
"Permisi, Paman!" seru Jaga sopan kala kudanya membalap kereta Pendekar Lebur Guntur.
Tidak ada jawaban, wajah Pendekar Lebur Guntur tetap datar. Namun, dari dalam kereta terdengar bentakan keras,
"Kutu Kupret Sialan! Bocah mana yang berani menyentuh kuda-kudaku! Ki Mertayuda! Kejaaarr!!"
Ki Mertayuda, sang kusir kereta acuh tak acuh bahkan sepertinya dia tidak mendengar sama sekali teriakan dalam keretanya. Itu bisa dilihat dari laju kuda kereta yang masih sama, dan tidak ada perubahan dari gestur sang kusir.
"Ki Mertayudaaaaa ...!"
Tak ditangapi, suara gadis di dalam kereta berteriak kencang.
"Ada apa, Putri Lembayung?!" kalem Ki Mertayuda menjawab dengan sebuah pertanyaan.
Tentu saja hal ini membuat kesal orang yang berada di dalam kereta, Putri Lembayung Adiningrum.
Glagh! Glagh! Glagh!
Terdengar suara hentakan kaki dari dalam kereta.
"Benar-benar sial! Sial! Sial!" gerutu panjang pendek dari Putri Lembayung Adiningrum melampiaskan kekesalannya.
Putri Lembayung Adiningrum, seorang putri dari sebuah kerajaan bernama Langkumitir.
Sebuah kerajaan kecil yang telah ditaklukkan oleh kerajaan Saindara Gumilang.
Meski Lembayung Adiningrum sekarang ini baru berusia 17 tahun akan tetapi sejak kecil dia telah belajar silat dari guru-guru yang didatangkan ke keraton.
Saat usianya baru menginjak 13 tahun, Lembayung Adiningrum merasa kesialan mulai melanda. Pasukan Kerajaan Saindara Gumilang menaklukkan Kerajaan Langkumitir. Kendati posisi Ramandanya tetap menjadi raja, akan tetapi sejak saat itu Kerajaan Langkumitir harus mengirim upeti tiap tahunnya.
Bukan hanya itu, setiap kebijakan yang diambil oleh Kerajaan Langkumitir harus sesuai dengan kebijakan Kerajaan Saindara Gumilang.
Sang putri makin merasa sial, ketika beberapa purnama yang lalu putra sulung dari Raja Basukamba _yang berkunjung ke Kerajaan Langkumitir_ melihat dirinya tengah berlatih olah kanuragan.
Kama Kumara, Sang putra sulung _yang desas-desusnya akan segera dinobatkan menjadi putra mahkota_ merasa tertarik pada Lembayung Adiningrum. Maka, dia meminta pada ramandanya _Raja Basukamba_ untuk meminangnya.
Alih-alih meminang, Raja Basukamba malah menitahkan; upeti dari Kerajaan Langkumitir tahun ini diganti dengan Putri Lembayung Adiningrum.
Raja Basukamba tidak melihat ada masa depan bagi Kerajaan Saindara Gumilang jika calon penerus dirinya hanya mempermaisuri seorang putri dari kerajaan kecil.
Tentu saja, ramanda Lembayung Adiningrum _Raja Prabaswara_ tidak setuju. Akan tetapi, jika titah Raja Basukamba tidak dipatuhi maka akan terjadi banjir darah. Bisa dipastikan, pasukan Raja Basukamba akan kembali menyerang Kerajaan Langkumitir.
Dengan hati menangis, akhirnya Raja Prabaswara mengirimkan Putri Lembayung Adiningrum sebagai upeti.
Meski seorang putri yang urakan, kasar, dan tak berperasaan, Lembayung Adiningrum tak bisa berbuat apa-apa kecuali patuh menuruti titah ramandanya.
Maka, berangkatlah Lembayung Adiningrum diiringi oleh seregu pasukan dan satu pendekar bayaran.
Sebenarnya, Lembayung Adiningrum menolak untuk dikawal. Ia meminta untuk berangkat seorang diri. Jelas saja permintaan konyol tersebut ditolak mentah-mentah oleh ramandanya.
"Aku harus memastikanmu sampai ke tempat tujuan, itulah mengapa aku meminta Ki Mertayuda untuk ikut mengawalmu." Demikian kata Raja Prabaswara kala menolak permintaan Lembayung.
Selain urakan, kasar dan tak berperasaan, Lembayung memiliki sifat buruk lainnya. Yaitu tidak boleh barangnya disentuh orang lain. Bahkan, kala kecil ia pernah mematahkan tangan teman sepermainannya yang meminjam mainan miliknya tanpa ijin.
Maka betapa marah Lembayung Adiningrum ketika kuda-kuda prajurit pengawalnya diambil oleh orang lain. Padahal, ketika prajuritnya tewas oleh para pembegal jalan bertopeng, Lembayung Adiningrum tak peduli.
"Awas saja, siapa pun yang berani mengambil kuda-kudaku akan ku ...."
Belum selesai Lembayung Adiningrum berkata mengancam, mulutnya terdiam. Sebab, dari lubang kecil di sisi kereta ia melihat dua orang melajukan kencang kuda-kuda prajuritnya.
Adiningrum bisa mengenali kuda-kuda tersebut dengan mudah sebab ada kain merah menutupi bagian samping kepala kuda.
"Awas saja kalian!"
**⁰⁰**
Bukan tanpa alasan mengapa desa Piliruh begitu sepi. Itu akibat warta adanya medi (hantu_pen) banaspati yang telah menculik beberapa warga.
Banaspati makhluk alam lain dari jenis belis, memiliki sosok api dan terkenal ganas nan sakti.
Banaspati disegani bahkan oleh para dukun. Memiliki kesaktian yang besar sehingga mampu mencederai manusia secara langsung membuat belis ini begitu ditakuti.
Di situasi sepi itulah, seekor kuda memasuki desa, melaju kencang bagai dikendarai oleh seorang pendekar gagah perkasa. Tetapi tidak, karena ternyata di atas punggung kuda hanya seorang anak kecil seumuran 10 tahun.
"Paman! Bagaimana cara hentikan laju kudanya?!" teriak si bocah berpakaian lusuh nan kotor juga compang-camping. Siapa lagi kalau bukan Jaga Saksena.
Tak berapa lama, dua penunggang kuda lain memasuki desa dengan kecepatan hampir sama, Rawal dan Balkhi Supekok!
"Tarik dan tahan kekang kuda kuat-kuat!" seru Pekok sembari mengerahkan tenaga dalam untuk menggelegarkan suara.
Bisa mendengar teriakan Balkhi Supekok _yang bagai petir menyambar_ tentang cara menghentikan kuda, Jaga Saksena dengan mantap menjalankannya sesuai petunjuk.
Namun,
"Wuehheer ... hi hi hi ...!"
Kuda meringkik keras sebelum berhenti dalam posisi berdiri lurus, menaikkan dua kaki depannya.
Gedebugghh!
"Hahahaha!" Balkhi Supekok yang menyaksikan aksi Jaga Saksena dari kejauhan tertawa terbahak-bahak demi melihat bocah itu terbanting ke tanah akibat kudanya berdiri.
"Untung jatuh di tanah!" Jaga Saksena bangkit sambil berucap. "Andai di batu bisa patah tulangku!"
Bocah itu mengusap-usap pantatnya yang berasa amblas ke dalam, "Untung ...! Untung tidak amblas betulan! Terimakasih kuda! Kau memberi pengalaman menegangkan yang luar biasa!"
"Bagaimana Jaga?! Kau baik-baik saja?!" Rawal yang mendekat bersama Pekok bertanya dari atas kudanya.
"Tak pernah sebaik ini, Paman!"
"Hahahaha! Kau luar biasa, Jaga!" Pekok tertawa lalu memuji.
"Tentu, Paman! Jaga Saksena!" Bocah itu memasang posisi tubuh keren.
"Hahaha!" Rawal dan Pekok tertawa bersama, hingga,
"Kenapa dusun ini sepi sekali ya?!" Rawal orang pertama yang menyadari situasi sekitar.
"Eh ... iya! Benar! Terakhir kali kita melewati dusun ini, bukankah cukup ramai? Bahkan ada kedai di sana?!"
"Kita ke sana!" Rawal melajukan kudanya pelan diikuti Pekok.
Sementara Jaga Saksena mendekati kudanya lalu mengusap-usap pelan ekornya, bermaksud memper-erat ikatan antara dirinya dengan si kuda.
Namun,
Bughh!
"Uaghh!"
Jaga Saksena terpental melayang empat tombak oleh tendangan sang kuda sebelum akhirnya tubuh kecil Jaga Saksena menggasruk tanah dan berhenti.
"Jaga!" teriak Rawal melompat dari kudanya berlari ke arah Jaga Saksena yang terkapar di tanah.
**⁰o⁰**
Dukung juga tulisan saya di **********. Buka ********** di browser lalu ketikkan keyword kangjey.
Terimakasih ...