Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 69



Habis Isya, Boy tak lupa janjinya dengan Momy. Ia segera turun menemui Citra dikamarnya.


Begitu sampai didepan kamar,tak lupa Boy mengetuk pintu , takut Dady protes kalau Boy masuk menyeludup seperti masa kecilnya. Lagian tak muat lagi tubuh tingginya kalau harus berjongkok di bawah ranjang Besi itu.


Boy tersenyum mengenang masa kecilnya yang suka ngintipin Momy dan Dady dibawah kolong tempat tidur,hanya


untuk mengetahui masalah Dady dikantor. Dari pengintipan itulah ia tahu masalahnya, kemudian mulai membantu menyelesaikan permasalahan diperusahaan orang tuanya tersebut.


" Masuk sayang...Momy sendiri. " kata Citra mendengar pintu kamarnya diketuk.


Ia sudah tahu, ketokan dipintu sebagai pertanda yang datang adalah putranya.


Kalau Rendra, ia takkan mengetuk pintu untuk masuk kekamar mereka.


Sedang Calista dan Raisa pasti jauh- jauh sudah teriak- teriak memanggil Momy.


Setelah mendengar suara Citra, Boy lalu masuk sembari mengucapkan salam.


Citra menjawab salam putranya dengan semangat.


Dady dimana mom? " tanya Boy, setelah


duduk disisi tempat tidur Momy.


" Dady sedang membicarakan urusan perusahaan dengan om Hans diruang baca." jawab Citra.


HM...sudah dua hari selama ujian, Boy tak kekantor. Sebenarnya Boy bisa pulang sekolah ngantor tapi Dady melarang Boy. " fokuslah dengan ujiannya, kalau urusan perusahaan cukup kontrol melalui Sofwaremu saja selama ujian! " Begitu Tuanku memerintahku. " Cerita Boy sembari terkekeh didepan Momynya.


" Iya sayang...Momy juga senang Boy fokus ujian, lagian selama sebulan Momy sakit, Boy sudah bekerja keras , kata Dady hasilnya sangat luar biasa, sampai tuan poseseive itu merasa kalah pamor dari junior.


" Kepemimpinan, pegelolaan, serta kemampuan Boy berpresentasi menakjupkan sayang...Banyak klien yang terkesan. Bahkan Dadymu kewalahan menjawab kekaguman Bisnisman dunia


yang sudah meeting denganmu selama Dady bolos kerja, mereka ingin Boy terus yang melanjutkan usaha Dady. Ketika Dady bilang Boy masih usia sekolah menengah pertama, mereka tak percaya. " Citra mulai menyodorkan tangannya saat bercerita.


Boy tersenyum mendengar cerita Citra, sembari terus memijiti tangan, punggung dan kaki Momynya.


" Berarti Bos besar kita sekarang sedang mengembalikan jati dirinya didepan klien- kliennya setelah dicuri oleh juniornya? Pantas ia memintaku fokus ujian, sebenarnya nya Dady hanya takut cinta para kliennya kurebut total, kalau terlalu banyak membantunya langsung dilapangan " kata Boy mulai bangkit narsis turunannya.


" Kayaknya memang begitu sayang...Dady juga takut, Boy kebanyakan kerja, jadi lupa kalau Boy masih sekolah. Dady tak mau putra satu- satunya sampai ngak lanjut sekolah formalnya hanya karna sibuk kerja.


Mumpung Dady masih semangat kerja, anak Momy juga harus semangat sekolah. Ya sayang..." Bujuk Citra


Boy menjawab dengan anggukan saja, ia


terlalu konsentrasi memijit kaki Citra.


" Kalau Boy sudah menyelesaikan


Sarjana Boy nanti, baru Momy sama Dady Bakal pensiun. Jika umur panjang,


Dady janji, mau ngajak Momy keliling dunia, Boy kan tahu mom sama Dady belum pernah Honeymoon. Jadi kami niat honeymoon dihari tua. He...He...Citra


terkekeh membayangkan rencana konyol


yang disebut Rendra sebagai honeymoon


tertunda itu.


Boy menghentikan sejenak pijitannya, agar sang Momy menikmati tertawanya.


Setelah ia menuntaskan tawanya, barulah Boy melanjutkan pijitannya.


" Rencana Hajinya kapan mom? " tanya


Boy tiba- tiba teringat kalau kedua orang tuanya belum menunaikan rukun Islam yang kelima itu.


" Mudah- mudahan dalam waktu dekat situasi mulai aman. Kalau bisa tahun depan mom sama Dady sudah bisa menunaikan panggilan Allah untuk menjalani ibadah haji. Semoga ini sudah sehat total, menunggu kesehatan Momy sama keadaan aman, Dadymu fokus dulu


menyalurkan bantuan pada orang yang membutuhkan. Kata Ustadz kita, utamakan dulu menolong sesama sebelum menunaikan Haji. " Jelas Citra pada Boy.


" Iya mom..kakek juga bilangnya begitu. "


" Ya nak...Momy sebenarnya mau tahu


mengapa Boy terlambat pulang tadi.


Apa ujiannya susah? Hingga anak Momy


lama mengerjakannya. " Citra bertanya sembari menatap bola mata indah Bhalendranya.


" Ngak kok mom...Putramu sudah selesai ujian jam sepuluh pagi. Tapi teman ceroboh Boy terjatuh, lututnya lecet dan berdarah, Boy membantu merawatnya,


meminta Bu Yuni mengobatinya.


Ia masuk siang, Boy menungguinya sampai selesai dan memastikan ia baik- baik saja sampai jadwal pulang sif siang. " terang Boy jujur.


Citra tersenyum, sebenarnya ia sudah tahu perjalanan putranya hari ini, dari dokter pribadinya dan sopir Boy. Tapi ia


hanya ingin tahu, sejauh mana putranya


bisa jujur padanya.


" Bella yang jatuh? tanya Citra?


" Iya mom, siapa lagi nona ceroboh yang ada di sekolahku selain cewek yang dulu


pernah mengira Boy ngak bisa nyelesaikan ujian boy. Pernah Lo mom waktu kelas satu ia ngatain Boy." Jawab Boy sembari mengenang Bella.


Citra menatap putranya dengan teliti, memperhatikan dengan seksama wajah cerah Boy ketika menyebutkan nama Bella.


" Apa yang Bella katakan pada Boy? " tanya Citra memancing.


" Dia bilang sudah jelas jarang sekolah,


" Trus Boy jawab Apa? " Citra terus mengorek perasaan remaja putranya.


" Ngak jawab apa- apa, hanya senyum aja." Boy nampak Makin bersemangat bercerita.


" Momy tau ngak apa yang terjadi setelah


itu? " tanya Boy menatap Momynya dengan wajah tampak berbunga- bunga.


" Apa nak?


" Ia pucat pasi ketika pengumuman juara kelas. Ia dapat juara dua, Boy juara satu.


Saat pengumuman juara umum, ia tampak makin malu. Lalu dengan tangan bergetar, ia mengucapkan selamat pada Boy, usai bubar acara.


Sejak saat itu ia selalu mencari kesempatan untuk melihat Boy. Ia cari tahu tentang Boy lewat media sosial, tapi mom kan tahu, akun pribadi Boy ngak ada yang bisa buka.


" Untuk promo produk dan Bisnis Online kita , baru Boy pakai wajah tampan titisan Dewa tiga Benua ini sebagai model produk.


Jadi sampai hari ini Bella tahunya Boy seorang model, Bukan putra tunggal Pemilik GNN Group.


" Bagus dong sayang...Jadi Bella sukanya


pada Boy apa adanya. " Citra masih memancing putranya yang makin semangat memijit kakinya.


" Tadi ia terjatuh karna buru- buru cari Boy. Ia bela- belain datang pagi sudah dua hari ini, hanya untuk melihat Boy.


Padahal ia jadwalnya siang. Si konyol itu sampai ninggalin mobilnya dijalan gara- gara macet, trus naik ojek.


Turun ojek melarikan Helm, lupa Bayar, lari terburu - buru sampai jatuh. Bukankah konyol namanya Momy?


" Mhum...Lumayan besar perjuangan calon mantu! " kata Citra sembari tersenyum lebar.


" Momy!...Boy tersadar kalau sang Momy sudah berhasil mengorek seluruh isi hatinya. Ia menghentikan pijitannya, seraya bergolek disisi Citra, menyembunyikan wajah memerahnya dibalik lengan mungil sang Momy.


Citra mengusap puncuk kepala putranya.


" Ngak apa- apa sayang...Itu hal yang wajar. Bella sangat cantik, ia Seorang putri, tapi penampilannya sederhana.


Momy juga suka cara Bella CaPer sama Boy.


" Jadi Momy sudah tahu semua tentang Bella?


" Ya Gitu deh...Siapa yang ngak kepo sama orang yang udah berani ngintipin


kehidupan putra kesayangannya? " tanya Citra sambil berusaha Duduk.


Boy tak membiarkan Momy kesusahan duduk, ia membantu mendudukkan Momy dan menyandarkannya di Head Board ( kepala ranjang).


" Sini sayang..." Panggil Citra sembari menepuk pangkuannya, setelah duduknya nyaman ia ingin memanjakan putranya. Boy yang mengerti segera merebahkan kepalanya dipangkuan ibunya.


Citra mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang.


" Momy tak kan pilih- pilih siapapun yang akan naik kerumah kita sebagai menantu sayang... Apa itu gadis yatim piatu seperti Zahra atau putri konglomerat seperti Bella, yang penting bagi Momy anak Momy nyaman dengan gadis itu, dan gadis itu bisa menjadi ibu yang baik buat Cucu- cucu Momy kelak. Siapapun


mereka, yang menjadi pilihan hati Boy, Momy pasti terima, tapi jangan sampai


hadirnya mereka sedini ini , jangan sampai mengganggu konsentrasi belajar Boy,


apalagi sampai membuat Anak Momy salah langkah.


" Ngak kok Momy. Boy janji akan biasa- biasa saja sampai usia Boy dewasa. Boy akan memilih kekasih setelah Boy siap


berumah tangga nanti. Kalau sekarang


ngak salah kan Mom Boy sekedar mengagumi dan membantu teman yang sedang dalam masalah?


" Ngak salah sayang...Yang penting Anak Momy tahu batasannya. " kata Citra sembari memijit lembut kening putranya.


Okay mom...I Promise to take of Women As I take care my Momy and Sisters. ( Baiklah..aku berjanji akan menjaga perempuan sebagaimana aku menjaga


Ibu dan saudara perempuanku.)


Before I Grow up and Marry, I Won't touch Women. ( Sebelum saya dewasa dan menikah saya tidak akan menyentuh wanita )


Boy menggenggam tangan Momynya , seraya berkata lagi "No for drugs no for drinks! Because it is the key to happiness as destruction ( Tidak untuk narkoba tidak pula minum sebab itulah kunci kebinasaan.)


I am promise mommy.. (Aku berjanji mami) ..." katanya lagi mulai melirih. Detik berikutnya ia sudah tertidur


dipangkuan Momy.


" Hey anak muda ! kau apakan Istriku? "


Rendra berseru ketika masuk kamar.


" Suut...Ia sudah tidur...Biarkan putramu tidur tenang dipangkuan Momynya." kata Citra lirih, takut membangunkan Boy.


" Tapi itu bisa membuat kaki Momy kesemutan kalau lama. " protes Rendra dengan berbisik.


" Baiklah pindahkan ke bantal kepalanya dengan pelan. " bisik Citra lagi.


Rendrapun melakukan perintah istrinya.


Jadilah malam ini Boy terlelap disisi Momy dan Dady.


Jangan lupa tekan jempolnya say untuk mendukung karya ini...


dan nantikan terus part berikutnya


...