Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 53. Penjajah Kecil, Gobed Hitam!



Pasar Beringkiwa telah luluh lantak. Namun begitu, Ki Berut Tunggul belum menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti mengamuk, bahkan malah makin menggila seolah tidak lagi bisa kuasai diri.


Kedua tangan Ki Berut Tunggul terus melakukan gerakan-gerakan melepas serangan dari atas maupun depan.


Keunggulan Ajian Selaksa Perewangan, memang murni mengandalkan kekuatan para jin demit merkayangan, sehingga Ki Berut Tunggul tak merasa kelelahan meski terus menerus melepas serangan.


Jaga Saksena yang tidak mau memperparah keadaan hanya menghindar dan menghindar. Tetapi bukan asal menghindar, sebab Jaga berusaha memperpendek jarak.


Namun itu bukan hal mudah, sebab Ki Berit Tunggul bisa membaca gelagat Jaga.


'Aku harus menggunakan kekuatan ruhku untuk meringankan tubuh lebih!'


Kewalahan hanya menggunakan ilmu peringan tubuh biasa, Jaga memutuskan gunakan kekuatan ruh.


Slap! Slap! Secepat kilat Jaga bergerak menghindar.


Dalam lajunya, Jaga merasakan gerakan benda di sekitar melambat, termasuk serangan bayangan hitam dari ajian Selaksa Perewangan.


Tentu saja perubahan gerak Jaga Saksena membuat Ki Berut Tunggul kaget. Lelaki berkumis tebal yang ujungnya dipelintir itu hendak percepat serangan. Namun, entah kapan tiba-tiba lawan telah berada di depannya persis, menghantamkan telapak tangan ke arah dada.


"Rasaning Rasa!"


Debbb!


Melotot mata Ki Berut Tunggul, hingga bola mata hendak mencelat keluar. Antara tidak percaya dan merasakan kesakitan luar biasa akibat organ dalam dadanya meledak oleh sebuah energi yang merangsek ke sana.


"Arg—"


Lenguhan Ki Berut Tunggul tidak pernah selesai akibat nyawanya keburu melayang lebih duluan.


Brughh!


Jasad Ki Berut Tunggul ambruk ke belakang. Ia tewas dalam keadaan mata melotot dan mulut menganga lebar.


Tak diam saja setelah berhasil mengakhiri lawan, Jaga berkelebat ke seantero pasar. Mencari mungkin ada korban yang harus diselamatkan. Tetapi sungguh mengenaskan. Semua yang tidak melarikan diri ternyata telah tewas, hancur badan dan amblas masuk ke dalam tanah. Termasuk Werkadal!


Jaga Saksena menarik napas dalam-dalam, lalu menghembus pelan. Sedetik kemudian bibirnya terus berkomat-kamit membaca istighfar.


"Andai aku punya waktu lebih lama ...." gumam Jaga Saksena sebelum berkelebat pergi.


*⁰0⁰*


Malam mulai menyelimuti Desa Debogsari dengan kegelapan. Obor-obor pun dinyalakan. Jangkrik dan binatang kecil lainnya mulai berdendang.


Kala pekat makin merambat, para pasangan muda pun telah bersiap bertempur demi mencetak generasi penerus masa depan.


Telur ayam hingga telur bebek telah dipersiapkan untuk diseduh sebagai penambah kekuatan.


Para orang tua mulai mendongengkan kisah-kisah ajaib yang disisipi pesan-pesan moral agar anak-anak mereka lekas tertidur sekaligus membawa nilai-nilai kebaikan dalam alam bawah sadar.


Para pemuda lajang yang terjatah meronda pun tampak telah duduk di pos ronda. Bercengkrama dengan sesama membincangkan apa saja dengan diselingi gelak tawa.


Para warga Desa Debogsari itu tidak sadar, bahaya tengah mengintai dari atas bukit sebelah utara.


Desa Debogsari berdiri di lembah bukit Tulangula. Tepatnya di sebelah selatan bukit yang memanjang dari timur ke barat.


Di salah satu puncak bukit Tulangula, berdiri sepuluh orang berpakain serba hitam tanpa lengan. Di masing-masing pinggang mereka terselip gobed hitam.


Gobed adalah sejenis pedang tetapi pendek dan gemuk.


Seperti senjata yang disandang, mereka menamakan diri sebagai Kelompok Gobed Hitam.


Kelompok Gobed Hitam tidak mempunyai markas tetap. Mereka selalu berpindah-pindah. Menyerbu desa-desa yang tidak dikuasai oleh kerajaan tertentu lalu mendudukinya untuk beberapa waktu ke depan hingga sumberdaya desa habis. Setelah itu mereka akan mencari desa lain.


Begitu seterusnya.


"Kita sergap sekarang, Ketua?!" tanya seorang lelaki berambut keriting acak-acakan dengan kulit hitam mengkilat.


"Sebentar lagi, biarkan mereka sedikit lelap lalu kita kagetkan!" jawab sang ketua kalem.


Dari penampilan, ketua Kelompok Gobed Hitam tidak terlihat garang bahkan terkesan seorang yang berperangai baik.


Kumisnya tercukur rapi, demikian juga jenggotnya. Rambut digelung ke atas diikat dengan tali hitam. Sangat kontras dengan sembilan anak buahnya yang berpenampilan kotor brangasan.


***


Malam makin larut. Di pos ronda desa.


"Malam-malam begini, siapa mereka? Apakah tadi siang ada yang naik ke sana?" heran pemuda peronda lain.


"Anggai hatiku buruk, jangan-jangan mereka akan berbuat onar ke desa ini!"


"Jika begitu cepat hubungi bekel anom!"


"Baiklah, aku pergi!"


Pemuda yang merasakan firasat buruk segera berlari membawa obor menuju rumah bekel anom.


Desa Debogsari dipimpin oleh seorang lurah, di bawahnya ada bekel sepuh lalu bekel anom. Bekel anom inilah yang mengurusi keamanan desa juga pengairan dan sebagainya. Tentu selama masih bisa ia tangani, jika sudah tak lagi bisa maka ia akan menyerahkan masalah ke bekel sepuh sebelum ke lurah.


Thok!Thok!Thok!


"Bekel Anom Dwijaya!"


Tak selang berapa lama, "Siapa di luar?!"


"Surata, peronda malam!"


"Tunggu!"


Tak berapa lama, seorang lelaki sekira berusia 40 an muncul dari belakang daun pintu.


"Ada apa, Rata?"


"Ada beberapa obor turun dari bukit, Ki Bekel!"


"Ada berapa?!"


"Kalau tidak salah, ada sembilan, Ki!"


"Tunggu sebentar!"


Bekel Anom Dwijaya masuk ke dalam rumah, tak berapa lama ia kembali dengan membawa golok bergagang ukiran macan.


"Cepat kita ke sana!"


Keduanya pun bergegas.


Sampai di pos ronda, Bekel Anom Dwijaya meminta enam pemuda peronda untuk mengikutinya menuju perbatasan utara desa. Menyambut para pengguna obor yang tengah turun dari atas bukit.


Berdebar jantung Surata, selama bertugas meronda baru kali ini ada orang ramai datang tengah malam dari atas bukit. Dan entah mengapa rasa hatinya tidak enak dari awal.


Ketika para pemuda peronda di bawah pimpinan Bekel Anom Dwijaya sampai di batas desa utara, rombongan obor telah makin dekat.


"Siapa kalian? Ada perlu apa malam-malam mendatangi desa kami?!" tanya Bekel Anom Dwijaya ketika rombongan pembawa sembilan obor telah berhenti di depan mereka.


"Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu kalian semua. Namaku Jalada, dan sembilan orang ini adalah kawan-kawanku. Kami hanya ingin menduduki dan menguasai desa kalian sampai sumberdaya desa habis," jawab sopan lelaki yang tak membawa obor, sang ketua Kelompok Gobed Hitam.


"Maaf Kisanak, apa maksud ingin menduduki dan menguasai desa kami hingga sumberdaya habis?"


"Dasar Guoblogk! Kami ingin merampok dan menjarah desa kalian, paham!!?" Membentak garang lelaki hitam legam berambut keriting acak-acakan yang berdiri di samping Jalada.


Sontak saja, jawaban si keriting acak-acakan membuat Bekel Anom Dwijaya meraba gagak golok berukir macan di pinggangnya. Lalu tak kalah garang ia turut membentak,


"Kuperingatkan kalian! Pergi atau golok ini yang akan mengusir kalian!"


Mendapat ancaman orang,


"Hahahaha!" Sembilan anggota Gobed Hitam tertawa bergelak hanya Jalada yang terdiam tenang.


Saat yang sama, Bekel Anom Dwijaya berbisik pada Surata, "Pergi bangunkan Bekel Sepuh dan Ki Lurah! Katakan bahaya tingkat 1!"


Mengangguk, Surata langsung berlari secepat yang ia bisa.


Usai puas tertawa, si rambut keriting acak-acakan maju dua langkah, lalu menghunus gobed di tangan kanan.


Srett!


"Tak semudah itu mengusir kami! Panggil semua warga agar kalian tahu betapa gobed ini lebih pandai bicara!"


Segera ketegangan menyelimuti, Bekel Anom Dwijaya. Lima pemuda peronda pun mencabut golok masing-masing. Demikian pula delapan anggota Gobed Hitam.


Namun ... Tetiba suasana tegang di antara mereka terusik oleh suara dendang berbahasa asing yang sangat merdu.