Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 14



Apa yang dibilang sahabatnya memang benar, kalau dicubit masih bisa ditahan sakitnya. Tapi kalau dipukul, bisa pingsan Adel. Ia terbayang ketika baru- baru kenal. Citra menolong Adelia saat diganggu oleh preman dijalanan sepi disuatu Sore sepulang kantor.


Gadis cantik yang sekarang tampak lemah itu. Waktu itu, secepat kilat ia melumpuhkan serangan 3 orang preman yang menyerangnya karna mereka marah


Citra ikut campur saat mereka ingin melecehkan Adel.


" Ada yang lebih sempurna kayaknya bos. Kata preman yang satunya lagi.


" Kita garap sekalian dua- duanya, tarik ke semak! perintah yang dipanggil bos.


" Jangan harap kalian bisa menyentuh kami. " kata Citra menantang preman itu.Dengan satu tendangan ,Adel terlepas dari tangan preman itu. Tubuh Adel keringatan menahan takut dan cemas.


Tak pernah terbayangkan bagaimana nasipnya kalau Citra tak kebetulan lewat. Tapi ia deg- degan, takut Citra nanti menjadi tumbal preman itu.


Iap....Cia...Citra mengelak dari serangan ketiga preman itu, lalu secepat kilat memberikan serangan balik. Pertarungan pun berlangsung, tiga lawan satu.


Iap...Cia...Cia...


Bug...bug...


Akhirnya


Citra berhasil memukul mundur ketiga preman itu, mata Adelia terbelalak. Hatinya bersorak riang.


Ketiga preman itu babak belur, dan satu diantaranya tak berkutik lagi, aliyas pingsan. Citra menarik kerah baju kepala preman itu. " Nanti kalau mau perempuan untuk bermain-main jangan cari dijalanan. " Cari ditempat yang biasa tempat nongkrong lelaki berhidung belang! " Katanya seraya beranjak dengan langkah tegap, ia kemudian menggenggam tangan Adelia yang bergetar, menarik Adel kepelukannya.


" Kamu sekretaris bos ya ?" tanya Citra mengenali Adel.


" Iya... Kamu pasti Citra! Menager pemasaran yang baru direkomendasikan bapak Gubernur. " kata Adel kagum pada kecantikan dan kekuatan Citra.


" Ilmu silat adalah ilmu beladiri asal Minang. Apa kamu Gadis Minang? " tanya Adel ingin tahu lebih jauh dengan Dewi penolongnya.


" Kata kakek ku aku keturunan campuran. Kakek buyutku dari ibu Minang, nenekku Belanda. Ibuku menikah dengan ayah keturunan suku Betawi. " Jelas Citra.


" Pantas kau cantik dan uniq." puji Adelia. Itulah awal kedekatan dan rasa kasih sayangnya pada Citra. Setelah itu ia juga ditemui oleh Rafdo yang memintanya untuk menjaga Citra. Ia sempat protes pada Rafdo.


" Gimana bisa aku menjaganya, dia kuat, aku lemah yang benar, dia yang malah menjagaku. " protesnya kala itu.


" Masalahnya bukan soal kekuatan Del ...Tapi aku takut istriku itu hamil, kami sedang bermasalah besar. Aku takut dia kalut dan menyebabkan ia menghancurkan dirinya sendiri atau anaknya. " kata Rafdo membuat alasan yang berhasil membuat Adel yakin untuk membari perhatian lebih pada Citra. " Sekalian untuk balas Budi. " fikir Adelia kala itu, dan akhirnya ia makin sayang pada Citra.


" Adel menyelimuti Citra yang tertidur dengan bergelung di Spring bad big land, fasilitas dari kos- kosan yang dikontraknya. Dalam keadaan seperti itu ia nampak lemah dan memperihatinkan. Wajah cantik bersinar mengalahkan purnama itu nampak


sendu. Sisa sisa air mata masih menempel dipipi mulus nan putih bersih. Adel segera menghapusnya dengan ujung jarinya. Teringat kapas kecantikan dan larutan pembersih mukanya, ia segera mengambilnya dari tas kerjanya. Kemudian dengan hati- hati ia membersihkan wajah bidadari yang terluka itu. Citra mengeluarkan dengkuran halus. Adel tersenyum mendengarnya.


" Semoga kau segera bertemu dengan Dady yang sebenarnya dari babymu Citra. Semoga Allah segera mengakhiri derita batinmu ini, dan menumbuhkan rasa cinta dan perasaan keibuan yang besar dihatimu. " Doa Adel sebelum berbaring disebelah Citra.


Kedua kaki Citra dipegangi kuat oleh seorang anak lelaki tampan. Ingin ia melepaskan pegangan tangan mungil itu dari kedua kakinya. Tapi ia tak tega tatkala mata bocah kecil itu beradu pandang dengannya. Lalu tanpa sadar, entah dapat dorongan dari mana ia mengangkat bocah itu, menggendongnya, lalu mendekapnya erat didadanya.


" I love you mom. " kata bocah itu.


" I love you to Sayang..." jawabnya tanpa sengaja, ingin ia menutup mulutnya yang sudah semudah itu membalas ucapan sibocah. Tapi airmata bocah itu mengalir dari pipi cabinya. Citra tak tahan melihatnya, ia mencium bocah itu, kemudian iapun menangis.


Subuh itu Adel terbangun mendengar tangisan Citra. Ia menatap Citra yang menangis, tapi matanya masih tertutup.


" Ternyata saking menderitanya, dalam tidurmu pun kau menangis teman. Kalau aku jadi dirimu juga akan lebih parah lagi darimu sayang. Kau bisa menyelamatkan orang lain, sedangkan dirimu sendiri tak bisa kau selamatkan.


" Semoga Tuhan segera menghapus lukamu sobat!


" kata batin Adel. Iapun kemudian membangunkan Citra untuk sholat Subuh.


" Del apa kau melihat kemana anak itu Del? " tanya Citra ketika bangun.


" Rupanya kau bermimpi sayang...Baiklah... aku akan menunjukkan kemana anak kecil itu. " jawab Adel seraya menarik kedua tangan Citra dan meletakkannya diperut Citra.


" Rasakan tiap pagi dan sore seperti ini, lama- lama nanti kau akan semakin sayang padanya. Bersyukurlah sayang...Sebentar lagi kau akan mempunyai seorang malaikat kecil, yang lebih tangguh, lebih hebat dan akan menyayangimu sepenuh hatinya. Tinggal 7 bulan lagi, derita ini akan berganti dengan kebahagiaan, saat kau jadi seorang ibu. Yakinlah hidupmu akan jadi indah dengan keberadaanya. " Kata Adel meyakinkan Citra.


" Benatkah Del...Aku akan bersabar. " Ia kembali membelai perutnya yang masih rata. Hatinya bergetar, bulir bening kembali mengembang, namun kali ini disertai seulas senyum.


" Maafkan Momy sayang...Mulai hari ini mom akan selalu menjagamu. Yang sehat ya boy! " gumamnya, kemudian ia duduk dengan hati- hati, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu.


" Syukurlah Cit, akhirnya doaku didengarkan Tuhan juga, jiwa keibuanmu akhirnya timbul juga. Semoga hari- hari selanjutnya cintamu akan terus bertambah pada calon buah hatimu yang tak berdosa itu." kata hati Adel.


Ketika Arifin mendapat Kiriman Fhoto di WAnya dari sekretaris Pemilik perusahaan. Arifin segera membukanya. Ia terkejut mengapa perempuan yang ada di photo Sangat mirip dengan Citra.


" Apa gadis di photo ini adalah wanita yang sama? tanyanya menimbang- nimbang dihatinya.


Ah...mana mungkin big bos mencari Citra yang ini.


Sejak kapan bos peduli dengan perempuan? Kalaupun ia , dimana pula mereka pernah bertemu, aku ragu menelfon Hans sekarang, biar kubicarakan dulu dengan Adel tentang hal ini. " kata hati Arifin. Kemudian ia menyompan poncelnya kembali ditas.


Siang itu, Arifin mengadakan Rapat pengembangan perusahaan. Citra yang paling banyak menyampaikan masukan dan ide- ide yang cemerlang dan masuk akal. Arifin terkesan dengan kepintaran gadis yang terbilang baru didunia kerja ini.


" Tak salah pak Gubernur sendiri yang merekomendasikanmu bekerja disini Cit, kau memang jenius Women. " puji Arifin, yang membuat kecut manager lain.


" Jangan berlebihan pak Arif, aku hanya gadis biasa yang mencoba menyambung hidup dengan bekerja dikantor anda. " kata Citra merendah membuat yang berhati kecut menatapnya dengan kagum.


" Selain cantik dan pintar, ia juga rendah hati." kata hati mereka. Rasa iri yang baru muncul, kemudian menghilang karna kerendahan hati Citra.


Bersambung...Jangan lupa kasih jempol yang banyak ya sayang...