Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 27. Selebaran



"Kalian siapa dan ada perlu apa?!" tanya Ki Ranawela tidak mengenal siapa yang bertamu.


"Hamba Jakala, abdi dalem Raden Bakintal, Ki."


"Oh ya ya ... silahkan naik dan duduklah!"


Ki Ranawela menyuruh Jakala untuk naik ke ruang tamu yang lebih mirip pendopo.


Setelah duduk, Jakala segera menyampaikan keperluannya, serta memberikan kantong kecil berisi keping emas.


Ki Ranawela tampak antusias, pembayaran di muka sungguh sangat ia suka.


"Baiklah, kau telah datang ke tempat yang tepat. Hehehehe?" terkekeh, Ki Ranawela bangkit lalu mengajak Jakala dan dua anak lelaki ke ruang kerjanya.


Setelah duduk di meja kerjanya, Ki Ranawela meminta dua kawan Takil untuk menceritakan wajah pelaku.


Dengan sebuah alat tulis dari bulu angsa, Ki Ranawela dengan piawai menggoreskan tinta pada lembaran-lembaran tipis. Lembaran yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja.


"Apakah seperti ini?!" tanya Ki Ranawela dengan percaya diri.


"Bukan, Ki ...." jawab polos dua bocah karena memang gambar hanya guratan-guratan hitam yang menyerupai wajah bocah.


"Maksudku apakah mirip?" bentak Ki Ranawela keras, membuat takut dua kawan Takil.


"I-iya, Ki. Mirip."


"Apa ciri-ciri anak lelaki itu yang tidak dimiliki orang lain?" kembali Ki Ranawela bertanya.


Sesaat terdiam, tetiba bocah sebelah kanan berkata,


"Dia, dia membawa kapak batu, Ki ...!"


"Kapak batu?!"


"Iya betul, Ki. Kapak batu! Saya juga ingat!" Bocah sebelah kiri ikut meyakinkan.


Ki Ranawela segera menggambar kapak batu pada lembaran. Lalu menuliskan kalimat woro-woro dan ditambah ciro-ciri khusus manusia di dalam gambar, dari usia hingga kapak batu.


"Mau ditunggu atau kau mau pulang dulu, Jakala?" tanya Ki Ranawela yang akan menggandakan gambar dan tulisan tersebut.


"Hamba tunggu, Ki ...."


"Baiklah kalian tunggu di ruang tamu sana. Aku akan melalukan sesuatu untuk memperbanyak lembaran ini, di sini, sendirian!"


Juru tulis keraton dikenal memiliki kesaktian khusus. Mampu menulis atau menggandakan tulisan maupun gambar secara cepat. Hanya saja, dalam melakukan itu harus tanpa dilihat orang lain.


Maka dengan patuh Jakala mengajak dua kawan Takil untuk keluar ruangan menuju ruang tamu yang mirip pendopo.


*⁰0⁰*


Di arena pertarungan, Surakala telah menggunakan jurus tingkat tingginya; Semburan Lahar Panas.


Arak yang ia kumur dengan pengerahan tenaga dalam tinggi ketika disemprotkan akan mampu melepuhkan apa pun. Bahkan lantai panggung pertarungan telah bolong di sana sini.


Namun, kemampuan Surakala tersebut belum bisa memberikan luka berarti pada Sangrama.


Sebaliknya, Sangrama hampir dua kali melubangi dada Surakala dengan pedang lurus berwarna kemerahan di tangannya.


Dan pertarungan belum ada tanda akan menampilkan siapa pemenangnya.


Di bawah panggung,


"Kakang Rawal, jika begini caranya sayembara ini akan berlangsung dalam satu purnama." Balkhi SuPekok berbisik setelah melihat matahari telah mulai berada di arah barat.


"Karena mereka seimbang, Adi Pekok. Tapi lihatlah! Aku yakin tidak lama lagi pertarungan akan selesai."


Benar yang dikatakan Rawal, Sangrama telah memainkan jurus tingkat tingginya,


"Waringin Putih Pembalik Darah!"


Pedang di tangan Sangrama bukan hanya semakin cepat berkelebat tetapi juga mengeluarkan asap tipis kemerahan, asap beracun!


Waringin Putih Pembalik Darah, merupakan kombinasi jurus pedang mematikan sekaligus racun yang mengerikan.


Hanya saja, jurus ini mempunyai kelebihan tersendiri. Racun bisa diarahkan oleh empunya ajian. Tentu selama penggunanya masih mempunyai tenaga dalam untuk mengendalikannya.


Dalam dunia persilatan di gugusan ribuan daratan ini, bukanlah suatu hal yang tabu untuk menggunakan racun. Mereka yang menyatakan diri sebagai golongan putih pun banyak yang menggunakannya.


Sadar akan racun yang mengancam, Surakala tak tinggal diam. Mencelat mengambil jarak, lelaki berkepala gundul itu komat-kamit sebelum menuang arak ke dalam mulut lalu semburkan ke seluruh badannya sendiri dengan cara mendongak ke atas.


"Sihir Arak Pengunci Daya!" desis Patih Sepuh Labda Lawana _yang berdiri di pojok arena_ mengenali apa yang dilakukan Suralaya.


Arak Pengunci Daya, sebuah ajian yang karena keampuhannya menahan benda tajam dan racun disebut sebagai bagian dari sihir.


Baru saja Surakala selesai membasahi tubuh, serangan pedang Sangrama menghajar tepat di lehernya.


Begg!


Wss!


Jenggot awut-awutan Surakala terhempas tetapi luar biasanya tak satu pun yang terpotong. Demikian juga lehernya.


Pedang bagai menghantam lipatan kain super tebal yang berada di lumpur, sehingga hanya menimbulkan suara keras membal.


Begh! Begh! Begh!


Clakk!


Hingga bagian kepala Surakala tak luput kena sasaran tebasan pedang.


"Hehehehe!" Surakala terkekeh.


Saat yang sama, semua penonton bersorak-sorai terutama pendukung Surakala. Lekas saja, mereka melipat gandakan taruhan untuk Surakala,


"Tiga banding satu untuk Pendekar Bumbung Wulung!"


Di deretan peserta sayembara,


"Sepertinya dugaanku salah besar!" Rawal bergumam. Sebelumnya Rawal mengira Sangrama akan segera memenangkan pertarungan.


"Kau salah, Kakang Rawal. Sepertinya dugaanmu malah benar. Pertarungan akan segera berakhir," sahut Balkhi SuPekok.


Bersamaan dengan ucapan Balkhi SuPekok, di atas panggung pertarungan, masih dengan terkekeh Surakala hantamkan bumbung wulung yang ia gunakan.


Wuutt!


"Siall!"


Sangrama yang masih dalam keadaan terpukau oleh kekebalan lawan harus pontang-panting, buang tubuh ke belakang menghindari hantaman bumbung arak.


Lawan mampu lolos, Surakala lekas mengejar sembari membatin,


'Aku harus segera menyelasaikan ini sebelum tubuhku kering!'


Bhell!


Menggenjot papan lantai panggung pertarungan, tubuh Surakala mencelat ke udara atas depan. Masih di udara, lelaki gendut gundul itu semburkan arak menyusul melakukan tebasan bumbung.


"Awas! Perusak Jiwa Pemburu Nyawa!"


Sebuah teriakan dari para peserta mengejutkan peserta lain sekaligus membuat Sangrama waspada.


"Titiran Waringin Terkembang!"


Tak gentar, Sangrama membuat gerakan perisai dengan pedang. Sedangkan asap tipis racun pedang membentuk pusaran meruncing menyambut datangnya serangan.


Srengg!


Pusaran berhasil menembus semburan arak bahkan menghantam tubuh Surakala. Saat yang sama, sebagian semburan arak juga mampu menembus asap racun meski kandas oleh perisai pedang Sangrama.


Namun, tebasan bumbung ternyata merupakan serangan jarak jauh yang menyusul belakangan. Cahaya bening kehitaman sebagaimana warna bumbung arak milik Surakala yang terlontar dari bumbung pun menukik menyambar. Dan,


Blarrt!


Tumbukan dua energi menimbulkan ledakan cukup keras, sekaligus melontarkan tubuh Sangrama hingga ke luar arena.


"Huakhh!"


Sangrama yang terjatuh menghempas tanah berumput muntah darah hitam.


Saat yang sama, Surakala _yang juga terjatuh akibat serangan lawan tetapi masih di dalam arena_ bangkit.


Mendekat ke ujung panggung pertarungan, Surakala berseru lantang, "Cepat naiklah! Atau kau menyerah, Bocah?!"


Dipanggil sebagai bocah, Sangrama hendak bangkit. Namun,


"Rama! Kau terluka parah. Hentikan atau aku akan kebingungan menjawab pertanyaan guru!"


Seorang pemuda yang tak kalah tampan mencegah Sangrama.


"Tunggu pembalasanku!" Sangrama mengacungkan pedang ke Surakala.


"Ha ha ha ha!" Surakala tertawa jumawa. "Bocah pecundang banyak tingkah. Jika bukan di arena sayembara, kau sudah mampus di tanganku!"


"Aku, Wigaloka, saudara seperguruan Sangrama menyatakan mengundurkan diri dari sayembara sebab saudara seperguruanku telah dikalahkan!"


Pemuda tampan yang tadi mencegah Sangrama berseru lantang, wajahnya memerah malu.


"Huuuuuu ...!"


"Pecundang!"


"Pergi saja!"


"Memalukan!"


Cemooh dari penonton berhamburan mengatai Sangrama dan Wigaloka. Terutama mereka yang kalah taruhan, wajah-wajah mereka kesal dan kecewa sebab dari awal jelas Sangrama yang digadang akan menang.


"Ha ha ha ha!" Surakala tertawa bahagia di atas ke-malu-an Sangrama akibat kekalahannya.


Di deretan peserta sayembara, SuPekok berbisik pada Rawal, "Benarkan, tidak lama?!"


'Untung Pekok sedikit bodoh!' batin Rawal sembari mengangguk mengiyakan.