Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 49. Dendam Dua Pendekar



Diteriaki sedemikian rupa, Jaga Saksena yang mengempit jago di kedua ketiaknya tetap tenang. Bahkan ada sedikit senyuman di wajahnya.


Ini membuat orang-orang tidak berani gegabah bertindak.


Berbeda jika yang diteriaki panik dan takut, sudah bisa dipastikan mereka akan langsung menyerang dengan bengis nan kejam.


"Cepat lepaskan atau senjataku ini yang bicara!!" Kembali pemilik salah satu ayam jago yang mengacungkan cundrik menggertak, matanya melotot garang mencoba menakut-nakuti.


"Aku akan melepaskan dua ayam ini, tetapi tidak untuk diadu! Dan tidak pula untuk taruhan judi! Ingatlah dua perbuatan itu adalah keburukan yang harus ditinggalkan!"


"Bedebah Keparat! Kenapa kau berceramah di sini, hah?!"


"Sudah kita keroyok saja!"


"Gebuk!"


"Bunuh!"


Orang-orang terus berteriak tetapi tidak ada yang berani maju. Hingga,


"Kenapa kau diam saja! Kita bunuh dia!" lelaki pemilik jago yang mengacungkan cundrik mengajak pemilik jago satunya.


"Kau duluan! Aku tidak bawa senjata!"


"Sialan! Hiaaa!" memaki kesal lelaki pemegang cundrik bergerak mendekat untuk hunjamkan senjatanya tersebut ke arah perut Jaga.


Dan selayak sebuah komando, perbuatan lelaki bersenjata cundrik itu memicu orang-orang untuk ikut bergerak.


Tiga jengkal lagi ujung cundrik mengenai perutnya, Jaga dorong jago di kempitan tangan kanan ke depan, tepat ke wajah pemiliknya sendiri.


Ayam jago terkaget sehingga kepakkan sayap sekaligus acungkan dua kaki ke depan, mencakar.


Tak ayal, wajah lelaki pemegang cundrik harus babak belut oleh cakaran ayam jago miliknya sendiri hingga terpaksa urungkan serangannya.


Tetapi tidak dengan orang-orang yang sudah tersulut kemarahannya, mereka tetap lanjut menyerang. Ada yang memukul ada pula yang menendang.


Mendapat serangan serempak, Jaga Saksena dorong ayam jago yang berada di kempitan tangan kiri.


Dua orang penyerang dari depan harus mundur hingga hampir terjengkang akibat serangan ayam jago.


Saat yang sama, Jaga Saksena putar tubuh untuk menangkap dua dua kaki yang hendak menendangnya dari belakang.


Hekk!


"Argh!"


Sekali hentak dua penyerang dari belakang itu tertarik dan ambruk sembari menjerit memegangi ************ yang sakit.


Sedangkan untuk menghindari serangan dari kanan dan kiri, Jaga rundukkan tubuh. Dari bawah, Jaga sentilkan kedua jari kanan dan kiri.


"Arghh!"


Dua penyerang terpental hingga menimpa orang yang berada di belakangnya.


Kejadian yang sangat cepat.


Saat Jaga kembali menegakkan badan, orang-orang yang masih berdiri telah kehilangan kepercayaan diri. Tak lagi berani menyerang.


Saat itulah,


"Siapa yang berani membuat kekacauan di sini!"


Terdengar bentakan menggelegar.


"Dia, Ki Lurah!"


Serempak orang-orang menunjuk ke arah Jaga Saksena sembari minggir memberi jalan pada seorang lelaki berkumis tebal yang ujungnya dipelintir.


Di samping kiri dan kanan si lelaki berkumis, dua orang bertampang sangar mengapitnya selayak pengawal.


Melihat dua lelaki pengawal si kumis melintir, Jaga Saksena tersenyum mengenali.


Sama halnya dengan dua lelaki tersebut yang segera mundur satu langkah untuk saling pandang.


"Akhirnya yang kita tunggu datang, Kakang Gumbala! Sekarang dia telah tumbuh dewasa!"


"Saatnya untuk balas dendam, Werkadal!"


Gumbala dan Werkadal bisa mengenali Jaga Saksena sebab kapak batu usang yang menggantung di pinggangnya.


Setelah dipecundangi oleh Jaga Saksena tujuh tahun yang lalu, Gumbala dan Werkadal pergi ke sebuah pegunungan di utara. Mereka berdua berguru pada sebuah padepokan kecil di sana.


Padepokan Pringsewu, dinamai demikian karena padepokan tersebut terletak di hutan bambu.


Lima tahun berguru, Gumbala dan Werkadal kembali ke pasar Beringkiwa.


Berkat kesaktian baru yang dimiliki, Gumbala dan Werkadal akhirnya diangkat menjadi tangan kanan Lurah Pasar Ki Berut Tunggul.


Sejak saat itulah, pajak pelapak pasar dinaikkan dua kali lipat oleh mereka berdua. Siapa yang menolak maka akan dibuat babak belur.


Mereka berdua pula yang mempunyai ide mengadakan perjudian adu jago demi menambah pundi-pundi harta. Karena siapa pun yang menang judi harus menyerahkan seperlima kemenangannya kepada mereka berdua.


Hal ini membuat Gumbala dan Werkadal makin disayang oleh Ki Berut Tunggul.


Dendam harus dilampiaskan. Mereka berdua bertekad akan meremukkan tubuh bocah berkampak batu.


Penantian yang tidak sia-sia. Pucuk dicinta ulam pun tiba!


Selama menjadi tangan kanan Ki Berut Tunggul, Gumbala dan Werkadal dikenal sebagai Dua Pendekar Tongkat Bambu.


Itu karena senjata keduanya berupa bambu sepanjang empat jengkal.


Orang-orang tidak tahu, bambu tersebut sebenarnya adalah warangka dari sebuah pedang kecil panjang. Jika dalam keadaan terdesak, barulah Gumbala dan Werkadal akan menghunus pedangnya tersebut.


"Ki Lurah, serahkan pengacau itu pada kami berdua," bisik Gumbala pada Ki Berut Tunggul.


"Bereskan, aku tak mau lagi ada keributan semacam ini!"


Berkata demikian Ki Tunggul Berut membalik badan lalu melangkah pergi.


Gumbala dan Werkadal berjalan pasti dengan langkah lebar-lebar. Sangat percaya diri, sebab sejak kembali dari Padepokan Pringsewu mereka berdua belum pernah terkalahkan.


Orang-orang segera mundur membuat kalangan melingkar, memberikan tempat untuk pertarungan.


Segera saja pertaruhan digelar,


"Dua keping emas banding satu untuk kemenangan Dua Pendekar Tongkat Bambu!"


"Tidak berani! Empat banding satu bagaimana?"


Gumbala dan Werkadal jelas diunggulkan oleh mereka. Sehingga bagi yang mendukung Jaga Saksena jika kalah, hanya akan kehilangan satu keping. Akan tetapi jika menang akan mendapat empat keping.


"Baiklah! Jabat tangan!"


Ikatan pertaruhan pun dimulai. Saat itulah Gumbala berkacang pinggang lalu berseru keras,


"Kalian salah jika bertaruh kemenangan. Karena kami berdua pasti menang. Harusnya kalian bertaruh seberapa cepat kami cincang bocah ini!"


"Benar apa Gumbala!" tanggap para penjudi segera sadar bahwa pemegang Jaga Saksena pasti akan kehilangan kepingnya.


"Baiklah-baiklah kita ubah!" seru pentolan penjudi berperut gendut. Dari pakaiannya yang bagus jelas menunjukkan ia orang kaya.


"Ubah bagaimana?!" tanya orang-orang.


"Empat banding satu! Jika pemuda itu masih berdiri di serangan ke seratus maka kalian boleh mengambil empat keping emas!"


"Setuju!"


"Jabat tangan!"


Lelaki gendut berpakaian bagus ternyata harus menjadi bandar sebab semua orang memegang Dua Pendekar Tongkat Bambu. Tak ada satu pun yang mengunggulkan si pemuda pembawa kapak batu.


Melihat itu, Gumbala dan Werkadal pun tersenyum senang, semakin banyak yang bertaruh semakin banyak pula mereka berdua akan mendapat bagian seperlima. Tak peduli siapa yang menang.


Melihat semangatnya orang-orang dalam memasang taruhan, Jaga Saksena mencoba memberi peringatan,


"Dengarkanlah saudara-saudaraku! Judi ataupun taruhan adalah perbuatan tercela! Tidak seyogyanya kalian mendapatkan harta dengan cara seperti itu! Masih banyak jalan yang baik untuk mencari rejeki!"


Sudah bisa ditebak, tanggapan mereka pun sengak (kasar_pen),


"Bocah anak pelacur banyak omong!"


"Anak kemarin sore ceramah!"


"Mampus saja kau bocah!"


"Kemaki! Resi saja tidak berani menceramahi kami, kau bocah bau kencur berani-beraninya!"


Mendapat cacian sedemikian rupa, Jaga Saksena hanya bisa garuk kepala.


"Baiklah, mari kita mulai!" Gumbala meloloskan tongkat bambunya diikuti Werkadal.


"Hajar!"


"Hajar!"


"Bunuh!"


"Bunuh!"


Teriakan-teriakan memberi semangat dari penonton terdengar hingga menggema.


Sementara si lelaki gendut berpakaian bagus tampak mengerling-ngerling ke arah Gumbala. Dia memberi kode, meminta Gumbala jangan dulu menumbangkan lawan kecuali setelah seratus serangan.


Ini ia lakukan karena semua orang bertaruh si pemuda akan tumbang di bawah seratus serangan, maka dengan sendirinya dialah yang memegang Jaga Saksena.


"Setengah hasil kemenangan untukmu!" Lelaki gendut itu berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerakan mulut.


Gumbala yang memahami kode dari si gendut memberi isyarat pada Werkadal, "Kita mainkan!"


Werkadal mengangguk sembari tersenyum senang. Bagaimana tidak! Balas dendam sekaligus mendapat bagian.


Jika diperkirakan ada sekitar dua ratus orang yang bertaruh. Maka mereka berdua akan mendapat bagian sekitar empat ratus keping emas. Sebuah angka yang luar biasa.


Satu keping emas bisa untuk membeli kambing jantan terbaik. Jika digunakan untuk membeli kambing betina terbaik maka akan mendapatkan dua ekor!