
Jaga Saksena menoleh lalu mengamati sesaat tiga anak yang mendekatinya.
"Ada apa dengan cara berjalan kalian? Kalian mengik?!" tanya polos Jaga Saksena.
Mengik adalah penyakit yang membuat penderitanya sesak napas. Jaga tidak tahu bahwa penyakit mengik di kerajaan ini dilekatkan pada kasta dalit.
Dalit merupakan strata masyarakat terendah, di bawah sudra. Dalit sebenarnya dianggap tidak masuk kasta. Sehingga orang dalit akan sangat terhina. Dijadikan budak, bahkan diperlalukan bak hewan. Memperkosa atau membunuh dalit tidak akan dikenai hukuman apa pun.
Mengik dilekatkan pada kasta dalit sebab hanya orang dalitlah yang tidak mampu mengobati penyakit mengik. Padahal obatnya tergolong murah, bahkan bisa dibuat sendiri dari cairan pohon lengkuas yang diambil dengan cara dideres.
Tak menjawab pertanyaan Jaga Saksena, anak yang berjalan di tengah terus maju.
"Maksudmu apa mengejek kami mengik, hah?! Kau siapa berani-beraninya mengatai kami dalit?!" bentak si anak sambil mendorongkan dada ke wajah Jaga Saksena, sedang dua tangannya menegang mengepal lurus ke bawah belakang.
Tentu saja ini membuat Jaga Saksena bingung, karena Jaga Saksena tidak mengenal istilah dalit, sehingga bocah itu kehilangan kata-kata untuk diucapkan.
"Sudah, Takil! Hajar saja dia!" Anak lelaki yang di sebelah kanan memanas-manasi.
Takil, anak lelaki yang dari postur tubuhnya bisa ditebak lebih tua dari Jaga Saksena terus mendorongkan dadanya, hingga Jaga Saksena tak lagi bisa mundur sebab punggung telah membentur pohon.
"Apa?! Apa?! Kau tak terima, hah?!" bentak Takil makin mengintimidasi ketika Jaga Saksena berusaha menyingkirkan wajahnya dari dada Takil.
'Ada apa dengan anak-anak masyarakat pemakan nasi ini?!' pikir Jaga Saksena sebelum memutuskan untuk melepaskan diri dari himpitan dengan cara mendorong Takil ke samping.
Glubrak!
Tak diduga, dorongan tangan Jaga Saksena mampu membuat Takil terjengkang jatuh.
"Maaf, aku tidak bermaksud menjatuhkanmu! Aku hanya ingin melihat sayembara, tidak mencari perkara!" ucap Jaga Saksena seraya memanjat pohon dengan cepat.
"Kethek!" maki Takil _menyamakan Jaga Saksena dengan monyet_ sembari bangkit dari jatuhnya.
'Untung saja orang-orang tengah sibuk memandang ke arena, jika tidak kemaluanku sungguh besar!!' batin Takil melirik ke arah orang-orang.
"Takil! Dia berani jatuhkan dirimu! Apa kau akan diam saja?!" Giliran bocah sebelah kiri memanasi hati Takil.
"Iya benar, apa kau akan diam saja?!" Kawan sebelah kanan menambahkan.
"Tak akan, bocah kethek itu akan tahu siapa Takil sebenarnya!"
Takil mulai memanjat pohon yang sama, hendak menyusul Jaga Saksena yang sudah cukup tinggi memanjat sekira tiga tombak (6 meter_pen).
Jaga tidak peduli, ia terus naik hingga setinggi delapan tombak.
"Sudah kuduga, dari sini aku bisa melihat pertarungan di panggung sana dengan jelas!" gumam Jaga Saksena setelah duduk pada satu cabang pohon.
Takil yang kini juga telah duduk di cabang yang cukup besar, di bawah Jaga Saksena mulai berteriak,
"Hwoi Kethek!"
Suara terikan Takil tersamarkan oleh sorak-sorai lautan manusia di alun-alun akibat keseruan pertarungan di atas arena. "Hwai Kethek!" ulangnya.
Jaga menoleh ke bawah, "Ada apa lagi? Aku sudah minta maaf padamu!"
"Jika semua masalah selesai dengan minta maaf, maka tidak ada pengadilan di kerajaan ini, Kethek!" bentak Takil.
Jaga tidak membalas, lebih memilih melihat pertarungan si gundul melawan pemuda berpakaian serba biru gelap. Dua orang yang dilihatnya beradu mulut di kedai kemarin malam.
Takil yang merasa diabaikan kini berdiri pada cabang pohon yang tadi ia duduki lalu kembali berteriak,
"Aku tidak terima kau mendorongku!"
"Aku tidak memberimu sesuatu! Tentu saja kau tidak terima. Sudahlah aku mau melihat pertarungan!" sahut Jaga Saksena.
"Kethek Bajingan Keparat! Terkutuk kau!"
Marahlah si Takil lalu memanjat kembali untuk mendekati Jaga Saksena yang tengah duduk menjuntai kaki.
Berpijak pada cabang kecil, takil memeluk batang pohon erat lalu memegang kaki Jaga Saksena dan menariknya.
Hegh!
Ya, hampir saja andai Jaga tidak berhasil meraih cabang pohon yang tadi ia duduki.
Kini Jaga Saksena memegang erat cabang pohon yang semula ia duduki dengan posisi menggantung. Sementara kaki masih dipegangi oleh Takil.
"Lepaskan! Aku bisa jatuh!" Sembari menghentak kaki, Jaga Saksena membentak tidak main-main karena ia menganggap si Takil sudah berlebihan.
Takil tersenyum lalu berkata,
"Justru aku ingin menjatuhkanmu! Agar kau tahu rasanya dijatuhkan!"
Usai berkata, Takil menguatkan genggaman tangannya, bahkan kini memegang dengan dua tangan.
Memegang kaki Jaga Saksena dengan dua tangan bisa Takil lakukan sebab dirinya dalam posisi memeluk batang pohon yang cukup kecil bagi rentangan tangannya.
"Kau boleh menjatuhkanku jika sudah di bawah. Ini berlebihan! Cepat lepaskan kakiku!"
"Aku akan lepaskan kakimu jika kau lepaskan pegangan tanganmu!"
Jelas saja, Jaga tak mau melepaskan pegangan tangannya karena itu sama saja bunuh diri.
Jaga Saksena menarik napas dalam-dalam untuk menambah tenaga pada tangan.
Melihat itu, Takil kembali menarik kaki Jaga Saksena kuat-kuat. Andai dia bisa menarik lebih jauh, sudah pasti Jaga akan terjatuh. Posisi memeluk batang pohon tidak memungkin bagi Takil untuk melakukan itu.
'Bocah ini benar-benar ingin membunuhku! Tanganku juga mulai berkeringat! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?'
Di saat Jaga Saksena kebingungan atas apa yang akan ia lakukan, Takil kembali menyentak kaki Jaga.
'Keparat! Kenapa dia tidak jatuh juga!' maki Takil dalam hati. 'Aku harus lebih keras menariknya!'
Berpikir demikian, Takil kembali menghentak kuat. Ia lupa, pijakan kakinya hanya cabang kecil.
"Mampus kau, Kethek!!"
Berseru keras Takil menarik Kaki Jaga Saksena sekuat tenaga, dan ....
"Akh ... toloooong ...!"
Krosaak! Krosaak!
Gdebug!
"Hekh!"
Takil yang terlalu keras menarik, di tambah cabang pijakan hanya cabang kecil membuatnya terpelanting jatuh.
Saat yang sama, Jaga Saksena juga terjatuh. Untung saja, ada cabang cukup kuat yang menyambut tubuh kecilnya. Cabang yang beberapa saat lalu digunakan duduk oleh Takil.
Sedangkan Takil, bablas. Meski tidak jatuh di jalan berbatu, Takil jatuh dengan posisi kepala terlebih dahulu membuat lehernya patah dan tewas seketika.
"Takiiiill!!" teriak dua kawannya memburu tubuh takil yang telah diam untuk selamanya.
"Takiiill!"
Berjongkok dengan posisi lutut di tanah, dua bocah itu mengguncang tubuh Takil.
"Takil! Bangun Takil!"
Kedua kawan Takil mulai menangis. Keduanya tak menyangka perbuatan iseng memanas-manasi Takil akan berakibat seburuk ini. Takil tewas dengan leher patah.
Jaga Saksena yang menyadari Takil terjatuh segera bergegas merambati cabang pohon lalu turun dengan cepat.
Tidak pedulikan tangisan dua kawan Takil, Jaga mendekat lalu mengangsurkan jarinya ke depan hidung Takil.
'Dia tidak bernapas! Dia tewas!' kaget hati Jaga.
"K-kau! Harus bertanggung jawab!" tuding kawan Takil lalu berteriak, "Toloooong ...! Tolooong ...!"