Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 75. Kekuatan Sang Putri



300 anggota pasukan lingkar istana di bawah Tumenggung Wiryateja benar-benar tangguh dan kuat mental. Kendati banyak kawan mereka telah tewas, tetapi tidak tampak sedikit pun keraguan. Mereka terus berjuang hingga titik darah penghabisan.


Maka, ketika Jaga Saksena datang bertarung melawan Senopati Pradana Nararya dan sesekali pemuda itu membantu melancarkan serangan totokan jarak jauh, semangat perjuangan mereka makin membara.


"Hancurkan Musuh! Hiaaaa ...!"


"Musnahkan para pemberontaaaak ...!"


Pekik dan teriakan mereka membahana meningkahi dentingan suara benturan senjata tajam.


Perang terus berlangsung dengan sengitnya.


Jaga Saksena masih menggunakan siasat yang sama, melesatkan tembakan-tembakan totokan jarak jauh untuk membantu para prajurit lingkar istana juga menghalau para prajurit musuh yang hendak menyerbu masuk ke dalam istana.


Meski Jaga Saksena sudah melakukan dengan baik, tak semuanya bisa dihalangi. Terlebih ketika Asta Brajadaka berteriak,


"Siapa pun yang membunuh keluarga raja maka akan mendapat hadiah besar!"


Maka prajurit yang belum bisa masuk ke dalam tembok istana raja akibat harus antri bertarung segera melompati tembok untuk menyerbu istana.


Brakk!


Pintu istana samping jebol. Para prajurit Asta Brajadaka segera menghambur ke dalam dengan senjata terhunus.


Setiap ruangan pun disisir oleh mereka dengan seksama. Para abdi dalem yang melawan mereka tebas hingga banyak yang tiarap di atas lantai, menyerah. Pula, mereka hanya abdi dalem yang tidak menguasai kanuragan.


"Cepat kita ke ruangan pribadi raja!" seorang kepala regu prajurit mengajak kelompoknya karena belum juga menemukan keluarga raja, berharap yang mereka cari bersembunyi di sana.


Namun, meski semua ruangan telah mereka acak-acakan hingga kolong tempat tidur dan meja, tak satu pun keluarga raja ditemukan.


"Mereka pasti melarikan diri lewat jalan rahasia!" teriak salah satu mereka.


"Jika begitu, cari pintu masuk ruang rahasinya!" perintah kepala prajurit dengan melotot.


Tak kurang dari dua ratus tentara kesenopatian mengubek-ubek seluruh istana raja untuk mencari pintu rahasia, tapi semua sia-sia hingga salah satu mereka berteriak sebab emosi,


"Bakar saja!"


"Ya bakar!"


"Bakar!"


Mereka segera mengambil lentera yang ditempelkan di dinding dan tiang istana lalu membantingnya. Obor-obor juga ditumpahkan minyaknya ke dinding yang terbuat dari kayu.


"Nyalakan!"


Trakk!


Dua batu pemantik api dibenturkan. Percikan api pun mencelat. Namun,


Wuuut!


Slebb!


Sebuah obor yang runcing bagian bawah terbang dengan kecepatan tinggi menghunjam jantung prajurit pemantik api.


Blugh!


Prajurit itu jatuh menggelimpang bersama batu pemantik api yang terjatuh.


Semua pasang mata segera mencari sumber serangan. Dan sunguh tak diduga, di ujung lorong sana, seorang gadis berpakaian kelebihan bahan hingga ujung pakaiannya menyantuh tanah tengah berdiri tanpa ekspresi. Rambut panjangnya tergerai, sementara dua tangannya menaut di depan pusar.


"Pu-putri Anesha Sari!" gagap beberapa prajurit. Tentu mereka mendengar keangkeran putri bungsu sang raja tersebut.


Tanpa sadar, beberap prajurit melangkah mundur. Tetapi tidak dengan kepala prajurit yang telah terlanjur terbakar semangat untuk membantai. Ia berteriak keras,


"Hadiah menanti kitaaaa!!!"


Sebuah kesalahan cukup serius diperbuat oleh Raja Basukamba karena terlalu pelit pada para prajuritnya sehingga mereka mudah diiming-imingi kekayaan. Hanya dijanjikan akan disejahterakan dan banyak hadiah bagi pekerjaan yang dilakukan, para tentara kesenopatian Asta Brajadaka dan Pradana Nararya dengan suka cita membelot. Dan kini malah mengancam keselamatan keluarga raja.


"Seraaang ...!"


"Bunuhh ...!"


Gemboran suara serak mengiringi laju lari para prajurit yang ingin segera mengayunkan senjata ke arah Anesha Sari.


"Pemberontak! Hukuman kalian adalah kematian!"


Anesha Sari gerakkan dua tangan mengembang ke kiri dan ke kanan sebelum dorongkan ke depan.


Brualll!


Dinding di samping belakang Anesha Sari ambrol dan berubah menjadi serpihan-serpihan sebelum melesat ke depan bagai anak panah yang dilepas dengan pengerahan tenaga dalam.


Wussst!


"Argh!"


Beberapa prajurit menjadi korban, tertancap serpihan galih kayu hingga tembus. Tetapi banyak yang bisa menangkis dengan memutar senjata mereka sebagai perisai.


Tak berhenti sampai di sana, Putri Anesha Sari kembali gerakkan dua tangan merompes.


Regh!


Wunggg!


Dua buah tiang cukup besar yang menyangga pinggiran dinding tercabut sebelum melayang acak dengan kecepatan anak panah lepas dari busur.


"Awass!"


Kocar-kacir, para prajurit ada yang mencelat ke udara ada pula yang tiarap. Mereka lupa, masih ada satu tiang lagi yang menyusul menghantam.


Duoshh!


Beberapa tubuh prajurit terpental dengan tulang rekah, kepala pecah, kaki patah.


"Pasukan panaaaahh ...!"


Salah satu kepala prajurit yang selamat berteriak memanggil regu pemanah yang ada di luar.


Lebih dari dua puluh prajurit pemanah masuk dengan tangkas dengan anak panah telah terpasang.


"Bidikk!"


Wuussss!


Kesalahan. Sang kepala prajurit agaknya lupa bahwa sang putri mampu kendalikan barang-barang di sekitarnya.


Lebih dari dua puluh anak panah melesat cepat menimbulkan suara desingan menggidikkan bulu roma karena bisa dipastikan akan menancap di sekujur tubuh sang putri. Namun,


Bashh ...!


Saat Anesha Sari ulurkan tangannya dengan tepapak tangan terbuka, puluhan anak panah itu tetiba berhenti di udara. Menggantung bagai ada yang memeganginya.


Ketika tangan Anesha Sari mendorong ke depan,


Westt!


Para anak panah membalik dengan kecepatan sama!


"Sial!"


Sang kepala prajurit harus berkelebat ke balik sebuah tiang untuk menyelamatkan diri. Tetapi para prajurit pemanah telat melakukannya, sebab terbuai oleh rasa kejut mereka kala melihat anak panah bisa terhenti di udara.


Cleb! Cleb! Cleb!


Mayat-mayat bergelimpangan, tak satu pun dari regu pemanah itu selamat.


"Hiaaaa ...!"


Belum puas, Putri Andara Anesha Sari tetiba melengkingkan suaranya. Sepertinya ia akan mengerahkan kekuatan yang lebih besar.


Dan benar saja. Semua benda di dalam istana raja tiba-tiba terangkat sebelum berlesatan ke segala arah dengan kecepatan luar biasa.


Pekik kesakitan, lolongan kematian, jerit ketakutan pun terdengar sahut-sahutan.


Tentu saja, kegaduhan di dalam istana terdengar hingga ke luar. Senopati Pradana Nararya yang tengah bertarung dengan Jaga Saksena makin marah.


Kecepatan penuh telah ia gunakan, kekuatan penuh juga telah ia kerahkan. Akan tetapi sejauh ini Pradana Nararya belum mampu mendesak sang pemuda. Kini Pradana Nararya malah mendengar teriakan-teriakan dari pasukannya yang menemui kematian di dalam istana.


Menggembor keras hingga menggetarkan udara, Pradana Nararya mengambil jarak. Dalam posisi kuda-kuda tinggi, mulut senopati itu komat-kamit membaca mantra. Tangan kirinya erat menggenggam pedang, sementara tangan kanan melakukan gerakan aneh, mantra tangan.


Menyadari lawan akan mengeluarkan ajiannya, Jaga Saksena pun bersiap diri menghening rasa.


Angin siang menjelang sore tetiba bertiup kencang, ranting-ranting pepohonan berpatahan disertai guyuran daun kering beterbangan.


Debu peperangan makin mobat mabit. Beberapa prajurit musuh bahkan mundur menjauh. Mereka tahu apa yang akan terjadi.


Dengan sendirinya, terbentuk kalangan pertarungan Pradana Nararya melawan Jaga Saksena.


Ketika situasi makin mencekam itulah,


"Ajiku ... Aji Gumboloo Wojoooo!"


Tiba-tiba Senopati Pradana Nararya menghantamkan tangannya ke depan di mana Jaga Saksena telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.


Bayangan hitam tinggi besar melesat bersama gerakan dan teriakan Pradana Nararya.


Ya, Gumbolo Wojo adalah ajian yang kekuatannya berasal dari perewangan atau biasa disebut sing mbahurekso suatu tempat angker. Untuk mendapatkannya, Pradana Nararya menyepi di sana hingga ratusan hari. Pertapaannya baru berhenti ketika sing mbahurekso menemui dan menyatakan diri menjadi satu kesatuan dalam ajian. Ajian Gumbolo Wojo!