
"Aku gurumu, dan kau muridku. Kau tahu arti murid, Jaga?"
"Bagaimana Guru tahu namaku?" Jaga cukup terkejut sebab belum pernah menyebut namanya.
Tak ada jawaban dari sang guru kecuali sebuah senyum, maka Jaga melanjutkan menjawab,
"Tidak tahu Guru. Murid yang kutahu adalah pasangan kata guru. Seperti anak dan orang tua."
"Murid secara lafadz atau kata adalah sifat yang berasal dari aroda yuridu. Murid artinya yang menginginkan, maka kau harus mempunyai keinginan kuat untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Tinggalkan ilmu yang tidak bermanfaat."
Jaga Saksena mengangguk.
"Apa kau mengerti, muridku?"
"Tinggalkan yang tidak bermanfaat," jawab singkat Jaga Saksena membuat sang guru tersenyum.
"Siapa yang menciptakan langit, bumi dan seisinya?" tanya sang guru.
"Dia yang Maha Pencipta. Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Yang Maha Tunggal tak ada yang menyamai. Yang Maha Mengatur tak ada yang menandingi. Tan kena kinaya apa (Tak bisa ditangkap pikiran, tak bisa diandai-andai, tak bisa dibayangkan)."
"Subhanallah, Ma Sya Alloh ...."
"Kenapa Guru?"
"Kau termasuk yang selamat, masih memegang teguh ajaran Utusan terdahulu yang diutus ke kaummu."
"Aku tidak mengerti Guru."
"Siapa yang mengajarimu?"
"Byung, Guru."
"Pegang teguh itu karena itulah ajaran pertamaku untukmu."
"Baik, Guru." Jaga mengangguk patuh.
"Kedua, kau ikuti apa yang guru ucapkan."
"Baik, Guru."
"Asyhadu nekseni ingsun."
Jaga pun mengikuti ucapan sang guru."
"An ing temen sejatine kahanan, sejatine kelakuan."
"An ...." Jaga terus mengikuti dengan lancar.
"Iku, laailaha ora ono siji-sijio jinese sesembahan, kang patut disembah, kang haq disembah. Illallohu kejobo namung Gusti Alloh. Wa asyhadu ...."
Jaga terus mengikuti apa yang diucapkan gurunya meski belum mengerti benar.
Bagi Jaga, Gusti Alloh dan Kanjeng Nabi Muhammad begitu asing. Jaga baru mendengar sekaligus baru kali ini mengucapkan nama-nama tersebut.
"Jadi Yang Maha Pencipta itu menyebut diriNya sendiri dengan nama Alloh. Dan mensifati diriNya sendiri dengan banyak sifat setidaknya ada 99 sifat."
"Bagaimana Guru tahu semua itu, apa Guru berbincang dengan Gusti Alloh?"
"Gusti Alloh maha suci dari yang kita persangkakan. Tan kena kinaya apa, Laisa kamislihi syai-un. Guru hanya tahu itu semua _kemudian meyakini sepenuhnya_ dari guru yang terus bersambung hingga Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ. Kanjeng Nabi dari malaikat jibril malaikat jibril dari Gusti Alloh."
"Malaikat Jibril? Siapa dia Guru?"
"Malaikat Jibril adalah ...."
Dengan sabar, sang guru menjawab karena inilah yang ia inginkan. Seorang murid yang haus akan pengetahuan.
Keduanya sibuk dengan ilmu hingga tak terasa, waktu terus berlalu dengan cepat hingga matahari bergeser dari tahtanya di atas sana.
"Sepertinya sudah masuk dhuhur, waktunya kita sembahyang. Menyembah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Jaga. Yaitu sholat dhuhur."
"Dhuhur? Sholat?" tanya Jaga Saksena tak mengerti istilah baru lagi.
"Ya, kau sudah belajar rukun iman. Nanti kita belajar rukun islam. Untuk sekarang ikuti Guru. Kita harus ambil Wudhu terlebih dahulu."
"Rukun islam, Guru? Ternyata masih ada rukun lagi setelah iman. Lalu apa itu Wudhu, Guru?"
Semua bener-bener asing di telinga Jaga Saksena. Tetapi itu malah membuatnya bersemangat.
"Kita bahas setelah ini, mari," jawab singkat sang guru, bangkit dari duduknya lalu menuju ke luar gua.
Jaga pun mengikuti tanpa bertanya lagi.
Di luar gua, sang guru tampak mencari sesuatu.
"Guru mencari sesuatu? Biar murid bantu."
"Jika ada mata air, kau ingin mata air tersebut ada di mana, Jaga?"
"Di tempat tinggi seperti ini mana mungkin ada mata air guru. Tapi jika ada, murid ingin di situ!" Jaga menunjuk sebuah pohon cukup besar yang menempel di tebing ke atas di sisi mulut gua.
Sampai di dekat pohon, sang guru berdiam diri bagai batu lalu berdoa,
"Ya Hayyu, Ya Qoyyum, birohmatika astaghitsu."
Cleb!
Jaga Saksena membelalak mata sebab sang guru menusukkan tangan ke tanah berbatu bagai menusukkan tongkat ke lumpur becek.
Dan, ketakjuban Jaga Saksena tersebut baru permulaan, sebab selanjutnya ketika tangan sang guru ditarik kembali,
Cuuur!
Mata air mengalir keluar begitu saja dari lubang bekas tangan sang guru.
"Subhanallah Ma Sya Alloh ...!" ucap Jaga menirukan gaya gurunya.
Blegh!
Ketakjuban Jaga masih berlanjut, sang guru menghentak kaki. Seketika itu pula, tanah di bawah kakinya merekah memanjang membentuk aliran air sebagai jalan air untuk terus turun ke lereng.
'Apa sebenarnya aku tengah bermimpi?' bertanya dalam hati, Jaga Saksena diam-diam mencubit lengannya sendiri dengat kuat.
'Awwwh ...!'
"Kau tidak sedang bermimpi, muridku."
Jaga Saksena terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi meski hanya di dalam hati.
Tetapi satu yang ditangkap hati anak kecil itu, yaitu keyakinan kuat bahwa sang guru memang benar-benar pengganti Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ yang akan membimbing dirinya. Karena manusia biasa takkan mungkin bisa membuat keanehan-keanehan, keajaiban yang sungguh merobek adat kebiasaan!
***
Waktu berlalu dengan cepat.
Tak terasa, Jaga telah bersama sang guru selama sepekan. Dalam sepekan itu pula selain harus memahami, Jaga juga harus menghapal serta latihan baca tulis. Karena sang guru mewejang,
"Awal ilmu adalah hapalan, tetapi hapalan akan hilang. Maka kau harus menulisnya."
Tiada hari tanpa hapalan, tiada hari tanpa belajar. Jaga melahap itu semua dengan tanpa beban.
Namun pagi ini, setelah menyelesaikan belajarnya sang guru memberi materi tambahan.
"Waktunya menggembleng tubuhmu Jaga! Sebelumnya ketahuilah olehmu bahwa tubuh tidak akan hidup tanpa ruh. Namun, ruh masih tetap hidup tanpa adanya tubuh. Ruh sangat besar, akan tetapi ditiupkan oleh malaikat atas perintah Gusti Alloh ke dalam tubuh manusia yang kecil. Makanan ruh adalah dzikir seperti yang telah kuajarkan untuk kau pahami dan juga kau hapal. Sedang makanan tubuh adalah nasi, buah, daging dan sebagainya. Sekarang kita mulai untuk menguatkan tubuhmu, sekaligus menguatkan ruhmu."
Jaga Saksena mengangguk.
"Ikuti, Guru!"
Sang Guru pun melakukan kuda-kuda sempurna, lalu melakukan pukulan tangan kanan kemudian pukulan tangan kiri.
Usai Jaga mengikuti, sang guru kembali menambahkan dengan pukulan ke luar dan ke dalam. Kemudian memukul sembari menggeser kuda-kuda.
Tahap selanjutnya, adalah tebasan dan pukulan tapak.
Kemudian sang guru mengajarkan tendangan dasar dengan jenis kuda-kudanya. Ketika selesai,
"Lakukan yang kuajarkan tadi seribu kali, sembari hatimu terus berdzikir!"
"Baik, Guru!"
Bagi Jaga seribu kali bukan sesuatu yang banyak.
Setelah tujuh hari melakukan gerakan dasar secara rutin tiap pagi dan menjelang tidur, mulailah Jaga diajarkan jurus dasar.
"Perhatikan baik-baik gerakan guru, Jaga! Karena setelah ini kau harus bisa mengikutinya."
Pelan, sang guru melakukan gerakan yang tidak terlalu rumit karena ini adalah jurus dasar.
"Sekarang giliranmu!" perintah sang guru usai memberikan contoh.
"Baik, Guru!"
Semangat, Jaga menirukan gerakan gurunya dengan sama persis, 41 satu gerakan.
Melihat ketangkasan Jaga yang bisa menirukan gerakan hanya dalam sekali lihat, membatinlah sang guru,
'Tanda di tangannya dan daya tangkapnya, memang sebuah pertanda dari Alloh 'Azza wa Jalla bahwa anak ini seorang yang sangat berbakat dan akan menjadi orang besar di kemudian hari. Orang yang akan membuka jalan dakwah di nuswantara ini. Alhamdulillah.'
Tersenyum puas, sang guru berkata,
"Jaga, ini adalah jurus tingkat dasar. Kau ulangi lagi seribu kali. Pagi setelah belajar dan selepas isya sebelum tidur."
"Apa nama jurus ini, Guru?"
"Jurus Kayuku Kayumu, untuk wiridnya kau baca dalam hati dua asmaul husna, Ya Hayyu Ya Qoyyum."
"Murid mengerti, Guru!"