
Di sebuah dermaga besar di sisi utara laut Jawadwipa.
Seiring tenggelamnya matahari, sebuah kapal layar besar merapat. Itu adalah kapal dagang sekaligus penumpang.
Tak berapa lama setelah kapal merapat dengan sempurna, para penumpang diminta turun terlebih dahulu agar tidak mengganggu proses penurunan barang.
Di antara banyaknya penumpang, berjalan tenang seorang pria berpakaian serta berjubah putih. Kendati telah menggurat garis-garis ketuaan, wajahnya tampak berseri enak dipandang. Kumisnya menyatu dengan jenggot yang rapi dan sedikit basah. Hidungnya mancung apik. Ikat kepala yang melingkar sedikit tebal terlihat berat oleh orang-orang yang memandang asing lelaki tersebut.
Tengah berjalan dengan tenang, pria berjubah putih dihentikan oleh seorang lelaki bertelanjang dada.
"Ki Sanak, sepertinya kau orang dari negeri yang sangat jauh. Malam telah tiba aku bisa membawamu ke penginapan! Tidak mahal dan dijamin Ki Sanak akan puas!"
Rupanya lelaki bertelanjang dada itu menawarkan penginapan padanya.
Selain lelaki tersebut, banyak lagi orang yang juga melakukan hal yang sama. Mereka mencegat orang-orang yang baru turun dari kapal untuk menawarkan penginapan.
Ketika ditawari penginapan, pria berjubah putih tampak terdiam memperhatikan. Namun ketika lelaki bertelanjang dada selesai menawarkan, alih-alih menyahuti pria berjubah putih malah mengangkat dua telapak tangan ke depan dada. Mulutnya terlihat komat-kamit sebelum akhirnya meraupkan dua telapak tangan ke wajah.
"Kau kutawari penginapan malah mengusap wajah. Pe ngi na pan!" ucap lelaki bertelanjang dada membuat gerakan kotak dengan dua tangan lalu meletakkan dua tangan di dekat telinga sambil miringkan kepala.
Pria berjubah putih tersenyum, di bawah cahaya obor tampak gigi-giginya yang putih.
"Baiklah, kau bisa membawaku ke tempat itu."
Sontak lelaki bertelanjang dada kaget, "Rupanya kau mengerti bahasaku?!" tanya si lelaki bertelanjang dada sedikit menyesal telah banyak melakukan gerakan.
Pria berjubah hanya menjawab dengan senyuman, seperti tahu atau memang benar-benar tahu bahwa lelaki bertelanjang dada tidak benar-benar memerlukan jawaban atas pertanyaannya.
"Mari, Ki Sanak. Ikut denganku," lanjut lelaki bertelanjang dada.
Sudah menjadi kebiasaan penginapan di dekat pelabuhan akan mengutus orang-orangnya untuk menggaet pengunjung.
Persaingan telah begitu ketat sehingga jika tidak melakukan strategi jemput, maka akan kalah saing. Penginapan tidak akan laku, setidaknya akan sepi.
Tiba di penginapan, lelaki bertelanjang dada menyerahkan tugas lanjutan kepada salah satu wanita penerima pengunjung.
Penginapan yang besar, memiliki lebih dari satu wanita penerima tamu.
"Silahkan Ki Sanak, silahkan. Kami menyediakan banyak kamar. Mulai dari sekeping emas dalam semalam hingga sepuluh keping emas."
Seorang perempuan berusia sekitar dua puluh lima, memakai pakaian ringkas tipis dengan bibir merah menantang menerangkan dengan ekspresi nakal nan manja. Ini membuat pria berjubah putih menudukkan pandangan matanya.
"Aku ambil yang paling murah, Ni Sanak." Pria berjubah putih berkata datar.
"Melihat pakaianmu yang boros bahan, kau berasal dari daratan nun jauh di sana. Kau pasti capai sekali, Ki Sanak. Kami menawarkan jasa pijat. Dari yang termurah satu keping emas hingga lima keping emas." Panjang lebar penerima pengunjung menawarkan.
"Aku hanya pesan kamar, Ni Sanak." Kembali pria berjubah putih menjawab datar, menunjukkan tak ada ketertarikan sama sekali.
"Oh aku tahu, kau ingin yang masih muda belia? Kami ada. Mau gadis perawan ting? Atau gadis perawan tong?"
Mendapat pertanyaan yang jelas makin mengarah pada satu jurusan yakni pemuas nafsu birahi, pria berjubah putih menarik napas lebih dalam sebelum kembali berkata sama persis,
"Aku hanya pesan kamar, Ni Sanak."
'Sialan! Biasanya tamu dari negeri asing akan sangat penasaran pada cita rasa lubang gua garba anak negeri. Tetapi lelaki ini ... jangan-jangan dia jenis penyuka sesama jenis! Sungguh menyebalkan!'
Baru saja, perempuan penerima tamu berkata demikian dalam hati, pria berjubah berucap lembut,
Tersurut dua langkah wanita penyambut pengunjung, ia membatin, 'Bagaimana dia tahu ucapan hatiku?! Atau hanya kebetulan ... Sebaiknya kubuktikan saja!'
Usai membatin demikian, wanita penyambut pengunjung tersebut memaki dalam hati, 'Anjing kau! Babi kau! Monyet kau! Celeng kau!'
"Aku manusia sepertimu, Ni Sanak. Kelakuan buruklah yang membuat manusia terkadang lebih rendah dari binatang. Tetapi aku hanya ingin memesan kamar dalam satu malam. Terimalah pembayaran dariku."
Si wanita penerima pengunjung hanya bisa bengong tak bisa berkata apa-apa sembari menerima satu keping emas dari tangan sang pria berjubah putih.
Di saat yang sama, tamu-tamu lain yang berdatangan disambut dengan hal serupa oleh para wanita penerima pengunjung. Dengan gembira para tamu itu menanyakan bermacam gadis yang bisa menemani nanti malam.
"Aku pesan dua gadis perawan ting untuk nanti malam!" seru salah satu tamu, seorang lelaki berpakaian tanpa lengan.
Dari penampilan alas kaki hingga rambut yang berikat kepala lorek, serta golok bergagang kepala ukiran harimau, jelas lelaki itu seorang pendekar.
"Aku yang tong saja, lebih berpengalaman!" pesan lelaki lainnya.
Demikianlah, semua tamu mengambil tawaran. Hanya pria berjubah putih yang hanya pesan kamar tanpa tambahan apa-apa.
Setelah mengantarkan lelaki berjubah putih ke kamarnya, si wanita penerima pengunjung kembali ke ruang depan untuk menyambut tamu lain. Sambil berdiri ia menggerutu dalam hati,
'Sial bener, baru kali ini aku mendapati seorang pengunjung begitu aneh. Dia tahu kata hatiku!'
"Ada apa Lasniwi? Mukamu cemberut begitu?!" sapa salah satu wanita penerima pengunjung lain yang terlihat paling cantik.
Di saat menunggu tamu datang, mereka para wanita penerima pengunjung biasa mengobrol.
"Pengunjung tadi, sungguh membuat aku jengkel, Narini!"
Jawaban Lasniwi segera saja menarik perhatian para wanita penerima tamu yang sedang nganggur, menunggu tamu lain datang. Sementara yang tengah menerima pengunjung tetap sibuk pada pekerjaan mereka.
"Ada apa ceritakan pada kami, jangan membuat penasaran!"
Mereka pun berkumpul untuk mendengarkan Lasniwi.
"Tamu berpakaian berlapis dan panjang itu tadi, dia menolak semua tawaranku. Bukan karena dia tidak punya keping emas. Tetapi dari ucapannya yang datar, aku yakin dia tidak suka gadis atau wanita!"
"Maksudmu, dia penyuka lelaki muda kemayu!?" tanya Narini.
"Bukan juga! Kuat dugaanku jika anunya tidak bisa berdiri!"
"Hikshikshikshiks!"
Suara tertawa para wanita itu pecah.
Saat yang sama, para pengunjung penginapan tampak berdatangan. Hari ini memang ada dua kapal layar besar yang berlabuh.
Segera para wanita penyambut tamu itu bubar untuk menyambut para pengunjung yang datang.
Usai menyambut tamu dan mengantarkan ke kamarnya lalu melaporkan pesanan pada atasan, mereka kembali berkumpul.
"Bagaimana kalau nanti malam, aku goda dia?" Narini membuka percakapan. "Meski wajah pria itu tak lagi muda tetapi hidungnya itu lho ...! Lumayan untuk memperbaiki keturunan. Kulitnya juga cerah!"
Narini memang sempat melihat pria berjubah putih yang disambut oleh Lasniwi. Pria itu memang memiliki bentuk hidung yang bagus dan berkulit cerah. Tidak sebagaimana lelaki anak nagari yang sedikit pesek juga berkulit sawo matang.