
Sore ini semua pengantin akan kembali kerumah masing- masing, juga orang tua yang notabenenya orang sibuk semua,
pagi- pagi sudah duluan.
dengan tak sabar untuk melanjutkan kesibukan mereka.
" Gimana dengan rencana bulan madu bareng? " tanya Bhalendra ketika mengantar rombongan teman- teman pengantinnya menuju parkiran mobil.
" Jadi basi bulan madu bareng Bos, orang nyonyanya sudah dihajar semalaman sampe ngak kuat jalan. " Kata Elsi berkelakar.
Elman mengedipkan matanya pada sang istri, memberi kode lampu kuning.
Boy tersenyum. " Tak apa Elsi bilang begitu, aku tak tersinggung. Emang aku nya terburu- buru. Sekarang saja Bella tak bisa ngantar kalian sampe disini. Maaf ya.. " Boy menyusun jarinya sembari tersenyum.
" Tak masalah Bos...Kami semua juga sudah bulan madu kok...Cuma istriku dan aku kan sama- sama standar ukurannya,
jadi ngak nyampe pingsan Elsinya He...He...." Kekeh Elman sembari memainkan bibir istrinya dengan telunjuknya.
" Seharusnya kami yang minta maaf, Istana Bos sudah dijadikan tempat ihik- ihik..." Hafis menimpali.
" Jadi semua sudah? " tanya Boy dengan senyum mesumnya.
" Ya sudahlah...kenapa ngak...kan sudah halal, mana tahan!!! " Seru semua serentak. Lalu semua terkikik.
Kekehan mereka terhenti ketika mendengar derap sepatu memasuki Area parkir.
" Om Rendra dan Om Hans! Seru mereka masih terdengar kompak.
" Iya para pengantin..Ini om Hans mau berikan sesuatu pada semua pasangan baru yang akan kembali. " kata Rendra.
Hans membagikan ampop berwarna coklat pada mereka.
Didalamnya ada cek hadiah dari paman Rendra. Kami tahu kalian semua orang berada, tapi om Rendra ingin melengkapi kasih sayangnya dengan memberikan semua ini. Kalau bulan madu ditentukan tempatnya, belum tentu semua bisa, karna semua orang sibuk, sulit menyesuaikan jadwal.
Jadi silahkan mandiri dengan pasangan masing untuk menentukan jadwal dan tempat yang sesuai selera. Dirasa uangnya akan cukup, kalau kurang tambah sendiri, siapa tahu ada yang ingin keliling dunia. He...He.. " Jelas Hans sembari berkelakar.
" Makasih banyak Uncle berdua.. kalian Orang tua paling pengertian sedunia. Kami sangat berterima kasih." Bayu yang kali ini berbicara.
" Sama- sama...Maaf kalau pelayanan uncle dan keluarga kurang maksimal. " Kata Rendra merendah.
" Ini lebih dari cukup! kami takkan melupakan seumur hidup! tolong doakan kami agar selalu bersama dan Saling menyayangi sampai tua, seperti Om Rendra dan Tante Citra." Kali ini Hana yang berbicara.
" Tentu sayang...mudah- mudahan Cinta yang berawal dari rumah Bhalendra, akan
diikat Oleh yang Maha kuasa sampai penghujung usia."
" Amiin...Insya Allah kami akan belajar menjadi pria yang setia, seperti unle Rendra!!!" Para suami berseru serentak, seperti ada pemandunya.
" Insya Allah.. semuanya akan setia seperti Daddy, dari kekompakannya saja sudah terbaca. Tapi satu yang tak bisa dicontoh dari tuan ini ya! " Boy melingkarkan tangannya dibahu ayahnya.
" Apa itu? Kami rasa uncle Rendra oke semua..." timpal Alfian yang dari tadi hanya senyum- senyum saja.
"Tuan pecemburu tingkat dewa! " Han yang memecahkan teka- tekinya.
Semua tak ada yang berani berkomentar.
Sejenak hening.
" Kalau begitu sudah saatnya kami pamit Om..." Alfian menyalami Rendra bergantian dengan Hans, yang lain mengikuti. Kemudian lambaian tangan menghantar kepergian keempat pasang pengantin baru itu, dengan mobil mewah suami masing- masing. Benar- benar Ciklet ( Cinta Kelas Elit), dengan pernikahan ini, Akhirnya Zahra berhasil masuk dalam keluarga Ciklet.
Chalista tersenyum dibalkon. Ia dari tadi mengintip kebahagiaan para pengantin dari lantai dua. Tiba - tiba ia dikejutkan dengan tangan kokoh yang terasa hangat
melingkar di pinggangnya." Pengen seperti mereka secepatnya? " bisik seseorang itu, tepat dikuping Calis.
" Bang Amer!!! Lepas Ah..." Chalista cepat- cepat melepas Kungkungan pria muda itu. Tapi pipinya sudah merona.
" Maaf.. Abang terbawa suasana, jadi baper melihat para pengantin muda. " ujar Amer tersenyum malu.
" Siapa yang memberi hak Abang masuk kamar Chalis? " tanya Chalista dengan wajah memerah, bukan karna marah, tapi ia malu, mana tak pake kerudung lagi.
" Maaf...Abang tadinya merasa kita masih seperti lima tahun lalu, tak apa bersama. Tapi sekarang rasanya beda, ternyata kita sudah besar, Abang merasa aneh memeluk Chalis, tidak sama ketika waktu kecil. " Ucap Amer dari hatinya
yang terdalam, ia sampai menggigit bibirnya, tak berani menatap Chalista lagi.
" Kalau begitu cepat keluar, ini sungguh sangat menakutkan, tak boleh lagi memasuki ruang pribadiku, mulai hari ini.
" Kalau begitu bagaimana? Abang kan masih rindu pada Ita, sedang besok pagi Abang akan balik. Tadi saja Papa heran, mengapa Abang ngak mau balik bersama." Tak sadar Amer menyampaikan rahasia hatinya.
Chalista sejenak terdiam, walau tak terdengar romantis, Chalista tahu, itu pernyataan cinta yang spontan.
" Jangan menatap disini, keluarlah, nanti malam kita bertemu. Nanti Chalis kirim lokasinya lewat Chatt!. Pokoknya sekarang sana! " Calista mengibaskan tangannya. Sedang Amer terpaksa keluar dengan perasaan yang berkecamuk.
Berjalan gontai menuju kamar Calista, lalu keluar dan kembali kekamarnya.
Sesampai dikamarnya, Amer menuju ruang mandi, ia menatap wajahnya didepan cermin kamar mandi itu. Mengusap wajahnya dengan kasar.
" Gimana bisa seperti ini, aku merasa enggan pulang ke Bandung." Batinnya.
Amer menyentuh dadanya, ada getar- getar aneh yang masih tertinggal, dari pergolakan yang tadi tercipta tatkala ia memeluk Chalista.
" Trus apa yang tadi kubilang, mulutku tak terkendali, pake bilang rindu segala pada Ita." Gumamnya lirih.
Jangan- jangan aku menyukainya. Ita memang cantik dari bayi, aku biasa menciuminya,tapi sekarang, menyentuh pinggangnya saja, terasa begitu menggetarkan. Jangan- jangan ini gejala, aku lagi demam cinta. Bagaimana ini?kulihat pipinya juga memerah, jangan- jangan kami sama. Apa yang kan kukatakan pada papa dan om Rendra, andai ini benar. Kalau mama dan Onty tentu senang. Om Rendra bagaimana? ia kan tak pernah suka, setiap mama menjodohkanku dengan chalista dari kecil. " Amer mengusutkan rambutnya
mengingat ekspresi Rendra setiap bertikai dengan mamanya setiap Adelia mengatakan Chalista sebagai calon istri Amer setiap kali bertemu. Amer memijiti keningnya, karna tiba- tiba ia merasa pusing.
Malam harinya, sesuai dengan janji. Amer bertemu dengan Chalista disalah satu kafe resto milik Rendra diJalan Frof D Kawasan JS. Chalista memesan tempat paling pojok, Agar tak terlalu mudah untuk dilihat.
Pertemuan itu awalnya begitu canggung. Lama mereka saling tatap dalam diam.
Mereka tersentak ketika pelayan menyodorkan menu.
" Bang Amer yang tentukan menunya. " Gumam Chalis setengah berbisik sembari menyodorkan daftar menu.
" Bebek panggang...Minumnya Claythea.!
Mereka menunjuk menu yang sama. Tangan Chalista yang terulur dibuku menu, kemudian tanpa sadar digenggam oleh Amer. Kehangatan menjalar kesekujur tubuh mereka melalui sentuhan sederhana yang tak terduga itu.
Mereka kembali saling pandang. Pelayan segera mencatat menu pesanan mereka. Seakan tak mau mengganggu pasangan itu yang sudah tenggelam dengan saling menggenggam.
" Bagaimana aku membuat pengakuan ini
didepan ayahmu nantinya? Aku khawatir
om Rendra tak merestui kita. " ucap Amer setelah memastikan Chalis memiliki perasaan yang sama.
" Bagaimana Daddy bisa menolak kita? Kurasa Daddy akan biasa saja. Ayahku bukanlah orangtua yang pemaksa. Ia takkan memutuskan perkara pribadi anak- anaknya tanpa keinginan dari kami.
" Tapi aku kan orang biasa Ta...Aku hanyalah anak bawahan Dadymu. Kalau Bella berbeda, mereka sederajat dengan Abang.
Tiba- tiba Chalis menggenggam tangan Amer makin erat. " Bagaimana kau bisa setakut itu dengan Daddyku, sedang memiliki perasaan itu kau tidak takut. " Ujar Chalis sembari menatap Amer tajam .
" Ini datang tak disengaja Iya.... Kalau bisa Abang mau mengingkarinya, akan dicoba " Ucapnya lirih sembari membawa tangan Chalista kebibirnya.
Chalis menarik tangannya, ia bermaksud ingin meninggalkan Amer. Ia berdiri dan berbalik. Namun detik berikutnya suasana jadi lain. Sekujur tubuh Chalista meremang. Dengan satu sintakan, Amer sudah menarik Chalis dalam dekapannya, menekannya jauh kebalik dadanya.
" Pesanan kita sudah mendekat, Ayo makan dulu. Ini akan kita hadapi berdua, Ita jangan khawatir, Abang pasti memperjuangkan perasaan ini. " bisiknya dibalik kerudung Chalista. Chalis mengangguk, lalu cepat- cepat membebaskan diri dan kembali ketempat duduk.
Waitres manis itu, tersenyum sembari meletakkan hidangan dimeja, lalu menunduk, kemudian berlalu.
*********
Masih subuh sekali. Amer sudah selesai mandi. Walau hatinya gundah, tapi ia harus pulang. Semalaman ia tak bisa tidur , hingga subuh ia cepat- cepat mandi.
Ketika ia memakai bajunya Sembari tersenyum tersenyum didepan cermin,
Sebuah suara berat datang dari tempat tidurnya.
" Kalau sudah cinta mau apa? Jalani saja! yang penting harus yakin, tidak akan menyia- nyiakan pasangan, masalah orang tua, itu tergantung pendekatan kita,
Yang penting yakinkah dirimu mampu menjaga adikku seumur hidupmu?.
" Abang? Sejak kapan disitu? Amer gemetar membalikkan tubuhnya menuju sumber suara.
" Bagaimana secepat ini ia mendapat bocoran perasaanku pada adiknya? padahal ia masih sibuk berbulan madu?"
Batin Amer bergidik.
" Tak perlu bertanya dari mana aku tahu, yang penting kau harus berjanji tidak akan menyentuhnya lagi sebelum siap menikahinya. " Ucap Boy berjalan menghampiri Amer, lalu menepuk pundaknya.
Tekan jempolnya Say...jangan lupa udah lama lho ngak malak- malak...Like, fote, kasih hadiah suka- suka, komen dan tambahkan ini cerita ketulisan faforitmu.
Salam kangen selalu By penulis.
M....ah...❤️❤️❤️❤️