
Sudah sangat sore sekali ketika Chalista turun dari gedung itu, karna Ia menunaikan shalat Azhar yang hampir kelewat waktu baru turun. Usai mempresentasikan skripnya dihadapan tiga pengujinya.
Chalis harus berjuang selama kurang lebih dua jam untuk mempertahankan skripsi nya dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan dosen penguji.
Dapat Jadwal siang diatas Pukul 14 : 00 tak se fres pagi hari. Sebenarnya hati Chalis agak kecil juga pas ia dapat Info jadwal dari Pihak ADM Campus dan pembimbingnya, kalau ia dapat Jadwal pas jam bobok siang.
Tapi Chalis tak mau protes, karna ini adalah kesan- kesan penghujung antaranya dengan sang PA yang sudah banyak membantunya dan membimbingnya dengan bijak.
Ia tak mau kesan baik itu jadi rusak hanya karna Jadwal.
" Alhamdulillah... Walau ngantuk dikit, aku bisa menjawab semua pertanyaan penguji dengan baik." Ucap Chalis setelah sidang dan mendapat pujian dari para penguji.
" Uum...Aku takkan menunda revisi, nanti malam akan Ita tuntaskan semua.
Besok berkabar untuk bimbingan terakhir dan kalau sudah tuntas ya tinggal jilid dan Upload. Tak disangka tantangan mommy bisa aku selesaikan bahkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
Malam hari setelah Isya, Chalis tak buang- buang waktu, bahkan ia menelfon Asisten rumah tangga untuk mengantar makanan kekamarnya, karna ia ingin segera berkutat dengan leptopnya.
Hingga tengah malam ia meneliti setiap halaman- demi halaman dan melakukan revisi dengan sebaik mungkin, kemudian menyimpan pembaharuannya. Setelah merasa semua tak ada lagi yang terlewat, Iapun mematikan leptopnya dengan tersenyum puas.
-
-
Treet...Treet....treet
Getaran telfonnya membangunkan Chalista.
Setelah memijit keningnya yang agak sedikit puyeng, Chalis meraih iPhone yang tergeletak disisi pembaringannya. Ia tak sempat mengamankan benda itu karna keburu ngantuk. Membuka matanya lebih lebar, menatap layar. Batinnya terlonjak menatap nama kontak yang memanggil.
Hem...Chalis mendehem sekalian mengatur nafas, sebelum menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan.
" Halo Assalamualaikum..." Sapa Chalis pada sipenelfon.
" Waalaikum salam...Suaranya sudah terdengar jernih...Apa udah sholat subuh?" tanya seseorang dari sebrang telfon.
Chalista menggaruk kepalanya yang tiba- tiba gatal, karna bimbang mau jujur atau tidak.
"Ih...Kalau bohong, ntar telat amat subuh nya, kalau jujur ketahuan telat bangun.
Jujur ajalah ! biar bisa segera shalat. batin Chalis
" Baru bangun bang...Soalnya semalam kecapean dan kelamaan tidur juga, nyelesaikan revisi habis sidang." ucap Chalis.
" Uum...Kalau begitu cepat wudhu,. ni sudah mau kesiangan! " Ujar Amer.
" Ya udah...Aku tutup telfon ya, nanti siap Shalat Chalis yang telfon Vidio." Janji Chalis.
" Abang aja yang nelfon Vidio, kalau sudah sholatkan pasti ngak ada ilernya lagi, jadi enak dipandang. " Goda Ameer dari sebrang.
Tiiit...Telfon langsung terputus, karna yang digoda merenggut. Dan dengan langkah besar bergegas kekamar mandi.
Amer senyum dari sebrang. Pasti susah nanti dihubungi. Orangnya memang gitu, anak tengah gitu kali ya? Sensitif, cemburuan dan gampang jengah! Tapi tak masalah... sebagai anak pertama dan putra satu- satunya, Insya Allah Amer bisa menjadi Imam yang sabar buat Chalista."
" Batin Amer bertekad.
Amer.... Amer!!! Teriakan Adelia menggema dirumah itu.
" Apan sih ma? " tanya Amer yang datang dengan berlari- lari kecil menghampiri mamanya.
" Eh...anak mama sudah mandi rapi dan ganteng! Kan hari ini libur kerja, mau kemana? tanya sang mama dengan memeriksa badan dan wajah putranya.
" Ngak ada, dirumah aja. " Gumam Amer.
" Sini duduk sayang...ada berita bagus! " Ucap Adelia sembari menarik putranya agar duduk di Sofa.
" Ada apa sih ma? " tanya Amer lagi setelah duduk.
" Sudah siap menikah? " tanya Adelia yang membuat Amer mengerutkan dahinya.
" Sama siapa ma, kan mama ngak mau jodohin Amer kayak dicerita- cerita yang suka mama baca diAflikasi itukan?" tanya Amer sembari tersenyum dikulum.
" Ngak lah...Sama Chalista yang mama maksud! " Ujar Adelia riang.
" Kan wisudanya dua bulan lagi ma. lulus sidangnya baru kemarin.
Masih menunggu jadwal wisuda." Jelas Amer.
" Cie...cie...Berarti dah duluan tahu nih anak.." Ledek sang mama.
" Iyalah...mesti ngak dibolehin ketemu, Amerkan sudah menugaskan anak buah Amer untuk jagain Chalis, sekalian mata- matai dia. " Ucap Amer jujur.
" Ya ampun! segitunya Bro! You posesif sama pacar?" timpal Arif, papanya Amer yang baru datang, langsung menghempaskan pantatnya disofa samping Amer.
" Jadi papa sudah tahu? " tanya Amer tersenyum malu.
" Gimana papa ngak tahu, mamamu kan Ember bocor! Mana tahan ia nyimpan rahasia, jangankan sama papa, sama tetangga dan ibu- ibu sosialitanya aja sudah dibeberkan dari awal perundingan mereka dengan Onty Citramu." Jelas Arifin sembari menatap istrinya yang memelototinya.
" Mas ya...bikin malu ibu Soleha aja didepan putranya! " Protes Adelia.
Arif menutup mulutnya, yang geli mendengar kata istrinya.
Amer tiba- tiba menepuk jidatnya karna teringat janjinya untuk menelfon tuan putri Chalista.
" Pa...ma...Amer kedalam dulu ya...Soalnya telfon Amer dikamar, tadi janji mau nelfon Chalis, kelamaan nanti malah diamuk! " pamit Amer sebelum melangkah buru- buru menuju kamarnya.
" Ma...kan belum Wisuda!
" Tunangan dulu, begitu sidedek lahir, acara Aqiqahannya barengan sama nikahan kalian! " Terang Adel.
" Kok malah nambah syaratnya? Kayak orang kampung yang kekurangan dana aja, acara pake ditompang segala. Emang mama kira Amer tak punya tabungan? " Protes Amer.
" Iya...Mama tahu tabunganmu Lumayan Wah... Tapi kayak ngak tahu aja om Rendramu, pasti maunya kalau buat acara yang kayak Slogan SCTV tu.
" Satu Untuk Semua?
" Ya! Itu tu sudah adatnya ! Kau lupa pernikahan Kesayangannya, ajang cari jodoh,digabung acara tunangan, nikahan dan resepsi diborong jadi satu." Ujar Adelia.
" Ya udah...Jangan banyak protes! jangan sampai gagal aku besanan dengan sahabat kesayanganku itu, gara- gara putri yang merenggut, Sana cepat telfon!." Titah Adelia sembari mengibaskan tangannya.
" Tapi, sebelum memutuskan menyetujui mamamu melamar Chalis, fikir dulu ya! kalau bisa Istikharah dulu, Apa kuat kayak papa! " teriak sang Ayah.
Amer hanya menggedikkan bahunya, tersenyum kemudian berlalu.
" Walau terdengar papanya mengaduh kesakitan.
Amer tidak berbalik lagi.
" Jadi kamu nyesal milih aku ya mas!Selamanya kamu merasa tertekan! " Geram Adel setelah mencubit pinggang Arifin.
" Ngak tertekan kok sayang...Cuma..
" Cuma Apa?
" Cuma harus banyak sabar dan mengalah..." Ucap Arifin jujur sembari meremas jemari istrinya.
" Iya ya mas...Maafin Adel ya...Adel janji ngak bakal gitu lagi, takut jadi contoh sama mantu, ntar anak kita yang menahan hati. " Ucap Adelia lirih.
Ditariknya tangan suaminyanya dan dikecupnya. Detik berikutnya, Arifin sudah membawanya berdiri dan menarik Adel kedalam pelukannya.
" Kan mau jadi istri Sholehah dari sekarang. Ayo kita kekamar, Olahraga pagi, mumpung hari libur. " Bisiknya dikuping istrinya.
" Teletubis...Berpelukan! Guling- guling kasur! He...He...Kikik Adel sembari mengikuti suaminya keruang pribadi mereka.
Kalau soal begitu Adelia dari dulu ngak pernah nolak, bahkan suka nyosor. Itu kelebihannya yang ngak bisa buat Arifin berpaling dari wanita centil yang sudah hampir 23 tahun ini bersamanya.
*******
Chalista baru saja ingin turun untuk sarapan pagi bersama, ketika Bella mengetuk pintu.
" Masuk saja, tidak dikunci. " Ucap Chalista yang dari tadi cemberut menatap telfonnya.
Bella segera masuk dan mendapati Chalista sedang bermenung ditempat tidur. Begitu melihat Bella yang datang, Chalis buru- buru berdiri menyambutnya.
" Kakak...Ngapain keatas? kan susah bawa galon penuh menaiki tangga! Kenapa Abang biarin istri nanjak sendiri sih? " Gerutu Chalis sembari menggoda kakak iparnya.
" Ngak apa sayang...sambil olahraga, kan kakak hati- hati kok jalannya. " Ucap Bella.
" Tetap aja ngak baik naik turun tangga dengan perut Segede itu kak...Makanya kamar kalian dipindah kebawah. Udah dibawah kemari pula! "
" Lain kali ngak lagi kok Onty... Bunda keatas...Kali ini cuma buat ngucapin selamat atas kelulusan sidang skripsinya! " Ujar Bella mewakili baby-nya.
Chalista mengusap perut Bella sembari tersenyum. " Makasih sayang...Bunda ceroboh kali, apa salahnya suruh Onty yang turun. " Balas Chalis.
Tring...tririring.......Telfon WA Chalis berdering. Bella dan Chalis sontak menghadap kebenda yang tergeletak ditempat tidur itu.
" Angkat dong Onty..." Rengek Bella pada Onty dari calon baby-nya itu.
" Malas Ah! Janjinya habis aku shalat langsung ditelfon, ini udah capek nunggu baru nelfon, kemana aja sih dia! " Ujar Chalis dengan bibir mengerucut.
" Angkatlah...tanya kenapa lama? " saran Bella.
" Malas kak e...Ia gitu orangnya, giliran ditunggu lama. Giliran dilupain muncul kayak hantu. " Gerutu Chalista.
" Apa Ita kira Abang Ita ngak lebih nyebelin waktu kami LDR. Amer masih ada nelfon, nanya kabar, kasih saran dan sebagainya. Kalau abangmu, lima tahun ngak pernah pulang, ngak nelfon, cuma kirim surat jelek sekali setahun.
" Kakak sih kelewat Cinta! kalau aku biasa aja. " Kilah Calista.
" Ngomongnya gini, tapi hatinya tidak begitu! " Tuding Bella.
" Kakak...Ah..." Rengek Chalis dengan pipi
merona.
" Ada kabar baik yang mau kakak sampein perihal calon ponakanmu. Tapi angkat dulu telfon Amer, bicara yang baik. Kakak tunggu dibawah! " Ujar Bella kemudian bergegas keluar dari kamar itu.
" Tunggu kak! " teriak Chalis. Yang membuat Bella menghentikan langkahnya.
" Sayang...Ini aku mau ngantar kak Bella kelantai dasar. " Ucap Chalis pada seseorang dibalik layar.
Bella tersenyum mendengar adik iparnya berkata manis menjawab telfon, iapun menunggu Chalista untuk menuntunnya, karna menghawatirkannya.
" Oke...Lanjut...Abang tunggu sampai dibawah, Tak usah dimatikan telfonnya.
Terdengar ditelinga Bella jawaban Amer, karna chalis sudah menggandengnya dengan tangan kanannya, sedang tangan kiri memegang telfon.
Masih bersambung yang...
Yang mampir tinggalkan pesan dan kesan. Cara masih sama, like, fote and Faforitkan Cerita kita ini.