Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 100. Rencana Bakintal



Jaga Saksena meringis ketika punggungnya menghantam sebuah pohon hingga berderak. Di sanalah tubuh Jaga terhenti dari laju dorongan daya kejut dentuman, padahal kaki sudah ia hunjamkan ke bumi.


Cepat Jaga menarik napas panjang guna memeriksa adakah luka dalam di dada. Ketika mendapati hanya sedikit saja, maka Jaga memancal tanah untuk kembali lesatkan diri mengejar musuh.


"Tewas?!" gumam Jaga ketika mendapati sosok wanita lawannya telah terkapar di bumi. Ada darah anyir menggenangi tanah di bawah leher jasad si wanita.


Jaga Saksena jongkok satu kaki, mengamati luka di leher mayat, saat itulah Putri Andara Anesha Sari datang dan langsung berkata,


"Aku yang telah melakukannya, Jaga!"


"Bukan Pendekar Merah? Kukira dia."


Sungsang yang juga baru tiba hanya nyengir ingin berkata tapi sungkan pada sang putri. Karena sebenarnya perbuatan Putri Anesha Sari yang telah membokong lawan orang lain adalah perbuatan yang tercela, tidak jantan, pengecut. Setidaknya itu menurut golongan aliran putih.


"Putri, tolong kau periksa apakah dia membawa sesuatu di balik bajunya?" pinta Jaga Saksena sambil berdiri.


"Kenapa tidak kau saja, Jaga?" selidik Putri Anesha Sari berasa aneh karena biasanya para pendekar akan memeriksa tubuh musuh yang tewas di tangannya.


"Dia wanita, meski sudah menjadi mayat, seorang lelaki yang bukan mahrom dilarang merabanya."


"Oh ....!" Cukup kaget, Anesha Sari harus mengakui dalam hati, bahwa ajaran yang dibawa oleh Jaga Saksena sangat memuliakan wanita bahkan setelah menjadi mayat sekali pun.


Cepat tangan Anesha Sari meraba-raba bagian dalam pakaian Nyai Kinasih.


Tak lama,


"Lihat!"


Anesha Sari menemukan sebuah lencana dan kantong keping emas yang segera ia berikan pada Jaga Saksena.


"Aku tidak tahu lencana ini," ucap Jaga setelah mengamati sesaat benda di tangannya.


"Coba kulihat!" pinta Sungsang.


Sesaat kemudian, setelah mengamati gambar yang tidak jelas dan polos tanpa tulisan, akhirnya Sungsang berkata dengan sedikit keraguan,


"Kalau tidak salah ini lencana Padepokan Sanca Hitam. Tapi pertanyaannya, ada hubungan apa mereka denganmu, Jaga?"


"Padepokan Sanca Hitam?! Bahkan aku baru mendengarnya!" timpal Jaga Saksena.


"Lihat, orang-orang datang!" seru Anesha Sari yang melihat beberapa lelaki berlari ke arah mereka.


Belum pun sampai, dengan masih berlari salah satu mereka membentak,


"Kalian!"


Namun ketika mereka tiba dan melihat ternyata ada Putri Anesha Sari,


"Oh ... Tuan Putri ... Ada yang bisa kami bantu, Putri?"


Orang itu mendadak bersikap ramah, menghormat pada Putri Anesha Sari diikuti yang lain. Menilik dari lari dan pakaian yang mereka kenakan, mereka adalah para pendekar yang mungkin kebetulan berada cukup dekat dari tempat pertarungan.


"Kalian kebumikan mayat itu!" Putri Anesha Sari memberi perintah lalu mengajak Jaga Saksena pergi.


"Maaf ya, aku tidak bisa bantu. Ada urusan penting?" ucap Sungsang sambil nyengir lalu berkelebat ikut meninggalkan lokasi menyusul Jaga Saksena dan Putri Anesha Sari.


Sepeninggal Jaga Saksena, Anesha dan Sungsang.


"Cantik sekali!! Seharusnya kita kemarin ikut berperang agar bisa diundang jamuan makan bersama keluarga kerajaan!" salah satu pendekar berucap sembari masih memandang kepergian Anesha Sari.


"Ah sudahlah, buat apa melihat daging sapi tetapi yang dimakan tetap ubi!" sergah pendekar lain.


"Ngawur! Mengotori iya!"


"Hahahaha!"


Akhirnya mereka tertawa bersama kemudian mulai mencari tempat untuk penggalian liang lahat.


**


Jakala yang mengawasi jalannya pertarungan dari jauh pada akhirnya hanya bisa memaki dalam hati atas kematian Nyai Kinasih.


Jakala pun berlari pulang untuk melapor. Dan sudah bisa diduga, Raden Bakintal marah besar. Untung saja Jakala mampu meredakan amarah Raden Bakintal dengan mengatakan hasil penguntitannya seharian ini bahwa Jaga Saksena akan keluar kerajaan untuk mengantar dua puluh wanita muda cantik.


"Dua puluh wanita muda cantik?!" Raden Bakintal berbinar, pesta menggo-yang ranjang dengan lima wanita sekaligus segera muncul di benaknya.


"Jika begitu kau cari tahu kapan dalit itu akan pergi dan lewat mana. Dan segera laporkan padaku! He he he he!"


Raden Bakintal terkekeh. Tawa yang dirasa cukup aneh oleh Jakala. Meski begitu lelaki bertelanjang dada itu tak ambil pikir. Ia segera berkata,


"Sendiko dawuh, Ndoro!"


Jakala mundur sebelum membalik badan pergi. Ia tidak langsung menuju istana untuk menyelidik, tetapi menuju sebuah rumah penjual pakaian. Lelaki itu berganti penampilan. Memakai baju lorek dan belangkon berbuntut. Jakala khawatir Jaga Saksena masih mengingat dirinya jika tetap mempertahankan penampilan ala tukang pukulnya.


***


Pagi yang cerah ditemani kicau burung riang menyambut asa mencari makanan dengan gembira.


Lima gerobak telah terparkir rapi di depan istana kepatihan.


Itu adalah gerobak-gerobak yang dibeli oleh Begawan Teja Surendra.


Setiap gerobak akan membawa empat wanita dan buntalan bawaan mereka, juga untuk membawa perbekalan makanan selama di perjalanan. Karena ternyata asal para wanita ini sangat jauh sehingga selain membawa keping emas juga harus membawa bekal makanan sendiri.


Bekal emas dan makanan didapatkan Begawan Teja Surendra dari meminta pada Permaisuri Mahiswari dan para selir. Dan dengan senang hati para istri raja itu memberikan ribuan keping emas asal para wanita ayu itu disingkirkan dari istana. Begawan Teja Surendra memang cerdas! Bukan hanya mendapat keping yang cukup untuk bekal tetapi juga menjadikannya seorang kaya raya.


"Masukkan perbekalan terlebih dahulu!" seru Begawan Teja Surendra keluar dari dalam istana bersama Jaga, Sungsang, Putri Anesha Sari dan Patih Sepuh Labda Lawana diiringi para wanita muda.


Ketika mereka sibuk menata barang-barang, seorang perempuan cantik berlari memasuki halaman.


"Yunda Lembayung? Ada apa?" tanya Putri Anesha Sari menyambut perempuan cantik tersebut.


"Adinda, bolehkah aku bicara pada Jaga Saksena?"


Lembayung Adiningrum sudah menahan diri untuk tidak mendekat ke Jaga Saksena. Tetapi hatinya malah makin penasaran, bukannya memikirkan suaminya yang tak kunjung kembali, otaknya malah dipenuhi bayangan Jaga Saksena. Dan ketika ia mendengar hari ini Jaga Saksena akan pergi jauh, ia memberanikan diri.


Anesha Sari melihat Lembayung Adiningrum dengan penuh selidik, jelas ia tidak suka. Namun,


"Adinda, aku mengenal Jaga Saksena dari dia masih kecil, sejak tujuh tahun yang lalu. Kami hanya teman, tidak lebih!"


"Oh benarkah?! Kenapa kau tidak bilang dari kemarin-kemarin ketika di jamuan makan?" Paras Anesha berubah ramah.


"Kau tahu sendiri, Adindaku. Kakangdamu sangat pencemburu aku khawatir dia akan membuat masalah pada Jaga Saksena."


"Hi hi hi hi!" Anesha Sari tertawa kecil sebelum berkata, "Aku dan Kama Kumara masih berdarah yang sama, kuharap kau tidak melebihi batas seorang teman."


Ada kilat dingin di mata Anesha Sari, membuat Lembayung Adiningrum sedikit merasa ngeri.


***⁰0⁰***