
Pukul Sebelas malam, para tamu sudah kembali. Orang tua dan semua anggota keluarga pulang dengan rombongan usai makan malam bersama. Tinggallah kedua pengantin, Amer menuntun istrinya menuju sulte room mereka, melangkah seirama melewati Lobi hotel.
Chalis tertunduk diam didalam lif. Bahkan sampai tiba didepan pintu ia masih terdiam, entah mengapa ia mulai ketakutan. Jantungnya berdegup tak karuan. Amer mengukuhkan gandengannya, menekan pinggang chalis
agar makin menempel padanya.
Sampai didepan pintu, Amer menekan sandi. Begitu pintu terbuka, Amer menyeret lembut kekasih halalnya kekamar suilte room itu.
Amer hanya tersenyum tipis, melihat kelinci kecilnya tertunduk malu, saat ia membantu membukakan gaun pengantinnya.
Amer tidak gegabah, walau ia sudah tak tahan dengan bibir yang mengerucut itu, tapi ia tak mau tergesa - gesa menyentuh yang sudah pasti untuknya, sebelum merasa sudah bersih lahir dan batin.
" Ayo mandi duluan, habis ini biar Abang mandi. Kita akan memulai acara setelah shalat isya dan Sunnah berjamaah. " ucap Amer lirih. Tapi walau lirih, cukup membuat jantung Chalista memompa lebih cepat.
" A- Acara apa? " Tanyanya terbata.
He...He ..cepatlah mandi sana! nanti Abang bisikkan! " Gelak centil Amer.
Chalista mematuhi Amer, lagian tubuhnya sudah terasa lengket. Chalis merendam tubuhnya di Bathup sampai fikirannya benar- benar rileks karna sabun aroma terapi yang dicampurkan keair,.
Setelah merasa tenang, ia pun mandi bersih dibawah guyuran Shower.
Chalista yang hanya berbalut handuk, melangkah canggung kedalam kamar.
Amer menatapnya sekilas, tapi itu cukup membuat sesuatu yang dibawah melonjak, melihat betapa mulusnya bidadari yang pulang mandi itu.
" Sholat dulu! " perintah hatinya.
Chalista buru buru memakai baju, sementara Amer mandi, iapun segera membalut badannya dengan mukena putih bersihnya. Dan membentangkan dua sajadah satu didepan satu dibelakang.
Chalista sengaja duduk menunduk ditikar, takut mencuri pandang, pada Amer.
" Sedang mencium wangi tubuhnya saja ia sudah melayang, apalagi memandangnya, bisa batal ntar wudhu. Batinnya dengan wajah menunduk.
Amer senyum dikulum, melihat padanya.
" Sebelum halal berani incip- incip. Sudah halal kok jadi penakut gitu? - Amer.
Amer yang sadar sudah punya tanggung jawab besar, segera memulai tugasnya, sebagai imam untuk pertama kalinya untuk chalista.
Usai sholat dan berdoa, melihat istri tak kunjung tiba mengulur salam. Amerpun membalikkan tubuhnya.
" Tidak menyalami suami? " tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
Dengan menunduk malu, Chalista pun mengulurkan tangannya.
Amer menjabat tangan kecil dengan jemari panjang dan lentik itu, menggeser tubuhnya agar mendekat kesisi Chalista.
Chalis tertunduk mencium punggung tangan suami.
Saat itulah Amer menempelkan bibirnya dipuncak kepala istrinya, dan melafaskan doa.
Chalista bergetar dibawah dagu suaminya. Amer menurunkan dagunya dari kepala Chalista, kemudian menatap wajah indah itu lekat. Detik berikutnya, Chalista sudah merasakan benda kenyal lembut dan basah menyentuh bibirnya.
Tanpa sadar ia membuka mulutnya saking terkejut, hingga membebaskan Amer mengekplor isi mulutnya dengan lidahnya. Kini mereka berdua telah saling *******, hingga nafas mereka tersegal, barulah pagutan indah itu terurai.
" Enak mana yang ini, dari pada waktu kita melakukannya sampai dapat hukuman dari mama? " Goda Amer berbisik.
Chalis mendorong dada Amer karna malu.
Amer terkekeh sembari menarik mukena istrinya, hingga terurailah rambutnya yang panjang.
Amer tak menyia- nyiakan pemandangan indah didepannya. Ia meraih dagu indah itu dengan satu tangannya,sedang tangan satunya menekan tengkuk Chalista.
Amer kembali meraup bibir manis istrinya, dari bibir, turun keleher jenjangnya,
lalu berhenti dibukit kembar yang menantang.
Amer mengesap, dan meremas dua gundukan padat itu dengan lembut dan penuh perasaan.
Ahhh...Suara lenguhan kecil Chalis mengobarkan api cinta Amer kian membara.
Merasakan tubuh istrinya gelisah dan menggelinjang dalam pagutannya. Iapun mengangkat tubuh itu lembut, menggendongnya, model koala, lalu membawanya ketempat tidur bertabur bunga itu.
Amer mengungkung tubuh istrinya, menatap mata bening dengan bulu panjang dan lebat itu dengan intens.
Detik berikutnya, entah siapa yang mulai, mereka sudah polos. Wajah malu Chalista sudah berganti dengan wajah merah menahan gejolak yang melonjak- lonjak.
Seumur hidup ini kali pertama bagi mereka, saling mengagumi lawan jenis, tanpa balutan sehelai benangpun.
" Betapa sempurnanya istriku ini, beginilah gambaran bidadari
Syurga itu?. Nyaris tanpa cacat." tanya batin Amer bergetar memuji maha karya yang sempurna didepannya.
Amer kembali pada pencariannya, setelah puas menatapi tubuh molek pemilik hatinya.
Chalista juga masih dalam suasana memandang tubuh perkasa Amer, dengan dada sixpac, dimana - mana ada roti sobek.
Baru saja mau memulai acara usap- usapan. Notifikasi pesan rame dari HP kedua pengantin, disusul dering Telfon bertubi.
Amer meraih kedua benda itu dan menonaktifkannya.
" Kenapa dimatikan? Siapa tahu ada yang penting! " ujar Chalista yang sudah kembali pada kesadarannya.
Amer tersenyum sembari memulai pencariannya lagi.
Sayang! Tau ngak apa bedanya motor baru sama pengantin baru? tanya Amer melihat wajah istrinya yang tegang.
Motor baru pake mesin, pengantin baru pake hati. " Jawab Chalista.
" Salah! yang benarnya, Motor baru menghindari lobang, kalau pengantin baru mencari lobang! "
Baru Chalista mau membuka mulutnya untuk protes, Amer sudah kembali membekap mulutnya dengan
******* bibir manis dan ranum itu. Sampai mereka benar- benar tersegal- segal karnanya.
Amer lebih suka naik gunung- turun gunung, membuat banyak tanda disana. Ketika kedua gunung kembar itu dilahap habis- habisan oleh Amer, bibir Chalista tak hentinya meracau.
Bang...Aghhh.....Tubuh indah Chalista menggelinjang menahan rasa yang tiada pernah ia kira.
Suara manja dan desis istri membuat
Amer kian bersemangat, meneruskan pertualangan mencari liang seperti yang ia bilang.
Setelah menemukan pencariannya, Amerpun bermain disana, sampai Chalista menatapnya dengan sayu, barulah ia memulai acara.
Amer memulainya dengan lembut,
mengusap dengan penuh kasih sayang,
hingga walau berurai airmata, Chalista pasrah dengan acara yang baru dikenalnya itu.
Amer terus mengucapkan kata- kata cinta, membuat hati Chalista kian berbunga.
Berkat kepiawaian Amer membawakan acara meskipun pendatang baru, Acara itupun tiba dipuncak nya.
Benar yang dikatakan Amer, sakit itu berganti dengan keindahan. Mereka bahkan dengan sepakat mengulang lagi acara penuh sensasi itu. Hingga keduanya terkulai lemas dan kehabisan tenaga, barulah mereka memutuskan untuk tidur.
****
Sampai larut malam, Raisa sibuk mengepak kopernya untuk persiapan penerbangan esok pagi menuju Mesir.
Ia bertekad untuk menyelesaikan pendidikannya di Al- Azhar dengan sebaik mungkin. Cita- cita Raisa dari kecil
memang berbeda dengan kakak dan Abangnya. Ia tidak ingin merambah dunia
bisnis, ia ingin menjadi penerang dalam kegelapan hati, penggerak untuk jiwa yang Enggan mengingat Tuhan, juga sebagai penuntun menuju jalan bagi insan yang belum bertemu cahaya hidupnya.
" Bukankah jadwal kuliahnya belum nak.. kenapa buru- buru kesana? " Ujar Citra sembari duduk berselonjor dilantai, sembari memeluk diri sendiri, disisi sang putri yang sedang packing baju- baju muslimnya.
" Mommy...Kok belum tidur? " tanya Raisa sedikit terkejut dengan kedatangan
sang mommy dipertengahan malam ini.
" Adik Sonia agak rewel efek mami yang kelelahan karna banyak acara. " jelas Citra.
" Trus mommy ngak istirahat? Bukankah kelelahan akan membuat ASI kurang nutrisi mom? " tanya balik Raisa.
" Iya sayang.. tapi mana mommy bisa tenang kalau putri mommy yang satunya lagi pagi- pagi sudah mau terbang." Ucap Citra lirih sembari menatap Raisa yang mulai selesai dengan packingnya.
Raisa menutup kopernya, kemudian tersenyum sembari memeluk pundak Citra.
" Kak Ita sudah tiba diawal puncak pencapaiannya mom. Sedang Raisa masih mau memulai. Kalau Raisa lemah dan malas, gimana akan berhasil? Mommy tenang dan doain saja Raisa, Insya Allah Raisa akan baik- baik saja
disana." Bujuk Raisa sembari memijit punggung sang mommy.
" Rasanya baru kemarin Raisa dipondok sampai bertahun- tahun. Ini sudah mau pergi pula, jauh pula dinegara Orang, gimana mommy bisa tenang saja nak..
Kalau Raisa pergi setelah menikah, tentu mommy sedikit lebih tenang, karna ada yang jagain Raisa, ini anak gadis mommy pergi sendiri." Ucap lirih Citra, tanpa bisa ia hentikan airmatanya mengalir.
" Jangan menangis mom...Raisa pasti akan menikah kok..Tapi itu setelah Study
Raisa tuntas! Bukankah mommy memberi syarat begitu pada kakak, mengapa tidak denganku juga? Bahkan Raisa sudah ketinggalan setahun." ucap Raisa sembari mengusap airmata mommynya.
" Raisa beda dengan dia, kalau dihati mommy, Raisa jauh lebih dewasa dari Ita.
Raisa kalau mau menikah muda tidak masalah, karna Raisa sudah punya dasar pendidikan agama yang kuat. Beda dengan kakakmu."
" He...He...Mommy...mommy, apa tidak kasihan pada Raisa kalau menikah muda? Bagi Raisa sebenarnya tidak masalah bila sudah bertemu jodoh mom, tapi kayaknya jodohnya Raisa belum ketemu mom. Maka Ikhlaskanlah Raisa
menimba ilmu dahulu, bila suatu hari Raisa merasakan jatuh cinta, pastilah Raisa takkan diam saja mom.... Raisa akan secepatnya beritahu mommy, agar segera menerima pria itu untuk menghalalkan putrimu ini." Ucap Raisa dengan tatapan memohon.
" Pria dipesta itu bagaimana? " tanya Citra masih berusaha menahan putri kecil yang tak jadi itu.
" O...itu sih teman kak Chalista mom...Pria itu pernah jatuh hati pada kakak. Ia patah hati dan minta Raisa sebagai penebus hatinya yang patah. Manalah bisa begitu mom, Raisa tak mau
sebagai tempat pelarian. " jelas Raisa.
" Kalau dicarikan sama Daddy gimana? " tanya Rendra yang baru muncul didepan pintu.
" Daddy ngak tidur juga???" tanya Raisa terkejut.
" Daddy susah tidur, mendengar Raisa buru- buru pergi. " ujar Rendra jujur.
" Raisa pergi belajar kok Daddy, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
" Jadi tidak menerima tawaran Daddy barusan? " tanya Rendra sekali lagi.
" Tidak untuk saat ini daddy! Kalau setelah tamat, terserah Daddy! " tegas Raisa.
Rendra menghampiri putrinya dan mengusap kepala tertutup kerudung itu.
" Semoga berhasil nak, jaga dirimu baik- baik. " ucap Rendra pasrah.
" Insya Allah Daddy."
Pukul 08: 00 , pesawat sudah mengudara. Boy yang mengantar Raisa ke Mesir dengan jet pribadi keluarga.
Sedangkan Amer dan Chalista, berangkat bulan madu ke Paris siang hari dengan pesawat pribadi William Rehan, sekalian dengan Willi dan Anjani yang ingin berziarah.
Citra memeluk Bella menantunya yang baru saja selesai memberi ASI twin Boys
siang itu.
" Kita ibu baru terpaksa diam dirumah membesarkan anak- anak sembari menunggu pemulihan total.
Setelah ada waktu lapang nantinya kita akan berlibur juga sayang...Ibu muda jangan sedih ya. " hibur Citra pada Bella yang baru pertama ditinggal setelah menikahi putranya.