Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 36. Hendak Dikuliti



Sebelumya, Jaga Saksena yang dibawa lari oleh Rawal telah diletakkan di tempat aman, sebuah pohon besar yang memiliki rongga.


Rawal menyuruh Jaga Saksena masuk ke dalam rongga tersebut lalu menutupinya dengan dedaunan agar tersamarkan.


"Jaga, kau tetaplah di sini sampai situasi aman! Aku akan membantu Adi Pekok!"


"Biarkan aku ikut, Paman! Kita hajar mereka!"


"Ini bukan urusan seorang anak kecil, Jaga."


Jaga Saksena terdiam, ia sadar dirinya hanya akan menjadi beban jika memaksa ikut.


Usai menutupi rongga kayu, Rawal yang hendak pergi berkata,


"Jaga, mula pertama kami melihatmu sebenarnya kami ingin menangkapmu untuk kami jual sebagai budak. Akan tetapi entah mengapa seiring berjalannya waktu, aku dan Adi Pekok merasakan hal yang sama. Bagi kami, kau adalah keluarga. Bagi kami, kau adalah sahabat. Tetaplah hidup! Aku pergi dulu, Jaga!"


Perkataan itulah yang membuat Jaga Saksena menyusul Rawal.


*


Sekarang ... Di atas panggulan Wilantaka, tak terasa, Jaga Saksena meneteskan air mata.


Air mata yang tertinggal akibat lari kencang Wilantaka.


'Paman Rawal ... Paman SuPekok ... Jika aku selamat, kelak aku akan mengirim mereka ini semua ke alam penyiksaan abadi!'


Jaga hanya bisa berkata dalam hati, sebab seluruh tubuhnya terasa kaku, tidak bisa digerakkan sama sekali.


Malam telah menutupi mayapada kala lima pendekar itu memasuki halaman sebuah rumah megah.


Kedatangan mereka segera disambut seorang lelaki berbadan besar, bertelanjang dada.


"Kalian tunggulah di sini, aku akan melapor le Raden Bakintal!" ujar lelaki berbadan besar lalu bergegas masuk.


"Ndoro ...! Ndoro ...! Ndoro ...!"


"Tahan mulutmu Jakala, atau kurobek! Apa kau tidak melihat aku sedang melakukan puja mantra?!"


"Maafkan hamba, Ndoro."


Raden Bakintal dan istrinya memang tengah berada di ruangan khusus. Keduanya menghadap bokor tempat pembakaran dupa. Di depan bokor, terdapat peti di mana jasad tanpa nyawa putra mereka terbaring kaku. Mayat itu telah diberi ramuan khusus agar tidak membusuk.


Sebelumnya, Raden Bakintal telah bersumpah tidak akan mengebumikan atau pun memperabukan mayat putranya selama pembunuhnya belum tertangkap.


"Tunggu di situ!" bentak Raden Bakintal, membuat Jakala menunggu diam dengan posisi bersimpuh di luar ruangan yang tak berpintu.


Tak berapa lama, Raden Bakintal keluar. Sementara istrinya masih melanjutkan ritual.


"Ada apa Jakala?!"


"Ijin melapor, Ndoro. Lima pendekar datang membawa pembunuh Raden Takil."


"Dasar Guoblogk! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" marah Raden Bakintal sembari bergegas keluar untuk menemui lima pendekar yang datang.


Tiba di halaman,


"Raden Bakintal! Bocah inikah yang kau cari?!" Wilantaka bertanya sembari menurunkan tubuh bocah dari pundaknya.


Di bawah cahaya obor, Raden Bakintal mengamati sosok si bocah yang tak bergerak sedikit pun.


"Jakalaaaa ...!" teriak Raden Bakintal.


"Hamba, Ndoro!" Jakala tergopoh menghampiri.


"Kau lihat bocah ini apa benar yang kita cari?!"


"Baik, Ndoro!"


Jakala mengambil obor lalu mendekatkan ke wajah si bocah.


"Benar, Ndoro! Dialah yang kita cari!"


"Kau tidak salah Jakala?"


"Tidak, Ndoro. Ini sudah sesuai. Lihatlah kapak batunya juga ada," ucap Jakala meyakinkan.


"Akhirnya! Ha ha ha ha!"


Tertawa pelan, Raden Bakintal maju bermaksud hendak menjambak rambut si bocah.


Melihat gelagat sang raden, Wilantaka maju satu langkah menghadang,


"Dasar pendekar-pendekar mata kuning!" umpat Raden Bakintal lalu berteriak. "Jakalaaaa ...!"


"Hamba di sini, Ndoro!"


"Kau ambilkan keping emas di kamarku. Dua kantong besar. Kau ambil pula lima kantong kecil lagi sebagai tambahan. Biar mereka tahu siapa Raden Bakintal!"


"Siap, Ndoro!"


"Ha ha ha! Kau memang raden sejati, Raden Bakintal!"


Yang memuji adalah Kipala Sanga, tidak perlu dirinya meminta, ternyata telah diberi tambahan.


"Berurusan dengan Raden Bakintal, takkan pernah terkecewakan!" sahut Raden Bakintal dengan sedikit menengadah kepala, jumawa.


Tak berapa lama, Jakala kembali membawa dua kantong besar masing-masing berisi seribu keping emas dan lima kantong kecil.


"Berikan pada mereka!" perintah Raden Bakintal tak mau menyentuh kantong miliknya sendiri.


Setelah diterima, Raden Bakintal menyuruh mereka untuk menghitung keping emas.


"Aku hanya perlu tahu ini keping emas, tidak perlu menghitungnya," ujar Wilantaka membuka kantong besar lalu menimangnya.


Dengan hanya menimang, Wilantaka tahu berapa keping emas di dalam kantong. Hal yang sama dilakukan oleh Kipala Sanga.


Keduanya saling pandang lalu mengangguk.


"Senang berurusan, denganmu, Raden Bakintal!" Wilantaka tersenyum puas. "Kuberikan bocah dalit ini untukmu. Jika kau butuh bantuan kami, kau tahu di mana menemukan kami! Ha ha ha ha!"


Wilantaka dan empat kawannya tertawa lalu pergi begitu saja.


Tak pedulikan kepergian lima pendekar, Raden Bakintal memberi perintah,


"Kau bawa bocah ini ke belakang, Jakala! Dan siapkan alat untuk mengulitinya hidup-hidup!"


"Siap, Ndoro!"


*


Di belakang rumah Raden Bakintal, di mana terdapat tembok tinggi mengelilingi.


"Maafkan aku, Bocah Dalit. Kau harus kuikat!" desis Jakala sembari mendirikan tubuh Jaga Saksena di depan kayu palang, lalu merentangkan dua tangan si bocah kemudian mengikatkan pada palang tersebut.


Demikian juga dengan kaki si bocah.


Usai mengikat dengan kuat, Jakala mengambil peralatan untuk mengupas kulit kerbau kemudian melapor pada sang ndoro.


Segera Raden Bakintal yang telah berganti pakaian serba hitam bergegas menuju ke belakang rumah.


Mengambil pisau kecil tajam yang telah dipersiapkan, Raden Bakintal memberi perintah,


"Bebaskan totokannya, Jakala! Aku ingin bocah ini merasakan betapa sakitnya hati orang tua yang kehilangan putra satu-satunya!"


Jakala mengangguk, lalu maju.


Thak!


"Uahhh ...! Akhirnya aku bisa bicara!" Bebas dari totokan, Jaga Saksena langsung berteriak, "Hai Raden Bakintal! Ketahuilah, bukan aku yang membunuh putramu!"


Bocah itu meronta, tetapi tali yang mengikat terlalu kuat.


"Lalu siapa yang membuat putraku jatuh dari atas pohon?!"


"Yah, jika itu yang jadi pertanyaanmu, kuakui memang karena aku. Tetapi itu kesalahannya! Dia yang menarikku!"


"Akhirnya kau mengakui juga, Bocah Dalit!" Membentak demikian, Raden Bakintal mendongak ke angkasa lalu berseru,


"Saksikan wahai putraku, aku telah menangkap orang yang telah membunuhmu. Akan kukuliti tubuhnya untuk menyelimuti ragamu! Akan kualirkan darahnya untuk menyirami pusaramu!"


Raden Bakintal maju perlahan, membawa pisau yang berkilat meski hanya diterpa cahaya obor. Sementara Jaga Saksena hanya bisa memejam mata seraya menggigit bibir bawah.


Tak bisa dipungkiri, hati Jaga Saksena ditelusupi rasa takut. Bayangan seluruh tubuhnya dikuliti membuat bulu kuduk di tengkuk mulai berdiri ngeri.


'Duhai Yang Maha Pencipta ... Mohon dengan segala kemahaan-Mu, kuatkan aku ....' Jaga Saksena memanjatkan harap dalam hati.


"Aku akan memulai mengulitimu dari leher, Bocah!" bisik Raden Bakintal.


Jaga Saksena merasakan dinginnya bilah pisau menempel di lehernya. Ketika pisau itu berjalan perlahan, ada rasa perih di sana.