Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 57. Kembali Ke Ajaran Luluhur



Para warga mengerubungi Jaga Saksena bagai semut mengerubuti gula kelapa.


Banyak pertanyaan penuh kekaguman dilontarkan padanya.


"Siapa namamu, Anak Muda?"


"Bagaimana bisa kau sehebat tadi, Anak Muda? Itu sungguh luar biasa!"


"Bagaimana kalau kau tinggal di desa ini saja, Anak Muda? Rumahku sangat luas. Kau bisa menempati salah satu kamar!"


"Ya ya, rumahku juga sangat luas. Kebetulan dua anak gadisku juga sudah memasuki usia perkawinan, kau pilihlah satu!"


"Anak Muda, bagaimana jika kau ajari anak-anak kami beladiri sepertimu?! Kami siap memberikan imbalan sekuat kami!"


"Ajari kami juga! Agar sekuat dirimu!"


Permintaan para warga berhenti ketika Ki Lurah Danuranda ikut mendekat dan menghentikan mereka dengan berkata penuh wibawa,


"Sudah-sudah, Anak Muda ini adalah tamu kita. Tidak sepatutnya kita meminta berlebihan. Yang seharusnya kita lakukan adalah menjamunya!"


Ki Lurah kemudian mengucapkan terimakasih atas bantuan Jaga Saksena, demikian pula Bekel Anom Dwijaya.


Berbincang singkat dengan perkenalan dan tujuan perjalanan, Ki Lurah mengajak Jaga Saksena untuk ke rumahnya.


"Bagaimana dengan orang itu, Ki Lurah?" tanya Jaga menunjuk Jalada yang amblas di dalam tanah.


"Biarkan Bekel Anom Dwijaya yang akan mengurusnya. Mari, silahkan."


Jaga Saksena mengangguk lalu membersamai Ki Lurah menuju kediamannya diikuti oleh para warga yang masih ingin kepastian apakah Jaga Saksena akan bersedia mengajari kanuragan anak-anak muda desa atau tidak. Mereka juga masih sangat penasaran bagaimana bisa semuda Jaga telah menguasai kanuragan begitu hebat.


Sepeninggal Ki Lurah dan orang-orang, Bekel Anom Dwijaya dan beberapa pemuda desa yang mendapat tugas membereskan para mayat mengangkat tubuh Jalada.


"Ki Bekel Anom, akan kita apakan manusia tiada guna ini?!" tanya salah satu pemuda.


"Menurutmu?"


"Daripada menimbulkan masalah dikemudian hari, bagaimana kalau kita bunuh saja?!"


"Setuju!" sahut pemuda lain.


"Baiklah, pastikan manusia ini mati lalu kita kebumikan," putus Bekel Anom Dwijaya.


Mendapat persetujuan dari Bekel Anom, segera para pemuda hunus senjata.


Jalada yang kaku bahkan tak bisa bicara hanya bisa mengumpat memaki berteriak di dalam hati. Sebagai pendekar tangguh dirinya sungguh tak terima jika harus mati oleh para pemuda desa.


Namun begitulah ketentuan yang harus dijalani.


Crak! Bugh! Crak! Bugh!


Dijadikan sebagai sasaran latihan membacok dan memukul, Jalada tewas mengenaskan.


*⁰0⁰*


Pendopo di depan rumah besar yang seluruhnya dari kayu jati itu terang benderang. Puluhan obor ditancapkan di depan halaman. Damar (pelita) di tempel di setiap tiang penyangga pendopo, baik tiang yang di tengah maupun yang di pinggir.


Tampak Jaga Saksena duduk bersila di atas sebuah tikar pandan, berjajar dengan Ki Lurah Danuranda dan Ki Bekel Sepuh Tangguljati.


Beraneka makanan tersuguh di hadapan mereka.


"Sebelumnya mohon dimaafkan ...." Jaga Saksena yang dimintai sepatah dua patah kata setelah jamuan makan memulai berbicara.


Tak banyak basa-basi, Jaga Saksena berterus terang tidak bisa memenuhi keinginan para warga untuk dirinya tinggal lama dan memberi pengajaran beladiri. Karena selain harus ke Kerajaan Saindara Gumilang sejatinya Jaga Saksena malah lebih senang mengajarkan ilmu pengetahuan.


Jaga pun mulai membuka sedikit pembahasan,


"Semua manusia terlahir sama rata dan suci. Tidak ada dosa turunan atau pun kesalahan yang dibawa. Maka kita duduk sama rata. Yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Besar hanyalah Sang Maha Pencipta langit bumi dan seisinya—"


"Jadi Den Jaga tidak mengakui adanya kasta?!" sela salah satu warga.


Mendapat pertanyaan, Jaga Saksena tersenyum ramah. Lalu dengan halus dan mantap Jaga menjawab,


"Bukan hanya tidak mengakui, Paman. Tetapi kasunyatannya memang tidak ada. Dalam sejarahnya, kasta diadakan untuk kepentingan kaum tertentu di nagari hindi seberang lautan sana. Di leluhur kita tidak ada pembagian kasta. Kita duduk sama rendah, bergotong-royong dalam kehidupan."


"Menyembah adalah mengabdi sepenuh jiwa raga, menjalankan setiap perintah dari yang kita sembah. Lalu bagaimana menurutmu jika sesembahan kita banyak? Mudahnya, satu hari yang sama kalian bekerja pada tiga orang sekaligus. Apakah kalian akan mampu menjalankan semua perintah tiga orang tersebut?"


"Tentu saja kami akan kebingungan, Den Jaga!"


"Demikianlah, maka sembahlah Yang Maha Satu!"


"Tetapi," kembali salah satu warga mendebat. "tiga sesembahan itu memberi perintah yang tidak jauh beda, bahkan sama yakni satu pekerjaan. Bukankah bisa dijalankan secara bersamaan?"


"Lalu kepada siapa kau bertanggung jawab? Jika kepada si sesembahan pertama, apakah sesembahan ke dua dan ke tiga tidak akan marah ataupun tersinggung?"


"Iya juga yah ...?" Lelaki pendebat itu garuk kepala.


"Demikian juga alam semesta, pastilah yang Mencipta dan Maha Mengaturnya hanyalah satu, jika tidak, maka mereka akan saling menghancurkan satu sama lain," imbuh Jaga Saksena.


Semua terdiam, mencerna apa yang dikatakan oleh Jaga Saksena. Hingga, Ki Lurah Danuranda angkat bicara,


"Betul, eyang-eyang kami dulu selalu memberi wejangan, bahwa Maha Pencipta itu pasti satu jika tidak, maka akan hancurlah alam semesta akibat diserang oleh pencipta yang lain."


"Benar, mari kita kembali ke ajaran leluhur kita bahwa Ingkang Murbeng Wasesa Jagat hanyalah Gusti Pangeran yaitu Gusti Alloh!" pungkas Jaga Saksena sekaligus mengajak semua untuk mengesakan Sang Maha Pencipta.


"Aku akan ikut ajaranmu, Den Jaga. Ajari aku tentang ajaranmu itu!" seru salah satu warga mantap.


"Aku juga!"


"Aku juga!"


"Aku ikut!"


Demikianlah, sebagian besar warga berbondong-bondong menyatakan diri akan ikut ajaran yang dibawa oleh Jaga Saksena. Termasuk Ki Lurah dan juga Ki Bekel Sepuh.


Maka dengan senyum penuh kasih Jaga Saksena membimbing mereka mengucap dua kalimat syahadat,


"Asyhadu, nekseni ingsun ...."


"Asyhadu, nekseni ingsun ...."


Penuntunan dua kalimat syahadat berjalan lancar. Jaga Saksena mengucap hamdalah lalu berkata,


"Mulai saat ini, aku dan kalian adalah saudara dalam islam. Jika ada yang menyakiti kalian maka sama saja menyakitiku."


Sebuah ucapan yang entah mengapa menyeruakkan keharuan di hati para pendengarnya, sekaligus bangga karena bersaudara dengan seorang pendekar hebat seperti Jaga Saksena.


*


Sebab malam telah hampir dini hari, Jaga Saksena meminta mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Sedang pengajaran lebih lanjut akan ia lanjut besok pagi.


Semua pulang dengan senang hati kecuali dua orang yang tampak berbisik-bisik.


"Adi Indung, kita beritahu Juragan Sujiwala apakah ia berkenan memberi ijin kita untuk mengikuti ajaran ini? Jika tidak kita bisa diberhentikan dari kerja di sana!"


"Betul Kakang, pagi-pagi benar kita menghadap!"


Juragan Sujiwala merupakan orang terkaya di desa Debogsari. Ia sangat jarang terlihat berkumpul dengan warga.


Sujiwala lebih senang berada di rumahnya yang mewah, berkumpul dengan para istrinya yang berjumlah lima dan semuanya aduhai bertubuh menggoda.


Itulah mengapa, Sujiwala tak keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan pula, Sujiwala tak perlu risau akan pencurian atau perampokan, sebab banyak penjaga di rumahnya.


*


Jaga Saksena yang diberikan kamar khusus oleh Ki Lurah Danuranda belum membaringkan diri. Pemuda itu masih duduk membaca wirid selepas menjalankan sembahyang 'isya yang sempat tertunda akibat pertarungan.


Usai wirid,


'Aku harus segera ke Kerajaan Saindara Gumilang untuk memberantas Kelompok Pemburu Bu dak Gunung. Tapi, warga di sini sangat membutuhkan pengajaran. Duh Gusti .... bagaimana ini ....'


Jaga Saksena terus berbisik dalam hati, meminta petunjuk agar diberikan jalan keluar.


Tak terasa, Jaga tertidur dalam duduknya.