
Boy tidak kerumah sakit, Setelah melihat dan berbicara dengan Momynya, ia merasa lebih tenang, walau wajah Momynya masih nampak pucat, maklum ia habis menjalani operasi besar, pengeluaran amunisi dari tubuhnya.
Untung peluru tak mengenai organ bagian dalam yang Vital. Kalau sampe kena, kata dokter, ibunya takkan selamat." Puji syukur, Allah masih melindungi momy, Allah masih memberi kesempatan pada Boy untuk memiliki Momy. " kata batinnya mengagumi Kekuatan Tuhan yang Maha pelindung.
Boy memutuskan dirumah, bukan bermaksud ingin santai dan tidur. Ia malah menyibukkan diri dengan menyelesaikan urusan perusahaan menggunakan leptopnya.
Meski louncing produknya mengisahkan tragedi, Boy tak mau patah semangat. Toh Allah sudah begitu baik padanya, sudah menyelamatkan kan Momynya.Tak pantas Boy menyalahkan acara itu.
Walau acara pertama Momy tampil publis, langsung menghebohkan karna tragedi itu. Toh bukan undangan yang melakukan itu. Justru tamu tak diundang lah yang menghancurkan acaranya.
Boy hendak memperbaiki promo Produknya lagi.
Sampai Larut malam ia bekerja, sekalian untuk mengobati perasaannya.
Habis subuh, Boy mengunjungi Momynya dirumah sakit. Ia tak ingin memulai hari sebelum memastikan langsung kondisi Citra.
Boy mengusap rambut Momynya ketika ia sampai disisi Hospital Bed sang Momy, saat itu Momynya masih belum bangun.
" Mat pagi Momyku sayang...
Cepatlah sembuh, jangan membuatku kami cemas lagi. " gumamnya.
Boy menatap Dady yang tidur tergelung disisi ranjang. Tubuhnya nyaris jatuh.
Walaupun Hospital Bed untuk kamar khusus ini lumayan besar, mungkin untuk menjaga agar tak bersentuhan dengan luka Citra, Rendra tidur menjauh.
" Mereka begitu saling menyayangi dan menjaga. Aku takkan mempertanyakan lagi tentang diriku yang akan mengganggu kebahagiaan mereka.
I Love Momy And Dady. " kata Boy lembut, takut membangunkan kedua orang tersayangnya itu.
Lalu Mengecup kening mereka bergantian.
Saat Boy mau keluar dari ruangan itu, Citra membuka matanya. " Sayang...mau kemana, pagi- pagi sudah rapi. " tanyanya, sambil mengerjapkan matanya, untuk menetralisir cahaya yang masuk.
" Maaf...Boy tak sengaja membangunkan Momy.." kata Boy berbalik, seraya menyusun sepuluh jarinya
didepan dada.
" Tak apa, ini karna pengaruh obat, kalau tidak dari jam Setengah lima momymu kan biasanya sudah bangun. " kata Citra.
" Iya deh...tahu momykan ibu Sholehah...He...He...
" Boy terkekeh setelah memuji Momynya.
" Biasa aja, tapi itu kan sudah kewajiban yang menjadi kebiasaan. " kilah sang Momy.
" Kasihan Dadymu, semalam lama ia baru tidur, nungguin Momy, takut Momy mimpi buruk lagi. " Citra kembali berkata setelah menatap Rendra yang tergelung dipinggir Hospital bed itu.
" Tak usah diganggu mi, biar selama Dady dirumah sakit jagain Momy, urusan kantor, Boy yang urus. Mumpung masih belajar Online. " kata Boy.
" Terserah kesepakatan yang punya sih...Kan perusahaan yang punya Boy and Dady. Kami para wanita kan hanya tukang nikmatin aja. " Kata Citra
mencoba bercanda.
" Yang penting yang nikmatin sehat dan selamat, yang bekerja pasti semangat." Kata Boy kembali
menghadiahi kecupan dikening Momy sebelum pamit.
" Makasih sayang..." gumam Citra.
" Makasih nya Doble dong mom, soalnya kissnya Doble. " kata Boy.
" Kan atu yang barusan. " protes Citra.
" Yang atunya sebelum bangun. " jelas Boy.
" Oke deh tuan besar. Thank you so much. " kata Citra.
" Sama- sama mom...Boy pamit ya...
" Baiklah sayang...Hati- hati dijalan, jangan nakal. " kata Citra.
" Ya mom...Emang anak kecil? " tanya Boy.
Citra tersenyum sembari melambaikan tangan kanannya.
menembus jendela kaca, menyentuh hospital Bed tempat ia tergelung dipinggir pembaringan istrinya.
Dokter dan perawat sedang melakukan pemeriksaan pada luka tembak Citra, kala Rendra membuka matanya. Ia terkejut mendapatkan dirinya yang kesiangan seperti ini.
Dengan bergegas, Ia turun dari ranjang.
" Tak apa tuan...Jangan sungkan..kami sengaja
tak ingin mengganggu tidur tuan. Kami tahu semalam Tuan Rendra berjaga. " kata Dokter Rudi, dokter bedah termuda dan tertampan dirumah sakit ini ,sembari memeriksa bekas luka Citra dengan teliti.
" Iya dokter...tak biasanya aku bangun kesiangan begini, maaf. " kata Rendra.
" Tidak masalah..." kata Dokter itu kemudian.
Rendra menunggu sampai pemeriksaan dan pengobatan selesai. Setelah itu ia lalu memberi sarapan pagi rumah sakit untuk istrinya.
" Ngak enak ya sayang? " tanyanya melihat ekspresi
istrinya yang nampak tak berselera, namun memaksa memakan suapannya.
" Ngak apa- apa, namanya juga makanan orang sakit. " kata Citra.
Hening sejenak..Sampai aktifitas makan itu selesai.
" Nanti akan kubicarakan dengan dokter, makanan apa saja yang boleh dan tak boleh dimakan. Biar bisa dipesan makanan yang bisa membuat selera makan sayang bisa tergugah. " kata Rendra kemudian.
" Tak perlu sayang...nanti putri dan putra kita akan mengirim makanan untuk Momy mereka, kalau mereka sudah selesai menjalankan rutinitas mereka. " kata Citra penuh keyakinan.
" Emangnya mereka janji? "
" Dimulut belum..Tapi dihati pasti. " kata Citra yakin.
" Oh ya sayang...aku sampai lupa menelfn Hans. Ya ampun...Mana Hp mati lagi, itulah ruginya bangun kesiangan, keduluan sama ayam menyambut Mikail " Gerutu Rendra.
" Ngak usah panik dan kesal begitu sayang...Kalau Dadynya terlambat nyambut Malaikat pembagi Rezki hari ini, putranya sudah terlebih dahulu menyambutnya. " kata Citra sambil tersenyum manis.
" Emang dia sudah nelfon ? " tanya Rendra.
" Ngak sekedar nelfon sayang...Tadi subuh ia sudah cium- cium ilermu sebelum berangkat kekantor. " kata Citra, kemudian ia tersenyum nakal.
" Ih...ini Istri kok nakal amat sih, masak putraku datang , Dadynya ngak dibangunkan. " kata Rendra sembari mengerutkan bibirnya.
" Emang putramu yang tak mau mengganggu tidur Dadynya. Yah mau gimana lagi? " kata Citra sembari memasang wajah lucu dan imutnya , membuat dada Rendra berdesir menatap wajah imut dan bibir tipis yang basah itu. Detik berikutnya
ia sudah membungkam bibir tipis yang masih pucat itu dengan bibirnya, dengan hati- hati ia melakukannya, takut melukai kekasih halalnya itu.
Lama dan penuh penghayatan. Citra hanya memejamkan matanya, menikmati sisi terlembut suaminya.
Dalam, lembut dan penuh kehati- harian. Tapi tetap saja menyisakan getaran hebat didadanya. Rendra baru melepaskan kecupan terlembut sepanjang pernikahan mereka itu, setelah ia merasa ada yang menyesak dibawahnya.
" Dasar Belut sawah! Ngak tau istri sakit, nongol juga minta kawin. " gerutunya dalam gumaman. Ia segera berlari menuju Kamar mandi, seraya memegangi pangkal pahanya. Citra terkekeh melihat tingkah konyol suami tampannya itu.
&&&&&&&&&&&&&
Menjelang sore...Boy ,Calista dan sibungsu datang membawa Taperware besar.
" Apa kubilang sayang...intsting ibu sepertiku jarang meleset. " kata Citra bangga saat Calista mulai membuka Tuperware nya.
" Stop! Tunggu dulu, biar Dady periksa apa makanannya bisa untuk Momy. " kata Rendra saat Calista sudah siap untuk menyuapkan Momynya.
" Tenang saja Dady, kami bahkan sudah mempelajarinya sebelum Mr Chef Calista mengarahkan para koki rumah untuk menyajikan makanan ini. " kata Boy Kamudian.
" Iya Dady..Aku bahkan sudah konsultasi online dengan dokter, atas rekomendasi Abang, makanan yang kami bawa, aman untuk pasien bekas operasi berat. " kata Raisa.
" Tenang Dady... Ini aman. " kata Calista mulai menyuapi Momynya. Sedang Boy hanya tersenyum.
" Baiklah kalau anak- anak jauh lebih pandai dari Dadynya. " kata Rendra mengalah.
Bersambung....