Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 74. Penyerbuan Dari Belakang



Tuiiiiiiit ...!


Sebuah peluit asing yang tidak pernah terdengar sebelumnya melengking di angkasa kerajaan Saindara Gumilang.


Meski begitu, orang-orang tidaklah peduli sebab mereka tengah disibukkan oleh peperangan yang terus merangsek masuk ke dalam tembok kerajaan akibat tembok telah berhasil dijebol oleh hantaman batang pohon besar Suku Lembah Kenabala.


Suku Lembah Kenabala memang tidak bisa dianggap remeh, mereka sangat kuat. Selain kuat mereka juga gesit.


Saat peluit asing terdengar, empat orang yang tengah berdiri di atas atap istana raja menengadah mencari sumber suara.


"Firasatku buruk. Merah, apakah tidak sebaiknya kita membantu perang di tembok barat?"


Yang dipanggil Merah, Sungsang Gumilang bersikap serius sebelum menjawab,


"Sebaiknya kita patuhi perintah raja, Pangeran Jaga Saksena!"


"Ini bukan waktunya bercanda, Merah!" Jaga Saksena tidak nyaman terus dipanggil sebagai Pangeran oleh Sungsang.


"Merah benar, Jaga. Kita harus tetap di sini."


"Lihat, Tuan Putri Ayu Andara membenarkanku, Pangeran Jaga Saksena!" Sungsang tersenyum penuh kemenangan.


"Iya, Pangeran sebaiknya kita tetap di sini."


"Paman Perwira Aswangga, tolong, sudah kukatakan padamu aku bukan pangeran. Mulut rusak si merah ini jangan Paman percaya!"


"Ini bukan waktunya untuk berdebat, Pengeran. Aku merasakan sesuatu yang buruk bakal terjadi di sini. Sebaiknya kita—"


Ucapan Aswangga terputus, matanya menatap ke arah timur di mana sekitar dua ribu pasukan tengah bergerak cepat menuju istana.


"Pasukan itu, mengapa malah menuju istana raja?!" seru Putri Andara Anesha Sari menunjuk.


Pertanyaan sang putri segera terjawab ketika prajurit jaga yang menghadang di luar tembok istana tiba-tiba diterjang oleh pasukan tersebut. Pertarungan tidak imbang pun terjadi. Salah satu prajurit jaga berlari masuk untuk menabuh kentong tanda serangan seraya berteriak keras,


"Istana diseraaaaang ...! Istana diseraaaang ...!"


Seketika, sekitar tiga ratus prajurit lingkar istana di bawah kepemimpinan Tumenggung Wiryateja _yang bertugas menjaga keamanan istana raja dan keluarga raja_ berhamburan keluar dengan senjata terhunus.


Kedatangan prajurit lingkar istana membuat para prajurit jaga yang masih bertarung mundur menggabungkan diri.


Wiryateja, lelaki berwajah garang dengan kumis baplang itu mengacungkan kerisnya, berteriak keras mengerahkan tenaga dalam,


"Kalian sungguh keterlaluan! Memberontak di saat tenaga kalian dibutuhkan kerajaan! Kembali sekarang juga, atau tidak lagi ada ampun untuk kalian semua!"


Tak ada yang angkat suara, semua orang terdiam. Saat itulah,


Sebsebseb!


Dua sosok manusia berjumpalitan di udara dan mendarat ringan di depan Tumenggung Wiryateja.


Membeliak mata Tumenggung Wiryateja, sedikit bergetar akibat marah, lelaki garang itu berteriak,


"Senopati Asta Brajadaka! Senopati Pradana Nararya! Tak kusangka kalian berdua!"


"Tumenggung Wiryateja ...." Senopati Asta Brajadaka berkata pelan, memberikan tekanan dalam ucapannya. "Sebaiknya, kau bergabung dengan kami. Mari kita rengkuh kejayaan Saindara Gumilang Raya. Tinggalkan raja yang tak punya ambisi itu!"


"Astaaa Brajadakaaaa!" Tumenggung Wiryateja kembali berteriak, emosinya benar-benar telah meluap hingga ubun-ubun.


"Hahahaha!" Bukannya takut, Senopati Asta Brajadaka nalah tertawa bergelak sebelum memberi perintah,


"Bunuh semua! Hiaaa!"


Berlari kecil dengan kecepatan penuh menuju Tumenggung Wiryateja, Asta Brajadaka cabut keris hitam bersarung emas dari balik pinggangnya.


Perang di luar tembok istana pun pecah. Tiga ratus prajurit lingkar istana membendung dua ribu tentara kesenopatian. Perang yang tidak berimbang meski dalam kemampuan, prajurit lingkar istana lebih unggul.dan lebih terlatih.


Sebelumnya, Sundara Watu memberi tugas pada Senopati Asta Brajadaka dan Senopati Pradana Nararya untuk menyapu bersih istana raja. Tidak perlu ada tawanan, bunuh semua. Sementara Sundara Watu akan mencari Raja Basukamba di medan perang tembok kerajaan barat untuk membunuhnya.


Dan sepertinya tugas yang diberikan kepada dua senopati tersebut akan berjalan lancar.


"Mampuslah kau!"


"Arghh ...!"


Teriakan-teriakan kematian terus mengiringi langkah Senopati Pradana Nararya. Hingga para prajurit lingkar istana ketakutan untuk menghadangnya.


***


Di saat Senopati Pradana Nararya tidak lagi memiliki lawan disebabkan semua prajurit lingkar istana tengah sibuk bertarung dengan lawan masing-masing,


"Hahahaha, Gandara! Kita gasak istana!"


Pradana Nararya memanggil Gandara yang berada tidak jauh darinya. Tangan kanan Asta Brajadaka itu baru saja membunuh satu prajurit dengan sadis ketika dipanggil oleh Pradana Nararya.


"Mari Senopati!"


Keduanya hendak melesat ke dalam istana ketika tetiba, dua sosok pemuda menghadang; Jaga Saksena dan Sungsang Gumilang.


Sebelumnya, melihat ternyata istana raja diserang oleh pemberontak, Putri Andara Anesha Sari dan tiga orang lainnya yang berada di atas atap berembug untuk membagi tugas.


Dalam rembug tersebut, Putri Anesha Sari sempat bersikukuh ingin ikut bertempur langsung, sementara Aswangga diperintahkan untuk menyelamatkan Permaisuri Mahiswari serta keluarga raja. Akan tetapi Jaga Saksena keberatan, karena yang tahu seluk beluk istana dan ruang-ruang rahasianya adalah Putri Anesha Sari.


Berdebat kecil beberapa saat, akhirnya Putri Anesha Sari mau menuruti saran Jaga Saksena untuk menyelamatkan Permaisuri Mahiswari dan keluarga raja bersama Aswangga. Sementara Jaga Saksena dan Sungsang akan membantu pasukan lingkar istana.


"Hehehe ... Kalian mau lari ke mana gerangan? Perang belum berakhir, Kawan!"


Jaga Saksena tertawa kecil menghadang Senopati Pradana Nararya, sedangkan Sungsang menghadang Gandara.


"Ah ... ah! Rupanya ada prajurit magang di sini. Hiaaa!"


Sekali tekan kaki kanan ke tanah, Senopati Pradana Nararya mencelat ke depan. Pedang di tangannya berkelebat memainkan jurus mematikan. "Seribu Sayatan Neraka!"


Tak tinggal diam, Jaga Saksena berkelebat menyongsong.


"Tujuh Tapak Tujuh Tinju!"


Sebuah jurus yang menggunakan tenaga dalam tinggi. Angin menggebubu keluar dari setiap gerakan Jaga Saksena. Ini ia lakukan untuk menarik perhatian pasukan lawan agar tidak langsung menyerbu istana.


Meski begitu, sebab telah berhasil merangsek masuk dan banyak di antara pasukan Senopati Asta Brajadaka dan Senopati Pradana Nararya yang tidak mendapatkan lawan, mereka akhirnya berlarian menyerbu istana.


"Tak kan kubiarkan! Menyemaikan Rintik Hujan!"


Dalam pertarungannya melawan Pradana Nararya, Jaga Saksena masih menyempatkan diri melepas ratusan titik udara padat untuk menyasar pasukan musuh yang berlari hendak memasuki istana.


Stak!Stak!Stak!


Puluhan prajurit harus kaku tertotok ketika ajian Jaga Saksena melabrak mereka dari samping. Ini membuat Pradana Nararya merasa diremehkan. Meningkatkan kecepatan, Senopati Pradana Nararya menambah kekuatan gempuran. Pedang di tangannya seolah berubah menjadi seribu bilah yang mengepung Jaga Saksena dari segala arah.


Diserang sedemikian gencar tidak membuat Jaga Saksena kewalahan, bahkan sesekali pemuda itu melesatkan serangan totokan sembari menghindar.


Wuut!


Pradana Nararya hanya mencibir tetapi tidak setelah totokan itu ternyata terus bablas dan menghantam salah satu prajuritnya yang tengah bertarung sehingga harus tewas oleh lawannya.


"Bajingan, kau benar-benar manusia menyebalkan! Heaaaa ... ya ya ya ya ya!"


Memaki keras, Pradana Nararya mengerahkan segenap kecepatannya untuk menyerang Jaga Saksena.