnya...bunda itu kan muara kasih sayang. " Ujar Anjani.
" He... He......mami...itukan lagu Heri Suzan Mam..." kekeh Bella.
" Kan ada juga untungnya kamu dipangil bunda, jadi bisa ketawa,! "
Seru Anjani girang karna merasa menang.
" Iya Boy...Anak kalian panggil ayah bunda aja nanti sama kalian, kalau sama kami panggil mami papi. " Ujar William tanpa merasa berdosa.
" Mana boleh kayak gitu, mana mau aku sama panggil mami papi dengan anakku. Kalau mami sama papi mau dipanggil mami papi sama dedek bayi, sama mommy Citra aja mami sama papi negosiasi. Itu baru cocok! panggilannya pas. Kalau anak kami tetap panggil nenek sama kakek, tak ada pilihan lain. Ujar Bella kukuh.
" Emang mommy Citramu bakal punya baby? tanya Anjani sembari mengerutkan dahi.
Bella terdiam karna merasa bersalah tak sengaja membeberkan kehamilan mommy dihadapan orang tuanya.
" Sayang...maaf...aku keceplosan..." Bisiknya lirih.
" Iya Mi...Pi...kami bakal punya adik lagi. Kata Daddy istilahnya meleset. he...he... " Boy tertawa kecil.
" Ya ampun Boy...senangnya Rendra...kalau papi jadi dia pasti papi akan merayakannya. Tapi kami tak ada harapan, capekpun tak ada hasilnya, orang mamimu sudah tak ada rahimnya. " Willi tersenyum kecut.
" Jadi papi kecewa ya! kan udah ada Bella ! " Semprot Anjani.
" Ngak kecewa sih sayang...Cuma kurang rame aja. " Bujuk Willi sembari menggamit istrinya.
" Ia Boy...mami sebenarnya masih 38 tahun, masih bisa punya anak, tapi ya begitu takdirnya nampaknya cucu yang bakalan meramaikan hidup kami. Makanya papimu bilang buat anak yang banyak, biar rame. Mom sama Daddymu memang paling beruntung, sudah punya kalian, masih dikasih bonus lagi sama Allah. " Umpat Anjani.
" Kalau adik kami, baru boleh dipanggil anak, itu tak menyalahi aturan. " Kukuh Bella.
" Iya ya...Nanti malam kami kesana, buat jenguk Citra sekaian minta anak. " Ujar Anjani Enteng.
" Mami...kayak main Yaoma saja. He...He....terserah kalian deh, yang penting kudu sadar diri calon nenek kakek...He...He...
" Kami juga, habis cairan infus yang ini, akan segera balik kerumah, ngak enak lama - lama dirumah sakit! Kita balik sore ya yang..." rengek Bella.
" Ya...Kan kata dokter Bella hanya butuh istirahat, dirumah akan lebih tenang. Oke yang...ntar sore kita balik kerumah sesuai keinginan nyonya. " Ucap Boy sembari mengedipkan matanya dengan jenaka pada istrinya.
" Ya...Cepatlah buka makanannya, kalian makan yang banyak biar sehat dan kuat. " Timpal Anjani.
Tak ada lagi protes. Menit berikutnya, Anjani dan Willi kembali harus menahan nafas, melihat pasangan bucin yang lagi makan, pandang- pandangan, suap- suapan.
Ketika bibir Boy belepotan sambal yang disendokkan Bella, Bella tak segan membersihkan pinggir bibir suaminya dengan bibirnya sendiri.
" Ni anak malah lebih ngak sopan lagi dari suaminya, ntah dia ntah Boy yang laki sekarang, Ih..." rungut batin Anjani.
" Gerah...Gerah ! pengen mandi!" Ujar Anjani.
Willi yang mengerti sindiran istrinya, kemudian tersenyum, memandang anak menantunya, dan bermaksud ingin berlalu dari ruangan itu.
" Kayaknya mami sama papi pulang duluan Ya.. Kalau kalian balik ke Mension kita, itu lebih baik, soalnya kami
nanti malam mau ngelihat mommy mu,
sekalian nginap, biar kita tukar tempat. " Kami pula yang menghuni kamar pengantin kalian yang disana. " Usul William.
" Boleh Pi, tidak masalah.
Tapi mami sama papi belum boleh pulang dulu, tunggu kami siap makan dulu, pantang ninggalin orang yang lagi makan. " timpal Bella sembari menyendokkan makanan pada suaminya.
" Pantang dari mana? kitab apa pula, nih anak makin ngaco aja. " Sanggah William.
" Pokoknya duduk lagi...siap kami makan baru boleh pergi. " Ucap Bella kali ini dengan suara yang lebih rendah, dengan tatapan memohon.
Nih anak.. padahal kita mau cabut untuk menghindari mereka, eh malah pake ngeyel ngak boleh pergi sebelum mereka selesai makan segala, kapan siapnya makan kalau sendok satu diperganti- gantikan. Tatap-tapan lama, tukar suap, tukar bibir, untung ngak sambil tidur mereka makan. " Gerutu hati Anjani.
" Pasti siap juga kok mi makannya, sabar dulu Napa? Papi kan Ndak berniat mau balik kantor lagi, paling papi mau bobok siang sekarang, tuh mata lebar papi udah menyipit. " Ucap Bella sebelum
menerima suapan berikutnya dari Boy.
" Mampus! Bahkan apa yang lagi kita fikirkan saja, bisa dibaca oleh anak ini!
Emang apa pantangnya ditinggal saat makan? " tanya Anjani setelah melihat Bella sudah menelan kunyahannya.
Bella kelabakan tak sanggup menjawab.
" Itu cuma mitos mi...Katanya kalau kita meninggalkan kekuarga sedang makan sama dengan nolak rezeki, trus ada gangguan dijalan juga. Tapi itu hanya kitab dapur ! Intinya Bella cuma mau makan ditemani sama mami dan papi. " Jelas Boy.
" Bella mengacungkan jempolnya.
" Benar mi...Bekal yang mami bawa sungguh enak sekali, meski sempat ketinggalan dimobil, sungguh Bella puas dengan masakan Master Cheff kali ini. " Puji Bella.
" Memang mami tadi yang meramu semua bumbu, para koki tinggal Ngaduk aja. " Ucap Anjani bangga.
" Itu alasannya mengapa Bella ngak bolehin mami pulang, sekalian pulang bawa rantang kosongnya. " Ucap Bella menyunggingkan senyum termanisnya.
" Nih anak..makin tua makin ngelunjak! " Seru Anjani seraya berjalan kearah Bella, mencubit ujung bibir putrinya yang
kalau debat tak mau kalah itu.
Anjani mengumpulkan rantang yang sudah kosong itu,
dengan bibir mengerucut.
" Kalau usaha yang ikhlas dan sampai tuntas yang..." Ujar Wiliiam sembari mengecup bibir cemberut Anjani.
" Jangan fikir kami orang tua tak bisa! ucap Willi lagi.
Anjani kemudian tersenyum,
Lalu membawa rantang kosong kekamar mandi untuk dibersihkan dulu sebelum
dibawa pulang.
Tepol ( tekan Jempol ) Say...Ini baru yang bisa dibuat hari ini.
Abis sibuk ma ngantuk ngisi Rafor K 13. Ngirim- ngirim Catt sama wali murit, suruh bawa surat Vaksin pas terima Rafor. Ada - ada aja peraturan sekarang, makin ribet aja, kayak mulut Bella yang tambah cerewet.