Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 82. Pertarungan Menggila



Meski berhasil kabur, Jaga Saksena belumlah sentosa, sebab Sundara Watu telah kembali meluncur. Jelas manusia batu itu tidak akan memberikan kesempatan hidup pada lawannya tersebut.


Terus melesat dalam kejaran Sundara Watu, Jaga Saksena himpun tenaga dalam sekaligus kekuatan ruh. Karena kali ini lawan benar-benar kuat.


Wusss!


Jaga menuju tembok barat, ketika sejengkal lagi tubuhnya menabrak tembuk, ia pancalkan kaki untuk melenting ke udara.


Tidak dengan Sundara Watu, ia bablas ke barat menghajar tembok hingga,


Blarr!


Tembok hancur jebol berkeping-keping meninggalkan lubang menganga.


"Rasaning Rasa!"


Wsssh!


Di udara, Jaga kerahkan segenap kemampuan, lepaskan tinju jarak jauh.


Energi bercahaya terang menyerupai kepalan tangan meluncur, ke arah bawah barat. Menghajar tubuh bulat Sundara Watu dari arah belakang.


GLAARRRDH ...!!!


Tubuh Sundara terdorong hebat, meluncur sangat jauh menabrak apa pun yang dilaluinya hingga mencapai deretan pegunungan dan akhirnya hilang menembus bumi.


"Hufft ...!"


Mendarat, Jaga Saksena membuang napas untuk bersiap kembali melancarkan serangan. Sebab ia belum yakin jika lawannya itu telah kalah.


Benar saja, beberapa saat kemudian, jauh di arah barat lamat-lamat mata tajam Jaga melihat benda melesat dengan kecepatan luar biasa. Asap mengepul darinya akibat udara yang terbakar.


"Sepertinya aku harus mencari pusaka untuk berjaga-jaga jika menemui lawan sekuat ini lagi!"


Kembali himpun tenaga dalam dan juga kekuatan ruh, tubuh Jaga Saksena pasang kuda-kuda kokoh condong ke depan. Dan,


Wunggggg ...!


Jaga Saksena kembali lepaskan tinju Rasaning Rasa dengan kekuatan luar biasa dasyat hingga suasana senja kembali terang.


Cahaya energi melabrak menyambut kedatangan Sundara Watu.


GLENGGGGGGG ...!


Ledakan kembali terdengar. Tanah bergetar hebat. Benda-benda bersemburatan.


Tubuh Sundara Watu kembali terhantam hebat hingga mencelat balik sangat jauh menabrak apapun yang dilaluinya hingga menembus deretan pegunungan di ujung barat sana dan hilang.


Namun,


Wusssssh!


Sundara Watu kembali datang!


GLENGGGGGGG!


GLENGGGGGGG!


GLENGGGGGGG!


Entah telah berapa kali dentuman terdengar, dan selalu saja Sundara Watu kembali lagi dan lagi.


Semua orang yang menyaksikan pertarungan berdecak kagum sekaligus ngeri.


Hingga matahari tenggelam dan pasukan yang mengejar Suku Lembah Kenabala kembali dari perburuannya, pertarungan Jaga Saksena melawan Sundara Watu masih berlanjut.


Raja Basukamba pun telah bangkit dari duduknya memeluk hangat Putri Anesha Sari yang telah berjuang bahkan menyelamatkannya.


"Terimakasih Putriku. Mari kita bantu Calon Suamimu. Ramanda tak ingin kau menjadi janda sebelum resmi menjadi istri!"


Di saat seperti ini, Raja Basukamba masih mencandai Anesha Sari, tetapi bukan sekedar candaan. Itu adalah pertanda Sang Raja merestui hubungan mereka.


"Ramanda bisa saja. Bagaimana kita membantu Jaga, Ramanda? Lelaki batu itu sungguh sangat kuat! Dia kebal dengan segala hantaman ajian dan benda!"


"Prajurit! Panggil patih dan senopati yang ada!" seru Raja Basukamba pada seorang prajurit yang berdiri tidak jauh darinya.


Tak lama Patih Sepuh Labda Lawana dan tiga senopati menghadap.


"Kalian tahu siapa Sundara Watu itu?!"


Empat pembesar saling bertatap mata sebelum menjawab serempak,


"Tidak, Yang Mulia Raja Basukamba!"


"Tetapi," tambah Patih Sepuh Labda Lawana. "Dalem pernah lihat dia berada di kesenopatian Asta Brajadaka."


"Asta Brajadaka?! Kemana dia?!" Raja Basukamba belum tahu ada pemberontakan di bawah pimpinan Asta Brajadaka.


Putri Anesha Sari menceritakan pemberontakan Asta Brajadaka dan Pradana Nararya dengan cepat sekaligus kematian keduanya.


Saat Anesha Sari bercerita, raja dan empat pembesar kerajaan tampak terkejut sekaligus geram bahkan mengepalkan tangan.


"Bagaimana dengan permaisuri dan yang lain?!" potong Raja Basukamba.


"Sentosa Ramanda, mereka telah bersembunyi di ruang rahasia!"


"Hufffhh ...!"


*


Cukup lega mendengar semua keluarga raja selamat, Raja Basukamba segera memberi titah pada empat pembesar kerajaan,


"Sundara Watu keparat itu ingin membunuhku. Kalian harus mencari kelemahan ilmu kebal miliknya!"


"Sendiko dawuh, Yang Mulia!"


Keempat pembesar itu segera pergi untuk menjalankan perintah meski menderita beberapa luka.


Di antara mereka berempat, Patih Sepuh Labda Lawana'lah yang paling ringan lukanya, ia hanya tergores anak panah di lengan. Lelaki tua itu melesat kencang ke arah timur sebelum nantinya ke utara untuk menemui Begawan Teja Surendra yang terkenal memiliki pengetahuan sangat luas.


Begawan Teja Surendra tinggal di sebuah gua di tebing gunung Tirtamaya di timur laut kerajaan Saindara Gumilang. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui kediaman uniknya tersebut.


Dengan kecepatan penuhnya, Patih Sepuh Labda Lawana masih memerlukan waktu lama untuk tiba di lereng gunung Tirtamaya.


Melesat dari satu batu ke batu lainnya, Patih Sepuh Labda Lawana akhirnya sampai di sebuah lubang mirip gua di tebing lereng.


Kemampuan yang luar biasa dari seorang Patih Sepuh Labda Lawana mengingat ini adalah malam hari.


Tep!


Mendarat di bibir gua, Labda Lawana meminta ijin masuk.


"Ada perlu penting apa kawan lama malam-malam begini menyambangiku??"


Sebuah suara menyambut diiringi pergerakan lentera dari dalam gua.


"Kau tidak pernah berubah, Begawan. Selalu bisa menebak kedatanganku."


"Hehehehe! Tidak perlu pengetahuan luas untuk tahu tujuan seorang sibuk sepertimu menyempatkan diri malam hari ke sini. Silahkan Patih ...."


Seorang lelaki tua yang semua rambut di kepala dan wajah telah putih semua berhenti tiga langkah di depan Patih Sepuh Labda Lawana sembari tersenyum ramah lalu mempersilahkan masuk.


Keduanya melangkah ke dalam gua lalu duduk di atas batu.


"Kedatanganku ke sini ...."


Singkat, padat, dan jelas Patih Sepuh Labda Lawana mengatakan apa yang tengah menimpa kerajaan.


"Sundara Watu ... Bertubuh batu, kebal ... Artinya dia kebal sejak lahir. Hemmm ...."


Begawan Teja Surendra mengulang poin penting yang dikatakan oleh Patih Sepuh Labda Lawana lalu menyimpulkan. Kemudian lelaki tua itu berdiri menuju sudut ruangan di mana ada sebuah lobang tempat barang-barang.


Mengambil sebuah benda berbentuk kotak, Begawan Teja Surendra kembali duduk di depan Labda Lawana lalu membuka kotak yang ia bawa.


Dari dalam kotak, Begawan Teja Surendra mengeluarkan sebuah kitab tebal dari kulit yang satu sisinya diikat satu sama lain.


Satu persatu Begawan Teja Surendra membuka lembaran kitab tersebut dengan bantuan cahaya lentera. Mata tuanya masih awas dan bisa membaca tulisan yang cukup kecil dari lembaran kitab.


Beberapa saat kemudian, di sebuah halaman bergambar Begawan Teja Surendra berhenti beberapa saat hingga akhirnya berkata,


"Carilah daun tawa, atau lihatlah gambar ini."


Begawan Teja Surendra menunjukkan gambar di atas lembaran kulit.


"Ya, aku mengerti Begawan. Ini bisa kutemukan," ujar Patih Sepuh Labda Lawana mengangguk.


"Kau rebuslah seratus lembar daun tawa hingga mendidih dengan kendil yang besar. Lalu gunakan air itu untuk menggebyur Sundara Watu. Ingat daunnya jangan dibuang gebyurkan sekaligus!"


"Hanya itu, Begawan?"


"Ada lagi, ceritakan ciri pemuda yang menahan Sundara Watu."


"Pemuda tampan, Begawan. Aku tidak tahu pasti tetapi sekilas aku melihat ia membawa kapak. Anehnya kapak itu tidak ia gunakan."


"Kapak batu'kah?!"


"Cukup jauh sehingga aku tidak bisa memastikannya, Begawan."


"Jika begitu, aku ikut denganmu!"


Mata Patih Sepuh Labda Lawana membeliak, belum pernah seorang Begawan Teja Surendra mau pergi dari kediamannya kecuali sangat penting. Bahkan meski diundang oleh Raja Basukamba sekali pun.