
Bersama suara ledakan, Sungsang menengok ke dalam kamar kembali sembari berseru dalam hati
'Oh ya aku ingat! Dia lelaki di kedai itu!'
Namun, ingatan Sungsang sudah tak berguna, sebab lelaki yang bernama Kawita itu telah pecah kepala. Cairan putih berceceran ke mana-mana. Itu bukan cairan spermanya akan tetapi cairan dari dalam batok kepalanya yang hancur.
Pemandangan yang cukup mengerikan, bahkan wanita yang terbelenggu tangan dan kakinya itu kini telah terkulai di ranjang, pingsan akibat tak kuat melihat pemandangan tersebut. Sementara tubuh si berewok roboh menggelimpang di lantai.
Jaga Saksena berkelebat, menyambar kain yang berserakan lalu menutupkan pada si wanita.
Meminta satu pisau pada Sungsang, Jaga menggunakannya untuk melepas ikatan belenggu di kaki dan tangan si wanita lalu berkelebat pergi.
"Tunggu, Jaga!"
Tak hiraukan seruan orang Jaga lanjut mendatangi kamar lain yang memperdengarkan suara serupa.
Kejadian berulang, usai mendobrak pintu Jaga langsung menghantam pecah kepala lelaki yang ada di dalam kamar tersebut.
"Wadduh, anak ini bener-bener murka rupanya."
Sungsang hanya bisa geleng kepala melihat aksi Jaga yang terus membantai para anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung di kamarnya. Bahkan mereka yang tidak melakukan persetubuhan, juga ikut dibantai. Jaga Saksena benar-benar memperlihatkan sisi kelamnya.
Prakk!
Blarrt!
Suara pecahnya kepala terus terdengar.
Tak ada perlawanan berarti yang didapat oleh Jaga Saksena. Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung banjir darah.
Sungsang Gumilang yang hanya mengikuti dari belakang akhirnya bergumam sendiri,
"Tapi ... jika kupikir mereka memang pantas mendapatkannya! Ah sial, aku harus ambil bagian!"
Tak ayal, dua pemuda itu pesta pora membantai seluruh anggota Kelompok Pemburu Budak yang mereka temui.
Tak ada satu pun yang selamat.
"Sepertinya ini terlalu mudah, Sungsang!" ujar Jaga Saksena ketika telah membunuh penghuni kamar terakhir.
"Benar Jaga, Kita belum bertemu Ketua Kelompok Pemburu Budak Gunung, Sundara Watu."
"Pantas saja. Dan mungkin saja orang-orang kuat dari kelompok ini tengah bersamanya."
"Lalu bagaimana dengan para wanita itu?"
Lebih dewasa dari Jaga Saksena, membuat Sungsang lebih matang dalam memahami masalah yang ada.
"Laa haula walaa quwwata illaa billaah ...! Aku lupa tentang masalah ini, apa kau punya rencana?"
"Bukankah rencana kita hanya menyerang lalu hancurkan? Aku tidak tahu ada banyak wanita di balai ini."
Mendengar jawaban Sungsang, Jaga Saksena memijit kepalanya yang mulai terasa puyeng, "Dan sebentar lagi ayam berkokok! Bagaimana ini?!"
"Itulah mengapa kita harus berpikir matang!" seru Sungsang mulai menyesal.
"Sesal itu di belakang! Ini masih di depan. Cepat pikirkan sesuatu!"
"Duhh ... piyeeee iki ...."
Sungsang Gumilang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Beberapa saat kemudian,
"Ahhh ...! Aku ada gagasan!" Sungsang berseru mengacungkan jari kanannya.
"Cepat katakan!"
"Kita cabut dari sini!"
Meski gagasan itu sangat tidak menyelesaikan masalah, tetapi tak ada pilihan lain bagi Jaga Saksena. Sebab, Jaga sama sekali tidak memiliki jalan keluar untuk para wanita-wanita tersebut.
Membawa para wanita itu keluar dari kerajaan juga akan menarik perhatian banyak orang bahkan pihak kerajaan.
***
Matahari terbit di ufuk timur, bukan hanya mengantarkan cahaya penerang mayapada tetapi juga memperlihatkan korban-korban mayat yang tewas di bagian belakang Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung.
"M-m-mayaaaaat ...."
Seorang yang sedianya ingin lewat jalan pintas guna menuju pasar berteriak keras akibat melihat mayat-mayat bergelimpangan di luar pagar belakang Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung.
Itulah awal mula kegemparan yang melanda seluruh Kerajaan Saindara Gumilang.
Siang ini, pembicaraan di kedai, di pasar, di tempat-tempat tongkrong, semuanya membahas peristiwa pembantaian di Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung.
Di sebuah kedai,
"Gila! Bener-bener gila!" seru seorang pemuda yang baru masuk lalu mengambil tempat duduk di sebuah meja di mana para pemuda lain tengah menikmati arak bersama.
"Ada apa Srakal?! Kau sudah gila?!" tanya pemuda yang duduk sambil mencekek leher kendil arak.
"Bukan aku yang gila, Gondeeeessss! Aku baru saja dari tempat kejadian perkara!"
"Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung maksudmu?!"
"Iya! Betul!" Srakal membenarkan dengan semangat. "Meski tempat itu tengah ditutup karena sedang dalam penyelidikan Senopati Sundul Mega, aku diperbolehkan melihat sebentar."
"Jiahhh yang masih saudaraan dengan Sang Senopati ...!" sindir pemuda lain, rambutnya acak-acakan dengan gigi depan atas sedikit maju.
"Bukan itu , Prongossss!" Srakal hampir saja mengemplang kepala kawannya itu sebelum melanjutkan,
"Kalian tahu? Apa yang beredar benar! Pembunuh itu sangat keji. Hampir semua kepala para anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung hancur! Darah bercampur polo pecah berceceran di mana-mana! Sepertinya aku tidak akan selera makan untuk beberapa hari ke depan! Kemungkinan pelaku pembantaian itu dari golongan hitam. Ah tidak, golongan hitamnya hitam!"
Di meja paling belakang, mendengar percakapan tersebut, pemuda yang tampak matang usia berpakaian serba merah yang sedang menyantap makanan dengan lahap menghentikan gerakan mengunyah untuk berkata pada kawan satu mejanya,
"Berlebihan sekali? Memang ada golongan hitamnya hitam?"
"Teruskan makanmu. Tidak elok makan sambil bicara!"
Keduanya kembali terdiam untuk mendengarkan.
"Kau hanya perlu minum perasan air bratawali, maka akan kembali enak makan, Srakal!" tanggap pemuda di sebelah Srakal.
"Cumpring ... Cumpring, baru belajar ramuan dua hari saja sok memberi resep kau ini! Dan pakaianmu itu, seperti resi saja! Hahahaha!" Srakal tertawa terbahak-bahak lalu meneguk arak dalam kendil bagai seorang yang kehausan, sepekan tidak minum.
"Aku mendengar ada banyak wanita di temukan di dalam balai tersebut, apa itu benar Ki Sanak?!" tanya pemuda di meja paling belakang dengan suara keras.
"Ah iya!" Srakal seolah baru mengingat sesuatu yang lama terlupakan. "Ketika aku ke sana sudah tidak ada para wanita. Tapi menurut Senopati Sundul Mega, para wanita itu memang ada, akan tetapi telah diungsikan. Ahha, apa kau tertarik untuk menikmati dekapan wanita kala malam dingin tiba, Ki Sanak?!"
"Jangan kau tawari dia, Ki Sanak! Dia masih belum cukup umur!" sahut pemuda berpakaian serba merah.
"Hahahaha!" Semua orang tertawa terbahak-bahak.
Bukan tanpa alasan mereka tertawa, sebab di kerajaan ini, lelaki berusia tujuh belas tahun-an sudah sangat dianjurkan untuk kawin. Bahkan banyak pemuda umuran ini yang pergi ke omah kajaliran.
Usai tertawa bersama, Srakal berseru tanpa tedeng aling-aling menawarkan bantuan,
"Jika kau mau, aku bisa membawamu menemui seorang bidadari di omah kajaliran, Ki Sanak. Kau takkan kecewa! Aku yakin kau akan **** sebelum waktunya!"
"Ha ha ha ha!"
"Terimakasih, Ki Sanak. Tetapi aku belum tertarik ke omah kajaliran. Aku lebih tertarik dengan para wanita yang ditemukan di Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung."
"Ahh, sungguh disayangkan. Bukan aku buruk sangka, tetapi kemungkinan besar nasib mereka takkan jauh beda. Jadi, jika kau menginginkan satu di antara mereka, sepertinya kau harus melupakannya!"
"Maksud, Ki Sanak?!" Pemuda yang satu meja dengan pemuda matang berpakaian serba merah tetiba berdiri. Kini tampak sebuah kapak batu usang menggelantung di pinggangnya.
"Ya ... kau tahu sendirilah, orang-orang kerajaan juga doyan begituan!" Srakal menjawab enteng.
"Jaga, duduklah kembali. Kendalikan dirimu!" ucap lirih pemuda berpakaian serba merah.