Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 58. Tantangan Sujiwala



"Assalamualaikum wa rohmatulloh, Muridku!"


"Wa'alaikumu ssalam warahmatullahi wa barokatuh, Guru?!"


Jaga Saksena bangkit untuk segera sungkem dan memeluk gurunya.


"Sungguh senang Guru berkenan mendatangi murid."


Jaga Saksena tersenyum bahagia.


"Bagaimana dengan dakwahmu, Jaga?" tanya sang guru mengajak Jaga duduk kembali.


"Segala jenis puji hanya milik Gusti Alloh Ta'ala semata, Guru. Hanya saja, murid punya ganjalan ...."


Jaga Saksena menceritakan apa adanya tentang keinginannya untuk memburu kelompok Pemburu Bu dak Gunung tetapi di sisi lain juga ingin mendidik di desa Debogsari.


Mendengar ini, sang guru tersenyum lalu berkata, "Ajarkan mereka rukun iman dan islam selama tiga hari. Lalu pergilah kau ke Kerajaan Saindara Gumilang."


"Baiklah, Guru. Apakah itu sudah cukup Guru?"


"Sebelum pergi, kau naiklah ke puncak bukit Tulangula. Kibarkan kain ini di puncak pohon tertinggi di sana." Sang Guru memberikan selembar kain putih bertuliskan kalimat la ilaha illalloh, lalu melanjutkan,


"Dan katakan pada warga akan ada saudaramu dari seberang yang akan datang untuk meneruskan membimbing mereka."


"Guru akan mengirimkan murid-murid dari seberang?"


"Benar, Jaga. Setelah waktunya tiba."


"Terimakasih Guru! Terimakasih Guru!" Jaga Saksena merasa lega, senang sekaligus bahagia.


"Guru pergi dulu, Jaga. Assalamu'alaikum!"


Ketika Jaga hendak menjawab salam,


"Kukuruyuyuuuuuuk ...!"


Jaga Saksena terbangun oleh suara kokok ayam jago di sebelah samping rumah.


"Wa'alaikumu ssalam warahmatullahi wa barokatuh, Guru ... Rupanya aku hanya bermimpi ...." gumam Jaga Saksena menjawab salam sang guru.


Namun, ketika pemuda itu hendak mengusap wajahnya sendiri, ia mendapati selembar kain putih di tangannya.


"K-kain ini?!"


Jaga Saksena membaca tulisan arab di atas lembaran kain,


"Laa ilaaha illallooh!"


Pemuda itu terdiam sesaat untuk kemudian mengambil kesimpulan,


"Guru benar-benar mendatangiku. Sami'na watho'na Guru!"


*


Pagi yang cerah, secerah suasana hati warga desa yang mengunjungi Jaga Saksena di pendopo kediaman Ki Lurah Danuranda.


Para warga itu datang dengan membawa berbagai makanan, ada juga yang membawakan pakaian. Di antara mereka terdapat Bekel Anom Dwijaya juga Bekel Sepuh Tangguljati.


Kendati semalam sibuk mengebumikan mayat bersama para pemuda, Bekel Anom Dwijaya pagi ini bersemangat untuk datang.


Para warga ini datang setelah merawat ternak peliharaan. Lagi, musim ini adalah musim menunggu datangnya hujan sehingga mereka tidak ke sawah ladang. Musim yang biasanya akan mereka gunakan untuk menumpuk kayu bakar atau membuka lahan baru. Tetapi berhubung ada seorang pemuda yang sangat menyedot perhatian dengan ajaran barunya, mereka berbondong-bondong untuk menemui sang pemuda.


Jaga Saksena menyambut kedatangan warga dengan senang, wajahnya bersinar ceria. Senyuman dan tatapan matanya ramah serta menentramkan.


Ketika barang bawaan para warga diberikan padanya, alih-alih menerima untuk diri sendiri, Jaga Saksena mengajak mereka makan bersama. Sementara pakaian yang telah ia terima hanya disimpan satu saja. Selebihnya diberikan lagi kepada yang membutuhkan.


Sesuai perintah sang guru, pagi ini Jaga memulai pengajaran dasar tentang rukun iman.


Tahap kedua Jaga mengajarkan rukun islam dan tatacara sembahyang. Tahap yang memerlukan waktu karena sembahyang memakai bahasa arab cukup sulit bagi warga. Bahkan mereka menawar agar sembahyangnya diganti pakai bahasa mereka sendiri.


Dengan tersenyum ramah Jaga menerangkan bahwa sholat harus memakai bahasa asli sebagaimana diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.


"Jalankan sebisanya dulu, Paman. Yang penting hati ini selalu ingat kepada Gusti Alloh," pungkas Jaga Saksena.


Di hari pertama, semua berjalan lancar. Tidak di hari kedua, ketika Jaga Saksena tengah syahdu membimbing pengucapan surat alfatihah, tiba-tiba beberapa orang datang dan langsung berteriak keras,


"Siapa yang berani membawa ajaran baru?!"


Seorang lelaki berbadan besar, berpakaian sutera dengan rambut digelung ke atas kepala. Dialah yang berteriak dari halaman pendopo. Di belakang lelaki tersebut, berdiri empat orang bertelanjang dada. Akar bahar melingkar di lengan kekar ke empatnya, menambah kesan makin sangar.


Mendengar bentakan orang, Ki Lurah Danuranda _yang duduk bersama warga mengelilingi Jaga Saksena_ bangkit lalu berkata tak kalah lantang,


"Sujiwala! Tidak semestinya kau mengeraskan suaramu di kediamanku!"


"Cihh! Aku tahu kau menggunakan kesempatan ini untuk mendulang dukungan padamu, Danuranda!" tuduh Sujiwala masih dengan berteriak lantang.


Ki Lurah Danuranda mencondongkan tubuhnya ke arah Jaga Saksena yang masih duduk, berkata,


"Den Jaga, ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan hadapi dulu mereka."


Usai berkata, Ki Lurah Danuranda melangkah keluar pendopo.


Saat itulah Bekel Sepuh Tangguljati yang juga mengikuti pengajaran mendekat ke Jaga Saksena dan berkata lirih,


"Juragan Sujiwala menginginkan lurah selanjutnya digantikan oleh putranya. Padahal dari lima istrinya, belum ada satu pun yang melahirkan seorang anak lelaki. Sedangkan Ki Lurah Danuranda sudah punya putra lelaki. Sehingga Ki Lurah keberatan."


Jaga Saksena mengangguk memahami, "Jika begitu mari kita ke halaman."


"Mari, Den."


Saat yang sama, di halaman pendopo, cekcok mulut makin memanas, sebab Danuranda menolak mentah-mentah tuduhan Sujiwala. Karena pada dasarnya, meski tidak mencari dukungan warga, secara aturan tidak tertulis, putra Danuranda'lah yang akan meneruskan kepemimpinan lurah desa.


Perdebatan tentang siapa penerus lurah berhenti ketika Jaga Saksena berdiri di samping Ki Lurah Danuranda. Bukan karena Sujiwala kalah tetapi ia mengalihkan keributan dengan menuding wajah Jaga Saksena sembari berkata lantang,


"Kau! Beraninya mengajarkan bahwa semua orang sama. Jelas tidak! Aku kesatria dan mereka," Sujiwala menunjuk para warga biasa. "hanya rakyat rendahan! Tidak akan pernah sama denganku!"


"Di hadapan Gusti Alloh, semua sama. Hanya siapa yang lebih patuh pada-Nya, maka akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi-Nya."


"Pembohong! Hanya karena kau tidak memiliki apa yang kesatria miliki, maka kau ingin menghancurkan kedudukan mereka dengan ajaran barumu! Ngaku!!" Suara Sujiwala makin meninggi saja.


"Yang kukatakan adalah kenyataan bukan untuk tujuan seperti yang kau tuduhkan. Dan aku hanya mengajak kepada warga untuk kembali mengesakan Sang Maha Pencipta." Jaga Saksena menjawab dengan tenang, ini membuat Sujiwala berpikir untuk menguji sekaligus menjajal kemampuannya.


"Baija!"


"Siap Juragan!"


"Kau tunjukkan kepiawaianmu!"


Yang dipanggil Baija mengangguk lalu maju. Mulutnya komat-kamit sebelum tetiba menyentakkan tangan ke arah beberapa batu kerikil.


Ajaib, lima batu kerikil tersebut tiba-tiba melayang-layang ke udara setinggi dua tombak.


Juragan Sujiwala tersenyum jumawa lalu menantang,


"Jika benar kau adalah penyeru kebenaran, buktikan kau mampu melakukan keajaiban sebagaimana anak buahku, Anak Muda!"


Sontak saja, tantangan ini membuat para warga yang telah ikut berdiri di halaman menjadi gaduh.


Mereka mulai merasa khawatir Jaga Saksena takkan bisa meladeni tantangan. Sebab Jaga hanya seorang pendekar, bukan seorang dukun apalagi tukang sihir.


Mereka merasa lebih yakin jika Jaga ditantang untuk adu jotos atau duel maut daripada adu tanding keajaiban.