
Rendra memandangi putri keduanya, walau hatinya
tak tenang karna Boy yang belum kembali, dan sang kakek masih koma, ia tak mungkin tidak mengucapkan selamat datang pada sibungsu.
Sudah lahir tanpanya, diIqomahkanpun hanya oleh dokter Rinto , Ayah mertua Rendra. Tak tega juga Rendra tak menggendong putri kecilnya itu.
" Selamat datang didunia Fana ini sayang...maafkan Dady yang tak bisa menyambutmu saat pertama membuka mata didunia ini. Namapun Dady belum punya untukmu, fikiran Dady masih kalut. Berdoalah agar abangmu segera kembali dan uo mu sembuh, nanti untuk namamu biar Abang yang akan mencarikan yang cocok buat adik manisnya.
Yang baik dan jangan rewel ya sayang...Momy juga masih belum tenang.
Dady mohon, bersabarlah. " kata Rendra entah pada putrinya sekalian untuk dirinya sendiri.
" Dady tenang saja...Abang pasti menemukan jalannya untuk pulang kerumah ini, uo juga pasti menemukan jalan terbaik untuk kesembuhannya.
Kalau aku dan kak Calista don't Wory, Ada
Onty Adel cantik yang udah datang jauh- jauh dari Kota Bandung, khusus untuk jagain kami calon mantu, para gadis yang kelak bakal mengambil hati bang Almer putranya. " kata Adelia
mewakili sikecil, tapi masih dengan bahasa super lebaynya.
" Kalau anakku yang ngomong ngak mungkin selebay itu itu kali Del. Dasar perempuan aneh, sudah jadi mak- mak ngak berubah juga. " Protes Rendra sembari tersenyum sinis.
" Ngapain pake berubah Dady? Onty kami bukan power Ranger. Bilang dis! " kata Adelia lagi.
" Terserahlah...yang manis ya sayang...jangan kayak Onty yang super Bar- bar. " kata Rendra lagi.
" Bar- bar juga ngangenin. " kata Adel tak mau kalah.
" Selain Arif, mana ada yang kangen sama lo, sedang Arifnya saja mungkin sudah Nyesal kali milih bini kayak lho." kata Rendra memanas- manasi sahabat istrinya itu.
" Tidak akan pernah terjadi tuan Rendra! " Bukan hanya ayah Amer yang kangen ama aku, bini Lo
aja kangen terus sama Aku. Ngak percaya tanya aja. " kata Adel.
" Sudah! sudah! Coba lihat tu Citra bermenung, Boy belum balik, kakek masih koma. Sedang kalian sibuk bersitegang. " kata Arif yang baru saja masuk
kamar itu.
" Tak usah khawatir dengan Boymu Dady and momy. Aku datang! ..." kata Boy yang langsung berlari memeluk ayahnya sekilas lalu kemudian melompat ketempat tidur Momynya.
" Adiknya sudah lahir ya mom? Syukurlah...Adik cantik Boy bertambah. Kita kasih nama Raisa ya Mom. " kata Boy seraya menatap Momy dan dadynya bergantian.
" Nama yang bagus. Onty setuju sayang...Jadi calon mantu ada Calista dan Raisa." Tinggal nunggu waktu seleksi Dua laraduta Ontynya, buat tuan muda Amer nantinya. " kata Adelia nyelip pembincangan mereka.
" Tak perlu seleksi kok Del, cukup nambah anak aja
ontynya. Tua setahun cewek kan tak apa. " kata Citra mulai riang karna putranya sudah kembali.
" Emang putri kita mau dikasih semua sama mertua aneh ini? " kata Rendra yang memang suka cari masalah dengan Adelia dari dulu.
" Aneh- anehkan anak- anak suka. Ya kan cantik? " kata Adel seraya menggendong Calista. Tah faham atau tidak, yang penting Calista mengangguk.
" Tuh kan anak nya aja suka. Cuma Dadynya yang sok sinis. " kata Adel merasa diatas angin.
" Iya lah terserah anak- anak kalau sudah besar nanti. Mau punya mertua sehat atau tak sehat,
sebagai Dady aku akan setuju jika anakku yang mau. " kata Rendra menyindir Adel.
Sedang yang disindir cuek aja, ia sudah sibuk bercanda dengan Calista dan baby Raisa.
" Oh ya Boy, Bagaimana Boy selamat sampai dirumah. " tanya Arif yang dari tadi hanya diam sebagai penonton.
" Iya sayang...bagaimana Boy bisa selamat dan tak ada yang sakit kan sayang ? " tanya Citra seraya
memeriksa tubuh putranya.
" Kalau sudah punya banyak adik ya gitu om, kita muncul kayak jelangkung. " kata Boy bercanda sembari menatap kearah Arif.
" Bukannya begitu sayang...mungkin saking senangnya Anak bujang dah selamat, jadi kelupaan
nanyanya. " Kata Citra terbawa logat minangnya.
" Lagian uo mu masih belum sadar juga, sejak Dady dan boy menghilang. " Jelas Citra pada putranya.
Begitu mendengar uonya sakit, Boy langsung turun dari tempat tidur, terus berlari menuju kamar rawat Mr Kims. Rendra berjalan mengikuti putranya.
Sesampainya Boy dikamar tuan Kims, ia segera menggenggam tangan Mr Kims. Ditatapnya tubuh lemah yang terbaring itu.
" Mengapa uo terlalu memikirkan Boy hingga harus sakit begini? Bukankah uo tahu sejak kecil anakmu ini Insya Allah selalu bisa mengatasi masalah. " kata boy sembari mengecup tangan keriput itu. Airmata dan ingus Boy menetes ketangan tuan Kims.
" Anakku...anakku...kadang- kadang kau konyol juga kayak Adelia, emang Adel dulu yang merawat momymu saatkau dalam kandungan. " kata batin Rendra.
Melihat uonya belum juga sadar, Boy teringat pada seseorang yang tadi bersamanya. Dicarinya lelaki tua yang tadi ia tinggalkan diruang tamu.
Begitu menemukan pria yang sedang asyik memperhatikan gambar Almarhum putri dan menantunya yang dipajang diruang tamu. Boy menarik tangan pria bertongkat itu.
" Ayo uo..Kita menghadap besanmu. " bisik Boy.
Mr Carlos dengan patuh mengikuti langkah kecil itu.
Tuk. tak.tuk.tak bunyi tongkat Mr Carlos mengetuk lantai yang terbuat dari batu Alam itu.
Begitu mereka sampai didepan pintu, Rendra langsung menyambut tuan Carlos dengan menghadiahi tinju dipipi keriputnya. Membuat lelaki itu mengasuh kesakitan.
" Lihatlah uo..Kalau kau belum bangun dengan ingusku, maka biarkanlah Cucu kesayanganmu membunuh kakeknya, dihadapanmu. Aku takkan mencegahnya, biarlah kau yang akan menanggung dosa atas perbuatan cucumu yang tak kenal dengan bapak dari ibu kandungnya. " kata Boy didekat telinga tuan Kims.
" Hentikan Rendra! Tiba - tiba Mr Kims tersentak dan langsung berteriak walau suaranya agak terdengar bengek karna alat bantu pernafasannya.
Rendra yang sedang menganiaya bule tua yang pasrah itu berhenti mendengar teriakan kakeknya.
" Kau sadar kek? " tanya Rendra segera menghampiri tuan sipit tercintanya. Lalu anak dan ayah itu bertangisan memeluk tuan Kim. Tangan tua yang bergelantungan jarum infus itu sangat ingin menggapai kepala mereka untuk membelainya. Tapi ia tak bisa melakukannya.
Sadar dengan reaksi tangan uonya, boy kembali menggenggam tangan uonya, lalu mengecupnya.
Carlos menitikkan airmata juga menyaksikan betapa tuan Kims mendapat perhatian yang besar dari cicitnya.
" Mujur sekali nasipmu Kim. Kau selama ini bahagia dengan mereka, sedang aku hidup sebatang kara, bergelimang harta tiada guna, ketika tiada teman berbagi kasih. " kata batin Carlos menatap iri pada mantan besannya itu.
" Sinilah Carlos...Waktuku mungkin tak lama lagi, aku juga sudah lama bergantung dengan kursi rodaku. Sudah cukup lama juga aku menikmati kebahagiaan dengan cucu dan cicit kita.
Sekarang giliranmu. " kata Kims kemudian, yang membuat Carlos tersentak dari lamunannya.
" Sinilah...mengapa begitu lama kau baru mencari cucu kita. Kau merasa aku beruntung bukan? Memang aku beruntung Carlos. Tapi cukup lama baru bisa aku merebut hatinya. Hatinya hanya menyayangi pengasuh dan dokternya. Baru setelah bertemu gadis Jawa Minang Belanda itulah
ia baru memperdulikan ku. Huk...huk...Kims terbatuk. Nafasnya juga nampak tak beraturan.
Carlos menghampiri besan yang dikiranya sengaja bersembunyi itu, tak tahu ia betapa selama ini tuan Kims berjuang keras membesarkan Rendra yang masih bayi, hingga bisa mewarisi kerajaan bisnisnya. Tak dikira hubungannya dengan sang cucu ternyata baru membaik.
" Kekayaan juga tak lantas membuat hidupku mudah Carlos! Aku bahkan struk muda karna beratnya beban batinku.
Huk...huk...
Sudahlah kek...Jangan dipaksakan, kakek masih butuh istirahat kata Rendra.
Kims tak peduli, ia ingin meluruskan semua kesalahfahaman yang pernah ada.
" Aku membesarkannya dengan membeli kasih sayang orang. Cucumu ini sangat keras kepala, bahkan dari bayi saja ia sudah
menunjukkan kekerasannya. Ia bahkan hampir membuatku menikahi wanita yang tidak kusukai hanya untuk membeli kasih sayang seorang ibu asuh.
Huk...Huk...
" Tak mudah menaklukkannya lelaki ini. Bahkan ia juga tak berniat melanjutkan keturunan sebelum ia
bertemu dengan gadis tomboy yang bernama Citra. " cerita Kims masih dengan terbatuk- batuk.
" Citra ? Apa itu nama Momynya boy? Tanya Carlos
memastikan.
" Ia Uo. Ia baru saja melahirkan adik kedua. " kata Boy bangga.
" Maafkan aku Kims.. sudah membuat kekacauan ini. Sekarang kau boleh menghukum ku, tapi aku mohon sehatlah...biar kita bisa bersama dulu, bercanda dengan cucu dan cicit- cicit kita, sebelum masuk kubur. " kata Carlos kemudian yang membuat Boy berlari, beranjak dari tempat itu.
Carlos heran. Dipandanginya Kim, mintak penjelasan.
" Dia memang begitu, dia sedang marah sekarang, karna kau bicara soal kubur, sedang kita lagi bahagia. Tenanglah Carlos! Cicit kita yang istimewa itu ngambek hanya karna pantangan yang kau bilang barusan itu. Selebihnya, semua masalah baginya enteng untuk dipecahkan.
Carlos mengangguk mengerti.
" Sekarang ajak kakekmu menemui istri dan anak- anakmu Rendra! Obati lukanya yang kau buat, lalu minta maaflah...Kalau aku diposisinya, akupun akan lebih gila darinya. " kata tuan Kims lebih tepatnya disebut perintah.
" Baik kek." Kata Rendra singkat. Walau lumayan puyeng dengan kerumitan kisahnya, mau tak mau, ia harus belajar menerima ayah dari Momynya itu.
Bersambung....