Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 71. Pertemuan Kembali



Putri bungsu Raja Basukamba, Andara Anesha Sari terlahir di malam sukra (jum'at_pen) pasaran legi ketika rembulan tertutup bayangan gelap gerhana.


Sebab itulah, keluarga kerajaan percaya, Andara Anesha Sari adalah seorang anak yang berbeda dan diyakini akan memiliki kekuatan gaib.


Seiring waktu sang putri tumbuh, kekuatan itu mulai tampak. Putri Andara Anesha Sari terkadang muncul begitu saja bahkan bisa menembus dinding sehingga mengagetkan byungmban (perawat wanita_pen) dan para abdi dalem (pelayan_pen).


Bukan hanya itu, Putri Andara Anesha Sari mampu menggerakkan dan mengendalikan benda-benda di sekitarnya dengan tanpa menyentuh. Parahnya, ketika sang putri sedang marah, kekuatan ini bisa membunuh orang-orang di sekitarnya sebab barang-barang disekitarnya akan berlesatan.


Oleh sebab itu, semua orang yang di sekitar Putri Andara haruslah seorang pendekar. Jika tidak maka harus siap kabur jika terlihat sang putri akan emosi. Sebab inilah, Andara Anesha Sari seperti terkucilkan dari anak-anak lain.


Dikucilkan bukan malah membuat Putri Andara Anesha Sari sedih. Ia malah senang sehingga sering menyendiri dan sering terlihat di atas danau kecil di tengah kerajaan.


Telaga Tamansari, demikian danau tempat Putri Andara sering menyendiri dinamakan. Danau ini diperuntukkan sebagai taman keluarga raja. Terletak di luar tembok istana sehingga diperlukan tembok tambahan untuk mengelilinginya.


Raja Basukamba sendiri tidak pernah melarang putrinya tersebut untuk menyendiri, kecuali hanya menambah para penjaga.


Waktu berjalan cepat dan Putri Andara Anesha Sari telah menjelma menjadi seorang gadis secantik bidadari. Tak terhitung para pemuda bangsawan yang tertarik padanya, akan tetapi tidak ada yang berani ambil risiko untuk mendekatinya.


Para pemuda itu merasa ngeri pada kekuatan sang putri. Bayangkan, ketika di malam-malam hari tengah lelap, sebuah pisau melayang sendiri lalu menancap di ulu hati. Atau ketika sang putri cemburu, pisau itu menusuk perabotan kelelakian. Atau bahkan, jangan-jangan sang putri malah mampu langsung memecah telur kelelakian yang berada di antara ************.


Hal ini membuat sang byungda khawatir dan telah beberapa kali mengusulkan pada Raja Basukamba agar putrinya tersebut ditawarkan saja pada pangeran kerajaan lain atau disayembarakan.


Menyikapi usulan permaisurinya, akhirnya Raja Basukamba memanggil Putri Andara Anesha Sari yang ternyata menolak mentah-mentah keinginan byungdanya.


Meski jengah akan penolakan putrinya, Permaisuri Mahiswari tak bisa berbuat banyak. Memaksa hanya akan berakibat buruk bahkan fatal karena bisa-bisa semua benda di istana beterbangan.


Maka akhirnya permaisuri yang bijak itu berkata,


"Putriku, kau tentu tahu. Kedua orang tuamu ini mengharapkan yang terbaik untukmu. Apa pun itu, jika kau telah menemukan pemuda pilihanmu, maka perkenalkanlah dia pada kami segera. Byungda ketika seusiamu telah punya momongan, Byungda tak ingin kau menjadi perawan tua."


"Hihihihi!" Tertawa kecil, Putri Andara Anesha Sari membalas dengan lembut, "Baru enam belas tahun, Byungda. Anesha masih bocah!"


"Bocah apanya? Kau itu sudah sangat dewasa, usia sebelas tahun, itu sudah pantas menikah!"


"Sudah, sudah ...." Raja Basukamba menengahi. "Biarkan putri kita menentukan jalannya sendiri, Istriku. Lagi hanya tinggal dia seorang yang belum punya pasangan."


Diberi kebebasan oleh sang ramanda, Putri Andara berkata dengan didahului senyuman penuh makna,


"Byungda, Ramanda tenang saja. Jika jodoh telah datang, maka siapa yang akan bisa menolak ketentuan Yang Maha Kuasa?!"


Mendapat jawaban itu, Permaisuri Mahiswari berdiri lalu menghampiri putrinya untuk mendekap penuh kasih sayang sembari berucap lirih,


"Byungda akan selalu menanti saat itu tiba, Putriku. Kebahagiaanmu, adalah kebahagian Byungda."


***


Dipersilahkan masuk ke dalam Telaga Tamansari oleh dua perwira, Jaga Saksena hendak berjalan ketika tetiba,


"Jaga! Aku ikut!" Sungsang muncul dari tempat persembunyiannya.


"Siapa kau! Ini bukan tempat sembarangan untuk dimasuki!" bentak satu perwira.


Tak kalah garang, Sungsang membentak, "Aku pengawal pribadi Pangeran Jaga Saksena. Aku yang bertanggung jawab atas keselamatannya!"


"Merah, kau—"


"Sttt diamlah kali ini saja!" bisik Sungsang.


"Oh, maafkan atas ketidak tahuan kami berdua, silahkan ... silahkan."


Sepeninggal Jaga dan Sungsang,


"Sepertinya Pangeran Jaga Saksena tengah dalam penyamaran," gumam salah satu perwira.


"Tapi untuk apa?! Apakah ada sesuatu yang sangat penting yang akan terjadi? Tapi apa hubungannya dengan tuan putri?"


"Entahlah, semoga sesuatu itu membawa kebaikan untuk kerajaan ini."


"Setuju!"


**


Tiba di tepi telaga kecil, Jaga Saksena dan Sungsang disambut oleh seseorang yang Jaga merasa tidak asing.


Namun belum pun Jaga Saksena berhasil mengingat siapa lelaki di depannya, lelaki tersebut sudah memperkenalkan diri,


"Aku Aswangga, penjaga khusus Tuan Putri Andara Anesha Sari. Tuan sudah ditunggu di atas rakit di tengah danau, silahkan."


"Tuan Putri Andara Anesha Sari?" Jaga Saksena tak mengerti. "Begini, Paman Perwira Aswangga, aku ke sini—"


"Mohon maaf Tuan, aku hanya seorang perwira rendah tidak pantas diberi tahu tujuan Tuan. Silahkan, Tuan Putri Andara Anesha Sari telah menunggu di atas rakit sana."


Jaga Saksena dan Sungsang menajamkan mata melihat ke tengah danau. Meski kecil ini adalah sebuah danau yang luas.


Di tengah-tengah air telaga yang tenang, di atas rakit, berdiri seorang berpakaian serba putih yang sepertinya kelebihan bahan sehingga ujungnya menyentuh air danau. Ia berdiri membelakangi mereka semua. Rambutnya _yang panjang menjuntai hingga hampir menyentuh pantat_ tergerai dan sesekali tertiup sepoi angin.


"Perwira, sebagai pengawal pribadi Pangeran Jaga Saksena, aku berhak tahu siapa putri yang kau maksud?!" Sungsang tak bisa tahan lagi penasarannya.


Sedikit heran karena ada orang yang tidak tahu putri Andara Anesha Sari, Aswangga tetap menjawab, "Putri Andara Anesha Sari adalah putri bungsu Yang Mulia Raja Basukamba."


"Apa?!" pekik Sungsang tak percaya lalu membatin,


'Jaga Saksena dikira sebagai bangsawan, lalu dikira anak raja dan sekarang ditunggu seorang putri?! Sepertinya aku harus cepat meminta rompiku kembali!'


"Ada apa, Merah? Kau seperti kaget sekali?" tanya Jaga Saksena.


"Oh tidak, Pangeran Yang Mulia Jaga Saksena. Hanya saja bertemu seorang putri janganlah membawa senjata terlalu banyak. Itu terlihat kurang sopan."


"Maksudmu?"


"Copot dulu rompinya!" bisik Sungsang.


"Oh tentu," jawab Jaga Saksena segera mencopot rompi pisau terbang yang ia kenakan.


"Nah ini lebih baik," Sungsang menerima rompi, lalu berkata. "Sekarang Pangeran temui sang putri. Membuat seseorang menunggu terlalu lama juga tidaklah elok!"


"Kita bicarakan ini lagi nanti, Merah!" ucap Jaga Saksena karena dipanggil pangeran berkali-kali. "Paman Perwira Aswangga, aku akan menemui putri terlebih dahulu."


"Silahkan, Pangeran ...!"


Jaga Saksena melesat di atas air menuju ke tengah danau lalu mendarat di ujung rakit di belakang sang putri.


Semerbak harum dari rambut dan tubuh Putri Andara menyambut indra penciuman Jaga Saksena. Keharuman yang menenangkan, membuat Jaga seketika membaca tasbih berkali-kali dalam hati.


***