Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 85. Jaga Saksena Sang Pahlawan



Jaga Saksena mengajarkan tata cara sholat pada Begawan Teja Surendra dan Patih Sepuh Labda Lawana. Untung saja sang begawan ke mana-mana membawa alat tulisnya sehingga mempermudah proses pengajaran.


Jaga Saksena tak urung dibuat kagum oleh sang begawan yang mampu menulis dengan baik meski hanya dibantu sinar rembulan yang redup.


Hingga ketika ayam berkokok, Jaga Saksena pamit untuk sembahyang. Sembahyang yang banyak, dikarenakan akibat bertarung ia terlewat beberapa waktu sholat.


Usai sembahyang,


"Sanak Jaga, kenapa banyak sekali kau sembahyang? Bukankah seharusnya hanya ada lima kali dan pada waktunya masing-masing seperti yang kau ajarkan?"


"Begini, Begawan. Dalam keadaan yang sangat mendesak seperti dalam pertarungan antara hidup dan mati, sembahyang bisa ditinggalkan. Akan tetapi harus dikerjakan jika sudah memiliki kesempatan."


"Oh ... Artinya kau meninggalkan sejak dhuhur!"


"Benar sekali, tak kusangka di usia sepuh begini kau masih begitu limpad, Begawan!" puji Jaga Saksena.


"Karena kecendiakawan-annya, Begawan Teja Surendra berulang kali diminta menjadi penasihat Raja, Den Jaga. Tetapi dia selalu menolak," ujar Patih Sepuh Labda Lawana menguatkan pujian Jaga Saksena pada sang begawan.


"Rosululloh ﷺ pernah bersabda, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain."


Jaga Saksena seperti mengarahkan agar Begawan Teja Surendra menerima permintaan Raja Basukamba karena kepandaiannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


"Aknlan kupertimbangkan," singkat Begawan memahami perkataan Jaga Saksena.


"Aku menjadi saksi ucapanmu, Kawanku Begawan Teja Surendra!" ucap Patih Sepuh Labda Lawana tak menyia-nyiakan kesempatan. Sebab selama ini Begawan Teja Surendra selalu menolak mentah-mentah secara langsung, tidak pernah berkata akan mempertimbangkannya.


*


Fajar mulai menyemburat di ufuk timur, Jaga Saksena mengajarkan sembahyang subuh secara berjamaah dengan dirinya menjadi muadzin sekaligus imam.


Mendengar Jaga Saksena membacakan ayat-ayat suci, Begawan Teja Surendra dan Patih Sepuh Labda Lawana terlarut dalam indahnya bacaan sang pemuda.


Usai sembahyang.


"Sanak Jaga, bacaan yang kau ajarkan ternyata ketika dibaca dengan langgam begitu menyentuh hatiku. Bisakah kau ajarkan arti dari semua kalimat-kalimat ini?"


"Tentu, Begawan. Bismillahi, dengan menyebut nama Alloh ...."


Jaga mulai mendiktekan makna-makna kalimat yang dibaca di dalam ritual sembahyang, sementara sang begawan dengan cekatan menulisnya.


Begawan Teja Surendra menunjukkan dirinya seorang tua yang haus ilmu.


Mereka terus dalam keadaan seperri itu, sampai ketika seseorang datang dari arah timur. Ia tampak berlari sangat kencang.


"Host ... Host ...!"


"Senopati Sundul Mega!"


Lelaki yang datang memang Senopati Sundul Mega adanya.


Usai tarik napas dalam-dalam, Senopati Sundul Mega bertanya pada sang patih.


"Patih Sepuh, bagaimana situasinya?"


Senopati Sundul Mega sungkan bertanya pada Jaga Saksena sebab melihat pemuda itu hanya mengangguk hormat padanya lalu kembali sibuk mendiktekan sesuatu pada Begawan Teja Surendra.


Pemandangan yang bagi sang senopati sangat langka. Senopati Sundul Mega tahu persis kepandaian dan kecendekiawanan Begawan Teja Surendra, tetapi kali ini sang begawan tengah mencatat dari seorang pemuda.


Maka Senopati Sundul Mega tak berani mengusik keduanya.


"Sudah terkendali penuh, Senopati. Sundara Watu sudah tewas di tangan Den Jaga atas bantuan Begawan Teja Surendra." Patih Sepuh Labda Lawana memang seorang yang rendah hati, ia hanya menyebut Jaga Saksena dan Begawan Teja Surendra padahal lantaran dirinyalah juga Sundara Watu bisa dikalahkan.


"Apakah ledakan besar di langit semalam?"


Senopati Sundul Mega bertanya kembali, sebab sebelum berangkat ia sempat mencari petunjuk pada orang-orang ke mana kiranya harus mencari Jaga Saksena.


Dari beberapa orang, Senopati Sundul Mega mendengar, semalam ada ledakan super dasyat terjadi di langit sebelah barat.


Atas warta inilah Senopati Sundul Mega mencari Jaga Saksena ke arah barat menembus pegunungan Bumati.


"Benar, Senopati!" jawab singkat Patih Sepuh Labda Lawana.


"Aku pergi menemui guru. Akan tetapi guruku tidak tahu kelemahan Sundara Watu, saat aku kembali Raja memerintahkanku untuk mencari Den Jaga, memastikan semua baik-baik saja."


"Tunggulah sebentar lagi," ujar Patih Sepuh Labda Lawana.


Sebelumnya, ketika diperintahkan oleh Raja Basukamba untuk mencari kelemahan Sundara Watu, Senopati Sundul Mega pergi ke kediaman gurunya dengan mengerahkan lari cepatnya.


Raja Basukamba pun memerintahkan Senopati Sundul Mega untuk mencari keberadaan Jaga Saksena.


Raja Basukamba sendiri tidak tahu jika Patih Sepuh Labda Lawana telah kembali dan membawa kelemahan Sundara Watu. Sebab Patih Sepuh Labda Lawana atas desakan Begawan Teja Surendra langsung menuju tempat pertarungan demi menghemat waktu. Dan benar, andai Patih Sepuh Labda Lawana dan Begawan Teja Surendra terlambat sedikit saja, mungkin Sundara Watu belum bisa mereka kalahkan.


*


Pendiktean arti bacaan dalam ritual sembahyang selesai, Patih Sepuh Labda Lawana mengajak Jaga Saksena dan Begawan Teja Surendra untuk menemui Raja Basukamba.


Kedatangan mereka pun disambut meriah oleh ribuan rakyat yang sedang gotong-royong. Kompak para warga memperbaiki tembok kota, menyingkirkan pohon yang tumbang dan mengebumikan mayat-mayat yang bergelimpangan juga mengumpulkan senjata-senjata yang berceceran.


Jaga Saksena dielu-elukan sebagai pahlawan. Namanya kini dikenal oleh seluruh penduduk Kerajaan Saindara Gumilang.


Di antara orang-orang ramai tersebut, berdiri seorang lelaki kekar bertelanjang dada. Ia mendelik mata demi melihat ternyata yang dielu-elukan oleh warga adalah seorang yang mengingatkannya pada kejadian tujuh tahun silam.


"Di-dia?!" gagap lelaki tersebut sebelum memastikan apa yang dilihat mata tidak salah kemudian membalik badan dan segera pergi untuk menghadap ke majikannya.


***


Sampai di gerbang istana, tidak ada yang menyambut Jaga Saksena dan rombongan kecilnya kecuali Sungsang Gumilang dan Putri Andara Anesha Sari serta para prajurit lingkar istana.


Rupanya Raja Basukamba tengah memimpin pasukan khusus bersama Tumenggung Wiryateja untuk menyapu bersih pemberontak setelah pagi-pagi benar mendapat laporan bahwa para rakyan terbunuh.


Jaga Saksena dan tiga lainnya diarahkan ke dalam istana untuk membersihkan diri dan ditunggu di tempat jamuan makan.


Menerima kabar menggembirakan bahwa Sundara Watu telah terbunuh, Putri Anesha Sari memerintahkan salah satu prajurit lingkar istana untuk memberitahu hal tersebut pada Raja Basukamba sekaligus memberitahukan bahwa Jaga Saksena telah kembali.


*


Beberapa saat kemudian, di ruang jamuan makan yang besar.


Sruputttt!


Dengan sedikit kasar, Sungsang meneyeruput teh pahit di hadapannya. Untuk makan ia harus menunggu dipersilahkan saat nanti semua undangan telah datang. Sedangkan untuk saat ini baru dirinya dan Putri Anesha Sari yang telah duduk di kursi masing-masing.


'Ke mana saja Senopati Ragnala Raksa, kenapa belum tampak bayang hidungnya!?' batin Sungsang. Wajah dan gerak geriknya tampak gelisah sebab hingga siang begini Sungsang belum menerima hadiah seribu keping emas dari sang Senopati Ragnala Raksa.


Saat utulah, tiba-tiba Anesha Sari berkata,


"Tenanglah, kemungkinan Senopati Ragnala pergi menemui maha gurunya di ujung timur Jawadwipa."


"Apa?!"


Hampir saja Sungsang terjengkang bersama kursi yang ia duduki. Bagaimana tidak, jika benar-benar Senopati Ragnala Raksa pergi ke sana, dengan lari secepat serwiti pun akan butuh beberapa hari.


'Goblok sekali senopati itu!' maki Sungsang dalam hati. 'Mencari tahu kelemahan musuh yang sedang bertarung kok sejauh itu. Andai musuh tidak bisa dikalahkan, saat ia kembali kami sudah jadi serundeng gosong!'


Melihat kekagetan orang hingga hampir terjengkang, Anesha Sari hanya tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang menambah kecantikan wajah.


Anesha Sari tahu pendekar merah yang tak mau menyebutkan namanya itu tengah menunggu Ragnala Raksa, sebab sudah beberapa kali dia menanyakan keberadaan sang senopati untuk meminta hadiah yang dijanjikan.


Tak berapa lama, anggota keluarga raja memasuki ruang jamuan makan bersama Sang Permaisuri Mahiswari.


Untuk beberapa saat Sungsang harus terdiam mematung dalam duduknya hingga lupa memberi hormat. Mata Sungsang tak bisa berkedip melihat kecantikan beberapa saudari Anesha Sari.


Ini memang jamuan makan besar untuk merayakan kemenangan perang sehingga semua anggota keluarga raja diundang. Bukan hanya permaisuri dan putra putrinya, tetapi juga tiga selir beserta putra putri mereka sekaligus para anak menantu dan orang-orang yang berjasa dalam perang kemarin.


Ketika semalam Raja Basukamba memerintahkan para abdi dalem untuk mengadakan jamuan makan besar, raja belum mendapat laporan adanya pembunuhan para rakyan. Sehingga bisa dikata, jamuan makan kali ini tidak terencana dengan baik atau terganggu oleh peristiwa terbunuhnya para rakyan.


Tatakala para keluarga raja telah duduk di tempat masing-masing sesuai kedudukan mereka, Sungsang masih melihat ke arah seorang putri selir. Rambutnya diikat rapi dari atas ke bawah, ketika ia tersenyum ada lesung pipit menghias pipinya. Alisnya yang tebal panjang dengan mata lebar membuat Sungsang tak mau berhenti menatapnya.


"Siapa urakan berbaju merah itu, mengapa dia tidak hormat kepada kita?! Dan tatapannya sungguh menjijikkan!" bisik Putra Mahkota Kama Kumara pada adik kandungnya, Tamawijaya.


"Dia salah satu pahlawan berjasa dalam perang kemarin. Dia orang yang akan menerima hadiah dari Senopati Ragnala Raksa sekaligus penjaga pribadi Jaga Saksena."


"Apa?! Dalit itu punya penjaga pribadi?!" kaget Kama Kumara sekaligus tidak percaya.


"Demikian yang kudengar dari Aswangga. Kau tahu Aswangga tidak pernah berbohong bukan?!" balas Tamawijaya.


Kama Kumara menggepalkan tangannya kuat. Andai dulu ia berlatih dengan keras pasti dirinya kini menjadi seorang putra mahkota sekaligus pendekar tanpa tanding sehingga bisa ikut berperang sebagaimana adiknya yang terus mendapat pujian dari Byungda Permaisuri Mahiswari. Bukan itu saja, 'Dan seharusnya aku bisa menendang Jaga Saksena dari sisi adi Anesha Sari!'


Kama Kumara tidak bisa menerima jika Anesha Sari diperistri oleh orang biasa. Dalam pikiran dan rasanya, seorang putri haruslah diperistri seorang pangeran suatu kerajaan.


Bahkan Kama Kumara tetap tidak setuju meski baru saja diberitahukan pada keluarga raja bahwa Jaga Saksena berhasil membunuh Sundara Watu, seorang yang ditengarai sebagai otak pemberontakan dan penyerangan manusia Suku Lembah Kenabala.


'Jika aku yang menjadi raja, Jaga Saksena cukup diberikan hadiah keping emas dan beberapa budak wanita!'