Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 3. Bertahan Hidup



Kelelahan membuat Jaga Saksena mudah saja hanyut dalam tidur yang lelap.


"Sssss ...!"


Saat itulah, perlahan tapi pasti, hewan sebesar pohon pinang yang tak lain adalah ular sanca kembang mendekati kepala si bocah.


Bisa dipastikan, sekali caplok, masuklah kepala anak berusia 10 tahunan tersebut ke dalam rongga mulut si ular.


Hanya tinggal satu depa lagi. Ular sanca kembang pun berhenti untuk bersiap menggunakan jurus "hap" nya. Dan ....


Crakk!


Bersamaan dengan mulut ular yang menganga meluncur ke bawah, tangan kanan si bocah membacokkan kapak batunya.


Sontak, ular sanca kembang besar itu menarik diri.


"Mengganggu orang tidur saja! Pergi atau aku kuliti tubuhmu!" bentak Jaga Saksena berdiri mengacungkan kapak batu yang berlumur darah.


Kalau cuma ular, si bocah tak ada takut-takutnya meski besar. Ular adalah mainannya sehari-hari.


Untuk sesaat ular sanca kembang itu menatap si bocah kemudian membalik kepala, merambat ke atas lalu pergi melewati cabang besar menuju pohon lain.


Pohon-pohon yang berdekatan membuat ular jenis ini mampu berpindah dari satu pohon ke pohon lain melalu cabang-cabang yang saling bertemu.


***


Pagi hari datang bersambut cicitan burung kutilang.


Jaga Saksena terbangun, memeriksa lukanya yang ternyata telah mengering. Daya tubuh yang baik dibantu ramuan yang mangkus (mujarab_pen).


"Aku harus mencari ular untuk kuambil kulitnya. Ular semalam terlalu besar, aku akan kuwalahan untuk membunuhnya. Untuk saja dia takut pada gertakanku. Hehehehe!"


'Sebaiknya aku makan dulu.'


Membuka perbekalannya, Jaga Saksena makan dengan lahap. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan satu ikan asap hingga tulang-tulangnya.


'Ingin rasanya aku makan dua, tetapi aku tidak tahu kapan menemukan sungai lagi. Mungkin aku harus mencoba menangkap hewan lain untuk kumakan. Jika tidak, aku akan benar-benar kehabisan perbekalan!'


Menutup kembali perbekalan makanannya yang kini tinggal 4 ekor ikan, Jaga Saksena turun dari pohon.


Sampai di bawah, dengan kapak batu, bocah itu memotong salah satu pohon yang mirip rotan. Dari sanalah keluar air yang bisa diminum.


"Segaarrr ...!"


Jaga Saksena memandang ke sinar matahari yang menelusup masuk melewati celah rimbunnya dedaunan hutan.


"Matahari ada di sana, berarti aku harus ke sana!"


Jaga Saksena melangkah perlahan, selain karena luka di kaki dan alas kaki yang robek juga untuk memperhatikan keadaan sekitar guna mencari ular.


Tak lama berjalan, Jaga Saksena menemukan sebuah lubang di tanah bersemak. Jaga hapal betul itu adalah sarang ular.


Dengan cekatan bocah itu memotong dahan bercabang.


Hanya butuh beberapa tindakan, ular sebesar lengan berwarna hitam mengkilat yang tengah tidur nyenyak telah berada dalam cengkeraman Jaga Saksena.


"Maafkan aku, Ular. Tetapi aku butuh kulitmu."


Cepat, Jaga menggebuk kepala ular memakai bagian tumpul kapak batu lalu memotongnya.


Mengelupas kulit ular dari bawah kepala dengan terlebih dahulu membuang kepalanya, memungkinkan Jaga Saksena mendapatkan kulit ular secara utuh.


"Lumayan, ini sangat cukup di kakiku. Tinggal mencari tempat yang terkena sinar matahari untuk menjemurnya."


Jaga Saksena hanya mengambil kulit ular, sedang dagingnya ia buang lalu melangkah melanjutkan perjalanan.


Ular, meski hanya sebesar lengan, kulitnya mampu menampung kaki pemilik lengan. Untuk dijadikan pelindung kaki, Jaga Saksena hanya perlu mengeringkannya, lalu memotong sepanjang dua jengkal untuk kemudian diikat ujungnya dengan tali.


Tali yang digunakan juga kulit kering yang dipotong kecil panjang.


Lama berjalan, akhirnya si bocah menemukan ruangan terbuka yang di sinari panas matahari. Meski tidak luas cukuplah untuk mengeringkan kulit ular.


"Sambil menunggu aku akan berlatih menguatkan tanganku."


Jaga Saksena melangkah ke sebuah pohon. Memasang kaki kokoh,


Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!


Bocah itu mulai memukul dengan irama detak jantungnya. Terus menerus dengan sabar dan telaten.


"Hufft ...!"


Merebahkan diri di dekat kulit ular yang tengah ia jemur Jaga Saksena menghembus napas keras.


"Byung, kau pasti tengah makan enak di sana sebagaimana yang kau ceritakan dulu padaku. Andai aku sudah di sana aku akan minta makan nasi saja."


Tetiba Jaga Saksena terdiam, lalu melanjutkan,


"Jika hanya nasi kenapa harus menunggu di surga ...?! Bukankah di luar sana kata Byung ada?!"


Jaga Saksena memang belum pernah makan nasi, padahal menurut Byung, nasi adalah makanan terenak. Orang-orang kaya tidak dikatakan makan kalau tanpa nasi. Karena nasi adalah sumber kekuatan juga sumber kenyang.


Mengingat hal tersebut, Jaga Saksena segera bangun untuk memeriksa kulit ular yang ia jemur.


"Hemmm .... baru sedikit mengering. jika kupakai sekarang maka akan mudah sobek. Aku harus cari cara lain agar cepat bisa melanjutkan perjalanan."


Jaga Saksena memutar otak hingga,


"Ah ... ha!"


Cepat bocah kecil itu memanjat menuju sebuah pohon yang berdaun lebar. Memetik beberapa daun lalu menggunakannya sebagai pembungkus ikan asap kemudian mengikat dengan tali kulit kecil panjang.


"Sekarang aku bisa menggunakan kantong makanan ini sebagai alas kaki!"


Dengan gembira, Jaga Saksena akhirnya melanjutkan perjalanan. Tak lupa kulit ular yang belum kering ia bawa pula.


Sembari melangkah, Jaga Saksena memanjat harap,


'Semoga tidak lagi ada hewan buas mengejarku!'


*


Harapan Jaga Saksena terkabul, hingga matahari terbenam tak ada satu pun hewan buas menghadang.


"Terimakasih Yang Maha Kuasa!" ucap Jaga mulai memanjat pohon besar untuk bermalam.


Kukuruyuk!


"Perutku minta diisi! Ah lapar sekali rasanya!"


Jaga Saksena menimbang apakah akan makan atau tidak. Sehari di masa pertumbuhan hanya makan satu ikan sungguh menyiksa.


Akhirnya, Jaga Saksena memutuskan memakan satu ekor ikan lagi.


**


Waktu berjalan cepat. Jaga terus mengambil arah utara. Hewan-hewan buas selalu ada tetapi dengan cerdik Jaga bisa menghindarinya.


Hewan buas adalah rintangan kedua yang harus dilewati, dan Jaga Saksena sejauh ini bisa mengatasinya.


Di malam ke empat perjalanan, bekal Jaga Saksena benar-benar telah habis.


"Untuk malam ini _meski lapar_ aku harus bertahan. Besok pagi jika tidak ada hewan buruan maka terpaksa aku akan makan daging ular!"


Jaga mengusap perutnya, mencoba berdamai dengannya agar tidak berisik meminta makan.


Seperti biasa, untuk bermalam Jaga Saksena memilih menginap di atas pohon.


Saat Jaga Saksena memilih dahan yang tepat guna menopang tubuhnya, mata bocah itu melihat api di kejauhan. Meski tampak kecil, gelap malam membantu api mudah terlihat.


"Api?! Apakah aku sudah hampir sampai?! Tak sia-sia perjalananku! Aku harus cepat tidur agar besok kekuatanku kembali sempurna!"


Bersemangat Jaga Saksena berusaha memejamkan mata. Rasa lelah segera menyergapnya dalam lelap tidur.


***


Cukup jauh di utara, api pembakaran membara. Orang-orang yang tampak hanya memakai penutup di bagian perabot kelelakian dan kewanitaannya duduk memutar.


Sesekali tangan mereka mengacung ke angkasa dengan posisi jari-jari terbuka lalu menunduk sepenuhnya hingga tangan menyentuh tanah.


Tubuh para lelaki berurap sesuatu berwarna hitam, berbeda para wanitanya yang berurap putih. Mungkin itu sejenis ramuan guna menangkal nyamuk, semut atau binatang hutan kecil lainnya. Penampilan yang tidak terlalu menyeramkan.


Tidak ketika melihat apa yang ada di atas api membara, sebuah tongkat panjang yang menusuk sebuah jasad manusia!


Ya, mereka adalah suku pemakan daging manusia.