Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 115. Kala Manusia Lebih Rendah Dari Binatang



Tumenggung Wiryateja makin tidak bisa mengerti polah tingkah sang raja barunya ketika mereka sampai di kolam pemandian.


Sebab dengan ringannya, Kama Kumara menyuruh 9 perwira memblokir seluruh jalan masuk menuju kolam pemandian. Sementara Wiryateja diperintah berjaga tepat di depan pintu masuk kolam pemandian.


Sebelum melangkah masuk, Kama Kumara berpesan, "Apa pun yang kau dengar, tetaplah di tempatmu Tumenggung. Kecuali aku memanggilmu!"


"Sendiko dawuh, Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"


Dengan senyum mesumnya, diikuti Candrawati, Kama Kumara melangkah pasti meninggalkan Tumenggung Wiryateja seorang diri.


Kolam pemandian ini dibangun oleh Candrawati khusus untuk para wanita omah kajaliran. Akan tetapi warga sekitar omah kajaliran pun diijinkan menggunakannya. Sehingga kolam pemandian memiliki tiga jalan masuk menuju pintu kolam. Dua jalan masuk dari omah kajaliran dan satu dari pemukiman sekitar.


Kolam pemandian sendiri berupa bangunan persegi panjang. Lebar empat tombak dan panjang enam tombak, dengan kedalaman bertingkat. Bagian pinggir dangkal dipakai untuk berendam, sedangkan bagian tengah lebih dalam untuk berenang dan bermain-main.


Di sudut kolam ada aliran masuk air yang diambilkan dari sungai, dan di sudut lainnya ada saluran pembuangan sehingga air kolam selalu berganti.


Kolam pemandian dikelilingi oleh tembok memutar setinggi satu setengah tombak. Maka bisa dipastikan hanya pendekarlah yang bisa melompatinya.


'Semalam aku tidak bermimpi apa pun, tetapi kenapa bisa sesial ini?! Bagaimana bisa seorang tumenggung menjadi penjaga kolam pemandian!' Tumenggung Wiryateja memijitkan ujung telunjuk dan ibu jari kanan pada keningnya yang mulai pening.


Baru saja Tumenggung Wiryateja memijit keningnya, terdengar suara tawa Kama Kumara disusul keriuhan dari dalam tembok kolam pemandian, dari suara kaget para perempuan muda hingga jeritan manja.


Pintu yang dijaga Wiryateja tidak berdaun, tetapi berkelok sehingga seorang uang berdiri di depan pintu tidak akan bisa melihat ke dalam. Meski begitu, suara dari dalam akan terdengar jelas dari tempat tumenggung Wiryateja berdiri.


'Jika kelakuan saja rendah seperti itu, bagaimana bisa akan menjadi maha raja yang membawa kerajaan ini menjadi Saindara Gumilang Raya? Yang ada, kerajaan ini akan hancurr!' gerundel hati Wiryateja bisa melihat masa depan suram kerajaan Saindara Gumilang.


Di dalam tembok kolam pemandian, Kama Kumara tertawa gembira. Tawa yang disambut oleh para jalir dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang menjerit kaget, ada pula yang menggoda manja.


Kama Kumara nanar mengedarkan pandangan, mencari yang tercantik dan paling aduhai tubuhnya.


Jiwa kelelakian Kama Kumara melonjak-lonjak seiring pemandangan penuh keindahan yang tersajikan. Semuanya mulus, semuanya bening, semuanya cantik, semuanya menggairahkan. Namun,


"Kau!" Kama Kumara menunjuk perempuan muda paling segalanya. Siapa lagi kalau bukan kembang omah kajaliran Bulan Perak, Lintang Asri Kemuning.


"Cepat Kemuning! Kemari!" Candrawati tak mau sang raja terkecewakan.


Sedikit menunjukkan rasa malu padahal bangga karena terpilih, Lintang Asri Kemuning melangkah mendekat. Kain jarit basah yang membalut tubuhnya yang juga basah membuat lekuk-lekuk gunung dan bukit perempuan muda itu makin kentara.


Glek!


Leletkan lidah, Kama Kumara menelan air liurnya sendiri.


"Aku tak tahu, ternyata ada bidadari turun ke bumi!" sambut Kama Kumara langsung merangkulkan dua tangan dan dengan penuh nafsu menc-iumi Lintang Asri Kemuning.


Tak mau kalah berperang bibir, Lintang Asri Kemuning mengimbangi permainan Kama Kumara.


Melihat kelakuan Kama Kumara, bukan hanya Candrawati, semua jalir di tempat itu harus menganga.


Ketika salah satu jalir mulai merasa pertunjukan ini sangat menjijikkan, mereka hendak melangkah menuju pintu keluar. Namun, tiba-tiba Kama Kumara hentikan perbuatannya untuk membentak,


"Diam di tempatmu atau kupecahkan ndas (istilah kasar untuk kepala)mu!"


"Jika Yang Mulia Raja hendak lakukan perbuatan semacam itu, maka sebaiknya di kamar!"


Dibantah oleh seorang wanita jalir, Kama Kumara menyeringai. Dan sungguh, semua orang yang ada di kolam pemandian tak akan pernah menduga apa yang raja itu lakukan selanjutnya. Karena,


Wust!


Prakk!


Kama Kumara hantamkan tinju melepas pukulan jarak jauh.


Energi merah kekuningan yang keluar dari pukulan Kama Kumara meledakkan kepala si jalir. Ada bau gosong dari serpihan kepala dan rambut panjang yang berhamburan.


Para jalir pun dibuat menjerit takut sekaligus ngeri, mereka langsung berpelukan dengan kawan di samping kanan kiri. Sementara Candrawati tak bisa berbuat apa pun kecuali bergetar kaki. Berita yang ia dengar, Kama Kumara adalah seorang putra mahkota lemah. Tetapi apa yang ia saksikan pagi menjelang siang ini sungguh mengejutkan!


Melihat para jalir termasuk perempuan di hadapannya ketakutan, seringai Kama Kumara makin melebar.


"Siapa namamu tadi, Cantik?!" Kama Kumara mendekatkan wajahnya ke wajah Kemuning.


"L-lintang Asri Kemuning, orang-orang memanggilku Kemuning, Yang Mulia Raja."


"Sstt .... Panggil aku Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara."


"Ss-sendiko Dawuh Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!" Kemuning tampak berusaha memberanikan diri karena ia tahu akibat buruk jika tidak mematuhi lelaki plontos bermahkota emas di hadapannya.


"Sekarang kau layani aku! Lepaskan kain jarit yang menutupi tubuh molekmu!"


"Bb-baik Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara ...."


Baru saja berusaha memberanikan diri, Kemuning mendapat tantangan lebih. Tetapi ia benar-benar tidak ada pilihan lain. Sungguh ia tak ingin mati mengenaskan seperti kawannya yang tewas dengan kepala pecah barusan.


Bagai hewan yang tak lagi memiliki rasa malu, Kama Kumara mense-tubuhi Kemuning di hadapan Candrawati dan para jalir. Dan semua mereka hanya bisa terdiam, tak ada yang berani bergerak atau pun memalingkan wajah.


Dan makin gila ketika Kama Kumara juga memanggil beberapa jalir molek lain untuk mendekat kemudian menguruh mereka melepas kain jaritnya.


Di tepi kolam yang sedikit memerah oleh darah mayat berkepala pecah, Kama Kumara berpesta. Mense-tubuhi beberapa perempuan sekaligus tanpa merasa malu oleh semua pasang mata yang menyaksikannya. Bahkan Kama Kumara mulai merasakan kepuasan tersendiri karena dirinya merasa terlihat sangat jantan.


Candrawati menunduk kepala, karena berpaling ia tak berani. Wanita itu mulai berpikir apakah tindakannya mendirikan omah kajaliran adalah salah? Jika dirinya jijik melihat perilaku hewani sang raja, maka sangat dimungkinkan warga sekitar juga jijik akan kelakuan para jalir dan orang-orang yang datang menggunakan jasanya.


Waktu terus berlalu, sudah lebih dari dua jam Candrawati berdiri dan merenung. Kakinya pun telah merasa kesemutan, tetapi Kama Kumara belum menunjukkan tanda akan segera mengeluarkan cairan kentalnya. Justru Kama Kumara makin berisik.


"Ah ... Uh! Ah Uh!"


Lintang Asri Kemuning pun sudah terkapar di tepi kolam. Entah pura-pura atau memang benar-benar kelelahan akibat semalam juga banyak yang datang.


"Ampun Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara, ah ...!"


Rintihan minta ampun dari jalir hanya membuat Kama Kumara makin beringas saja sebelum pindah ke wanita lain dan begitu seterusnya.


'Benar-benar babi!!' maki Candrawati dalam hati.


Sesungguhnya manusia memang makhluk paling sempurna akan tetapi ketika hawa nafsu telah merajai pikiran dan hati, maka dia akan jauh lebih hina dari binatang semisal babi!


***