
Sesampai dikamar, Citra tetap memasang wajah manisnya, ia juga membukakan jas dan dasi Rendra. Tapi ia tak banyak bicara, ia hanya tersenyum.
Rendra tahu istrinya, kalau sudah dalam mode diam berarti kekesalannya sudah level Superstar,
paling tidaknya Diamon. He....He....
Ia lebih suka dicereweti olehnya, dengan dicerepeti, ia tahu letak kesalahannya, dan dengan tidak sulit ia bisa membungkam mulutnya dengan kecupan panas. Tapi kalau diam, akan susah ditebak, nanti kalau langsung diserobot, malah tambah salah. Padahal ia sudah rindu, sudah sangat terlalu. " Apa yang bisa kulakukan, tolong
Ide...perlihatkan wajah Cantikmu diotak cerdasku. " kata batin Rendra masih saja lebay dan narsis.
Beberapa menit berikutnya, masih hening. Ia mengulurkan minum pada suaminya. Tapi tanpa suara .
" Makasih sayang..." kata Rendra, tapi tak ada Jawaban. Sedetik berikutnya Rendra bergolek ditempat tidur. Istrinya mulai menyibukkan diri merapikan pakaian dilemari.
" Aduh....Sakit....Rendra memegangi perutnya, dengan wajah nampak menderita.
" Perutmu sakit, pasti telat makan disana! " kata Citra melompat ketempat tidur, ia mengulurkan tangannya untuk membuka kancing kemeja bagian pusatnya. Kemudian mulai memijiti perut Rendra. Sebentar kuambil minyak angin dilaci. " kata Citra lagi.
Dengan sigap Rendra menangkap tangan Istrinya, lalu dalam satu sentakan, ia menariknya kedalam dekapannya. Tak perlu minyak angin sayang...Suamimu tak telat makan. " katanya menatap intens belahan jiwanya itu.
" Kau... Kau menipuku! " protes Citra ingin melapaskan diri darinya.
" Jangan harap bisa lepas wahai angsa cantikku... Tubuhku panas menahan dahaga, jiwaku resah menahan rindu, bawa aku dulu berenang kedanau Asmaramu. Baru akan kubiarkan kau mengepakkan sayap indahmu. Untuk saat ini, akan kuikat sayap indahmu dalam kekarnya tangan kuat Rendramu, sebelum kau berjanji bersedia menerbangkan ku menuju pulau Cintamu...
" Ih....Norak!...Norak! Norak! Kenapa suamiku jadi norak begini sepulang dari Bandung. Jangan sampe suamiku kesambet hantu bang Mamat Ya Tuhan. " kata Citra menempelkan keningnya dikening Rendra untuk mengetahui suhu tubuh suaminya, kalau dengan tangan tak bisa, sebab tangannya digenggam Rendra erat.
" Begitu dong...Suami kalau datang dikasi
Sun dikening dan dipipi, bukannya didiamkan seperti tadi. " kata Rendra mulai menangkap bibir istrinya. Ia Menciumnya semakin dalam dan lama.
Setelah mereka hampir kehabisan oksigen, barulah ia melepaskannya.
Rendra mulai membuka kancing kemejanya. Dan kemudian beralih pada Citra. Sebelum melanjutkan aksinya, tangan kirinya meraih Remot Kontrol dinakas, menekannya, kemudian pintu kamar mereka terkunci.
" Saatnya berenang angsa cantikku! " katanya seraya mengambil posisi berbalik.
" Tapi aku lagi tanggal merah. " kata Citra membuat Rendra langsung berbaring membelakang. Hatinya menciut bak balon bocor, wajahnya kecut bak termakan buah gelugur.
Citra mendekapnya dari belakang. Sayang...Kalau aku bercanda, apa kau akan memaafkan ku? " tanya Citra Sembari mengecup tengkuk suaminya.
" Kau mempermainkan perasaan suamimu. " kata Rendra dengan suara rendah, walaupun hatinya marah.
" Kau juga mempermainkan perasan istrimu. Kau bahkan tak menyampaikan alasan mengapa kepulanganmu diperlambat sampai seminggu penuh. " Kata Citra menyampaikan inti kekesalannya pada Rendra.
" Aku sudah menduga kau kan mendendamku karna itu. Tapi mengapa sejauh itu aksi balas dendam mu pada suami sendiri? Aku sedang diatas awan, sengaja kau hentakkan kebumi lagi.
Sakit tau. Rendra tiba- tiba menitikkan airmatanya.
Citra semakin merasa bersalah. Diusapnya airmata sang suami dengan jemarinya.
" Maafkan aku sayang...Ternyata aku sudah melukai perasaan terdalam suamiku. Aku takkan berhenti memegangi kupingku sampai kau mau memaafkan ku. " kata Citra mulai memegangi kedua kupingnya.
Rendra kemudian menggigit lembut ujung kuping kanannya. " Jangan konyol sayang...Ayo kita mulai lagi sebelum waktu Shalat tiba, lain kali jangan buat kekasihmu patah hati lagi. " bisik Rendra kemudian. Lalu ia mulai lagi dengan pertualanganya. Angsa putih nan indah itu dengan lincah membawanya berenang kelautan Asmara.
Setelah sayap- sayapnya basah, barulah mereka menggapai pulau impian. Kemudian mereka tersenyum.
" Jangan pernah menyimpan dendam pada kekasih, karna kekasih bukan tempatnya dendam, tapi tempat Cinta, hanya cinta yang boleh kau simpan disini Citraku... " kata Rendra meletakkan kepalanya tepat diulu hati istrinya. Citra membelai rambutnya. Lalu mereka terlelap sebentar , terbangun kembali saat Suara Azan berkumandang.
Kadang kesalahan kecil dalam berumah tangga bisa mengicu masalah besar, kalau itu dibiarkan berlarut- larut dan dipendam dalam hati. Setelah shalat, Citra kembali meraih tangan suaminya, bersimpuh dan memohon maaf padanya.
" Jangan tinggalkan lagi setitik salahku dihatimu sayang..Kumohon maafkan istrimu yang kadang keterlaluan ini, tapi percayalah, tak pernah ada maksud untuk saling melukai. I love you Forever sayang..." kata Citra seraya mencium tangan suami itu. Semua yang menjadi makmum Rendra tercengang, melihat Sang Momy singkeman pada Sang Daddy.
" Nampaknya tadi ada perang besar adik seperti perkiraan Abang kita . Tuh buktinya mereka mengumumkan perdamaian didepan kita. " Bisik Calista pada Raisa.
" Kok Tahu? tanya Calista.
" Lupa ya kak, adikmu ini kan calon Usztazah.
Bela- belain jauh dari orangtua, kalau tak banyak belajar agama, kan rugi. " kata Raisa pada kakaknya.
Lalu sang kakak menjawab dengan angguk- Aguk balam.
Seminggu kemudian...
Louncing diadakan di Aula kantor perusahaan milik Rendra. Acara louncing produk komunikasi terbaru dari perusahaan , hasil rakitan dari putranya yang Baru berusia 14 itu berjalan dengan sukses.
Rendra dengan bangga memperkenalkan produk
didepan undangan dan layar, dibantu Boy.
Tepuk tangan undangan dan teriakan penuh kekaguman menggema
" Sukses selalu buat Boy dan Dady!...." teriak undangan antusias.
Usai alat komunikasi, kemudian Sang istri Juga mengadakan Loncing produk kecantikan Buatan Sendiri. Produk yang sudah mendapat sertifikat dan Lolos uji Klinis ini mendapat sambutan yang lebih Antusias lagi. Apalagi langsung sang Nyonya Bos yang cantiknya titisan Dewi Dari Barat dan Timur itu yang menjadi Brand Abasadornya.
Baru dimulai saja, pemesanan sudah meledak.
Tak sia- sia kecantikan dan kepintaran Magister managemen Busnes itu.
Cuaca serah dan suasana meriah itu, hanya beberapa menit berlangsung. Sebelum Terdengar suara Yang membuat suasana jadi kacau balau.
Dor.....Tiba- tiba terdengar bunyi letusan senjata api. Lalu sedetik berikutnya Perempuan pujaan Boy dan Rendra terkulai tak berdaya.
Momy!.......Boy berteriak histeris mengejar Momynya dipanggung, disusul sang Dady.
Semua mata terbelalak.
Bumi yang cerah tiba- tiba berubah jadi mendung.
Boy berhasil menahan tubuh Citra sebelum menyentuh lantai. Tak Ayal darah segar mulai
merembes kebaju Putih bersih berhias mutiara yang ia kenakan.
" Momy...Bertahanlah...Boy terisak menatap
ibunya.
" Cepat panggil Ambulan!......" Teriak Rendra mulai tak terkendali melihat kondisi istrinya.
" Boy segera melarikan ibunya kerumah sakit dengan mobil, tanpa menunggu Ambulan. Ia tak peduli dengan panggilan Dadynya. Ia memaksa Sopir untuk tancap Gas. Mobil berjalan kencang, tanpa mengabaikan peraturan lalu lintas.
Sepuluh menit kurang Boy dan Momynya sampai didepan rumah sakit mereka, Sopir mobil yang dipaksa Boy sampai pucat karnannya. Entah mobil siapa dan sopir itu siapa boy tak peduli, yang ia tahu Momynya harus segera diselamatkan.
Para Medis berlari menyambut dan segera mendorong Citra langsung menuju ruang operasi.
" Cepat selamatkan Momyku dokter....Kumohon..." Boy merengek tak ubahnya bagai Bayi yang takut dicerai susu.
" Berdoalah Pada Allah...Usaha kita Jalankan. " kata Dokter menutup ruang operasi.
Detik berikutnya Rendra dan kedua putrinya dan para pelayan yang tadi ikut acara, bertangisan didepan ruang operasi.
Bersambung....