
Waktu berjalan dengan cepat, matahari telah berwarna jingga pertanda malam akan segera tiba.
Telah mengumpulkan warta yang menurutnya sudah cukup, Jaga merencanakan malam nanti akan menyusup ke dalam Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung demi mencari ketua kelompok tersebut.
Jaga berpikir akan menggebuk kepala ular langsung agar tubuhnya mati. Tentu dengan terlebih dahulu mengajaknya ke jalan yang benar.
Sembari menunggu matahari tenggelam, Jaga Saksena sengaja menelusuri jalan menuju alun-alun, menikmati lalu lalang orang-orang sekaligus berharap bisa menemukan Sungsang Gumilang Si Pendekar Merah.
Dan benar saja, baru menempuh setengah perjalanan seseorang memanggilnya.
"Jaga!"
Segera Jaga Saksena melihat ke arah sumber suara yang rupanya dari seorang pemuda yang berdiri di gerbang sebuah penginapan.
Memicing mata, Jaga Saksena mengamati pemuda tersebut. Pemuda matang yang cukup tampan. Bajunya serba hitam kecoklatan dengan lurik putih, celana komprang dengan alas kaki kulit yang terlihat kokoh. Ikat kepala berwarna hitam menahan rambut gondrongnya.
"Sungsang?!"
"Sssttt ...! Jangan sebut namaku, cepat ikut denganku."
Rupanya pemuda yang tampak sudah matang itu benar-benar Sungsang Si Pendekar Merah yang telah berganti penampilan. Sungsang dengan mudah mengenali Jaga Saksena sebab kapak batu yang menggelantung di pinggangnya.
Sungsang membawa Jaga Saksena memasuki penginapan.
"Aku sudah menduga kau akan turun gunung dan mengejar Kelompok Pemburu Bu dak Gunung, makanya aku menunggumu di kerajaan ini!" ucap Sungsang saat melangkah cepat menuju kamar yang telah ia sewa.
"Apa saja yang kau lakukan selama tujuh tahun? Kenapa membiarkan mereka begitu saja?!" cerca Jaga Saksena ketika sampai di kamar penginapan.
"Siapa bilang aku membiarkan kelompok itu begitu saja? Beberapa kali aku mencegat regu pemburu mereka. Tetapi terus terang aku belum berani berbuat lebih banyak."
"Penakut!"
"Aku bukan penakut, tetapi lebih ke seorang yang penuh pertimbangan. Dua kata itu dua hal yang berbeda."
"Baiklah," Jaga Saksena taknmau berdebat, "Apa yang kau dapatkan setelah menyusup ke Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung?"
"Rupanya kau telah mendengar banyak, Jaga. Sebenarnya, aku belum masuk ke sana, tetapi sudah ketahuan. Penjagaannya sangat ketat."
"Itu mengapa kau mengganti penampilanmu?"
"Hanya untuk sementara, aku tidak ingin membuat keributan tanpa hasil di kerajaan ini. Apa kau sudah punya rencana, Jaga?"
Bertanya, Sungsang menyalakan pelita di pojok ruangan sebab hari mulai petang.
"Aku akan jelaskan nanti, untuk saat ini aku akan menyembah Sang Maha Kuasa terlebih dahulu."
Masih mempunyai wudhu, Jaga Saksena langsung menggelar kain yang ia lilitkan di perut lalu mendirikan sembahyang maghrib. Sesuatu yang membuat Sungsang mengernyit dahi.
'Apa yang tengah Jaga lakukan?!' tanya Sungsang dalam hati sembari terus mengamati. 'Sepertinya aku pernah melihat gerakan sedikit mirip ini, tapi di mana ya?'
Bersila di samping Jaga Saksena, Sungsang menunggui kawannya itu hingga selesai sembahyang.
"Jaga apa yang barusan kau perbuat?" tanya Sungsang tak lagi bisa menahan rasa penasarannya kala Jaga Saksena menghadapkan tubuh ke arahnya.
"Oh, itu tadi dinamakan sholat atau menyembah Yang Maha Pencipta."
"Oh ... ya ya bukankah menyembah Yang Maha Pencipta cukup di hati saja?"
"Raga dan hati harus menjadi satu sebagaimana saat kita bertarung. Apakah cukup dengan hati saja?"
"Kau benar. Lalu kenapa gerakannya seperti itu. Sepertinya aku pernah melihat yang sedikit mirip dengannya."
"Pembawa ajaran ini bukan yang pertama, tetapi penutup. Menurut guruku, kemungkinan dahulu kala leluhur kita juga mendapatkan ajaran dari seorang Nabi."
"Nabi? Apa itu?"
"Nabi adalah ...."
Alih-alih membahas rencana untuk memberantas Kelompok Pemburu Bu dak Gunung, awal malam hari ini akhirnya digunakan oleh Jaga Saksena untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus dilontarkan oleh Sungsang.
Hingga ketika malam telah larut.
"Satu lagi pertanyaanku, Jaga. Kau berkata orang sepertiku sudah benar dalam berkeyakinan, yaitu meyakini Sang Maha Pencipta hanya satu. Lalu kenapa kau mengajakku masuk ke dalam agamamu?"
"Seperti yang sudah kukatakan, Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi sekaligus rosul penutup yang diutus untuk menyempurnakan ajaran lama. Maka masuklah ke dalam islam untuk menyempurnakan keyakinanmu."
"Ah, tunggu dulu Jaga. Aku merasa keyakinanku sudah sempurna, jadi tidak perlu disempurnakan lagi."
"Baiklah, jika itu maumu. Aku hanya mengajakmu, Sungsang. Selebihnya Gusti Alloh yang akan memberimu hidayah."
"Lho, kenapa kau tidak memaksaku? Kau putus asa, Jaga?!"
Mendapat pertanyaan sekaligus sedikit tuduhan dari Sungsang, Jaga Saksena tersenyum lebar.
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat."
"Ha ha ha ha ...! Baiklah. Kita sudahi pembicaraan tentang islam ini. Apa rencanamu untuk memberantas Kelompok Pemburu Bu dak Gunung?"
Sungsang mengalihkan pembicaraan sebab ia perkirakan hari telah tengah malam.
"Sederhana saja ...."
Jaga Saksena menerangkan rencananya.
"Bagaimana jika terpergok penjaga?!" tanya Sungsang usai Jaga Saksena terangkan rencananya.
"Mau bagaimana lagi? Kita bereskan mereka."
"Bagaimana jika kita kalah?!"
"Itu urusan nanti," jawab Jaga Saksena tak mau ambil pusing urusan yang belum terjadi.
"Tapi jika kau punya cara untuk menyelamatkan diri bisa kita gunakan," lanjut Jaga.
"Aku akan menaburkan serbuk halus merah, lalu kabur dengan cepat."
"Baiklah, kita gunakan itu jika sudah sangat terdesak!"
"Jika begitu aku akan membantumu! Kita berangkat sekarang!"
"Tunggu dulu, aku harus sembahyang isya."
"Lagi? Bukankah tadi petang sudah sembahyangnya?" heran Sungsang.
"Itu maghrib, sekarang 'Isya. Sehari semalam lima kali."
"Lima kali? Sungguh merepotkan sekali?!"
"Tidak sama sekali. Karena aku senang melakukannya." Jaga Saksena menjawab dengan tersenyum lalu bangkit untuk bertakbirotul ihrom.
*⁰0⁰*
Malam mulai memasuki dini hari. Dua sosok manusia berkelebat dengan kecepatan tinggi dari atap rumah ke rumah lainnya, dari puncak pohon ke puncak pohon lainnya menuju Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung.
Itu adalah Jaga Saksena dan Pendekar Merah yang tak lagi memakai pakaian serba merah.
Sesuai rencana, Jaga Saksena dan Sungsang akan langsung menerobos masuk ke Balai Kelompok Pemburu Bu dak lewat belakang. Ketahuan atau tidak, keduanya telah bersiap.
Bukan hanya menerobos masuk, rencana cadangan jika kemungkinan buruk terjadi pun telah mereka persiapkan.
Sungsang juga telah menyiapkan sejumlah persenjataan. Tadi sore, ketika Sungsang melihat Jaga di jalan depan penginapan, ia baru saja kembali dari membeli sejumlah pisau terbang.
**
Jika suka tulisan ini bantu penulis untuk like sharenya ya sobat.
Atau bisa juga dukung penulis di karyaka*sa dot com. Terimakasih sebelum dan sesudahnya.
Semoga Gusti Alloh Ta'ala membalas kebaikan sobat semua. Amin.