Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 104. Angkara Murka Kama Kumara



Mendengar keributan, lelaki pemilik kedai yang tengah mempersiapkan makanan di dapur segera keluar.


"Lha pada ke mana mereka?!"


Lelaki pemilik kedai hanya mendapati seorang berkepala plontos dengan penampilan lusuh aerta kulit menghitam tengah duduk di bangku panjang di mana meja di hdapannya telah hancur.


"Kisanak Pendekar, aku tahu kau punya kesaktian tapi tolong jangan hancurkan kedai ini hingga kau membuat takut seluruh pelangganku. Lihatlah semua kabur padahal mereka belum bayar padaku!" Pemilik kedai menegur bermaksud ingin minta ganti rugi.


Ditegur orang sedemikian rupa, Kama Kumara bangkit lalu menghampiri lelaki pemilik kedai dan,


Bless!


"Arghh!"


Telapak tangan kanan Kama Kumara yang diluruskan menjebol tembus perut pemilik kedai. Lenguh kesakitan dijemput kematian terdengar lemah dari mulut lelaki separuh baya itu. Matanya melotot hampir mencelat keluar.


Brall!


Kama Kumara mencabut tangan kanannya yang kini berlumuran darah sembari mendorong tubuh lelaki pemilik kedai dengan tangan kiri hingga tubuhnya terhempas menabrak dinding.


"Manusia lemah banyak bacot!" maki Kama Kumara pada pemilik kedai yang telah menjadi mayat terkulai di lantai.


Pada saat itu lah, keluar istri pemilik kedai. Melihat suaminya telah menjadi mayat dengan keadaan mengenaskan perempuan itu pun ambruk, pingsan.


"Kalau mau pingsan jangan di jalan! Menghalangiku saja!" maki Kama Kumara yang hendak masuk ke dapur untuk mencari makanan lalu,


Krakk!


Wuuts!


Bralk!


Kama Kumara layangkan tendangan kaki kanan pada punggung istri pemilik kedai. Membuat tulang belakang wanita lemah itu patah dan tubuhnya meluncur menghantam dinding kedai hingga jebol. Dalam pingsannya, istri pemilik kedai tewas seketika!


Dengan langkah lebar, Kama Kumara menuju dapur. Di sana ia menemukan banyak makanan di atas nampan besar yang rupanya telah siap untuk dihidangkan.


Tamak, Kama Kumara gunakan tangan kiri untuk menyantap makanan tersebut. Sementara tangan kanan ia kibas-kibaskan agar darah yang melumurinya hilang.


"Enak sekali ayam bakar ini!"


Bagai kesurupan Kama Kumara mengunyah makanan hingga berceceran. Pelatihan tata krama dan kesopanan yang diajarkan padanya sebagai seorang putra raja telah hilang tak berbekas.


Usai menghabiskan lima ekor ayam panggang ditambah nasi.


Wuuts!


Kama Kumara melempar nampan besar di hadapannya lalu mencari kendi tuak.


"Di sini kau rupanya!"


Putra Mahkota Kerajaan Saindara Gumilang itu mendapati banyak kendil tuak di dalam kotak kayu besar di pojok ruangan.


Bukan hanya meminumnya, Kama Kumara mengguyur seluruh tubuhnya dengan tuak tersebut.


"Huahhhh! Segaaarrrr!"


Masih mententeng satu kendil tuak di tangan kiri, Kama Kumara keluar kedai. Saat itulah, beberapa jawara kampung tiba di halaman kedai dan langsung mengepung Kama Kumara dengan golok terhunus.


"Kau telah membuat kekacauan di sini! Berikan seratus keping emas dan pergilah!" ancam salah satu Jawara yang terlihat paling tua di antara jawara lain.


"Seratus keping Ndasmu Pecah!"


Set!


Kama Kumara memaki sebelum berkelebat dan hantamkan tinju kanannya.


Prakk!


Kepala jawara paling tua itu pecah berantakan tanpa sempat melakukan perlawanan sedikit pun. Sontak saja ini membuat para jawara lain ciut nyali. Maka mereka pun kompak melarikan diri.


Namun, Kama Kumara sepertinya sedang ingin sedikit renggangkan otot sehabis makan begitu kenyang.


Kama Kumara berkelebat,


Brall!


Prakk!


Grlll!


Satu persatu jawara tewas dengan mengenaskan. Kepala pecah. Dada jebol. Perut ambrol. Leher patah tertebas telapak tangan.


Dan tak terkecuali para jawara yang sudah cukup jauh berlari.


"Ha ha ha ha!"


Sembari tertawa terbahak-bahak Kama Kumara mengejar mereka, kemudian membantainya.


***


Usai membantai semua jawara kampung sehingga mayat bergelimpangan di sepanjang jalan desa, Kama Kumara berteriak dengan suara masih serak,


"Akulah Kama Kumara! Maha Raja Kerajaan Saindara Gumilang! Kalian harus takut padaku sebagaimana kalian takut pada kematian. Ha ha ha ha!"


Suara yang dilambari kekuatan dasyat itu menyebar ke seantero desa meski percuma saja sebab suara Kama Kumara tidak jelas, tidak bisa dipahami akibat serak yang melanda. Maka, para warga desa hanya bisa ketakutan masuk ke dalam rumah masing-masing, mengunci rapat pintu.


Masih tertawa, Kama Kumara melesat ke atas pohon lalu melompat dari satu pucuk pohon ke pohon lainnya menuju Kerajaan Saindara Gumilang.


Baru menempuh setengah perjalanan Kama Kumara harus terhenti ketika melihat rombongan pedagang antar kerajaan tengah di serang oleh sekelompok perampok bersenjata celurit.


Melihat dari senjata celurit berujung belah, bisa dipastikan mereka adalah kawanan Perampok Celurit Lidah Ular. Kelompok yang berasal dari pulau seberang di timur jauh. Mereka mengembara hingga akhirnya bercokol di daerah sekitar Saindara Gumilang.


Kelompok perampok ini terkenal bengis dan tak akan memberi ampun, tidak segan membacoki korbannya hingga menjadi daging cincang, kelompok Perampok Celurit Lidah Ular juga melumuri ujung celurit dengan racun ular weling. Salah satu ular yang bisanya sangat mematikan.


Tep!


Mendarat di luar arena pertempuran antara hidup dan mati, Kama Kumara alih-alih membantu malah berdiri sedekap tangan di dada menonton.


'Komplotan Perampok Celurit Lidah Ular. Aku ingin tahu kehebatan mereka!'


Pihak pedagang terdesak hebat akibat kalah jumlah. Beberapa di antara mereka telah meregang nyawa hingga akhirnya pemimpin mereka yang tengah bertarung berteriak pada Kama Kumara,


"Pendekar! Tolong bantu kami, berapa pun bayaran yang kau minta akan kami berikan!"


"Cuihh!" Kama Kumara meludah. "Kau kira aku orang melarat yang mencari pekerjaan!"


"Berapa pun, Pendekar! Tolong bantu kami!" Pemimpin pengawalan barang dagangan kembali berteriak sebab jawaban Kama Kumara kurang bisa dipahami akibat suaranya yang serak parah.


Kali ini Kama Kumara tidak menjawab kecuali hanya mencibir sembari terus menyaksikan jalannya pertempuran.


Korban semakin bertambah dari kedua belah pihak. Hingga akhirnya hanya tinggal pemimpin pengawal barang dagangan yang masih bertahan. Dan itu pun tidaklah lama akibat dikeroyok banyak perampok.


Crakk! Crook!!


Tubuh pemimpin pengawalan barang dagangan tercincang oleh belasan ujung celurit belah.


"Oh sudah habis ya?!" gumam Kama Kumara ketika pertempuran berhenti.


Sebelumnya Kama Kumara menduga masih ada saudagar pemilik barang dagangan yang akan melawan ternyata sudah tidak ada. Artinya saudagar pemilik barang telah kabur karena tahu para pengawal barangnya akan kalah dan terbantai. Sungguh saudagar yang cerdik, harta bisa dicari lagi tetapi tidak dengan nyawa!


"Hwoi Kau!! Ini bukan tontonan!" hardik seorang perampok acungkan celurit berujung belah pada Kama Kumara.


"Ketika aku ingin menonton maka artinya itu adalah tontonan!" Kama Kumara balas menghardik.


Meski tidak paham ucapan orang akibat suara seraknya, perampok yang membentak dan acungkan celurit naik pitam. Ia berlari ke arah Kama Kumara sembari berteriak garang,


"Rasakan celuritku ini!!"


Sementara itu para anggota Perampok Celurit Lidah Ular tak peduli, mereka sibuk membongkar barang bawaan di gerobak. Ingin segera tahu hasil jarahannya.


***⁰0⁰***