Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 24. Tarung Sayembara



Matahari tepat di atas kepala ketika Raja Basukamba menaiki panggung di mana kursi kebesaran telah dipersiapkan. Di belakang sang raja berderet mengiring empat istrinya yang semuanya ayu nan cantik, lalu empat pengeran tampan. Kemudian empat putri-putri raja yang luar biasa mempesona.


Di antara keluarga kerajaan tersebut tidak ada Lembayung Adiningrum. Sebab yang diajak ke panggung adalah pangeran dan putri inti saja.


Segera, kehadiran para putri berkulit bening itu memaksa mata-mata para pemuda memicing untuk berusaha melihat kecantikan yang sangat jarang bisa mereka lihat. Inilah satu-satunya kesempatan yang cuma-cuma alias gratis dan aman untuk bisa melihat keluarga raja. Maka wajar rakyat tumplek blek di alun-alun, bukan hanya ingin melihat pertarungan tetapi melihat yang lain.


Para pembesar kerajaan yang sedari awal telah duduk di lantai panggung serempak berdiri lalu membungkuk memberi penghormatan menyambut kedatangan raja dan keluarganya.


Raja Basukamba pun duduk di kursinya dengan badan tegak, mengenakan mahkota emas bertahtakan intan permata, raja yang masih terlihat tampan nan gagah itu mulai berbicara. Sedangkan para istri duduk di lantai panggung di samping kanan kiri sang raja, demikian juga para pangeran dan putri raja.


"Rakyatku!"


Seketika, suara-suara perbincangan dan bisik-bisik dari ribuan orang yang memenuhi alun-alun hilang. Berganti sepi ketika Raja Basukamba mulai bicara.


Dengan pengerahan tenaga dalam, suara Raja Basukamba bisa didengar hingga ke telinga orang-orang yang berada di ujung alun-alun.


"Selamat datang di gawe besar Kerajaan Saindara Gumilang. Kalian semua pasti sudah tahu bahwa pertarungan terbuka ini diadakan untuk mencari seorang pendekar tangguh yang akan ku angkat sebagai Senopati ...."


Raja Basukamba terus berkata di hadapan semua orang cukup lama hingga menentukan Patih Sepuh Labda Lawana sebagai penengah dan penentu pertarungan.


Patih Labda Lawana akan dibantu oleh Senopati Madya Mahawira dan Asta Brajadaka.


Gungggg ...!


Akhirnya gong tanda dimulainya sayembara pencarian calon Senopati dibuka oleh Sang Raja Basukamba.


Sang patih yang telah berdiri di tengah panggung arena di depan panggung sang raja segera berseru,


"Aturannya, tak ada aturan. Kalian boleh menggunakan semua jenis senjata! Siapa pun yang masih berdiri maka dialah pemenangnya! Keluar arena hanya diberikan satu kali kesempatan untuk kembali. Jika setelah itu dia terlempar atau keluar dari arena dengan sendirinya, maka dinyatakan kalah! Keputusanku selaku penengah tidak boleh diganggu gugat!"


Patih Sepuh Labda Lawana seorang lelaki tua perbawa dengan kumis dipotong rapi tanpa jenggot, rambut panjangnya yang memutih digelung rapih ke atas. Pakaian hitamnya bersih, berlengan panjang. Di punggungnya terselip sebuah keris panjang.


"Sampai di sini apakah ada pertanyaan?!" lanjut Patih Sepuh Labda Lawana memberi kesempatan pada semua orang.


Hening, tak ada yang bertanya.


"Baiklah, selanjutnya! Setiap pemenang akan diberi kesempatan istirahat selama dua pertarungan setelahnya. Selebihnya, dia tidak boleh menolak jika ada yang menantangnya naik ke arena!"


Semua sudah paham, dalam pertarungan terbuka seperti ini yang menyatakan diri sebagai peserta _yakni orang-orang yang berdiri di dalam pagar bambu_ boleh menantang dan boleh ditantang.


Di dalam pagar terbuat dari bambu utuh yang memagari area bawah panggung arena, tampak berdiri para peserta termasuk Rawal dan Balkhi Supekok. Mereka berdua bersedekap tenang, memasang sikap diri sebagai seorang pendekar.


Para peserta ini hanya berada di selatan, timur dan barat arena. Bagian utara dikosongkan sebab untuk menghormati Raja dan keluarganya serta para pembesar yang berada di atas panggung.


Arena pertarungan sendiri adalah sebuah panggung berukuran sepuluh kali sepuluh depa yang rendah. Hanya setinggi dada orang dewasa. Berbeda dengan panggung raja yang dua kali lipat lebih tinggi.


Di luar pagar bambu utuh, para prajurit pilihan berjaga dengan senjata lengkap. Bukan menghadap ke arena tetapi menghadap ke penonton.


"Siapa yang akan naik duluan? Silahkan!" Patih Sepuh Labda Lawana berseru mempersilahkan.


Saat itulah, Rawal berbisik pada Balkhi,


"Adi Pekok, ingat rencana kita!"


Sebelumnya, Rawal dan Balkhi Supekok yang telah sukses melaksanakan tugas mengantarkan Putri Lembayung Adiningrum telah menyusun strategi dibantu Ki Mertayuda.


Mereka berencana sebisa mungkin akan naik ke arena di penghujung pertarungan. Memang ini sangat beresiko karena akan langsung berhadapan dengan para pemenang. Tetapi itu akan menghemat tenaga, selain tenaga lawan juga sudah terkuras akibat telah digunakan untuk bertarung sebelumnya.


Mengatasi masalah ini, Rawal dan Pekok disarankan untuk tidak banyak tingkah dan tidak bersikap nyleneh. Jadi harus menunjukkan sikap pendekar yang biasa saja agar tidak menarik perhatian peserta lain.


Wuutt!


Seorang berbadan besar, perut gendut dengan kepala gundul melenting ke udara bagai bola.


Debrr!


Pijakan kakinya kala mendarat cukup membuat lantai arena pertarungan yang terbuat dari papan kayu jati bergetar.


"Perkenalkan dirimu!" sambut Patih Sepuh Labda Lawana.


Lelaki berkepala gundul memberi hormat lalu berseru lantang,


"Aku Surakala dari Padepokan Kasengsem Arak bergelar Pendekar Bumbung Wulung memberi hormat pada Yang Mulia Raja Basukamba dan seluruh keluarga serta ...."


Panjang lebar Surakala berkata, entah mau bertarung ataukah hendak pidato acara tahun anyaran (tahun baru_pen). Hingga beberapa peserta lain mengejek dengan bergaya seolah mengantuk.


"Uaaaahmppp!"


Seorang pemuda menguap paling keras. Pemuda itu berpakaian serba biru gelap dengan ikat kepala yang berwarna sama. Rambutnya tergerai rapi, serapi wajahnya yang tak memiliki kumis maupun jenggot juga tak memiliki codet atau bopeng lainnya.


"Kau yang menguap paling keras, aku menantangmu!"


"Siapa takut!!"


Weddd!


Pemuda itu bersalto di udara sebelum mendarat di lantai arena dengan ringan, nyaris tak terdengar!


Sorak-sorai dukungan kepada si pemuda membahana memenuhi udara alun-alun.


Dengan kerennya, si pemuda berpakaian serba biru gelap merentangkan kedua tangannya le depan lalu menggerakkan ke bawah memberi isyarat untuk diam.


"Terimakasih atas sambutan hangat kalian semua. Aku Sangrama dari Padepokan Waringin Putih akan mengalahkannyaaa!!"


Wajah Sangrama menghadap ke penonton akan tetapi telunjuknya menuding tepat ke wajah Surakala.


"Bangsat! Kau pikir dukungan banyak orang akan membuatmu menang? Cuih!" cibir Surakala tak mau kalah.


Saat yang sama, saat kedua peserta beradu mulut di atas arena, Jaga Saksena telah berada di sisi alun-alun selatan, paling belakang.


'Orang-orang ini menghalangi pandanganku!'


Si bocah memutar otak serta mata. Saat itulah ia melihat pohon di seberang jalan. Jalan yang mengitari alun-alun.


'Melihat dari atas sana mungkin lebih jelas!' pikir Jaga Saksena lalu bergegas menghampiri pohon untuk memanjat.


Namun, saat Jaga hendak memanjat.


"Tunggu bocah dekil! Itu tempatku!" bentak salah satu dari tiga anak lelaki yang memiliki tubuh lebih besar dari Jaga Saksena.


Tiga anak lelaki itu mendekat seraya menatap Jaga dengan pandangan permusuhan sekaligus pandangan meremehkan. Berjalan dengan membusung dada, kepalan tangan mereka menggenggam erat seolah ingin berkata,


"Kapan pun kau bisa kami pukuli!"