Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 70. Genderang Perang Suku Lembah Kenabala



Pagi hari yang cerah, di Lembah Kenabala.


Dung! Dung! Dudung! Dung! Dudung!


Genderang dari kulit banteng ditabuh bertalu-talu. Itu adalah tabuh pertanda persiapan perang.


Semua petarung tak peduli laki, perempuan bahkan remaja ikut bersiap sedia.


"Inilah waktu bagi kalian untuk menunjukkan pada dunia! Bugu Wunu Kalu! (Gempur, Bunuh, Jarah!)"


"Bugu Wunu Kalu!"


"Bugu Wunu Kalu!"


"Sadu Hina Be Dutsu Kala! (Mandikan tubuh dengan darah musuh!)"


"Sadu Hina Be Dutsu Kala!"


Teriakan-teriakan pembakar semangat terus dikumandangkan.


Mereka mulai berbaris rapi mengenakan pakaian khusus perang dari kulit kerbau, banteng, dan hewan lainnya yang berkulit tebal. Di bagian dada dan perut kulit ini dirangkap hingga tiga bahkan lima lapis. Ini untuk melindungi diri dari anak panah bahkan dari tombak. Di bagian kepala, mereka juga mengenakan kulit binatang buas. Maka sepintas pasukan manusia Lembah Kenabala tampak bagai kawanan binatang buas.


Ujung tombak-tombak telah dilumuri minyak hewan, demikian juga ujung anak panah. Bertujuan untuk memudahkan senjata tersebut menembus badan musuh.


Ketika matahari mulai naik, sekitar tiga ribu manusia telah berbaris campur aduk. Tua, muda, remaja, lelaki, dan wanita.


"Mereka, orang-orang Saindara Gumilang telah berani menghina kita!" teriak Yang Mulia Raja Draleka di hadapan pasukannya, kali ini kepala suku tersebut akan langsung menjadi panglima perang membawahi empat pemimpin pasukan. "Maka mari kita tunjukkan siapa kita! Bugu Wunu Kalu!"


"Bugu Wunu Kalu!" sambut pasukan bergemuruh.


"Sadu Hina Be Dutsu Kala!" Yang Mulia Raja Draleka mengangkat dua tangannya.


"Sadu Hina Be Dutsu Kala!"


Gemuruh pekik peperangan menggema di angkasa Lembah Kenabala. Diiringi suara genderang ditabuh sebagai penyemangat.


Dung! Dung! Dung! Dudung! Dudung! Dudung! Drung!


***


Di pagi yang sama, selepas wirid ba'da shubuh, Jaga Saksena melakukan peregangan otot lalu duduk di depan kamar di mana ada meja dan bangku panjang. Menikmati secangkir teh yang terbuat dari daun bak rambong ditemani singkong bakar.


Daun bak rambong diyakini memiliki khasiat menyehatkan pembuluh darah, dan singkong bakar di pagi hari diyakini baik untuk lambung. Jaga memesan minuman dan makanan ini pada pemilik penginapan.


"Huammmm!" Sungsang masih menguap kala keluar dari dalam kamar dan langsung menyerobot teh dalam cangkir.


"Segeerrr ...!" puji Sungsang.


"Cuci muka, cuci tangan dan kaki. Syukur-syukur kau mandi biar cepat dapat istri, Sungsang," ujar Jaga Saksena datar.


"Syukur-syukur? Apa itu?" tanya Sungsang asing akan apa yang barusan ia dengar.


"Syukur adalah wujud perasaan berterimakasih."


"Oh pasti dari ngarob lagi ya?" tanya Sungsang mengambil tempat duduk.


Jaga Saksena hanya tersenyum lalu mengambil sepotong singkong bakar. Menggigit kecil lalu mengunyah dengan sepenuh hati. Terlihat sangat menikmati.


"Kau jauh lebih muda dariku, Jaga. Tapi kuakui, kau lebih pandai menikmati dunia ini. Karena betapa kuberusaha menikmati singkong bakar ini, rasanya tetap sama, rasa singkong!" ucap Sungsang yang telah ikut mengunyah singkong bakar tetapi tetap berasa singkong.


"Bukan apa yang kau makan, tapi siapa yang memberikan makanan itu padamu," timpal Jaga.


"Lha, emang ini diberi oleh siapa? Aow ow ... kau sudah mulai punya kekasih rupanya, ya?! Kenapa tidak kau kenalkan padaku?!" Bertubi pertanyaan Sungsang.


"Manusia hanyalah perantara, sejatinya Gusti Alloh yang memberikan setiap rejeki."


Mendapat jawaban itu, Sungsang terdiam untuk mencerna perkataan Jaga Saksena.


Sungsang memang merasa lebih tua dari Jaga dalam hal usia, akan tetapi tidak dengan pemahaman-pemahaman.


Usai berbincang ringan tentang kenikmatan singkong, Sungsang mengalihkan pembicaraan ke kejadian semalam kemudian mengusulkan sebuah rencana.


"Apa tidak sebaiknya hari ini kita pancing kembali, Jaga? Siapa tahu ada pelaku lain selain dua orang kemarin itu. Atau siapa tahu, pecundang itu telah kembali ke kerajaan ini!"


"Tidak ada salahnya dicoba."


"Nah!" Hanya itu yang keluar dari mulut Sungsang sebelum berdiri lalu masuk ke dalam kamar.


Tak berapa lama Sungsang kembali dengan membawa rompi pisau terbang komplit dengan pisau yang terselip di saku-sakunya.


Meletakkan rompi di atas meja dengan terlebih dahulu menyingkirkan minuman dan singkong bakar, Sungsang berkata.


"Hehehe! Ternyata kau bersemangat karena ada maunya. Baiklah aku ikuti kemauanmu!"


Jaga Saksena bangkit lalu memakai rompi pisau terbang.


"Ini tidak buruk, pas di tubuhku. Dan aku terlihat lebih keren, bukan?!" lanjut Jaga Saksena memasang sikap perbawa ala pendekar.


"Ya ya ya! Dengan pakaian ala ksatria ini, kau akan mendapatkan seorang putri raja, Jaga!"


"Perkataan yang baik adalah sebuah doa!"


"Doa? Apa itu?!"


"Harapan, permintaan pada Yang Maha Kuasa."


"Mana ada harapanku akan dipenuhi! Hahaha!" Sungsang terpingkal-pingkal, sebab perkataannya barusan tentang Jaga Saksena akan mendapatkan seorang putri raja hanyalah lelucon.


"Sudahi tawamu, Sungsang. Jika tidak kau akan ditangkap prajurit dan dimasukkan penjara orang dalam gangguan jiwa!"


"Hahahaha!" Sungsang makin terbahak-bahak hingga mau tak mau Jaga Saksena ketularan tertawa.


"Mari berangkat!"


Puas terbahak-bahak hingga memicu para pengguna penginapan lain keluar kamar, akhirnya dua pemuda itu bergegas pergi.


Seperti kemarin, Kedunya berjalan terpisah. Kali ini Jaga Saksena yang berjalan di depan, sementara Sungsang mengikuti di belakang dengan menjaga jarak aman.


***


Sudah hampir setengah hari Jaga Saksena menelusuri jalanan kerajaan untuk mengundang perhatian, akan tetapi baik Jaga maupun Sungsang tak mendapati gelagat mencurigakan dari orang-orang.


Tepat ketika matahari berada di titik tertingginya, Jaga Saksena tiba di sebuah jalan yang sepi. Jalan ini berujung pada sebuah tembok. Tembok yang hanya setinggi leher anak usia 10 an tahun!


'Aku pernah ke sini.'


Jaga Saksena mengenang masa lalunya di mana dulu Jaga pernah makan di dalam sana.


'Apakah medi itu masih di sana?! Apakah dia sudah besar atau tetap kecil seperti saat itu?!'


Entah mengapa tiba-tiba Jaga Saksena penasaran akan keadaan medi yang pernah mengagetkannya hingga dirinya terperosok ke dalam telaga.


Tep!


Ringan, Jaga Saksena melompati tembok. Namun,


"Hai siapa itu!!"


Sebuah bentakan terdengar galak, menghentikan gerakan Jaga Saksena yang hendak melaju ke arah telaga.


"Oh ... maaf, Paman Perwira."


Melihat dua orang yang berkelebat dan berdiri di hadapannya berpakaian perwira kerajaan, Jaga Saksena menghormat dan dengan sopan meminta maaf.


"Lancang seka—"


Bugh!


Ucapan salah satu perwira kerajaan terhenti oleh sodokan sikut kawannya yang diiringi bisikan,


"Lihat pinggang pemuda ini!"


Sepontan, wajah perwira yang hendak membentak berubah sopan lalu membungkuk hormat untuk berkata,


"Seja hati ini hendak berkata, justru kami yang meminta maaf pada Tuan."


"Aku Jaga Saksena, Paman Perwira bisa panggil itu. Aku bukan seorang tuan."


"Maaf jika salah, Pangeran Jaga."


"Pangeran?!" Jaga Saksena terheran. "Aku juga bukan seorang pangeran, Paman Perwira."


Tak hanya Jaga, dua perwira itu juga merasa keheranan. Ini diakibatkan dua perwira tersebut adalah perwira baru yang direkrut dari kalangan pendekar sekitar lima tahun yang lalu sehingga tidak tahu kisah bocah dalit berkapak batu. Sedang mereka berdua, dan juga perwira lain yang bertugas mengamankan area telaga telah diwanti-wanti oleh sang putri untuk menyambut baik seorang pemuda yang akan datang. Sang putri menyebutkan ciri-ciri pemuda tersebut, yaitu membawa kapak batu di pinggang.


Sebab perintah dari sang putrilah, para perwira menduga pemuda berkapak batu adalah seorang bangsawan atau bahkan pangeran sebuah kerajaan.


Yang lebih berasa heran adalah Sungsang, pemuda matang yang mengintai dan mencuri dengar perbincangan itu sampai garuk-garuk kepala tak gatal. Lalu bergumam dalam hati akibat perasaan heran, campur aduk dengan kekaguman, sekaligus penyesalan.


'Hanya memakai rompi pisau terbang, Jaga dikira sebagai Tuan? Woh apa lagi ini? Jaga dikira seorang Pangeran?! Padahal ketika aku yang memakainya kemarin ... Sepertinya setelah ini harus aku yang memakainya lagi!'