
" Kita makan dulu ya, disuapin mau kan? " tanya Rendra sembari membawa mangkok makanan dan duduk disisi pembaringan istrinya.
" Baiklah...sebenarnya tak ada yang berubah dengan diriku dimasa ini, makanku tak masalah, hanya pusing saja,
pusingnya terasa menyelinap, itupun baru terasa sejak semalam, sudah hampir tiga bulan aman- aman saja.
Boy dan Bella tidak masalah dengan ini, tapi Chalista jelas- jelas tak suka. Sedang Sibungsu Raisa belum tahu reaksinya.
Bagaimana meski kita perbuat dengan ini?..." Rengek Citra sembari berusaha duduk dengan menyandar.
" Apalagi yang meski kita buat sayang...kita hanya bisa menerimanya dan menjaganya dengan baik sampai ia lahir, membesarkannya dan mendidiknya
semampu kita, sambil menimang cucu
He...He.." Rendra tak kuasa menahan kekehannya.
" Lagian anak kita tidak bersalah. Ia hanya buah Cinta puber kedua mommy sama Daddynya, Apa dosanya coba?He...He...Rendra terkikik lagi.
Citra menghadiahi cubitan dipinggang Rendra. Kemudian mereka saling pandang sejenak.
" Untuk Raisa, mau tak mau ia bukan sibungsu lagi mulai hari ini. Tak usah memberi tahunya, biarkan ia berkosentrasi dipasantrennya, ia sedang fokus- fokusnya belajar untuk persiapan
kuliah ketimur tengah, biarkan ia tahu dengan sendirinya, ia anak yang baik dan lebih dewasa pemikirannya dari sitengah, ia pasti menerima ini sebagai Rahmat yang tidak disangka- sangka." Ucap Rendra lagi.
Citrapun tak mampu menahan senyumnya, sejak kemarin ia hanya menangis, sekarang ia malah merasa geli
terus. " Rahmat yang tak disangka- sangka ! Bella pun bilangnya begitu. He...He..." Kekehan manja Citra akhirnya lolos dari bibir mungilnya.
" Sudah bisa tertawa Citranya...
berarti babang Rendra sudah senang nih...Ayo buka mulutnya, nanti makanannya keburu dingin. " ucap Rendra sembari menyodorkan nasi dengan sup Ayam pada Citra.
Sebelum membuka mulutnya, tersungging lagi senyuman geli dari bibirnya. Setelah meneguk silivanya yang agak pahit , barulah ia membuka mulutnya.
Rendranya masih sama, walau rambutnya sudah sedikit bercampur warna, tapi soal kasih sayang dan perhatian, ia masih seperti ketika mereka
baru bersama. Istri mana yang takkan senang kalau dapat suami seperti ini.
Citra teringat ucapan Bella, tiada lagi yang perlu ia khawatirkan, tinggal jalani saja dengan ikhlas, Sisanya serahkan pada Tuhan.
***
Sementara Boy asyik telfonan dengan seseorang di Bali.
" Kasih saja hukuman kecil pada pria itu,
Sebenarnya bisa saja aku menghukumnya lebih berat, dengan menarik semua sahamku diperusahaan ayahnya, tapi untuk saat ini aku tak mau
menyusahkan orang lain, hatiku sedang bahagia, kuserahkan padamu saja pria berotak bengkok itu.
Kau tahukan hukuman kecil yang pantas untuk seorang pecundang Berlan?" Tanya Boy untuk seseorang diseberang.
" Tentu Bos! pria hobi foya- foya itu akan aku beri hukuman kecil, pokoknya Bos tenang saja. Pria itu masih menginap dihotel kita.
" Baiklah...Aku percaya padamu Berlan!Selamat malam...Telfon kututup dulu ya? masih ada urusan dengan orang rumah. " Ujar Boy sembari tersenyum. Tentu Berlan tak dapat melihat senyum itu, karna itu bukan telfon Vidio. Yang melihat senyumnya tentulah orang rumahnya, yang sedang mempersiapkan sajadah dan perlengkapan jamaah untuk mereka.
" Membicarakan orang yang mengirim Fotomu dengan CEO modis itu? " Tanya Bella setelah telfon terputus.
" Iya...Nanti kulihatkan Vidio fikiran jeleknya untuk hubungan kita, syukurlah misinya tak suses, karna istriku masih bisa mengontrol cemburunya." Ucap Boy sembari meletakkan telfon dinakas, dan berjalan hendak menuju kamar mandi.
" Itu juga karna suamiku pintar bicara, cemburuku kalah dengan rayuannya." Jawab Bella.
" Mana akan kubolehkan wajah cantikmu lama- lama berkabut hanya karna kesalahfahaman yang sengaja dibuat orang. " Ujar Boy kemudian.
" Ya...ya! cepat bersih- bersihnya sana!biar sholat kita. Bella ngantuk nih. " Rengeknya manja sembari mengibaskan tangannya.
" Oke! Wait a moment. ( tunggu sebentar )
Usai sholat, pasangan muda ini seperti biasa, menutup malam dengan merengkuh surganya Cinta.
Sepertinya mereka lebih giat, tak mau kalah dengan Daddy. Ingin mewujudkan impiannya menjadi kakek pula. Agar hidup Bos besar ini makin lengkap.
He...He...
************
Pagi hari
Chalista berjalan gontai dari parkir menuju kampusnya. Sebenarnya ia sudah mulai berjuang keras untuk menuntaskan studynya tahun ini, untuk
menjawab tantangan sang mommy.
Tapi ada perasaan kesal yang menyeruak dihatinya, mendengar kabar ia akan beradik lagi diusianya yang sekarang.
" Ih...kalau sampai teman- temanku ada yang tahu, aku bakal jadi bahan cemoohan. Masak sudah mau punya suami malah akan beradik lagi." Gerutunya kesal sembari menghentak- hentakkan kakinya. Ia lalu terduduk lemas dikursi panjang teras kampusnya sembari memijit kepalanya yang terasa puyeng sendiri.
Getaran di Hpnya mengalihkan perhatian gadis cantik yang saat ini sengaja memakai kostum dengan warna serba gelap, ngak pake make up, dan polesan apapun. Bahkan kerudungnya ngak terlalu dirapiin sebelum pergi tadinya, seakan menunjukkan pada dunia, kalau fikirannya lagi kusut.
Sebuah nama istimewa tertera dilayar.
" Hallo Bang...mengapa pagi- pagi sudah nelfon? tanyanya dengan suara yang tak dapat menutupi suasana hatinya.
" Waalaikum salam..." jawab dari seberang, membuat ia teringat kalau ia lupa mengucap salam.
"Assalamualaikum...Sorry...aku lupa baca
salam saking kesalnya aku sekarang. " Gerutunya spontan.
" He...He...Ngapiin pagi-pagi sudah kesal, ngak takut cepat tua dik? " Goda seseorang dari sebrang.
" Habis mommy sama Daddy ngelarang kita ketemuan berduaan sebelum Ita lulus kuliah dan siap menikah. Mereka malah buat adik lagi untuk Ita diusia Ita segini, apa bang Amer kira Ita ngak malu
Sejenak diam dari sebrang.
" Bang...rengek Chalista, merasa bersalah telah sembarangan ngoceh, malu juga tak sengaja memberi tahu Amer.
" Ya sayang...Ngak ada hubungannya Ita dikasih adik lagi sama Allah dengan kita dilarang bertemu berduaan.
Kita dilarang ketemu berduaan itu demi kebersihan hubungan kita, agar kita tidak berbuat dosa sebelum menikah. Sedangkan Onty hamil lagi, itu anugrah yang tak disangka- sangka. Bagaimana kita bisa menolak Rezki? " Urai Amer memberi pengertian pada kekasihnya.
" Jadi Abang sudah dapat info dan mendukungnya? tanya Chalis dengan nada protes.
" Barusan dapat info dari kekasihku!
Tapi kedengarannya kekasihku tak bisa menerima apa yang sudah ditetapkan Allah menjadi bagian dari keluarganya. " Ujar Amer terdengar santai.
" Abang...Ih...Jadi Abang ngak merasa malu, punya calon istri yang akan punya adik bayi lagi?" tanya Chalista tak sabaran.
" Ngak lah... Kenapa malu? lagian mana mungkin om sama Onty sengaja program
anak diusia segini, pasti itu diluar rencana, Onty pasti merasa bingung dan stres dengan keadaannya sekarang.
Ia seharusnya dapat dukungan dari kita anak- anaknya sayang...Bukan malah menunjukkan rasa malu, kesal atau penolakan yang akan membuat ia semakin lemah. Apa Ita tak sayang sama Onty? " tanya Amer kemudian.
" Sayanglah...
" Kalau sayang kok gitu? ingat siapa tokoh dongeng dari Sumatra yang malu beribu?
" Malin Kundang!
" Tuh tahu! Ngak mau kayak malin Kundang kan? " Pancing Amer lagi.
" Uis...kan ngak sama ceritanya ! " Sanggah Chalita.
" Sama gigih...Setiap orang yang malu
dengan ayah atau ibunya itu disebut anak
durhaka. Abang ngak mau punya istri durhaka pada orang tuanya.
" Jadi menurut Abang Ita tak pantas dicintai? " Chalis mulai merungut.
" Maksud Abang bukan begitu gadis...Abang mau Ita bersikap dewasa sedikit dalam menghadapi persoalan, berhati- hati menjaga sikap pada orang tua kita. Kalau Abang sendiri dikasih adik sama Allah sekarang Abang takkan malu,
tapi malangnya, ntah karna apa mama tak pernah hamil- hamil lagi, setelah abang lahir, sampai sekarang usia Abang sudah 20 tahun. Ita seharusnya bersyukur, selain kaya harta dikasih Allah pula kaya Jiwa. Untuk itu lapangkan hatinya dik... kelahiran adik baru itu takkan membuat Ita kekurangan harta. " Jelas Amer sembari mengorek isi hati kekasihnya.
" Siapa pula yang keberatan karna berkaitan dengan harta? Ita hanya Shock saja, usia segini masih akan punya adik bayi.- Chalis.
Amer terdiam Sembari menarik nafas berat.
" Kalau segitu Abang mau kasih perumpamaan pada ita. Hallo...
Masih disitu kan? Atau kita Telfon Vidio saja? " Tanya Amer.
" Ngak! " Spontan Chalis menolak.
" Pasti takut Abang lihat wajah berkabutnya ya ? Emang Jakarta sekarang cuacanya sedang berawan, kalah mana sama berawannya hatimu dik?
" Ng...Ita ngak sempat dandan tadi saking kesalnya.
" Tuh...sampe segitunya. Jangan begitulah dik...Sekarang Abang mau kasih perumpamaan. Coba dengar baik- baik . " Pinta Amer dari seberang.
" Baiklah... Ita dengar. " Jawabnya singkat.
" Andai Ita yang jadi anak dalam kandungan Onty sekarang, sudikah Ita ditolak oleh semua orang? Sedang Ita Jelas anak hasil hubungan yang halal, hanya karna hadirnya diwaktu yang tidak tepat. Apa Ita merasa hidup Ita pantas dikorbankan?
Chalista terdiam, sembari mainkan kancing bajunya dengan tangan kirinya.
" Kalau Ita merasa bayi itu tak layak hidup, Abang bakal minta mama buat telfon Onty buat ngebuang baby itu, biar Ita puas, tapi tegakah Ita membuat orang tua Ita berdosa besar dihari tua?kalau Onty mengalami nasip tak baik saat aborsi, apa Ita mau kehilangannya juga?"
" Tidak!!! Aku tak mau terjadi apa-apa dengan momnyku, aku tak mau kehilangan mommy, sebab itulah satu
lagi aku marah dengan kehamilan mommy, takut mommy susah karna anak itu, apalagi mommy sudah berumur, tak kuat lagi untuk mengandung dan melahirkan." Potong Chalista.
" Kalau tak mau terjadi apa- apa dengan Onty, senangkan hatinya, doakan kebaikan untuknya! Masalah lahiran, ilmu bedah sekarang sudah canggih, tak kuat normal nanti Operasi saja, Onty tak ada riwayat penyakit berbahaya lainnya, lukanya cepat mengering. Kalau Ita tak suka dengan adik itu nanti setelah lahir
biar bang Amer jemput untuk adik sendiri, tapi jangan salahkan Abang, kalau Abang akan Carikan calon kakak ipar yang lain yang mau menerima adik itu sebagai ipar kecilnya. " Ujar Amer tegas, dengan berjuang keras menahan kekehannya.
" Amer!!! Awas ya! Kalau disini sudah kutelan kau bulat- bulat! " Geram Chalista.
" Itulah sebabnya kita tak boleh bertemu berdua saja sebelum menikah, takut Abang ditelan Ita sebelum Syah. Kan berbahaya...He...He..." Kekeh Amer.
Sedang yang ditertawakan makin geram.
" Dasar lelaki dimana saja sama! Mesum melulu!
" He...He..." Jalma anu menang nyaeta, Jalma anu tiasa ngontrol dirina ( Orang yang menang adalah orang yang bisa mengontrol dirinya).Tong ambek deui Adena geulis..." Jangan marah lagi adik cantik ) Ucap Amer lembut setelah menuntaskan tawanya.
Akhirnya Chalista bisa tersenyum sembariberkata. " Atur nuhun Aa ganteng..." ucapnya lirih.
" Kurang jelas sayang...Rengek Amer.
" Atur nuhun Aa Awon pikeun beangeut!!!
Puas?
" Puas lah..tak apa jelek yang penting selalu dirindukan. He...He..." Kekeh Amer.
Chalista kehabisan kata, ia hanya tersenyum saja. Walau Amer tak melihatnya, tapi Amer bisa menebaknya.
Bersambung....