
"Cuihh!" Kama Kumara meludah. "Jika kau sudah tahu mengapa tidak segera menjawabku! Hiaaakg!"
Kama Kumara melesat dengan sebuah tinju siap menghantam kepala Aswangga.
Tak tinggal diam, Aswangga kerahkan seluruh tenaga dalam untuk ringankan tubuh menghindar. Namun gerakan Aswangga tidak terlalu cepat, sehingga terpaksa harus melakukan perlawanan pada Kama Kumara yang terus memburunya.
Pertarungan timpang pun terjadi. Aswangga benar-benar kewalahan apalagi ia tak berani mengadu kekuatan langsung, hingga mau tak mau Aswangga cabut golok dari pinggang.
"Menebas Gunung Menebas Lautan! Hiaaa!"
Crannggg ...!
Percikan api bermuncratan ketika bilah golok beradu dengan lengan bagian luar Kama Kumara.
Saking kuatnya hantaman golok, Aswangga terdorong ke belakang, tangannya berasa kesemutan hingga sampai siku. Sementara Kama Kumara tak terpundur sejengkal pun.
Menyadari tenaga dalam yang ia miliki jauh lebih rendah dibanding lawan, Aswangga persiapkan diri untuk mati.
Saat yang sama, Tumenggung Wiryateja yang telah berada tak jauh dari tempat pertarungan telah meraba gagang keris pusakanya. Tetapi hatinya masih ragu sebab yang harus ia selamatkan adalah Putri Anesha Sari bukan seorang perwira.
Aswangga memindah golok ke tangan kirinya. Mulutnya komat-kamit dengan sangat cepat. Kejap itulah, sekonyong-konyong muncul sinar redup membentuk harimau besar di belakang atas kepala Aswangga.
"Ajikuu, Golok Macan Terbaaang!"
Aswangga mencelat ke depan sembari sabetkan golok di tangan kiri. Bersamaan dengan itu, harimau besar di belakang Aswangga melesat maju mendahului tuannya sembari cakarkan kaki depan kiri mengarah leher Kama Kumara.
"Ajian hanya untuk menakuti anak kambing! Hiaaaa ...!" Masih sempat menghina Kama Kumara undurkan kaki kanan sembari ikut cakarkan tangan kiri menyongsong serangan harimau.
BLARRTTTT!
"Arrrhh ...!"
Tumbukan dua energi menciptakan ledakan dasyat.
Aswangga terlontar jauh sebelum terkapar di tanah dengan badan mengepulkan asap.
"Ukhuk!"
Perwira itu terbatuk, darah yang keluar dari dorongan batuk segera menggenangi wajahnya sendiri.
Melihat musuhnya terkapar, Kama Kumara yang masih tetap pada tempatnya melesat ke depan untuk memburu. Ketika jarak tinggal tiga tombak lagi, Kama Kumara melejit tinggi ke atas, bermaksud hendak menghentakkan kaki untuk menghancurkan kepala Aswangga.
Berbarengan saat Aswangga terkapar, "Siall!" Tumenggung Wiryateja mengumpat dan melesat, rupanya ia telah memutuskan untuk menolong si perwira.
Saat yang sama, Senopati Ragnala Raksa juga berkelabat. Hanya Senopati Ragnala Raksa, sebab ternyata mereka berbagi tugas, senopati lain mencari keberadaan Putri Anesha Sari.
Namun, Ragnala Raksa dan Wiryateja harus kalah cepat oleh Kama Kumara. Lagi, jarak mereka ke Aswangga lebih jauh ketimbang jarak Kama Kumara ke Aswangga.
Kedua pembesar Kerajaan Saindara Gumilang itu harus bersiap menghadapi kenyataan pahit, sebab Kaki Kumara yang kini berkobar-kobar api tinggal satu tombak lagi menghantam kepala Aswangga.
'Kurang cepat!!' teriak hati Wiryateja sudah bisa membayangkan kepala Aswangga yang akan hancur berantakan.
Namun ....
BLARRTTTT!! BLARRTTTT!!
Dua cahaya sebesar kepala manusia dewasa berkiblat menghantam telak tubuh Kama Kumara.
Tak ayal, tubuh Kama Kumara terhempas jauh hingga kembali masuk ke dalam kawah kering.
"Perwira Aswangga!" Seorang pemuda berseru memanggil sembari jongkok satu kaki di sisi lambung Aswangga.
"Den Jaga?!" kejut senang Tumenggung Wiryateja mengenali sang penyelamat.
"Iya Tumenggung, maafkan aku terlambat!"
"Kita bagi tugas, biar kubawa Perwira Aswangga ke tabib istana!" lanjut Ragnala Raksa sembari mengangkat tubuh Aswangga lalu melesat pergi.
Bersama kepergian Ragnala Raksa,
"Ha ha ha ha!" Terdengar tawa membahana dari dasar kawah kering.
"Den Jaga, kita harus hati-hati. Kama Kumara menjelma menjadi seorang yang sangat sakti, bahkan hantaman lintang jatuh tak mampu melukai tubuhnya!"
"Apa?!"
"Benar, Den. Dalam pertarungan, Putri Anesha Sari melontarkan Kama Kumara ke langit. Entah bagaimana Kama Kumara kembali lagi ke bumi lalu ada lintang jatuh menyusul menghantamnya."
"Lalu bagaimana keadaan Putri Anesha Sari, Tumenggung?"
"Aku tidak tahu, Den. Putri menghilang setelah ledakan besar."
"Aku benar-benar telat!" gumam Jaga Saksena sebelum berkata, "Tumenggung, tolong cari dan selamatkan Putri Anesha Sari. Segera bawa pergi jauh. Aku akan menahan Kama Kumara semampuku!"
"Tapi, Den?!"
"Tidak ada tapi-tapian, cepat sebelum semua terlambat!"
"B-baik, Den!" Dengan berat hati, Tumenggung Wiryateja berkelebat pergi.
'Waktu yang tidak tepat, aku belum memulihkan tenaga dalamku, demikian juga dengan kekuatan petir dalam tubuhku.' Jaga Saksena bergumam dalam hati lalu menarik napas dalam-dalam.
'Duhai Ilahi Robbi sesungguhnya diri ini hanyalah hamba dari sekian banyak hamba-hambaMu yang begitu lemah tanpa pertolonganMu. Engkaulah yang maha perkasa, maka menangkanlah hamba malam ini. Tapi jika ketentuan dalam lauhul mahfudhMu aku harus mati malam ini, maka mohon masukkan hamba ke dalam golongan para syuhada.'
Usai bermunajat dalam hati, Jaga Saksena bersiap, tak hanya lisan batin dan rasa, semua pori-pori Jaga Saksena pun berdzikir untuk terus memompa kekuatan ruhnya.
Bagi Jaga, malam ini adalah malam penentuan. Jika berhasil maka jalan dakwah yang ia perjuangkan akan terbuka lebar. Dan jika gagal, maka Jaga Saksena telah puas, mati syahid dalam perjuangan.
"Cuih! Tak kusangka, dalit hina ini akhirnya datang ke hadapanku tanpa aku susah payah mencarinya." Kama Kumara yang baru saja sampai di bibir permukaan kawah kering melontarkan hinaan.
Mendapat hinaan sedemikian rupa, Jaga Saksena tajamkan pandangan mengamati tubuh bara Kama Kumara. Dari atas hingga ke perut. Ya hanya sampai di situ saja, karena Jaga Saksena terpaksa harus melihat ke atas kembali untuk berucap,
"Bagaimana bisa makhluk yang telanjang menghina makhluk yang berpakaian?! Monyet saja punya bulu untuk menutupi anunya, tapi kau? Sepertinya monyet akan malu untuk melihatmu!"
"Dalit yang pandai bersilat lidah! Kau pikir seorang kesatria akan turun kasta menjadi dalit jika tidak berpakaian?! Tidak akan pernah. Dan, seorang dalit sepertimu tetaplah dalit, meski kau memakai baju emas berhias intan permata!"
Kama Kumara berbicara dengan sangat jelas ditambah penuh penekanan, sepertinya ia begitu menikmati situasi saat ini di mana ia merasa paling sakti dan tidak perlu lagi ada yang ia takutkan dan khawatirkan.
"Dalam pandangan Yang Maha Pencipta, semua manusia sama tak ada dalit tak ada kesatria. Lalu mengapa aku perlu memikirkan pandangan makhluk sepertimu?!"
Grrtttkkk ...!
Gigi geraham Kama Kumara bergemeretakan, kesal karena Jaga Saksena terus saja menemukan jawaban untuk mendebatnya.
"Lidahmu memang harus kubetot keluar agar kau tak lagi mendebatku! Hiyaa!"
Kama Kumara melesat ke depan dengan sebuah tinju siap menghantam.
Tak tinggal diam, Jaga Saksena menyongsong serangan, mengalirkan kekuatan ruh ke tangan.
Daart!
Dua tinju yang beradu memperdengarkan suara dua benda keras bertumbukan.
Baik Jaga Saksena maupun Kama Kumara terdorong mundur tiga langkah.
"Ternyata dalit ini memang punya kemampuan, membuatku bersemangat untuk membunuhnya!"
***⁰0⁰***