
Kematian Gumbala membuka mata semua orang yang berada di tanah lapang tempat lelang, bahwa si pemuda yang mereka pandang sebelah mata bukanlah orang sembarangan.
Mereka pun mundur teratur, dan pergi. Tetapi ada pula orang yang kemudian mendekat untuk mengenal si pemuda lebih jauh.
Jaga Saksena mengenalkan diri dan tujuannya datang ke pasar, yakni untuk memusnahkan gerombolan Pemburu Bud*k Gunung.
Tetapi sayang, menurut penuturan mereka, Pemburu Bud*k Gunung telah lama menjual hasil buruannya ke Kerajaan Saindara Gumilang. Karena di sana, bud*k terjual lebih mahal dari pada di pasar seperti ini.
"Baiklah, terimakasih atas keterangannya. Saudara-saudara semua, aku ingin memberitahu sesuatu pada kalian ...."
Jaga Saksena mulai menerangkan bahwa judi adalah perbuatan keji, kotor, buruk. Termasuk perbuatan syaithon.
"Setan?" tanya mereka.
"Ya, Syaithon. Makhluk yang akan membawa manusia ke neraka. Maka tinggalkanlah perjudian dan sembahlah Gusti Alloh semata."
"Gusti Allah?"
"Ya, Alloh Yang Maha Satu, Sang Pencipta alam semesta!"
Orang-orang itu manggut-manggut. Tetapi tidak bertanya lebih jauh. Karena pada dasarnya, mereka adalah orang-orang yang tidak peduli ajaran agama.
Alih-alih bertanya lebih lanjut tentang Gusti Alloh, mereka malah bertanya sesuatu yang lain,
"Apa yang akan kau lakukan pada Werkadal itu, Anak Muda?"
Tanya salah satu orang sembari menunjuk Werkadal yang masih terdiam kaku di sebelah sana akibat totokan Jaga Saksena.
"Dia? Akan kubebaskan."
Jaga Saksena berjalan ke arah Werkadal. Namun, baru beberapa langkah,
Wess! Tep!
Seorang yang berlari bagai kijang di atas atap-atap lapak pasar mendarat di depan Jaga Saksena.
Dia berkumis tebal dengan ujung dipelintir, siapa lagi kalau bukan Lurah Pasar Beringkiwa Ki Berut Tunggul.
Orang-orang pun langsung mundur menjauh, mereka tahu pertarungan seru akan segera terjadi.
"Lancang! Beraninya kau membunuh orangku, Bocah!" bentak Ki Berut Tunggul berkacak pinggang tangan kiri, sementara tangan kanan menuding lurus ke muka Jaga Saksena.
"Bubarkan perjudian sabung jago!" balas Jaga Saksena tak mau membahas kematian Gumbala.
"Itu tidak akan pernah terjadi! Selama aku masih hidup, maka perjudian sabung jago akan selalu ada!"
"Pertimbangkanlah! Kau sudah uzur, sudah tua. Harta tidak akan dibawa mati."
"Beberapa hari yang lalu," Ki Berut Tunggul berkisah singkat, "seorang lelaki gundul yang menganjurkan agar aku menghentikan perjudian adu jago, kusobek mulutnya hingga mampus! Kepalanya yang plontos itu kuinjak-injak hingga pecah! Otaknya tercerai berai dan ternyata otaknya kosong pertanda dia dungu!"
Jaga Saksena memahami siapa lelaki gundul yang diceritakan, menurut yang Sang Guru beritahukan, mereka yang menggunduli diri adalah para biksu. Para penyebar agama B*ddha.
Agama B*ddha ini memang kurang diterima oleh kalangan bangsawan dibanding agama H*ndu yang disebarkan lebih dahulu. Sedangkan rakyat bawah tidak terlalu perduli dengan agama.
Rakyat bawah hanya roboh pohon pisang, ngikut sana ngikut sini tanpa tahu tujuan. Tetapi sejatinya kalangan bawah ini lebih memegang kepercayaan tersendiri. Kepercayaan yang telah mereka pegang teguh sejak sebelum datangnya H*ndu dan B*ddha.
"Jika hanya dengan kematianmu perjudian sabung ayam bisa dihentikan, maka mau bagaimana lagi?!" ucap Jaga Saksena sembari angkat sedikit dua bahunya.
Jaga Saksena tidak punya pilihan lain, jika harus membunuh Ki Lurah Pasar maka akan ia lakukan. Sebab ia tidak bisa berlama-lama tinggal hanya untuk membujuk si kumis melintir itu untuk menghapuskan perjudian sabung ayam. Jaga harus segera pergi ke kerajaan Saindara Gumilang untuk menemukan gerombolan Pemburu B*dak Gunung.
"Pungguk mau menggapai bulan, akulah yang akan membunuhmu, Bocah!"
Wuut!
Kepalan tangan Ki Berut Tunggul melesat ke depan seiring tubuh yang mencelat ke muka.
"Aku takkan mundur!"
Jaga Saksena turut hantamkan tinjunya.
Bukk!
Dua tinju bertemu di udara, menimbulkan suara dua benda keras saling beradu.
"Boleh juga tenaga dalammu, Bocah!" seru Ki Berut Tunggul yang kini telah mendarat memasang kuda-kuda. "Tapi kau takkan bisa menghadapi jurusku ini! Alap-alap Kayangan!"
Tubuh Ki Berut Tunggul bergerak cepat bagai burung alap-alap, menyambar kepala Jaga Saksena.
Diserang begitu cepat, Jaga Saksena tekuk tubuh ke belakang, sembari hantamkan ujung kaki balas menyerang.
Dess!
"Alap-alap Kayangan Menghujani Bumi! Hia ya ya ya ya!"
Pang!Pang!Pang!
Jaga Saksena menahan semua serangan dengan tapak tangannya.
Pertarungan sengit pun terjadi. Meski begitu, orang-orang yang menonton tak berani bertaruh. Bukan sebab karena baru saja mendapat penerangan dari si pemuda _bahwa judi adalah perbuatan setan_, akan tetapi karena mereka ragu akan menjagokan siapa.
Ki Berut Tunggul terkenal sangat sakti akan tetapi si pemuda juga bisa saja memberikan kejutan sebagaimana ketika melawan Gumbala.
Hanya dalam waktu singkat, lima ratus lebih pertukaran serangan telah terjadi. Meski begitu belum ada tanda-tanda siapa yang unggul.
Para penonton pun makin ramai, tetapi mereka tahu bahwa ini bukan pertarungan biasa. Sehingga mereka makin mundur menjaga jarak aman.
Sembari menyaksikan pertarungan, orang-orang membicarakan siapa sebenarnya pemuda yang berani menghadapi Ki Berut Tunggul. Tetapi tak satu pun dari mereka yang mengetahui siapa dia.
"Pemuda yang sangat berbakat! Sayang jika dia harus mati muda di tangan Ki Lurah Pasar!"
"Pemuda idaman, seharusnya ia hindari cari masalah. Lebih baik menjadi menantuku saja!"
"Hemmm ... apakah anak gadismu belum laku?" sahut di sebelahnya, "Bagaimana jika kau kawinkan saja denganku?!"
"Jadilah seperti pemuda di sana itu dulu, Bujang Melarat!"
"Sialan!"
Banyak komentar bertaburan, rerata orang-orang itu menyayangkan keberanian Jaga Saksena yang berani melawan Ki Berut Tunggul.
Tetapi sepertinya mereka harus mulai mempertimbangkan untuk menarik kembali ucapan tersebut, sebab dalam satu kesempatan Jaga Saksena berhasil memukul mundur Ki Lurah Berut Tunggul.
Duoss!
Ki Berut Tunggul terpental hingga tubuhnya melabrak hancur tiang panggung lelang b*dak dan masuk ke dalam kolong panggung.
Grratak!
Hampir saja panggung itu roboh andai tidak ada tiang-tiang penyangga lainnya.
Pertarungan terhenti sesaat sebab Jaga Saksena tidak mengejar lawannya.
"Bocah Kepa-rat!" Bangkit dan keluar dari kolong panggung, Ki Berut Tunggul mengumpat. Geram, lelaki itu berkata, "Kau telah membangkitkan singa yang tertidur!"
"Oh, berarti yang tadi bertarung denganku kucing gering? Hehehehe!"
Dicandai sedemikian rupa oleh lawan, memerahlah mata Ki Berut Tunggul.
"Haaaaaa ...!" menggembor keras Ki Berut Tunggul acungkan dua kepalan tangan ke angkasa.
Mendadak angin bertiup lebih kencang, sinar matahari siang menjelang sore tetiba meredup bagai terhalangi oleh sesuatu tak kasat mata tetapi ada.
Ini membuat orang-orang _yang tadinya menonton pertarungan dengan tegang tetapi masih bisa berkomentar ria_ kini berubah menjadi ketakutan.
"Celaka! Ki Lurah mengeluarkan ajian Selaksa Perewangan!"
"Cepat! Pergi dari sini!"
"Selamatkan nyawa kalian!"
Khalayak pun tunggang langgang, tak berani lagi mengambil resiko nyawa melayang hanya demi menyaksikan pertarungan.
"Semuanya! Selamatkan diri kalian!"
"Cepat tinggalkan pasar!"
"Cepaaaat ...!"
Bukan hanya orang-orang di pelataran panggung lelang saja yang heboh akan tetapi juga para pengunjung pasar dan para pelapak pemilik barang dagangan.
Untung saja, para pengunjung pasar telah banyak yang pulang sebab hari telah menjelang sore sehingga tidak terlalu ramai lagi.
Bukan tanpa alasan mereka harus menyelamatkan diri. Selaksa Perewangan adalah jenis kesaktian yang penganutnya menjual diri ke para kegelapan. Biasanya orang yang ingin memiliki ilmu ini akan bertapa di sebuah tempat angker; gunung, danau dan lain sebagainya. Lalu, pelaku akan dimintai endok sepetarangan (mengorbankan anak istri) atau lainnya sebagai bayaran di muka.
Sebagai imbalannya, pelaku akan memperoleh kesaktian luar biasa. Seperti Selaksa Perewangan, kelebihan ilmu ini adalah kebal dari segala serangan. Baik senjata maupun ajian. Selain itu, pemiliknya akan mempunyai kekuatan yang mampu menghancurkan bukit. Kekuatan inilah yang ditakuti oleh orang-orang.
***
Beberapa kata author sensor karena post tidak lolos review setelah 11 jam lebih. Post yang tidak lolos author hapus dan pos ulang.