
Awas Minyak!!!
" Jadi didepan lelaki itu merasa sepuluh tahun lebih muda ya? " Ujar Rendra menatap istrinya yang sedang sibuk menidurkan sikecil.
" Suut...!!! Jangan ribut yang...Ini Sonia sudah mau bobok ni. Matanya sudah menyipit. " ucap Citra lirih.
Assalamualaikum !!! Mami sama papi datang jemput gadis kecil!!! " teriak Anjani didepan pintu. Yang sontak membuat Sonia kecil kembali membuka matanya.
" Waalaikum salam...Masuk mami...Papi..." Ucap Citra yang membuat kedua suami istri itu berani masuk.
Anjani langsung duduk didekat Citra, sedang Wlili mengambil kursi dan duduk disisi Rendra.
" Kenapa Bro! kok masih suntuk? emang masih puasa ya ? " tanya William sembari
menepuk pundak Rendra.
Anjani mengusap kepala sikecil yang mulai pandai bermain mata itu. " Ayo nyusu yang banyak sayang...Biar tidur sama mami dan papi. Soalnya mommy sama Daddy mau berkencan malam ini, Kasihan Daddymu mayun aja, ngak pandai senyum sedikitpun. " Kata Anjani.
" Apa- apaan sih An... Sama aja mesumnya dengan suamimu, ngomong kok jurusannya kesitu terus. " ujar Citra.
" Alah...Yang namanya laki tu, Tua - tua kelapa Citra! makin tua makin berminyak. Kalau tuh minyak ngak dikeluarkan bisa meledak- ledak, apalagi kena panas dikit,
bisa pecah, bawaannya marah Mulu! " Ucap Anjani menyeringai.
" Iya...Mumpung dah diikat rahimnya, pandai - pandailah melayani suami, kan udah ngak takut hamil lagi. " Ucap William tak mau kalah.
" Kalian ngomong apa sih? " tanya Citra berpura lugu.
" Tuh Sikecil sudah bobok. Kami bawa dulu! " ucap Anjani Enteng, kemudian mengambil Sonia dari pangkuan Citra.
Sedang William seperti ayah Sholeh, membawa popok dan selimut sikecil.
Lalu mereka keluar membawa Sonia.
" Ledakkan Tu minyak kelapa sampe puas! " ujar William setelah dipintu keluar.
" Apaan sih! tu orang berdua, kamu yang suruh datang ya yang? " tanya Citra curiga. Menatap tajam suaminya yang dari tadi mematung dikursinya.
" Hey ! Lelaki dengan janggut berwarna! Kenapa diam saja? " Ujar Citra kesal karna Rendra tidak menjawabnya.
Rendra beranjak dari duduknya. Kemudian mengambil remot kontrol, menekannya, hingga pintu terkunci.
" Walau jangotku sudah bercampur warna, tapi bibitku masih berkwalitas premium, buktinya nyata, tak diragukan lagi. " dan dengan pelan tapi pasti ia mematuk bibir merah muda yang baru saja membuka siap untuk melawannya.
Kemudian tangan nakal Rendra sudah menyelusup kebalik gaun tidur yang kancingnya belum sempat terpasang semua, sehabis menyusui Sonia.
Ahhh....Desis Citra ketika Rendra menurunkan ciumannya kebelahan bukit kembar yang sekarang semakin besar karna kumpulan nutrisi tersimpan disana.
Citra mulai menggelinjang ketika suaminya mengesap dan menggigit daerah sekitar dua gundukan lumbung pangan baby Sonia itu.
Citra menjilat dan menggigit telinga suaminya, untuk membalaskan perasaannya. Tentu saja membuat Rendra semakin terbakar gairah.
Uh....Cinta...Selalu saja membuat suamimu ini gila setiap menghadapi bentuk tubuhmu." racau Rendra setelah melucuti tubuh istrinya, yang telah lebih dulu pamer kegagahannya dihadapan sang istri.
" Ta...tapi sudah dua jejak ditubuhku. " Ucap Citra gugup.
" Mana? yang diperut tak nampak kok.
Sedang yang lain bentuknya seksi, dengan warna kuning keemasan.
Yang disini yang paling indah..." bisik Rendra sambil menodongkan senjatanya kepinggir goa kecil yang sudah lembab itu.
" Sayang...rengek Citra menggelinjang, ketika suaminya sudah menggesekkan tongkat pamungkas warisan kakek Adam
kelembah basah itu.
Rendra sengaja tidak menggunakan tangannya, karna takut tangannya tak higgienis. Sedang senjata kakek moyang sudah jelas bersih, karna ia tak pernah menyentuh apapun selain lorong kecil itu.
" Sayang.. Ah...sepertinya ketat lagi" racau Rendra setelah melumeri lorong kecil itu dengan minyak kelapa yang baru menitik dari ujung kepala gundulnya.
" Gombal Ah...bukan itu yang dijahit, tapi perut. "
" Coba tidak percaya...Ucap Rendra sembari mengarahkan tongkat sakti agar membenam digoa sempit itu.
Sulit juga benda tumpul itu masuk, tapi yang namanya Rendra, tidak akan berhenti sebelum ia mencapai tujuannya.
" Aw....Citra menggigit bibirnya menahan gelenyar ketika tongkan jelmaan itu dengan pelan tapi pasti membenam kedalam lorong sempit kepunyaannya.
Sakit? tanya Rendra menghentikan usahanya setelah tongkatnya menancap sempurna.
" Dikit...tapi tetap digoyang ya yang...walau pelan ." rengek Citra dengan tatapan sayu. Rendra kembali menunduk, mengesap dan menjilati daerah sekitar lumbung kembar yang sekarang puncuknya milik sikecil, Sidaddy hanya boleh daerah disekitarnya. Lalu dengan pelan mulai memacu kuda sembraninya untuk menggapai puncak nirwana.
Ahh...Ahh.. .sayang...Cinta.. Ungkapan Kasih dengan berbagai model kata berlolosan dari kedua manusia yang sedang memadu kasih itu.
Walaupun permainan itu lembut, tapi tetap saja meledakkan lahar yang panas.
Setelah berteduh sejenak dibalik ceruk leher jenjang bidadari Syurganya. Rendra kembali mematuk bibir merah delima Citra.
" Sayang...Aku mau lagi" Bisiknya dengan napas tersegal. Sedang sipedang panjang sudah mulai menerjang lagi dibawah sana.
" Kan kata orang perempuan yang sudah disteril itu, tak menggairahkan lagi itunya. " ucap Citra lirih.
" Paling yang bilang begitu situkang selingkuh. Cari alasan, nanam benih diladang lain. Kalau suami yang mencintai istrinya takkan pernah mencari kekurangan dari wanitanya.
" Jadi?
" Bagiku Citraku paling sempurna. Aku mau lagi ini dan ini lagi. Takkan pernah bosan sampai tak bisa lagi menunggang kudaku, barulah mungkin diriku akan diam dan tak meminta ini lagi. " Ucap Rendra.
Citra menarik tengkuk suaminya, ******* bibir yang barusan melantunkan kata- kata yang terdengar indah ditelinganya. Detik berikutnya mereka menari lagi. Senyaja tariannya tidak berlebihan, untuk melindungi pasangan jogetnya agar tidak kesakitan.
******
Sedangkan dirumahnya, sehabis Isya, Bella siap- siap untuk bobok, karna esok ia tidak mau ketinggalan pergi dengan suami kepesta Sonia Yama.
Begitu memejamkan mata, ia merasakan, ada yang hangat menyentuh keningnya.
Bella membuka matanya sedikit.
Tapi sayang, usahanya sia- sia. Nampaknya sang raja sudah membuka pakaian kebesarannya, meninggalkan yang kecil- kecil saja. Lalu mulai menggerayangi tubuh yang bengkak ditengah itu. Boy sengaja tidak membuka
gaun tidur istrinya, takut istri dan babynya masuk angin. Kalau soal dalaman, sejak bulan terakhir ini, Bella tak pake dalaman lagi. Jadi tinggal Cilupba dikit, kemudian berhenti ditempat- tempat yang dianggap penting untuk digeluti.
Boy lama mengusap dan mengesap pepaya kembarnya yang hampir ranum itu. Melahap dengan ganas bagai bayi kelaparan dan kehausan.
" Huuum....aaaaaa....tak tahan...rengek Bella.
" Bertahanlah cinta...aku ingin memuaskan kehausanku malam ini...karna begitu mereka lahir, kan ini jadi milik mereka lagi."
Bella tak dapat menjawab lagi. Hanya ******* dan racauan yang keluar dari bibir indahnya karna Boy makin gencar menyapu setiap sudut, dari bukit dan lembah dengan lidahnya. Akhirnya Bella
melenuh ketika mencapai pelepasannya
akibat permainan lidah yang makin lihai itu.
" Setelah senang melihat istrinya puas menikmati pertualangan ya.
Boy pun mulai mengarahkan tugu bernyawanya kedalam lembah Ajaib miliknya.
Seh....Seh....seh...terdengar bunyi gesekan ujung menara bernyawa dengan hambatan didalam sana.
" S
ayang...kayaknya udah dekat kali posisinya anak- anak kita. " bisik Boy memelankan perminannya, karna tak mau menyakiti kesayangannya.
"Enak yang...Tapi tetap pakai irama dansa ya..." rengek sang istri sembari meram melek.
Boy mengikuti arahan yang punya lahan, agar tidak terjadi permasalahan, tanpa berhenti mengusap dua gundukan padat yang diatas.
Cukup lama Boy dengan dansa Absurnya. Hingga akhirnya sampai juga ia dinirwana.Memberi ciuman terima kasih pada bunda dan babby, adalah penutup ritual indah itu.
***
Pukul sepuh pagi, Boy dan Bella tiba di diilokasi pesta, bertepatan ketika mobil pengantin juga baru sampai usai melakukan ritual nikah dari sebuah rumah ibadah.
Alden begitu turun dengan menggandeng pengantinnya. Melihat Boy yang membawa Bella, tidak mengarah kepelaminan membawa pengantinnya, tapi menuju kearah Boy dan Bella.
" Sayang...Istrimu sudah sarat sekali kok masih dibawa? " protes Alden begitu bersalaman dengan Boy.
" Dianya mau mepet kemana - mana, kita mau apa om...tapi tenang aja Om, kali ini aku bawa dokter. Mobil khusus lahiran darurat. Jadi nanti kalau sudah tersesak, sudah siap sedia , ngak mau sampai kayak Daddy, jadi bidan untuk putri sendiri. He...He...
" Kalau Daddymu manusia super,Boy... He...he...
" Super Posesive!, hingga lahiran saja tak boleh sembarang orang yang megang istri. He...He..." kekeh Boy.
Ribuan tamu sudah berdatangan. Tapi tamu paling istimewa bagi pengantin ini nampaknya, ya pasangan ini. Buktinya mereka masih betah bercanda. Sedang kedua wanita masih sibuk pelak peluk.
Walau pelukan pereka terhalang oleh perut gembung sang mantu.
Apa yang dikhawatirkan memang benar terjadi. Baru setengah jam dipesta,. ketika makan, Bella merasakan pinggangnya sakit rasa mau putus. Keringatnya bercucuran menahan sakit dipinggang itu.
Dokter Catleen beserta dua perawat yang melihat, meminta Boy membantu mereka membawa Bella kemobil. Baru sampai didalam mobil, baru berbaring untuk periksa, Bella sudah mengedan. Perawat- perawat menyiapkan segalanya, sementara dokter mengarahkan Bella bagaimana mengedan yang baik.
Ketika Bella mau berteriak saking sakitnya, dokter yang sekaligus iparnya itu lansung berucap. Jangan teriak- teriak
dan berkata yang tak baik karna sakit, soalnya kalau lagi bikinnya kan meram - melek." Seringai Catlene.
" Nyebut Aja biar dilancarkan..." ujarnya lagi.
" Ya Allah....La ila ha Illa Annta inni kuntum minazzolimin....Uhh....Diedanan ketiga terdengarlah suara babby.
" Uha...uha...Uha....
" Boy dua. " Ucap Catleen sembari mengurus babby boy mungil itu.
Selisih beberapa menit, Bella merasakan ada yang sesak lagi, tanpa arahan lagi Bella mengedan baby kedua.
Uhek...uhek....Uje...Uje....
" Boy ketiga. " gumam Catleen.
" Syukurlah...Dua- duanya sehat dan
selamat! " Seru Catlene, dan menit berikutnya tempat bobok kedua babby itupun meluncur.
Boy senang mendengar suara babbynya dari luar. Tapi khawatir dengan istrinya.
" Kak Lee...Buka pintunya. " ujar Boy tak sabar.
" Ibu Sholehah...Alhamdulillah melahirkan
dengan pintar, sehat dan selamat. " Ujar Catlene sembari membereskan plasenta.
perawat satu memberikan teh telur untuk Bella. Sedang perawat dua mengurus bayi yang diserahkan dokter.
Setelah Babby dan ibunya bersih, berpakaian lengkap, Barulah Catlene membuka pintu mobil yang sudah disiapkan khusus untuk kelahiran kedua babby Boy yang Ibu pengen mepet terus dengan suami tampannya itu.
" Sekarang Gundukan kenyal itu bukan punyamu lagi! Kulihat banyak tanda kau buat disana semalam! " ujar Catlene.
Masuklah dan Azankan Twin Boys mu!" Ujar Catlene. memberi tempat untuk Boy 1.
" Kepalanya baik- baik saja kan Kak? " tanya Boy khawatir.
" Baik dan bersih! ngak ada mayonesmu yang nempel. Emang kau apakan hingga mereka lahir bersih- bersih? " tanya Catleen yang kagum dengan kebersihan kepala Twin Boys.
" Rahasia Anak Genius. He...He...
Kemudian Boy mengecup Bella berkali- kali, lalu mengazankan anak- anak mereka.
Setelah semua dipastikan aman, Mobil meluncur menuju kediaman Keluarga besar.
Bersambung....